enjoy every cadence, every breath…

Terbaru

Gowes pilek sabtu pagi penutup tahun 2013

wIMG_0419kapalselam

Mmm… kayaknya udah lama banget ya tidak nulis cerita gowes di milis dan blog. Oke kita mulai tulis saja untuk juga meramaikan milis menjelang KOLOZAL

ini sebenarnya genjot sudah sabtu beberapa bulan yang lalu, weekend terakhir di 2013. Sebenernya waktu 5 hari libur kerja sempat sudah putus asa tidak akan ada acara gowes, begitu libur dimulai lha kok pilek juga dimulai… Tapi syukurlah sabtu pagi itu jadi juga gowes.

Teman gowesnya siapa?
Milis dan group watsapp masih terus dibanjiri dengan cerita dan foto foto rekan rekan yang lagi di seantero pulau Jawa. Tapi tumben kali ini saya tidak pengen keluar kota, mungkin juga bawaan pilek, jadi ya sepanjang lima hari berkutat seputar Cikarang. Bahkan bekasi pun tidak. Jadi cari teman gowes agak ribet juga untung akhirnya Eyang AN nyahut. Asiiikkk rasanya udah lama banget juga tidak gowes Cikarang an sama Eyang.

Dan pagi itu pun saya memarkir Ki Lobang di AA Bike yang tutup dan sepi. Yang ada cuma kapal selam dan juga Eyang beserta Bu Titi yang siap gowes pagi yang tampak cerah ini…

wIMG_0424duetBanyak yang sering bilang, gowes dengan siapa aja seru selama gowes sepeda. Trus juga ada yang bilang yang penting sepeda dan dengkul sama mental. Tapi dari pengalaman teman gowes selalu memberi bumbu tersendiri dari acara gowes. Sambil mulai gowes ke arah Gemalapik kita obrol obrol lalu saya lempar satu pancingan yang saya tahu pasti disambut baik. “Om, saya liat ada belokan, kayaknya sih ujungnya buntu. Ayo kita coba buktikan apa benar buntu…” Gowes nyasar bersama jago nyasar… apa lagi coba yang kita perlukan untuk memperindah gowes hari ini?

Belokan terduga buntu itu pun memberi kami singletrack, licin licin berlumpur sisa hujan semalam, masuk ke bawah rimbunnya bambu yang embunnya masih netes netes. Rekan saya gowes pun berhenti dan mulai mengeluarkan jurus jurus jepret kamera nya. Herannya, kembali ke penemuan singletrack, kok ujung singletrack itu kuburan ya? Hohoho… Rupanya terinspirasi oleh ‘pembuktian jalan buntu’, rekan gowes saya ini tergoda untuk melewati sebuah bukit yang mirip savanna. Latar belakang area Lippo Cikarang yang luas. Memang mengundang.

E: ‘Yuk, Om.. belok kesini’.
A: ‘Buntu om…’
E: ‘Lha, tadi juga katanya buntu…’
A: ‘Saya pernah coba om…’
E: (diem dan bejek crank)
A: ‘What can I do?’ (ikutan bejek juga)

Dan, memang sudah pernah saya coba sebelumnya, jalan buntuk kali ini memang benar benar jalan buntu. Turunan asik dan akhirnya kembali naik saat nemu jalan buntu. Dan tanjakan itu pun ditutup dengan blusukan masuk ke singletrack dan lagi lagi ketemu kuburan di belakang rumah orang.

wIMG_0426duarodaTak lama kami pun melewati kampung dengan onggokan sampah lengkap dengan sapinya dan masuk ke kopleks lippo.

Melewati jalanan beton Lippo tidak terlalu menarik diceritakan, tapi obrolan sambil gowes nya jauh lebih seru. Salah satu obrolan adalah trek kolozal#12 yang bakal melewati jalur kucing totol. Eyang juga cerita sambil nanjak offroad melewati trek Rally Perang, kalo ketemu kucing totol masih lebih mending daripada ketemu Si Belang. hadeuuuhhh… Ini teman saya kok ya masih bisa lancar cerita sambil nanjak ya? Saya jadi pura pura bisa njawab padahal hosh hosh banget…

Gowes pun berlanjut dan diberi pilihan lurus (sate kodam) atau kiri (cilangkara), tentusaja kita memilih ke kiri sambil terus menceritakan perihal si kucing totol. Memang waktu survey kemarin kita melewati titik sekitar ketinggian 1800mdpl saat menjelang maghrib, kabarnya ini waktu yang pas memang kucing totol jalan jalan mulai berburu. Wah, gimana ya nanti cerita ke para peserta Kolozal#12?

