enjoy every cadence, every breath…

Terbaru

WJxc Ride#15 Nawit-Bondol

IMG_2305duetNyepi, dan yang penting … libur…

Sudah selayaknya kita menyepi, mungkin… tapi pagi ini saya ikuti saja kata hati buat gowes teduh dan sepi tanpa gonjang ganjing, walaupun ternyata matahari bersinar cukup terik.

Di tengah jalan tampak pemandangan unik yang ternyata adalah arena jual beli hewan. Ada bebek ayam dan kambing serta domba. Seru melihat mereka berkemas, memasukkan kembali kambing ke dalam keranjang yang ditempelkan di motor. Satu motor memuat 6 kambing. Banyak kan?

Mungkin terdengar sederhana, namun kok saya menemukan perasaan nyaman dan teduh ya berada di tengah jualbeli yang sederhana ini. Obrol punya obrol, salah satu pembeli berasal dari area Jonggol, dan kemudian kambing kambing yang baru dibeli ini akan dijual di pasar di daerah Jonggol sana, yang membeli biasanya petani. Kisah simpel mencari rejeki yang sederhana dan teduh didengar.

IMG_2313nawitAkhirnya setelah menemui beberapa jalan yang semakin menyempit, meski dalam keteduhan dedaunan pohon pohon kampung yang rindang, akhirnya sampai ke sebuah jembatan bambu. Ada rumah tepat di sebelah jembatan bambu. Setelah berbasa basi maka bertanyalah kepada Bapak pemilik rumah/warung tentang apa nama daerah ini… “Ini Nawit dik…”

IMG_2749ciumUnik memang area ini. Jalan meliuk liuk, ada yang sudah dibeton, ada juga yang masih jalan tanah. Campur. Jalan nya pun jarang sekali yang lurus lurus dan bisa ditebak arahnya. Semalam saya lihat di Google Earth memang area ini jalan kampungnya meliuk liuk, melingkar dan tak lurus. Menyesuaikan dengan bentuk sungai nya kah? Mungkin.

Salah satu yang juga unik dari area ini adalah betapa masih teduh nya. Entah kenapa penduduk tampak tidak tertarik untuk memotong pohon pohon di kebun nya. Campuran berbagai pohon tanaman keras dan tentusaja banyak pohon bambu. Teduh. Tak terbantah. Serasa tidak sedang berada di area yang dekat dengan Cikarang saja. Penduduk juga tampak banyak memelihara sapi dan domba. Sapi dan domba dibiarkan berkeliaran di halaman, dibawah keteduhan pohon pohon rindang. Aseli, aura kampung ini beda banget…

Kembali menembus berbagai jalan meliuk dalam teduh kampung disambut turunan panjang dan akhirnya sampailah ke sebuah warung yang berada, lagi lagi di sebelah sebuah jembatan beton yang besar. Jembatannya tampak aneh, tapi warungnya tampak sering melihat fotonya… kembali bertanya dan dijawab “Ini Bondol dik…” ditambah lagi “Oooo… itu sungai Cikarang dik…”

Setelah makan dengan menu yang terkenal, akhirnya pulang dalam perjalanan jalan beton panjang yang serasa tak ada habisnya…

Demikian sebagian cerita genjot hari ini…

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr

WJxc Ride#14 – Gratis Cariu part-2

30pastfamvresCariu, 10 Feb 2013

bagian kedua lanjutan dari…

Tapi memang Allah sayang sama kami. Terbukti salah satu dari pemuda desa, berambut agak gondrong, segera bergegas, “…ayo lah saya anterin…” sambil dia mengambil golok dan mulai memimpin di depan menunjukkan jalan.

Kampung ini ada di pinggir sungai, tampak hidup dari sawah dan padi yang banyak bertebaran di sekitar kampung. Tampak listrik belum masuk samasekali. Kami pun dibawa melewati jalan kampung, sejajar dengan sungai, bukan langsung menuju sungai. Baru kemudian waktu akhirnya melihat sungainya kami paham ternyata kami dibawa ke area sungai yang terlebar. Sungai terlebar artinya air sudah terdangkal.

31pasang-lampuMemang kita sering mendengar Cibeet, sering juga naik getek diatasnya di Cikarang. Cuma ini kan Cigaruguy. Kemiringan nya berbeda, mengakibatkan kekuatan aliran sungai juga berbeda, sungai ada di turunan gitu, bukan jalan flat seperti di cikarang. Batu bagu vulkanik yang guede guede segede motor, mobil dan rumah juga boanyak. Airnya berwarna cokelat dan suaranya bergemuruh, air beradu dengan batu sungai.

