Fotografi Hitam Putih, salah satu sudut pandang . . .

Weekend lalu saya ngobrol dengan sepupu, dia kerja di media, jadi lumayan faham fotografi, minimal paham cara melihatnya. Dan pembicaraan seru yang saya pengen share disini adalah tentang black and white. Tentang salah satu pemahaman terhadap karya black and white. Belum tentu benar pemahaman ini, tapi minimal seru buat menambah sudut pandang terhadap sebuah karya.

Katanya, black and white itu ya seperti namanya: hitam dan putih. Jadi dia seperti memisahkan kenyataan dari segala asesoris nya. Kadang warna itu memang memperkaya, tapi juga warna berpotensi membuat kita terpengaruh oleh aksen-aksen yang berkait dengan nature dari warna. Jadi warna itu berpotensi untuk mengaburkan apa yang menjadi kenyataan dari sebuah situasi.

Sementara black and white seperti mengembalikan kenyataan pada proporsinya, apakah kenyataan itu hitam atau putih. Black and white seperti memisahkan obyek dari pengaruh dan distorsi warna.

Komentar bertahan »

Mau coba bikin trek sepeda?

Buat saya teknologi Om Hanif menghasilkan trek trek luarbiasa sangatlah membuat saya penasaran. Kok bisa ya, memanfaatkan peta dan komputer, serta sedikit sentuhan teknologi GPS menghasilkan trek trek yang kalo disepedahin mak nyuussss, terkenang sampai berhari, berminggu, berbulan, bertahun kemudian. Kok bisa dan bagaimana caranya.

Akhirnya, suatu hari saya berhasil mendudukkan diri saya di kursi sebelah Om Hanif, di kamar dua putrinya di rumahnya di jalan Beruang. Haha… inilah saat mempelajari jurus-jurus beliau membuat trek!!!

Pertama, tentu harus ada internet dan komputer yang terkoneksi internet. Lalu install program yang namanya Google Earth. Pada saat jari Papa Tebe menari diatas mouse, lincah sekali. Di layar tampak berbagai garis bebagai warna. Berbagai tanda berupa bendera yang diceritakan dengan panjang lebar termasuk kisah bumi terbentuknya. Pernah diajak ngobrol Papa TB tentang gunung, tebing dan tanah? Wah, bisa panjang!!

Lalu dari situ saya pelajari bagaimana Papa TB melihat sebuah calon trek. Google Earth (GE) mempunyai fungsi zoom dengan scroll nya di mouse. Lalu program yang terkoneksi internet ini akan loading foto-foto udara yang lebih detil. Namanya juga program gratisan, jadi jangan berharap terlalu banyak. Jangan bayangkan seperti program komputer di film ‘Enemy of The State’ saat Will Smith dikejar2 pakai satelit dan bisa di zoom sampai sepatu nya kelihatan. Kalo GE sih bisa zoom sampai ke ukuran atap rumah kita kelihatan bedanya sama atap rumah sebelah, tapi tetap saja buram dan beresolusi rendah.

Lalu Papa Tebe menunjukkan bagaimana beliau melihat jalan raya aspal, jalan makadam, jalan singletrack. Paling susah adalah jalan yang ada di dalam hutan, justru di kerimbunan pohon. Foto udara nya akan sangat buram menunjukkan singletrack atau doubletrack yang ada. Padahal jalan kaya gini yang paling enak dan adem buat sepedahan kan? Papa Tebe juga menunjukkan bagaimana menghubungkan satu tempat dan satu tujuan tertentu. Misal mulai deh masuk ke trek Saguling misalnya, kelihatan tuh gerbang, jalan di Cocoa Plantation lalu singletrack menyeberang sungai jembatan bambu dst dst.

Fyuh!!