Kabar baiknya adalah, kucing totol ini sebenarnya tidak seperti pejabat di milis ini yang suka cari perhatian dan menantang, kucing ini lebih santai dan ‘lu lu gue gue’. Jadi kalo (misalnya) nanti liat ya ‘cuek aja’ katanya adalah cara terbaik… Jangan malah minta barengan bikin foto terkenal yaaa… buat update FB (ehem!)

Dari awal speed gowes ini, sesuai judulnya adalah genjot pilek, aseli pelan pelan. Cuma di tanjakan aja kami jadi lebih ‘semangat’. Tapi memasuki jalur non-beton lio Cilangkara kayaknya seru buat dibuat sprint… betol?

Lalu kita belok kiri kearah ‘jalur kebo’. Kembali rekan gowes saya berhenti di area kebo berkubang. Suasananya memang aseli asyik. Matahari masih dari samping, jadi sinarnya itu menyusup agak miring, cenderung masih mendatar arahnya. Masih ada sedikit embun dan kabut. Lalu dilengkapi dengan 19 ekor kerbau yang berkubang dalam lumpur…

wIMG_0430tehpanasSebenarnya tadinya waktu berangkat gowes saya lagi pengen nyobain lagi opsi cilangkara kebun jati, yang masuk ke kebun jati nya yang waktu itu pernah dicoba bareng Om Atoe dan Om Okky. Tapi saya sadar diri aja. Pilek dan dari tadi ditinggalin terus ama rekan gowes saya, sudahlah kita balik langsung saja… maka kami pun belok kiri ke arah belakang PLN Cicao. Om Eyang tampak ngacir di depan sementara saya gowes terbata bata.

Kembali lagi teman gowes saya menawarkan kejutan baru… “Om, ada singletrack di belakang Pemda” Jiaaaaa… Kami pun keluar dari jalur gravel belakang Pemda dan mendaki sebuah bukit. Bukitnya banyak kambing makan rumput, telletubbies banget dah dan ternyata asiiikkk… Saya bilang ke Eyang, tempatnya mengingatkan pada film ‘Soung of Music’, ada padang luas berumput dan banyak kambing.

Yang lebih menarik adalah ujung dari singletracknya, kita jadi muncul di belakang pabrik ban baru yang ada di Delta Silicon. Segera tuh nyerocos teman gowes saya, “wah Om, dibalik enak ini… buat nanjak sore sore” mmm.. iya deh…

Pulang lewat offroad tersisa di Cibatu kami pun kembali ke AA Bike dan selesai lah gowes ini. Berita sedihnya adalah jalan offroad grojalan di Cibatu sudah ditebar gravel siap siap dipasang beton…

TAMAT

WJXc Ride#22 Cilangkara via Teakwoods (En)

rIMG_0077udukCikarang, 7 Nov 2013

What do you think if you want to have a new blood on your regular ‘backdoor-track’? Yes! This is what I want to do this morning, unfortunately with very minimum plan in hand…

Mmm… not really with empty plan I guess, some possible lines coming. Some intersections options flash in mind. Some possible lines which reflected from last rides around neighborhood. Ok let’s just try and kick the crank on to it.

Some articles in mountain bike magazines said that I should look for more options, look for (so far) un-wanted intersections, some points of options which, up to now, been thrown away as insignificant. And while we turn my handlebar to Cilangkara area, one special intersection been haunting me all the way.

It’s a classic excuse, that you have been for ‘some time’ not taken training rides… and use this as a magic clause to have a hot tea and snack pitstop.

rIMG_0081pitstop

Pit stop always been one of the special experience when I do cross country cycling around neighborhood, it’s like visiting your neighbor, the time still, like a still photograph, you will have your time to take closer view to whatever around your track. Which is actually your neighbor, your next door, your housing complex backyard’s owner… This pit stop will also be your time to emulate you as ‘locals’. Trying to be more indigenous. Try to as much as you can be blended with the environment.