Pemuda Gondrong segera menyeberang menggotong sepeda Om Koko. Dari kejauhan saya lihat Om Koko tergopoh gopoh hati hati menyeberang. Bagian paling berbahaya dan kuat arusnya adalah bagian pinggir yang paling dekat dengan seberang sungai. Khawatir banget saya. Sejak melihat trek sudah tampak harus melewati sungai, tapi tidak menyangka akan se berbahaya ini.

Dengan berbekal keberanian seadanya dan berdoa, sepeda saya angkat dan kami mulai beramai ramai menyeberang. Deg deg an pol. Takut terbawa arus yang sangat kuat. Kondisi fisik kami juga sudah melemah. Aduh. Aseli yang kepikiran di kepala saya aneh aneh dan macam macam. Makanya jangan heran kalo sesampainya di seberang wajah saya mirip martabak pahiiittttt.. banget.32omroyan33omkodrat35omratman34omatoe36omlatip37omhajiasim40omokkySetelah menyeberang, kami lega luarbiasa. Alhamdulillah kita selamat. Bukan tak kurang suatu apa sih, karena martabak berceceran sejak dari downhill bukit tadi. Jalan terus tanpa henti menerabas terabas. Aseli lelaaaahhh banget banget karena tanpa pitstop. Jam menunjukkan pukul 430 sore. Berarti selama hampir 2 jam akrobat downhill trabas tadi, dan ditutup dengan nyeberang sungai deras setinggi pinggang kami tanpa istirahat. Semua tim selonjoran lega…

Saya sudah mulai kebayang sungai berikutnya yang harus kita seberangi. Masih ada satu lagi. Dan jangan sampai deh nyeberang sungai di malam gelap…

Sebelum saya melanjutkan ceritanya saya sampaikan rasa hormat dan salut kembali untuk rekan rekan seperjalanan gowes gratis ini…

Om Royan, yang terakhir kali ketemu lagi gowes sendirian di bukit telletubbies. Belum make helm, pasti bakal dimarahin Eyang…

Om Kodrat, dulur songolikur yang kalo lagi nembak bikin deg deg an. Khawatir melihat banyaknya volume peluru, tapi juga lega karena biasanya trus genjotnya lancar

Om Atoe, saat saya sudah mulai memutuskan untuk TTB aja, kok masih saja ada yang genjot yah?

Om Ratman, edan bener adegan balapan sama motor di tanjakan tembok ratapan. Orang lain dorong sepeda aja ngosh ngosh an… Lontaran lagu nya membuat cair suasana tegang

Om Latip, keren banget bisa bangun pagi… mantap. Mohon maap porsi epak nya trek ini tidak bisa diperpanjang lagi

Om HajiAsim, jangan lupa, orang pintar minum tolak angin…

Om Okky, salut banget, diam diam nywipperin, menjemput sepeda rekan yang kepayahan, mantep banget gowes bareng si Om Istimewa ini…

Salut untuk om om semua. Saya bisa mengerti kalau di Gratis mendatang om tidak lagi menyatakan ikutan. Mohon maaf sedalamnya dari perasaan ter tulus atas hidangan menyeberang sungai (berkali kali) dengan debit air yang tidak terlihat dari Google Earth.

Nah, ceritanya lanjut… Setelah menyeberang dan habis satu batang rokok, maka kita pun segera berangkat lagi. Kita pun mendekati dan masuk ke rancangan trek versi pertama, bukan versi bukit tiasa cigaruguy, itu versi kedua. Jadi Om Asim, kalo di musholla kita lanjut turun jalan makadam maka akan ketemu trek seberang sungai ini juga. Ini memang rencananya begitu.

Keluar masuk kampung dengan kondisi cuaca yang mulai menuju gelap. Kadang kala ketemu jalan buntu, justru gara gara ngikutin singletrek kampung yang mulus diplester semen. Beberapa kali kejadian balik kanan jalan buntu dan cek and ricek di pertigaan perempatan. Sekitar 30 menti gowes di singletrek makadam campur dengan pematang sawah dan jalan kampung sebesar motor maka kita pun ketemu sungai yang kedua. Alhamdulillah masih belum gelap ketemu sungai nya.