Yang itu saja sudah pusing dan membuat mata jadi kedip-kedip gak karuan. Lalu beliau pun membuka window lain, membuka program lain lagi, gratis juga, Google Map, dan membandingkan temuan trek di GE dengan GM. Di GM tampaklah peta kontur nya, dimana miring, dimana turun dan nanjak. Kalau pernah ikut pecinta alam jaman baheula dan kenal peta topografi, rasanya tidak akan canggung membaca GM. Tapi buat saya tetap aja rumit dan pusing…

Lalu mulai deh hubungannya ke sharing site seperti Bikemap. Buset… disini kita bisa juga download dan melihat perjalanan yang sudah dilakukan orang lain dan sempat dituangkan ke digital tentusaja. Bisa jadi referensi apa trek atau tujuan yang kita incar sudah dicoba lebih dahulu oleh orang lain atau belum.

Semua bimbel tersebut dilakukan tak lebih dari 30 menit-1jam. Kalo gak salah sekitar gak jauh dari beliau sembuh dari cedera Kawah TalagaBodas. Hebatnya lagi, beliau Papa TB ini selalu pakai GPS pinjaman (kantor atau sekarang Om Isur) buat mencocokkan dengan keadaan saat trip/survey. Ini juga dilengkapi dengan kemampuan mengingat dan membaca area di sekitar kita dari sisi topografi.

Mau nyoba bikin trek?

Mulai lah liat keluar jendela. Dan bayangkan kalau rekan melihat dunia ini dari atas, seperti burung melayang-layang. Itulah kira-kira penampakan di Google Earth.

Sampai sekarang saya belum bisa menggunakan Google map dengan baik. Kalau Papa Tebe tidak hanya GE dan GM yang dipakai beliau, tapi juga analisa geologis ilmu beliau dan memunculkan kondisi alam yang luarbiasa saat kita datangi.

Silakan mencoba, saya sih membagi contekan ‘how to see a bicyle track’ saja. Kalau diktat ‘How to build a bicycle track’ tanyakan langsung kepada Papa Tebe Om Hanif…

Komentar (1) »

A Short ‘pyramid’ ride

Sudah lama juga tidak pernah solo ride lagi. Kali ini cerita gowes sendirian di kampung orang pula…

Tidak tau apakah akan ada waktu untuk genjot, ya pokoknya bawa sepeda dan jersey etc saja loading ke mobil, kalo suasana hati dan kaki enak ya berangkat nyepeda nya. Ternyata acara sudah bubaran jam 12. Dan jam 1an mulai genjot deh…

Ke arah Sukawening, mampir di indomaret buat nanya dan beli pocari, tenggak 1 botol C1000 karena semalam hanya tidur di mobil dan badan kerasa masih kurang sentuhan ‘bimbel’… hehe Belok kekanan, disambut tanjakan miring aspal rusak, hosh hosh, tanya dan tanya lagi terus menyempit jalannya sampe lewat makadam tapi cuma tersisi selebar dua motor saja di tengah kebun kol, mulai lah tampak keagungan tujuan kita kali ini sempatkan memotret sambil ambil napas. Mulai khawatir dengan tumpukan awan nya. Rintik2 gerimis mulai datang.

Jalanan pun berubah dari jalan sempit dua motor tapi bergabung ke jalan akses selebar mobil campuran makadam, semen dan aspal rusak. Jalan tidak lagi ‘basa-basi’ tapi langsung nanjak dan lurus, melipir di punggungan kaki gunung.

Sampai akhirnya dari nanjak kebon kita nanjak di tengah kampung. Benar-benar miring. Kalau saja jalanan aspal akan sangat mirip dengan trip ke Coban Plangi, Malang. Jalan ke arah ngadas, desa sebelum Bromo dari arah Malang.

Trip ini dicukupkan saja dil level 1200m dpl, saat Gunung Sadahurip/Gn Putri alias pyramid Garut yang menghebohkan itu tampak gagah di sebelah kiri trek. Tampak kemiringan menuju puncaknya, ditambah hujan, ditambah sudah sore, kayaknya pilihan kemalaman sendirian di tengah kabut yang mulai turun juga bukan pilihan bijaksana…

Komentar (1) »

CikarangMTB Kolozal#8 Ranca Upas – Situ Patengan – Kawah Putih

Acara CikarangMTB Kolozal#8 19 Nov 2011 Kawah Rengganis kali ini istimewa karena ada paket kita bisa menginap kemping di Ranca Upas. Juga istimewa karena ada tim kecil SJ 15 orang yang gowes sampai ke Kawah Putih.