And the haunting singletrack option, going deep into what us called ‘kebun jati’ then show a remarkable result. The singletrack option have a steep technical uphill session, a wood like section, and a long gravel section. A rewarding present…

Another reward was another steep technical uphill to kampong near Lembah Hijau Residence. I have to take another pitstop since we have found a traditional full wood Betawi style house. A real jewel around the modernized turn to industrialized area. A sweet closing state and another beautiful hidden track revealed. Another option for local rides to choose…

rIMG_0084rumah-betawi

Morale of the story is… do not underestimate ‘uninteresting singletrack’. Unless you have prove it to be not worth enough, by going through it, you need to worry…

Trip info:

Riding Specialized Carve 29″ hardtail
tyres: Continental X-King 2.2
uphill: 5/10
singletrack: 4/10
downhill: 3/10
technical: 3/10
endurance: 7/10
landscape view: 4/10

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr

When things get rough…

Halah judulnya meuni heboh…

Intinya malam ini baru ketemu tuh password nya site ini lagi (parah ya?) setelah kemarin komputer upgrade volume hardisk dan upgrade OS. Karena keindahan tab ‘remember me’ yang menyimpan seluruh password, jadinya deh kelabakan cari dimana posisi password terakhir….

02terowongan

Kagetnya ternyata post saya di blog ini terakhir kali sudah hampir dua bulan yang lalu, alias di bulan Oktober.. halaaaahhhh.. Sebenernya gak mau kelihatan belakangan jarang sepedahan sih, tapi ya sudah kita mark saja di akhir 2013 ini kalau kemarin sudah gowes seru seru an juga setelah WJXc Ride#21 di post blog Oktober yang lalu…

Sebenernya post blog ini juga sedang mencoba menuliskan alasan kenapa jarang sepedahan apalagi nulis blog dalam dua bulan terakhir, tapi alasan kesibukan kerja dan main musik kayaknya tidak cocok ya buat gambaran alasan yang dapat diterima…?

Ride#22 Cilangkara Masuk Hutan Jati… link facebook…
Ride#23 Jalur Poncol8 Cikarang…. link facebook..
Ride#24 Dingin Bandung Selatan link facebook…

Memang yang selalu di update dari kegiatan sepedahan ya di facebook karena melakukannya lebih simpel, hanya memikirkan konten saja… link ke facebook…

Nanti sedikit sedikit ditulis lagi ride per ride diatas report nya seperti biasa… yang lebih geuleuh adalah passwork ke bikemap belom ketemuuuuu…. hadeuhhh…

Enjoy every cadence, enjoy every breath…

WJxc Ride#21 Kukurilingan Batukarut

wIMG_3926-relBandung, 21 September 2013

After having a rude trip two weeks earlier in Kutajati trip … , this is the time to do simple mountain biking… Yes simple trip from my in laws home in Buahbatu, South Eastern part of Bandung to Batukarut, hilly area Eastern of Bandung.

A lot of the track part was an asphalt town track, full with dusty smokey and reckless Indonesian style motorist drive. Luckily it was start 6am in the morning, resulting a nice and relatively empty road all the way 18 km from Buahbatu to Batukarut. Stop by take pictures around terusan Buahbatu and Pasar Kordon. Yes, relatively empty, but for me, it was a boring line to cycle. I really missing the roughness of off-road mountain bike tracks…

IMG_3928kordonBy riding bicycle you will have a passport to stop and take pictures without somebody suspicious on why you take pictures. This is one of the beauty of cycling, it fit with my other passion: photography. Stop by at Pasar Kordon, a busy and hectic parking practice traditional market. If you only bring camera and take pictures, a lot of people will think you are some kind of journalist which covering news on traditional market which being a usual source of long traffic jam around Terusan Buahbatu, Bandung. But with bicycle, even the tricycle rider give a big smile…

Over an hour of simple and flat on asphalt boring ride, reach Banjaran. A small rural city South Eastern part of Bandung. This area been one of the busy textille industry area around the region. Packed narrow asphalt road with an overload traffic.

32ruinsTurn left off the main road, going up the hill to Batukarut. Yes, now you face a partly bad condition road, a lot of holes combined with asphalt. The scenery become more and more interesting since the ride going up to the hill side.