Cibeet ini kan anak sungai nya banyak. Jadi saat kita dari kampung ke kampung mengikuti sejajar sungai Cibeet Hulu maka kita akan beberapa kali ketemu dan menyeberangi anak sungainya. Kepercayaan diri lebih tinggi daripada saat menyeberang pertama karena juga tampak sungainya lebih kecil. Ternyata lebih dangkal meskipun aliran airnya tetap saja kencang. Air coklat yang menyeret.

Setelah dua sungai maka kita bertemu tanjakan yang ya ampun panjaaaaaaanggg banget. Tak ada seorangpun dari member yang genjot di tanjakan makadam itu. Perpaduan antara lemas, lelah, licin, makadam tak beraturan, basah dan tanjakan. Kadang tampak sebuah turunan menghibur. Kadang melewati jembatan bambu melintasi sungai kecil. Sebagian besar jalan adalah makdam singletrek. Benar benar ujian ketabahan mental dan kekuatan fisik. Saya sendiri merasa kita harus terus push mumpung masih terang. Pasti kondisi akan berubah jauh saat hari berubah menjadi gelap dalam medan sepeti ini.

Saat mulai terdengar Adzan Maghrib maka kita pun berhenti dari kegiatan dorong sepeda, dan mulai memasang lampu. Lalu saya ambil satu persatu foto rekan trip ini. Bisa terlihat dengan jelas dari body language nya kira kira apa yang ada dalam pikiran rekan rekan ini saat saya tanya, “Giman Om, apa kesannya trip ini?”

Hahahaha… TTB berlampu pun kita lanjutkan dan akhirnya kita menemukan sebuah WARUNG!!! Ya WARUNG yang seperti guyuran air segar dihati kami… Tanpa pikir panjang parkir dan mulai memesan apa yang tersedia….

GUK GUK GUK GUK…

Astaga. Sempat kaget luarbisa mendekat ke warung yang ber listrik ini, sambutan yang tak biasa
Bapak penunggu warung bercerita kenapa tidak pasang kulkas. Watt nya terbatas, dan harus menarik kabel sejauh 1.5kilometer untuk bisa mendapatkan aliran listrik…

Saya tengok ke GPS… Jalan raya Cariu-Cianjur masih sekitar 8kilometer lagi…

Sebuah warung ber listrik yang melegakan, minuman bersoda dan teh manis panas yang masuk ke perut, jalan depan rumah yang tampak melebar, selebar dua motor, jalan menurun yang tampak menunggu di depan, benar benar membuat goweser tambah semangat. Rasanya peradaban sudahlah dekat. Wajah cerah dan gerakan tubuh optimis segera menyebar dan kami pun istirahat hanya sebentar. Melihat jalan depan warung yang tampak bisa dilewati mobil, om John segera mencoba melihat ke hp, apakah ada sinyal yang nyangkut. Saya bilang ke belio, Pak Ucu ituharus diajarin ilmu GPS. Kita tinggal kirim koordinat, dan Pak Ucu masukkan ke GPS mobil dan meluncur… hihihihi. Sinyal masih on off.

Trek selanjutnya benar benar memabukkan. Meskipun dalam gelap turunan nya poanjaaanngg dan landai. Kiri kanan trek memang gelap gulita, baik kebun maupun kampung. Tak percaya rasanya kami mendapat anugerah turunan panjang begini. Dalam hati mulai berharap, semogaaaa… saja sampai ketemu jalan aspal jalannya seperti ini. Harapan yang sia sia. Tak berapa lama jalan berubah menjadi makadam. Makadam bentuk tak beraturan, tampak benar jarang dilewati kendaraan. Sisa hujan licin lalu tak lama terdengar bunyi GEDUBRAK !!

Sejak itu kami lebih hati hati. Kadang kalau perlu TTB dijalankan lagi meskipun trek menanjak tidak miring. Kampung ke kampung desa ke desa dengan variasi kondisi jalan. Kadang trek masuk ke kampung yang cuma sebesar handlebar diplester semen dan turunan basah. Licin. Dan… ternyata kami harus menyeberangi satu sungai lagi!! Ampun. Yang ini tak terduga. Rasanya sudah habis sungainya dari ingatan saya. Dalam gelap dengan lampu kami lagi lagi menggendong sepeda menyeberang sungai. Alhamdulillah setelah menyeberang sungai yang terakhir ini jalan tiba tiba melebar. Selebar mobil, ber aspal sirtu. Kondisi berubah ubah kadang aspal rusak dan kadang kondisi baik.