[sunrise at Ranca Upas]


[suasana pagi setelah kemping]


[persiapan start]

Rekan-rekan SJ Langgeng Utama boleh saja merasa asik ngebut setelah start, tidak terganggu kemacetan singletrek, tapi coba apa yang lebih *nendang* saat kita (yang katanya sak!t z!w@) ternyata dilibas, dikentutin, dikebulin sama peserta gowes norma (yang katanya sehat wal afiat).

Kejadian dimulai dari lepas singletrack, mulai nampak kebun teh, entah bagaimana maka kita keluar ke jalan makadam dari jalur yang berbeda, singletreknya lebih rideable dan asik sih, tapi ya muter jauh.

Udah gitu baru kemudian setelah ketemu pertigaan saya sadar kalau Kang Latif “fullkobir” Dolbon sedang terengah-engah dengan gadgets full-packed-photographer nya. Aduh rasa dosa saya segera kebayang deh mengingat gembolan Kang Latif waktu tadi berangkat start. Daripada nyasar di pertigaan akhirnya saya memutuskan ngetem dan menunggu grup paling belakang.

Satu menit, tiga menit, lima menit, limabelas menit, akhirnya tampak Kang Fotografer kita. Aduh saya segera hilang rasa menyesal lihat betapa raut muka Kang Latif sangat amat bersemangat. Seperti api akan keluar dari matanya. Tidak tampak penderitaan samasekali, yang ada semangat Bushido yang membara… salut untuk Kang Latif yang sehat ikut menguntit yang s4kit.

Setelah Kang Latif ‘aman’ saya meluncur ke depan, saya sudah pengen banget melihat kembali spot narsis Situ Patengan dari atas yang tampak jelas dari puncak Ranca Bali. Ketemu pertigaan dan, waduh tampak jalan sangat meyakinkan ke depan. Segera yang s4kit grup belakang saya minta duluan belok kiri, meluncur ke bawah menjemput impian, impian para peserta sakit yang keenakan turun nanjak dua bukit ketemu jalan buntu baru berhenti mereka. Bersama mereka pun akhirnya balik kanan (dua bukit lagi) dan tak lama kemudian mencapai site narsis puncak Rancabali.

Antrian segera terbentuk dan mulai lah saya lihat Sir Alex. Aduh buset, sudah kesundul kesalip kita sama peserta yang sehat!!! Tampak juga Om Jixzy dengan sepatu Cinderella nya yang juga sudah nongol dengan wajah merona, mungkin habis ngentut in Om TiJeh…

Akhirnya dengan sedikit pemaksaan dan Om Latif yang belum enak benar dengan tempat memotret kita paksakan satu satu peserta, dimulai dengan yang sakit dulu, untuk narsis satu persatu dengan latar belakang Situ Patengan dikejauhan.

Semestinya nanti hasilnya akan mirip dan sejenis seperti foto terlampir dengan sentuhan ala Om Latif tentusaja…

Siapa bilang s4k!t jiwa itu keren? Disalip aja bilang keren… Apalagi saat saya membantu Om Yadi ganti dua ban dalam nya di ujung turunan. Aduh, diasapin abiiiissss…

om yadi ganti ban depan belakang snakebite

Setelah pitstop warung Situ Patengan ala F1 yang sangat amat singkat dan “diusir usir” oleh yang nyetir panther saya :-) maka kami pun segera berangkat lagi. Anggota tim berubah ada yang bertukar kursi. Total 16 orang.

Segeralah setelah melewati bagian belakang Situ Patengan, kita pun melewati tanjakan ‘Bebekway’. Tanjakan ‘bebekway’ ini adalah pilihan lain dari tanjakan ‘chickenway’. Sepanjang menjalani tanjakan ini beberapa kali juga rekan-rekan berhenti dan bertanya, apa benar ini jalannya dan bukan jalan turun yang tampak lebih menarik?