IMG_3941jagung

Trip info:

Riding Specialized Carve 29″ hardtail
tyres: Continental X-King 2.2
uphill: 7/10
singletrack: 4/10
downhill: 7/10
technical: 4/10
endurance: 8/10
landscape view: 6/10

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr

WJxc Ride#20 Cikarang-Kutajati-Jatiluhur

76startPagi itu akhirnya berkumpullah empat penggowes di pemasaran Deltamas setelah sebelumnya start dari Alfamidi. Terlambat sejam dari jadwal, hadeuh… alamat bakal menyanyikan lagu God Bless… “Menjilat Matahari” sampe lidah melepuh. Genjot onroad menuju Desa Nagasari dan Pasirkupang, makan pagi dulu ah…

Sebagai yang tidak mengikut salah satu NR ramadhan paling sering diceritakan ulang rasa penasaran saya mendorong dengkul semangat. Nr paling heboh, jalur dari Pangkalan ke AA Bike, hari itu kami melawan arah jalur NR ini. Penasaran terus sama jalur ini, dan meskipun melewati jalan rollng bergantian naik turun, dan sekitar 80% jalan sudah di beton, lumayan kami bisa menghindar dari asap tebal hitam, yang biasa menyapa saat kita gowes onroad dari arah bendung cibeet menuju Pangkalan. Trek alternatif yang asyik menuju Pangkalan.

88taliTentusaja tidak bisa melewati kawasan pabrik semen baru di Pangkalan yang sekarang sudah tertutup. Dari Pasirkupang kita pun akhirnya pitstop setelah mencapai jalan raya Pangkalan tak jauh dari lokasi Pabrik Semen, memang perjalan sampai jam 9an ini adalah perjalanan menuju titik start nanjak. Ya, setelah part ini tidak akan banyak warung tersisa, tidak akan banyak kehidupan normal menyapa.

Jalan raya pangkalan meyambut, dengan truk truk besar dan debu berterbangan. Isi penuh penuh botol minum segera mulai jalan miring keatas menuju tujuan pertama: Goa Bau.

Diawali dengan kampung yang ramah, yang menanyakan, “mau kemana?”… “takut salah jalan lho….” sampai dengan “jalannya jelek…” dan pada akhirnya “ati ati ya dik….”. Selalu tersentuh dengan perhatian dan rasa ingin membantu mereka yang tulus.

01bauKemudian jalan, masih miring keatas, melewati area yang tiba tiba asing. Rasanya terakhir saya lewati masih berupa hutan pohon jati rimbun di kiri kanan jalan, namun yang kami lihat hari itu adalah excavator dan dump truck besar besar yang sibuk lalu lalang. Area ini jadi berbeda samasekali, mengingatkan saya pada awal trek Cioray di Cibinong, yang juga melewati penambangan bahan baku pabrik semen.

Kemudian saya teringat obrolan dengan Pak Tebe tentang area ini. Area pembakaran batu kapur, lokasi di sepanjang sungai. Sangat cocok dengan kisah kerajaan Tarumanegara, yang berdiri di sekitar abad ke-4 dan ada sampai abad ke-7. Lokasi mereka di sekitar sungai Citarum. Tarumanegara = Citarum. Dan dari ditemukannya beberapa candi yang diduga dari jaman Tarumanegara, terlihat bahwa teknologi bangunan mereka adalah teknologi batu bata dan keramik. Area penambangan batu kapur ini bisa jadi sudah berperan penting sejak abad ke-4 alias 1600 tahun yang lalu.

Perjalanan dilanjutkan naik naik dan naik, menembus ‘hutan batu’ sampai akhirnya menjelang jam 9 pagi sampailah kami di mulut Goa Bau.

Buat saya ini adalah kunjugan kedua ke Goa Bau. Kunjungan pertama sekitar setahun yang lalu dengan Omsigit. Goa Bau belumlah terlalu berubah, hanya kesulitan masih sama, jalan akses menuju Goa sangat susah ditemukan. Untung ada pohon besar penanda tujuan.

Istirahat dan cerita cerita, termasuk cerita Omokky yang teringat saat mencari lokasi Goa ini pertama kali bersama tim Omyadi, Paktebe, Kangasol, Omrudy, Omarif dll. Goa ini memang terasa agak ngeri dan suasana mistis. Untung masih terang jam 9 pagi. Omokky menemukan suatu buntalan kain putih berbau bangkai. Hiiii…

13jatiPerjalanan dilanjutkan setelah menghabiskan setengah liter air di depan gua. Nyobain jalan yang ditulis berdasar pengamatan via Google Earth. Pertama masih terlihat sampai akhirnya pohon bambu makin rindang, dahan potong makin sering masuk jeruji dan rantai. Diputuskan setelah setengah jam celingukan; Balik kanan!!