Kampung berganti kebun berganti sawah silih berganti tak terhitung malam itu. Semangat sih masih tinggi, tapi tanjakan juga gak habis habis. Formula nya formula sisir lembah sungai karena sungai Cibeet terdengar suara gemuruhnya di sebelah kiri trek. Sisir lembah itu iramanya gini: rata di dalam kampung, turunan keluar kampung masuk sawah kebun yang gelap, ketemu jembatan diatas sungai kecil, nanjak di kegelapan, ketemu kampung lagi. Teruuuuusss… berulang countless… tak terhitung.

Untuk mengobati salah satu member yang terluka karena rem mendadak di turunan licin maka kami pun berhenti di sebuah warung dan terjadilah makan telur rebus seorang satu itu. Sebuah selingan yang cukup melegakan meskipun waktu kita tanya ibu penunggu warung tentang jalan aspal besar cariu ke cianjur jawabannya… “tebih pisaaannn…” dan “loba tanjakaaaannn…”. Bikin muka dan ekspresi rekan rekan tambah pucat dan derajat terlunta lunta meraih titik tertinggi.

Tapi setiap kesabaran berjawab keindahan… Akhirnya sekitar jam 930 malam kami pun bertemu jalan beton tanjakan puncak pinus Cariu. Akhirnya. Seperti dipersiapkan sebelumnya satu kendaraan epak sudah menunggu… Trek selanjutnya sekitar 20menit adalah sebagian besar turunan dilengkapi rolling tanjakan juga. Tapi sudah hampir tak terasa di kaki itu tanjakan tanjakan yang cenderung terasa landai setelah sekian lama ketemu tanjakan tanjakan yang dituntun pun berat…

42finish-10malamSekitar jam 2140 kami mencapai titik start masjid kubah hijau dengan kelegaan tiada tara…

Mulai cari hp dan kirim sms ke menkeu…

TAMAT

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr

WJxc Ride#14 – Gratis Cariu part-1

IMG_2055batagorCariu, 10 Feb 2013

Sudah sejak sekitar awal tahun lalu pengen banget menengok trek di daerah Cariu ini. Awalnya sih sering mendengar tentang Gn Batu dari rekan rekan mtb dan berakhir dengan sebuah draft trek, yang semula, saya kira memang itulah gn. Batu. Ternyata? Hehehe… kayaknya sih gunung ‘sebelah’ gn. Batu. Gapapa lah masih sebelahnya.

Akhirnya pagi itu berangkatlah 8 rekan pesepeda cmtb; OmHeruHajiasim, OmOkky, OmRatmanNewAABike, OmLatifJohnEpak, OmAtoe, OmHendraElRoyan, OmQodratPaspamvresh dan @antoix. Setelah mampir ke pintu10 dulu, jam 5 pagi lebih sedikit kita sudah mangkal di nasi uduk depan aabike. Nasi uduk jengkol masuk ke perut. Kumpul di Deltamas dan tim pun lengkap. Brangkat!!

IMG_2056tanjungsariPerjalanan darat melewati jalur matjyan mengaum Cicau dilanjutkan menuju titik start di Masjid Kubah Hijau. Posisi di dekat Puskesmas Tanjungsari, Cariu, Kab. Bogor. Cuaca cerah secerah cerahnya, padahal udah khawatir saja karena sehari sebelumnya hujan turun cukup lebat di Cikarang pun. Saat mulai genjot start jam 8 malam. Mengingat memang tanpa sweeper, alias GRATIS (Genjot Rame Tanpa SwIper) maka semua peserta berdoa dan mencatat nama lokasi titik start kalau siapa tau nyasar sendirian dan perlu petunjuk ojek kembali menuju titik start.

Sebelumnya saat melihat trek nya sudah kebayang sih, kalau bakal berat, akan ada GGB dan mungkin berlumpur lumpur, seharian sudah pasti. Siap nyasar dan dengan kondisi trek tak terduga. Adventurous dan hal hal tak terduga. Mungkin jalan buntu. Mungkin saya terlalu khawatir kali ya? Tapi terus coba saya tiupkan ke rekan rekan via chat bbm sejak sehari duahari sebelumnya. Maksudnya, biar gak kaget dan biar mempersiapkan mental. “Kalau kita sampai sebelum gelap sangat beruntung…” saya sampaikan di titik start.