Yak! itulah esensi dari ‘chickenway’ hehe… padahal ujung chickenway akan sama juga, nanjak miring jantung berdegub. Memasuki kawasan hutan lindung kecil, tanjakan ini pun berakhir… Kami pun lalu mendapat jalan relatif flat sambil terdengar adzan dhuhur, dan sampai ketemu jalan aspal dan makan siang dan sholat.

Trek segera dimulai setelah perut kenyang, melewati jalan aspal lalu nanjak kebun teh lagi ke desa Cipenganten. Trek setelah lepas dari jalan aspal adalah trek batu gravel dan makadam yang nanjak dan nanjak dan nanjak. Sebagian trek juga adalah singletrack asoy yang meliuk liuk di perkebunan teh, mencoba menghindari tingkat kemiringan kontur. Pada trip ini desa Cipanganten dijadikan checkpoint, jika team lebih dari jam 2 siang di desa ini maka tim akan balik kanan karena tidak akan cukup waktu ke Kawah Putih.

Bagian selanjutnya adalah salah satu bagian paling berat dari trip ini. Disebut ‘Tanjakan Diagonal’ memberikan trek yang menggemaskan, semuanya adalah makadam batu batu besar, dimulai dari tanjakan yang masih gowesable lalu naik sedikit demi sedikit kemiringannya sampai di level yang tidak lagi memungkinkan kaki dan hati untuk menggenjot. Sebagian besar ikhlas menjalaninya dengan acara menuntun bersama, hanya dua orang extraordinary dari member grup yang masih bisa genjot sampai di ujung memasuki kebun kina.

Di perkebunan kina ini sempat berhenti lagi, re group, dan beredarlah kuis pertanyaan ke setiap anggota trip, ”… mau kesini lagi gak Om?…” jawabannya aneh aneh, mungkin akibat oksigen yang kian menipis dan pengaruh tt berjamaah, termasuk jawaban ngajakin NR ke trek ini. Melihat respon dari member tim dan kondisi waktu, akhirnya diputuskan untuk melambung ke trek alternatif ”Longsoran Putih” yang sudah di-draft di Google Earth.

Pilihan yang segera tak saya sesali, karena selepas kebun Kina kita dihadapkan pada singletrack kebun teh yang nanjak manja namun dengan lingkungan kebun teh dengan kemiringan yang mengagumkan. Kalau kata Om AJE, seperti ‘negeri di awan’. Pengungkapan yang pas banget.

Tanjakan demi tanjakan tersaji terus tanpa henti. Rasanya kok disediakan tanpa melihat seberapa banyak yang kita bisa bayangkan. Rasanya itu tanjakan kok tak habis habis diatas meja terhidang padahal kita sudah mau muntah rasanya. Kemiringannya juga menggemaskan, pada keadaan fisik prima dan full power biasanya kita bisa atasi tanjakan seperti ini, namun kok akhirnya memilih untuk menyesuaikan berganti gowes dan tuntun. Asal terus maju ke sepan saja. Dan, untuk membuatnya lebih sebih sempurna trip ini segera menyediakan kegiatan gotong gotong bike melewati jalan berundak di tengah kebun teh.

Kenapa ya kalau GGB seperti ini rasanya kok jauh lebih berat daripada genjot atau TTB? Rasanya ‘habis’ benar sesampainya kembali di jalan makadam. Perjalanan pun dilanjutkan, jalan makadam kebun teh seperti tidak juga habis menyediakan tanjakan. Sampai di sebuah pertigaan seluruh tim regrup berhenti, tampak tanjakan panjang menunggu miring didepan. Rasanya seperti gak mau menemui kenyataan kita harus terus nanjak lagi.