Wkwkwkw…

Trek dilanjutkan bagian klasik yang sering disebut rekan Cikarangmtb sebagai ‘hutan jati’. Jika dari Cherry hutan janti ini ditempuh sebagai turunan, maka dari arah Goa Bau hutan jati ini menjadi tanjakan, singletrek meliuk liuk yang teduh dibawah rimbun pohon jati. Tanjakannya samasekali tidak terjal, singletrack juga seperti ular merayap, aseli… nikmat enjoy… Sayangnya (ada saja deh sayangnya), tanjakannya gak habis habis. Akhirnya kita menepi dan lagi lagi pitstop.

Cukup lama, mungkin dua batang saya lihat Om Royan sampe sempat merokok. Hutannya teduh, jalan makadam akses sebenarnya sudah menjadi seperti trek downhill. Untuk dilewati genjot sudah sangat sulit, seperti sungai kering. Kami melewati jalan yang biasa dipakai motor, asli singletrek yang asik.

Setelah puas istirahat kami melewati puncak bukit dan tampaklah sekarang lembah area Pasircongcot sampai San Diego dan Cherry membentang di bawah. Di sebelah kanan tampak juga kaki gunung Sangga Buana. Eneg juga melihatnya, membayangkan rolling panjang sampai Kutajati nun jauh di seberang. Tapi ada hiburannya, trek selanjutnya adalah turunan singletrack. Widih! The best of Cherry area deh! Sedemikian lama kita turun melewati jalan yang cuma cukup untuk ban motor saja. Turun meliuk dengan beberapa selingan tanjakan. Kata Om Royan, pas turunan lupa hutang, tapi pas papasan dengan motor di jalan sempit tiba tiba ingat hutang lagi. Tak lama kami pun berhenti dulu di bawah pohon asem.

17asemSetelah pitstop pohon asem tidak lagi ada turunan panjang, yang ada adalah rolling naik dan turun saling bersambut. Naik ke puncak bukit disusul dengan turun meliuk ketemu sungai kering, lalu disambut naik lagi. Begitu terus. Sampai tiba tiba Om Tulus dan Om Oki teriak… “… wah, Warung Kurma nih !”

Memperhatikan pohon kurma memang unik juga, pohonnya sih mirip umumnya pohon sejenis palem, cuman ini buahnya kurma. Seperti umumnya pohon di kampung, maka ya tetap diperlakukan biasa, si pohon diikat tali untuk jemuran baju. Ibu pemilik warung bercerita kalo ada yang menawar pohonnya untuk dibeli 7 juta rupiah tapi gak diberi. Yang lebih seru adalah cerita bapak pemotong rumput, cerita masa kecil belio di area ini dimana masih hutan lebat dan banyak ‘owa’ nya. Ingat ‘owa’ jadi ingat perjalanan bersepeda ke Citalahab, ada owa jawa masih tersisa disana. Sekarang punah tuh Owa dari area cherry.

27de-cherryIstirahat kali ini benar benar panjang, kecuali Om Okky, kami semua sempat tidur walau gak lama. Apalagi yang habis melahap indomie telur… Bapak penjual ikan yang dagangannya dipanggul cerita kalao belio jalan bawa ikan dari Jatiluhur. Katanya sudah dilakukan 30 tahun. Waduh! Sempat juga nanya, dan benar ada jalan dari Kutajati ke arah Jatiluhur, rencana trip ini mau lewat jalan itu. Yang agak bikin keder adalah si Bapak membawa golok di pinggang nya. Yaaa… kebayang lah tipe jalan nya.

Setelah dibuai semilir angin pohon kurma, kami pun menyesali betapa miringnya tanjakan dari Warung Kurma keatas. Widiiihhh… dah. Baru kerasa nih aroma Gratisan nya. Tak berapa lama kita pun bisa melihat sekilas waduk Jatiluhur di balik bukit, di kaki Gunung Sangga Buana. Tak lama kita pun sampai di pertigaan sederhana yang dikenal sebagai ‘Cherry’ oleh komunitas sepeda gunung.

Cherry sendiri sudah berubah, pohon rindang yang pas di depan rumah itu sudah ditebang, yang tersisa adalah pohon cherry yang ada di pojok pertigaan seberang rumah. Om Royan yang pertama ke cherry sampai heran dan berkali kali tanya, “benar gitu ini Cherrry nya?”