Gowes semacam Sakit Jiwa kolozal memberi kenikmatan yang merindukan, mau pakai Sakit Jiwa tapi kan itu sudah identik melekat dengan kolozal. Maka GRATIS ini dibuatlah untuk pelampiasan tipe gowes serupa…

12cijambeOk ok… genjot yang ditunggu segera dimulai dalam ceria jalan aspal menuju Bandung. Masuk ke kampung, rolling naik turun aspal sampai akhirnya jalan keluar juga ke jalan berbatu makadam di puncak sebuah bukit. Meski tanpa sweeper genjoter Gratis Cariu tetap dalam satu grup, termasuk saat menjalani sebuah jalan miring keatas yang panjang sampai berhenti di sebuah gerbang menuju tempat peristirahatan yang disebut tempat wisata religi.

Ngobrol dengan penduduk setempat yang dengan berapi api menjelaskan tanah ini milik pak jenderal anu dan tanah itu sekian puluh hektar milik pak jenderal itu. Rupanya berkait dengan masa lalu ada rencana memindahkan ibukota negara ke Jonggol.

“Main lagi saja ke sini dik.. nanti jalannya udah di aspal kok bentar lagi”. Wadooohhh… dengan segera rencana meng aspal ini diprotes segenap tim. Genjot miringnya enak tidak curam terus hanya di beberapa titik saja. Gowesable. “Jadi ingat sukamantri jaman dulu…” kata seorang rekan. Akhirnya kita berhenti lagi di Kampung Cijambe, menjumpai sebuah warung dan mulai memesan teh panas manis… sluruuuppp…

17tapakTak terasa lama juga kita nge-pos di warung penyedia teh manis panas ini. Meskipun tampak dari luar warung kalau ada kulkas di dalam warung, namun tampaknya isi kulkas tidaklah membahagia kan. Sampai akhir trip kita banyak menemui warung ber kulkas dengan isi kulkas yang mengecewakan. Jangan jangan buat pajangan dan naruh baju kali ya?

Trek selanjutnya adalah masih dan masih campuran antara makadam dan jalan tanah dengan kubangan dan lumpur. Semakin naik semakin sejuk anginnya semakin indah pemandangan ke arah lembah. Di kejauhan sangat menarik perhatian punuk punuk gunung seputar desa philips Ciguentis yang terlihat istimewa dan indah di kejauhan.

Sekitar trek tidaklah tampak tanah cukup produktif. Jika bukan kebon yang berisi hutan rakyat, yaitu tanaman budidaya kayu maka lahan akan ditanami singkong, jagung meskipun sangat jarang. Juga ada pohon pisang menutup satu bukit/gunung. Tampak semua pohon pisang nya tanpa ada yang berbuah. Baru kemudian kita tahu kalau memang daun pisang nya lah yang menjadi komoditi yang dipanen.

18epakRolling kemiringan tambah miring dan sampai akhirnya bertemu kampung dengan kendaraan epak dimana kita foto dulu rekan kita John Epak di sebelah kendaraan kebanggaan.

Tak terduga kita bertanya ke anak kecil dan diberi tahu kalau ada ‘jalan aspal’ di depan. Seperti bercanda saja itu katanya ada jalan aspal. Tapi ternyata beneran, setelah ketemu jembatan lalu kita disambut tanjakan panjang ber-aspal. Seperti ada perasaan aneh di tengah negeri antah berantah begini ketemu jalan aspal.

Tak berapa lama kita segera keluar jalan aspal dan mulai miring meliuk liuk switchback sampai ketemu warung berikutnya di sebuah pertigaan. Warung Rumah Nenek yang Kang Latip memotret nenek tua. Di warung ini pun saya sampaikan kalo bagian berikutnya adalah part ‘Tembok Ratapan’, sehingga silakan loading minum dan makan sepuasnya. Saya memesan dua butir telor diceplok dimakan pakai kecap. Nyam… Untuk melonggarkan dan melebarkan pembuluh darah maka minum kopi kapal api juga…

21boboDi warung nenek inilah tim mendapat pemandangan indah, yaitu turunan, jalan makadam besar tampak enak digenjot sampai ke titik start. Tapi sayangnya tidak seorangpun dari peserta gowes benar benar mejalaninya. Meskipun stok martabak sudah mulai menumpuk, tapi ternyata stok harga diri masih memiliki tumpukan yang lebih tinggi

Selanjutnya yang dihadapi adalah sebuah tembok… Kemiringan secara tiba tiba meningkat tajam, trek pun berubah dari doubletrack jadi singletrack makadam. Sepeda hanya lah bisa digowes di beberapa titik. Sisanya kita harus rela untuk mendorong dan mendorong.