Dengan ikhlas kita padukan teknik tuntun dan genjot di trek teknikal makadam miring nanjak. Yang ada di kepala saya adalah, ”aduuuhhh… kapan sih ini semua berakhir? ”. Pertanyaan dari rekan rekan pun sudah mulai aneh dan mendesak. Dimulai dari ”Kawah putih nya masih jauh gak Om?” lalu ke ”Sebenarnya kawah putihnya disebelah mana sih Om?” lalu sampai ke ”Ah, dari tadi kawah putih dibilang deket deket terus tapi gak nyampai nyampai…”

Pendakian kita pun mencapai sebuah ujung tanjakan dengan pemandangan desa ‘tanpa listrik’ yang kami lihat waktu survey. Pemandangan sebenarnya indah banget, cuma ya anggota tim sudah mulai gelisah karena hari semakin beranjak sore dan juga kondisi fisik semakin habis. Mungkin juga pengaruh emosional karena secara fisik oksigen mulai tipis di ketinggian seperti ini.

Setelah melewati sebuah saung, jalan pun membawa kita turun dan menemui pemandangan menakjubkan apa yang saya sebut sebagai ‘Longsoran Putih’.

Setelah melewati longsoran putih yang magis, memasuki hutan nanjak lagi sedikit sampailah kita di Kawah Putih. Sayang sekali segera disambut hujan deras sehingga mengurungkan niat untuk masuk ke lokasi wisata alam yang indah ini. Langsung meluncur turun kembali ke titik start Ranca Upas.

kwh

Tracklog ada di

Perjalanan survey (garis ungu), aktual perjalanan hari h (garis merah)

Komentar (2) »

Ranca Upas to Kawah Putih; Survey Cikarangmtb Kolozal#8 ~ part3 of 3

Tulisan ini adalah lanjutan dari bagian kedua…

Tanjakan “Diagonal” seperti yang diceritakan Om Hanif sangatlah indah dan keren untuk dituliskan dan dibicarakan, namun sangatlah pedih untuk dijalani dan dikenang. Sepeda-sepeda sampai puluhan juta rupiah, berat sepeda dibawah 14kg, baju jersey keren para pesepedanya, backpack dari merk terkenal, tak ketinggalan sepatu lengkap dengan cleat, semuanya tidaklah terlalu berarti. Matador. Manggih tanjakan dorong… Terusterang saya merasa sedih dan terhina, namun tentusaja saya tidak akan meresiko kan diri mencoba dan ambruk dengan cleat gate/cleat injury terbaru. Tawakal saja dorong dorong bike, heartrate sih tidaklah jauh dari 140an bpm. Cuma kaki cenut-cenut, sepatu beberapa kali terpeleset karena batu batu lepas. Susahpayah kita menemukan jalur yang enak hanya untuk sekedar mendorong sepeda. Tim segera tercerai berai, dan hampir tidak ada suara apapun kecuali suara sepatu dan ban bertemu batu makadam. Krosak… krosak…

Bagian trek ini mengingatkan saya pada tanjakan-tanjakan di trek Cioray. Miring, hampir mustahil untuk dikendarai dengan sepeda. Lho? Hampir mustahil? Apa ada yang bisa? Jawabannya nanti kita cari dari orang-orang yang ngacung memiliki banyak masalah pribadi serta ingin menguji derajat sakit jiwa masing-masing. Nanti ya 19 November saya jawab apa ada yang bisa.

diagonal
[foto oleh antoix tapi pinjem kamera masbro yg sudah malas memotret]

Mengejutkan, tiba-tiba kita menemui sedikit jalan melandai. Rupanya setelah diagonal melewati pinggang dan dada, kita akhirnya sampai juga di ujung kepala dari punggungan ini. Fyuh!! Sambil menegak air, saya jadi mulai memperhatikan bahwa di sekitar kita samasekali sudah tak tampak pohon teh, namun kita berada di tengah hutan pohon kina dan pohon-pohon perindang lainnya. Mungkin sampai sekarang masih ngilu rekan-rekan yang kemarin lewat trek ini. Malah jadi ada pertanyaan dengan ekspresi wajah super heran, “… emangnya Om mau lewat situ lagi???…”

Datar sedikit bisa gowes dilanjutkan dengan tanjakan berganti-ganti. Lalu tiba-tiba mendatar jalannya (ajaib!!) dan benar saja disusul dengan berhenti nya Papa TB dan Om Eyang mendiskusikan trek. Wadoh. Alamat deh… Alamat Palsu…