Gak lama kita cuma poto poto lalu lanjut menyusur punggung naga melewati Kuta Gombong, Kuta Kolambu, Kuta Tandingan dan akhirnya sampai di Kuta Jati. Kuta Jati ada warung di pertigaan, dan seperti trip solo Cherry saya yang lalu, warung ini menyediakan ES BATU! Betul es batu! Setelah membeli di desa berperadaban terdekat, lalu es batu itu dibawa ke Kuta Jati (yang tak ada listrik), dan disimpan di dalam jerami dipendam dalam lubang tanah.

35kutajatiGlk.. glk.. glk.. es nya adem banget di leher. Disini saya menemukan nasi plus telur dadar juga. Widih… mantaaaappp… Udah kenyang, pun sempat tidur lagi.

Weleh, ini trip Gratisan kok tidur melulu yaaaa??? Bangun jam 2 siang dan kita pun mulai genjot lagi, menuju bagian trek yang samasekali tak tampak ada jalan yang jelas dari atas (baca: Google earth). Inilah Gratisan sebenarnya baru dimulai…

Saat mencoba membuat rencana trip ada dua pilihan jalur meninggalkan kutajati menuju Jatiluhur. Kedua jalur memang bukan jalur ‘normal’, bukan jalur doubletrack akses yang pasti akan sampai. Biasanya jalur doubletrack ini memang lebih aman, lebih pasti ada jalannya, namun lebih tidak menarik. Saat kita mencari jlaur singletrack maka kadang diperlukan sedikit imajinasi dan ‘keberuntungan’ saat menjalaninya.

Jadi dari dua pilihan jalur dari Kutajati, keduanya dirancang akan menembus hutan, siang itu kita pilih jalur yang lebih dekat, lebih memotong. Dan diduga memang di bagian tengah trek akan ada menaiki suatu bukit, mungkin akan ketemu trek yang mirip dengan ‘tembok ratapan’ di gratisan#1.

39de-teamBenarkah itu yang akan dihadapi pada kenyataannya?

Disambut jalan mendatar, lalu jalan mulai menurun, tiba tiba vegetasi seputar trek juga berubah drastis, jika sebelumnya adalah kebun/ladang yang lebih terbuka, sedikit jumlah pohon dan cenderung panas menyengat, tapi kita disambut dua hal menyejukkan. Turunan panjang yang asyik masyuk, menembus hutan yang cukup lebat. Baru diketahui kemudian kalo Om Okky yang kebetulan ambil tempat paling buncit di belakang malah merasakan debu dari tiga sepeda didepannya yang seenaknya mengerem. Wakakaka…

Di tengah hutan sempat ada rumah/warung, dan kami pun bertanya, “benarkah jalan ke Jatiluhur?” dan dijawab dengan yakin…”… Bisa dik… terus aja sampai nyeberang sungai kering dibawah”

Kami pun berlanjut turun meliuk kencang melewati keteduhan pepohonan yang makin merapat dan merapat. Sampai akhirnya ketemu bagian yang curam turun dan sampailah di sebuah sungai kering.

Jiaaaa… tau kan apa yang menunggu setelah ketemu sungai? Betol!!! Tanjakan curam!!

Untung kami dihibur oleh hutan lebat yang teduh. Kagum saja masih ada hutan seteduh ini di area seputar Cherry yang gersang dan kering. Kebayang mungkin kata penjual ikan yang kami temui di Warung Kurma tadi, dulunya area Cherry semestinya seteduh dan selebat ini hutannya…

Dibawah keteduhan hutan kami melanjutkan dengan acara dorong dorong sepeda, naik tanjakan berat yang tak mungkin digowes. Oya trek sudah berubah menjadi singletrek setelah sempat sebelumnya waktu ketemu rumah/warung di tengah hutan masih doubletrack. Dorooongg… akhirnya sampai lah di jalan agak mendatar, dan kami bertemu perempatan.

Ada empat pilihan, kiri kanan lurus atau balik kanan wkwkwkw… Ada yang berusaha mencari orang untuk ditanya, ada yang mencari tukang ojek, pengennya sih ada yang bisa njawab, “Jalan ke Jatiluhur kemana ???” Jiaaaa… ditengah utan mau cari tempat bertanya…

Akhirnya berbekal view di rencana trek yang sudah ditulis di GPS (dimana waktu di perempatan ini sudah off-track) diputuskan untuk belok ke kiri, mendekat ke rencana trek semula yang tampak 1-2 km di sebelah kiri depan. Kami pun meluncur melewati singletrek. Dibawah rimbuuuunn sekali hutan. Mungkin karena terbiasa melihat dan merasakan hutan di daerah yang lebih tinggi, biasanya hutan bersepeda gunung kan di ketinggian 900-1400mdpl, sementara ini ada di sekitar 200mdpl. Karakter dan aura hutan nya berbeda. Tidak lagi basah, jadi kerasa kering nya. Trek dan bagian lantai hutan seperti ditebar daun dau kering tak terhitung yang berwarna kecoklatan. Saat melindas diatas daun dan nge rem, kami kadang dikagetkan gesekan antar daun yang licin juga, bikin sepeda slip.