Mau cerita apa lagi di bagian ini ya? Habis cuma dorong dorong dan dorong.

Seperti yang kita lihat di warung nenek pohon pisang ini untuk dipanen daun nya. Beberapa kali kami bertemu pengendara sepeda motor. Mengingatkan saya pada gaya menyetir motor dan skill handling motor mereka dengan trek trek yang tampak tidak mungkin dikendarai dengan motor-motor bebek begitu. Mereka mengendarai motor sambil berdiri menyeimbangkan badan. Mirip gaya trial-motorbike.

Kiri dan kanan trek, selain batu dan batu tampak beberapa bagian bisa ditanami lagi lagi dengan pisang. Trek cenderung zig zag. Di banyak bagian, sebelah kanan trek adalah jurang dan di sebelah kiri trek adalah kebun secuplik atau batu dan gunung yang rasanya tak habis habis. Semakin tinggi posisi kita, pemandangan sebelah kanan, berupa lembah Cariu dengan latarbelakang pegunungan Sanggabuana semakin indah dan semakin indah.

Disinilah tim mulai semakin sering grouping, dan mulai deh Om Ratman mempopulerkan lagu “jangan pikirin abang…”
Jangan pikirin abang, dek… abang juga gak tau nasib abang bakal gimana…

25meluk-pohonSaat melihat di Google Earth memang sudah tampak kalau ada kampung tidak jauh dibalik puncak nya tanjakan tembok ratapan ini. Saat masuk ke kampung kita disambut singletrek turunan yang moy meliuk liuk dalam hujan yang mulai turun. Segala martabak, penyesalan dan penderitaan selama dorong dorong sepeda di tembok ratapan pun akhirnya selesai ketika jalan melandai lalu kita temui turunan! Ya turunan menuju sebuah kampung. Di warung yang berseberangan dengan sebuah musholla kecil kami berhenti dan hujan mulai deras mengguyur.

Warung tempat kita berteduh menjadi riuh. Ibu penjaga warung pasti kerepotan melayani permintaan rekan rekan yang mulai aneh aneh setelah meratap ratap di tanjakan. Yang jelas segera bisa dipenuhi adalah permintaan akan nasi, lalapan dan terlor ceplok plus sambal. Kalo dihidangkan di meja makan di rumah mungkin kita segera panggil bakso yang lewat saking menyedihkannya itu hidangan, tapi dalam hitungan detik segera nasi sebakul habis, semua lalapan termasuk kucai juga dilahap. Ampun deh. Memang sih waktu sudah menunjukkan sekitar jam 2 siang, wajar banget kalao lapar.

Peristiwa yang mengejutkan adalah tampilnya salah satu member trip dalam menjalankan keakhliannya. Tiba tiba dari dalam warung, dari dalam rumah penjual, muncullah seorang jejaka berkacamata hanyalah berbelit sarung saja. Wadoh. Maaf kalau ceritanya agak porno. Tapi begitulah adanya. Rambut belio tampak basah, rupanya habis mandi. Ya, mandi siang siang di rumah orang. Dengan santai belio menjawab semua kekaguman kita dengan jawaban singkat, “… makluuummm menantuuu….”

28kucaiHuaduh!! Gubrax!!
Nemuuu aja ya WC buat mandi letaknya dimana.

Setelah semua sholat dan selonjoran. Agak hilang trauma ratapan, maka saya sampaikan tiga pilihan lanjutan trek. #1 Melewati Cigaruguy… akan masuk hutan tapi minim tanjakan dan tidak menyeberang sungai. #2 Melewati jalan makadam ke Arah Cipanas akan ada jembatan tapi onroad martabak tanjakan moy. #3 Balik lewat jalan berangkat.