Dimanaaa.. dimanaaa… dimanaaa….
*mbayangin Ayu ting ting

Wakakakaka…

Tahap selanjutnya adalah kita memutuskan memotong ke kanan, masuk ke rerimbunan belukar setinggi sekitar 2.5-3 meter. Pohon-pohon perindang kecil saja di kiri kanan jalan singletrak menanjak setapak. Acara tuntun dimulai lagi. Singletrack ini adalah jalan akses ke kebun paprika di tengahnya rupanya. Pohon mirip cabe dengan buah nya yang hijau dan besar-besar mengingatkan saya pada Pizza Hut. Kruyuk… kruyuk… jadi laper perut. Hah! Konsentrasi dorong dulu.

Setelah memasuki kebun paprika, maka kita mulai masuk ke area yang tanpa singletrack. Masing-masing mencari jalannya sendiri. Berusaha sekedar melewatkan sepeda mengatasi area ini. “Ada kebun teh di depan” kata Papa TB seperti seorang peramal… Melihat kondisinya seperti nanjak di foto-foto “Tipar, jalan yang hilang”, hanya ini semak-semaknya tinggi tinggi banget. Baru kemudian saya sadar MBahBro tampak kepayahan, terutama karena handlebar-nya yang lebar, yang nyangkut kesana kemari. Muka MbahBro sudah memelas sekali, cuma sinar matanya masih mengkilat-kilat kayak mau makan Gurame saus Tauco.

(diingatkan lagi, nama dan sebutan hanya fiksi saja…)

Akhrinya, tampaklah secercah kebun teh di depan… Alhamdulillah… lega nya serasa bertemu peradaban lagi. Tapi ternyata masalah hidup kita memang berat, kita masih harus naik ke atas lagi, membelah celah pohon-pohon teh yang sempit, hanya seperti jalan air saja, menuju ke atas… “…ada jalan di atas…” kata Papa TB lagi. Suara belio seperti campuran antara ramalan dan perintah serta harapan, saya sudah susah membedakan.

Dimanaaa.. dimanaaa… dimanaaa….
*mbayangin Ayu ting ting (lagi)

Menghadapi kejadian TTB-DDB-GGB ini mulai tampaklah darimana asal perguruan para pesepeda. Ada yang dari perguruan Taman Safari (sepeda didorong), lalu perguruan Nona (bukan ndorong sepeda malah motret), lalu perguruan Kopasuss (Sepeda dipanggul), dan tak lupa perguruan Tong Setan Tegaldanas (Sepeda diangkat jumping ban balakang digelindingkan di trek, sepeda didorong pake perut). Wah, segala jurus keluar, hanya untuk kembali mendapatkan jalan di perkebunan teh…

Fyuih!!!

Saat ketemu jalan makadam lagi, hati lega, langit pun mulai gelap
Masalah kehidupan kami berempat memang terbukti berat sekali…

Jalanan yang kami temukan adalah jalanan makadam, tidaklah mulus khas kebun teh, namun entah kenapa jalanan itu sore menjelang malam itu tampak baguuuuusss banget yah? Malam beneran menjelang, mulai didata logistik, siapa masih ada air, siapa masih ada roti, siapa masih ada biskuit, siapa bawa lampu, wah kejadian kaya gawat bener aja.

Setelah selonjoran melemaskan otot, memandang Situ Patengan di kejauhan dibawah sana, sayup-sayup terdengar suara gas menyembur dari sumur pengeboran di bawah sana. Entah kenapa feeling saya jadi seperti pas kita selesai menanjak di Gn. Padang dan dari ketinggian melihat kebawah ke arah situs gunung Padang. Mana jam nya mirip lagi, sekitar maghrib.

Setelah nyawa sudah terkumpul, kami pun mulai menyusuri jalan inspeksi kebun teh, kali ini cukup landai kok, tidak ada lagi tanjakan-tanjakan Ayu Ting Ting seperti di tengah kebun Kina. Gelap segera cepat sekali menyergap, tanpa kami sempat melihat dimanakah tujuan seputar puncak gunung, kawah Putih. Senangnya kami waktu bertemu bapak-bapak naik motor, lalu bertemu penjaga kebun dengan api unggun nya di sebelah trek. Serasa benar kembali ke peradaban yang rasanya setelah 1800mdpl tadi jauuuhhh banget dari jangkauan.