Meliuk liuk turun melindas tumpukan daun, berusaha melihat arah singletrek dari area terbuka sibakan belukar, kadang dikagetkan dengan batu batu besar, direpotkan oleh batang batang pohon yang dekat sekali ke handlebar, beberapa waktu sepeda harus berhenti dan diangkat untuk melewati dan menghindari batu besar atau batang pohon tumbang. Andai saja ini adalah trek yang kami kenal, andai saja hati tidak dibebani kekhawatiran apakah jalan yang sedang dilewati itu benar, pasti ini trek yang luarbiasa untuk digowes. Saya jadi ingat kesan teman teman yang gowes ke Hutan Cidampit di Banten. Katanya ‘hutannya seperti di Amerika Latin”… perasaan yang sama kami rasakan siang itu.

Cihuyyy… masih berusaha menikmati sepeda meluncur turun. Kebayang kalo jalan ini nanti ketahuan salah, mendorong kembali ke perempatan bukanlah kegiatan yang menyenangkan…

Waduh! jalan seperti hilang. Tiba tiba semak menebal! Celingukan akhirnya ditemukan turunan curam dan sungai lagi!!!

“BANTENG !!!” kata saya spontan melihat yang sedang menunggu di sungai

Apa coba, sebentuk mamalia, berkaki empat, punya tanduk melengkung dua, berada di sungai di tengah rimbun hutan antah berantah begini… Aseli saya kaget banget. Sang banteng tampaknya juga kaget setengah mati melihat kami. Sempat berhenti ambil nafas, akhirnya saya amati ternyata ada tali melilit hewan ini. Wah, sudah pasti hewan peliharaan. Kami pun mengendap endap menyeberang sungai yang airnya sedikit sekali, berjarak sekitar 5 meter dari hewan itu. Di seberang sungai kami akhirnya menemui semacam area terbuka persawahan, namun kering kerontang. Tampak masih bekas ditanami padi.

Mulai deh celingukan mencari arah jalan akan kemana, sambil melirik GPS dan berusaha sedekat mungkin dengan rencana trek. Ketemulah jalan buntu pertama, jalannya aseli tidak ada lagi setelah habis sebuah kebun yang ditanami sereh. Di tengah kebun tampak ada gubuk dan disekitar gubuk tampak ada induk ayam dan beberapa anaknya. Pemandangannya muskil banget. Sudah teriak permisi dan punten di seputar gubuk tidak ada jawaban. Kalo saya sendirian tinggal di gubuk tengah hutan begini lalu ada yang permisi kiranya saya juga gak akan jawab.

42buntuJalan buntu pertama ketemu, balik kanan kami pun masuk ke hutan lagi. Nah, lumayan ada singletrack dan dekat dengan track plan. Ikuti terus menerobos hutan kering penuh hamparan daun rontok kami pun ketemu kawasan perladangan yang lain. Buntu lagi. Rupaya begini cara hidup perambah hutan ya. Mereka mencari sungai, lalu bertanam mengandalkan air dari sungai. Kembali kita bertemu semacam gubuk namun lebih sederhana. Yang seru adalah gubuk ini dikelilingi semacam obor. Obor kecil diarahkan menghadap keluar gubuk yang berdiri di atas panggung. Hadeuh! Gak lucu banget nih kalo terpaksa menginap disini membayangkan kira kira obor mengelilingi gubuk ini gunanya untuk apa…

43menitiRapat kecil, meskipun track plan menunjuk maju terus dan menaiki sebuah bukit “yang jangan ditunjuk tunjuk” kata member tim, namun referensi dari peta topografi yang entah bagaimana bisa mendarat di iphone Om Tulus membuat kita memutuskan balik kanan menuju perempatan awal… Dengan lesu campur khawatir tim pun melanjutkan acara dorong sepeda dalam hutan. Cuma Om Okky yang wajahnya ceria habis sambil bilang… “naaahhh… ini baru gratisannnn….”