Tidak ada yang menjawab pilih yang mana, malah ada yang nanya “apa pilihan ke #4 om?”. Setelah juga kita tanya2 bapak penunggu warung maka belio bilang kalo Lewat Cigaruguy adalah “TIASA”. Werrr.. kami pun menuju Cigaruguy…

29cibeetSegeralah kita keluar dari jalan makadam dan disambut tanjakan tanah. Dorong sepeda sambil merenungi ban sepeda yang makin tebal dan tebal karena lumpur dan tanah menempel. Biking ngosh ngosh juga. Untung turunan segera menyambut. Turunan dalam kampung makin lama makin habis dan jalan makin tak terlihat. Saya tengok di GPS saat aktual perjalanan sudah mulai menyimpang dari rencana. Ternyata jalan yang ada dalam rencana (artinya tampak seperti jalan setapak di Google Earth) ternyata pada kenyataannya tidak ada di tempat. Huaduh!!

Sempat bingung dan tanya-tanya dalam kampung dan kepada siapapun yang kita temui, semua bilang ‘Tiasaaa…’. Pada kenyataannya kita berhenti di pematang sawah yang makin dan makin sempit. Untung bertemu mang Jajang yang bersedia mengantarkan sampai Ciagaruguy, tentusaja setelah mendapat wejangan dari pak John Epak pake bahasa yang baik dan benar.

Track sudah keluar dari rencana. Berbelok ke kanan masuk ke lembah Cibeet dalam petunjuk Mang Jajang. Blusukan dalam arti sebenar benarnya. Masuk ke trek yang tidak seperti trek. Saya yakin kalaupun tanpa bawa sepeda saja sudah susah menembus campuran atara pematang sawah, kebun dan padang alang-alang… Disini lah Om Ratman meraja lela dengan bb nya merekam foto dan video kumpulan orang sempoyongan bawa sepeda yang tigusruk kiri dan kanan. Menyedihkan… Onak dan duri jangan lagi ditanya, membabat dengan sukses tangan kaki dan muka. Tambah perih dalam siraman air hujan ringan.

Acara akrobat yang rasanya tak habis habis ini disambut dengan mendekatnya penampakan dan suara sungai Cibeet Hulu. Sungai ini membatasi kabupaten Bogor (tempat kita berada) dan kabupaten Cianjur (seberang sungai). Semakin mendekat maka suara deru air sungai semakin membuat hati saya pahit dan bergetar.

Akhirnya dengan sukses kita sampai di kampung Cigaruguy, ketemu sebuah keluarga. Betapaaaa…. leganya bertemu kampung dan peradaban setelah terbanting banting di tengah ‘Bukit Tiasa’ Cigaruguy…

Yang bikin keder, warga kampung bengong melongo waktu kami bilang kami mau nyeberang Cibeet..

Ampuuuunnnn.. di kejauhan terdengar suara gemuruh air sungai Cibeet

Saya sampai gak ngambil foto satu pun. Yang ada di pikiran cuma belom bikin surat wasiat saja…

post berlanjut ke bagian kedua…

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr

WJxc Ride#13 NWtGtC Track Cikarang (En)

IMG_0717lioIMG_0735piringIMG_0738warnasCikarang, 8 Dec 2012

Your backyard could be so tricky. It’s the place you always around, tend to be boring, since you have been going around, all over it.

The balance between boring feel and abundance time availability of the track gives that mixed feeling. This is track is all about this balance… This post of West Java XC ride will be on one track in Cikarang area. A training track which I have called these nearby, backyard tracks as ‘bimbel’. A fun name for a training tracks. Yes, this fun name help me keep the enthusiasm every time have a try on the track.

Cikarang Area, the place I live for the last 16 years, including the last 6 years of mountainbiking, been transformed from a hilly country-side into a huge and dense manufacturing-based industrial areas. The transformations been severely change the neighborhood into more concrete-asphalt (boring for mountain biking) roads. Residential area also changed, from a bad cross country style roads into more, again, asphalt and concrete. This concrete access been changed the face and the feel of residential area up to 60cm-1m wide (formerly) single-tracks. Getting over these concrete lines, as minimum possible run over the not-so-interesting terrain, will be the first task before having fun in the playground of cross country cycling.

This one particular track I myself register as Bimbel#4, basically find the off-road mountain bike playground around Cilangkara, Nagacipta and Sirnajaya. These area are southern part of Lippo Cikarang, major estate in Cikarang. The ‘real’ part of the track is these three areas. Classic cross country, small ups and downs, no surprises, no steep uphills or downhills since the track is part of indigenous country sides urban area.

After having a sprint enjoy ride of the small hills, then we have a chance to take a traditional ‘warung nasi’ (traditional restaurant), have a hot soup, cool iced water to have your mind and body refresh…

Our backyard, actually available every day, we can have it every morning before work or every night for nightrides, really a jewel. It is only a matter of how we see it differently.