Jalanan gravel kadang digenjot dan kadang juga dituntun berjamaah. Tuntun dilakukan kembali karena ternyata peristiwa TTB-DDB-GGB tadi sangatlah menguras energi dan semangat. Fisik dan mental. Tak lama kami menjumpai di sebelah kiri trek, di bawah jalan yang kita lalui, ada kampung kecil berisi sekitar 20-an rumah, mungkin perkampungan pekerja perkebunan. Wah, ini kampung tanpa listrik, samasekali tidak tampak ada suara kehidupan dari bawah sana.

Jalanan gravel dan makadam masih kami lalui, dengan beberapa kali bertemu motor dari arah berlawanan. Beberapa motor berhenti dan bertanya, “Mau kemana??…”. Dorong di tanjakan, kadang kadang digenjot juga kalau masih mampu, akhirnya kami sampai juga di semacam titik tertinggi. Seputar trek sudah asli hutan saja, tidak ada lagi perkebunan atau perkampungan. Dari titik seperti di puncak bukit ini (diperkirakan 2200m dpl) maka kami turun dan menemui jalan berubah menjadi aspal!! Aspal mulus!! Cihuiyyy… hati berdegub kencang, lega campur girang bukan kepalang.

Meluncur turun, ditunggu tanjakan, lalu sampailah kita di semacam area parkir. Dengan gagah tampak penanda tempat ini “Kawah Putih”… Alhamdulillah… sampai !!! Suasana ceria dan lega segera menyebar ke seluruh tim.

Area itu sih sepi sekali, tanpa penghuni tanpa warung tanpa listrik tanpa cahaya. Hanya tampak semacam area parkir dan area berteduh. Seluruh anggota tim duduk selonjoran di aspal dan mulai ada yang merokok. Suasana canda tawa tiba-tiba hadir kembali secara instan. Cokelat dan biskuit pun segera beredar. Melongok jam tangan saya melihat jam 1830. Hampir 13 jam kami menjalani trip ini.

Sama seperti trip trip menanjak yang lain, seberapa tinggi pun gunung, seberapa panjang pun tanjakan, pasti ada juga yang namanya ujung tanjakan. Semua penderitaan dan kesulitan selama perjalanan kok ya hilang begitu saja dengan sampai di tempat yang dituju.

Setelah seremonial foto dan menengok kawah putih yang guelap, akhirnya kami pun berangkat turun… Ya, turun kembali ke Ranca Upas melewati jalur onroad. Jalur onroad kita turun ini adalah jalur yang biasa digunakan orang-orang naik mobil/motor untuk berkunjung ke Kawah Putih.

Hanya dua dari empat pesepeda dengan lampu. Satu headlamp satu handlebar lamp. Turun dari sekitar 2200 m ke 1500 mdpl ini kami jalani dalam sekitar 30-45 menit. Rasanya panjang banget, dan jelas pasti dingin sekali. Hanya saya yang bawa windbreaker, rekan-rekan lain pasti lah kedinginan banget di trek turunan yang curam berkelok kelok ini. Kami hanya 2-3 kali pedalling, malah lebih sering menguji rem karena medan nya memang cukup menantang. Apalagi ditambah gelap.

Akhirnya dengan lega dan hati bahagia kami kembali menemukan kendaraan yang parkir di Ranca Upas. Jam sekitar menjelang jam 8 malam. Rasa tidak percaya berhasil melalui perjalanan ini. Rasa percaya diri juga bercampur didalamnya, karena ternyata masih diberi kekuatan untuk bisa melewati trek seberat ini.

Alhamdulillah…

SELESAI

Tracklog bisa dilihat disini…
Foto-foto bisa dilihat disini..
Keterangan acara Kolozal#8 ada disini…

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear

Komentar bertahan »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.