I don’t really know up to when these Bimbel tracks will hold on over the expansion of residential and industrial areas… Let’s not worry about it, just enjoy these beauty around our backyard as long as available

These are set of ‘Bimbel’ tracks:
Bimbel#1 Jalur Lio-Kiara Gedur http://www.bikemap.net/route/1436798 23.6km
Bimbel#2 San Diego-Pasircongcot www.bikemap.net/route/1329078 47.9km
Bimbel#3 Cibatu 129 http://www.bikemap.net/route/1907172 12.9km
Bimbel#4 NWtGtC http://www.bikemap.net/route/1922853 41.5km
Bimbel#5 San Diego Easy http://www.bikemap.net/route/1907171 35.2km
Bimbel#6 Bondol http://www.bikemap.net/route/2015385 31.5km

Bimbel#4 NWtGtC
Course distance: 41km (start/finish at Home)
Character: pretty flat, small hills, country side fire-road double track

Facebook photo link…

Tracklog http://www.bikemap.net/route/1922853

IMG_0723no#13-NWTGTC

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr

A Simple Heritage Cycling Ride… ride around Ayutthaya (En)

a warm morning welcome

a warm morning welcome

a 29 ride

a 29 ride

bike05Ayutthaya, 13 Jan 2013

This is my only second time to Thailand. This time I have more time, two night and tree days, yet I found to be not enough.

Going to Ayutthaya (see… http://wikitravel.org/en/Ayutthaya ) found after browsing with keywords ‘ruins’. Last experiences on photographing ruins always proven to be a worth to take visits: Situs Gunung Padang, Cetha Temple, Sukuh Temple, Ratu Boko Temple, Tamansari, Kraton Kaibon, Kraton Surosowan. I have become a ruin buildings fans. Ruins always giving a lot of exploration possibilities to take pictures. Ruins also giving us a feeling of drama. Ruins always dramatic. Visually ruins also giving a lot of visual, composition and content possibilities. Background history will add more on content of the photograph.

My other posts related to ruins (most of them in Bahasa Indonesia language):
Gunung Padang Megalith Ruins http://antoix.wordpress.com/2011/05/06/tgunung-padang/
Cetha Temple http://antoix.wordpress.com/2011/04/22/uphill-candi-cetha/
Kaibon and Surosowan Palace http://antoix.wordpress.com/2012/02/28/banten-lama/

Ruins of a temple, or once a military fortress, or once a royal palace already give us a shock and a lot of drama, this time we are talking about ruins of a city, ruins of an old capital of Siam. Ayutthaya, a city once inhabited by more than one million back in 16th century. A city full of prosperity and glory, full of luxury and greatness.

Ok, enough on the ruins story, let me write on the cycling trip…
What? Cycling trip?

Yes. This time I will not write on mountain bike ride as usual, this time about cycling around the old city of Ayutthaya. From one tourism spot to other.

Bicycle was not hard to find, rental in front of Ayutthaya Train Station already written as a reliable and cheap bike rental. It cost us around 1.0-1.2 USD per day. You only need to show your passport and they will take a copy of your passport. This copy will be returned back to us. The bicycle rental spot also widely known and write by blogger/fellow travelers, it was well known and easy to find.

Bicycle condition? Hey! It’s a 1USD rental, what do you expect? At least it was ready to be ridden, not mention the gears change problem off course. But anyway it’s not too much problem since the track was flat, unless the part hike across the Chao Praya river bridge. Some part of the city, especially in the area of temple complex, the road was not crowded and we have bicycle lane under the trees. Really enjoy the ride.

The tourism area also not too far to take on bicycle. Taking the Sleeping Budha site and Chao Praya river/Train Station was 10+ km ride

Although it’s not a mountain bike, it’s really give a spice to the city tour. You have a different feeling, got some sweat, meet other cyclist, take unique angle to picture the city. I really recommend you to take bicycle around the city. Yes, we receive some security precautions from the cycling-rental, not to put bags into the basket in front of the handlebar.

The same feeling as bike to work, while you on bicycle you will have a very different view of what’s around you. You move slower, you have more plan to see what’s around, you can have the smell (literally) of the streets.

Tacklog could be find here… http://www.bikemap.net/route/2015404

Distance: 10.4km
Terrain: asphalt city road, flat

map-ayutthaya

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 34 pengikut lainnya.