Dengan muka sedih dan kuyu, kami pun mendorong sepeda berbalik arah, waduh aseli malas banget membayangkan turunan panjang yang sekarang berubah jadi tanjakan panjang ke perempatan tempat kita nyari tukang ojek tadi di atas.

Tanpa diduga saat kita masih di pesawahan yang kering, tampak tiga orang mamang mamang mendekat dari kejauha. Alhamdulillah… akhirnya ada tempat bertanya juga. Lega nya kami akhirnya bertemu sesama manusia setelah dari tadi ketemu “banteng” lalu ayam dan terakhir obor pengusir babi hutan. Segera kami dorong dorong Om Okky untuk beraksi dengan bahasa Sunda nya… biar lebih pas….

Baru kemudian saya pahami, jika kita melewati hutan, malah singletrek akan tampak diantara rerimbunan belukar dan pohon. Tampak kemana jalan setapak menuju. Ini adalah jalan yang diimpikan pesepeda, sayangnya jalan seperti ini sangat sulit untuk bisa dilihat dari atas, untuk direncanakan di Google Earth. Sebagai ilustrasi, jika kita perjalanan naik mobil setir sendiri dan masuk ke suatu kota, kita sering kesulitan menemukan jalan keluar dari kota, menuju kota selanjutnya. Hal yang sama kira kira, saat melewati singletrack dalam hutan kita relatif benar, namun saat memasuki area peladang perambah maka kita akan kesulitan memilih dimana jalan keluar area perambah dan kemudian masuk ke hutan lagi.

48teduhAkhirnya dengan sedikit memohon kami berhasil membawa seorang bapak bapak tua, tanpa baju dan hanya bercelana kolor plus golok, mengantar kami menuju ‘jalan setapak yang benar ke Cisarua’, ya kampung ini yang sering disebut sejak di warung Kutajati. Kami pun dibawa melewati pematang sawah kering, melewati kebun ubi jalar yang ‘dijarah’ kawanan babi hutan, sampai cerita si Bapak yang kadang menunjuk ke rerimbunan hutan sambil bilang kalo ada monyet. Fyuh!! Ternyata hewan hewan liar ini masih bertahan hidup di tengah hutan yang terjepit peradaban ini…

Akhirnya kami pun berpisah berterimakasih sambil dengan percaya diri dan hati jauh lebih tenang melewati jalan setapak masuk kembali ke hutan. Melirik jam, sudah menunjuk lebih jam 4 sore…

Suasana bercanda tim sudah lebih santai, sudah mulai bisa mentertawakan diri sendiri. Meskipun seputar trek masihlah hutan bergaya kering dan mirip hutan Amrerika Latin yang kita lihat di tivi, namun kami sungguh dalam kepercayaan diri besar kalau akan segera bertemu peradaban, yaitu Cisarua…

Sempat bertemu beberapa pertigaan dan bahkan perlimaan yang bikin galau memilih, namun jejak motor trail dan juga akhirnya muncul jejak kendaraan 4WD offroad di tengah jalan ber lumpur yang sudah mengering, makin membuat kami yakin kalau kami sedang mendekati peradaban.

Dan setelah selingan nanjak lagi saya bayangkan segera kami bisa melihat air waduk Jatiluhur dari ketinggian punggung bukit. Dan benar… Cihuy… jam 5 sore lebih kami sudah bisa menyentuh kecipak air waduk jatiluhur ambil air wudhu. Aduuuuhhh lega nya tak terkira… perjalan yang katanya ‘finding the dead end’ alias ‘nyari jalan buntu’ ini pun dengan sukses menemukan banyak sekali jalan buntu sebelum sampai di waduk Jatiluhur. Disinilah mulai menghidupkan hp dan kembali mengirim foto waduk ke milis…

49jatiluhSetelah makan malam dengan lauk ikan dari waduk jatiluhur plus sambel dan kecap, kami tiduran sambil melewatkan maghrib. ZZzzzz…. eeee ketiduran lagi. Dasar trip kebanyakan bobo nya nih. Padahal perjalan pulang masih panjang

Singkat kata jam 9 malam akhirnya kita menemukan tim ini di dam besar sungai Citarum. Sungai citarum yang sedemikian lebar dibendung dan inilah rupanya dam awal dari jalan panjang pulang kita di trip kali ini: kalimalang.

50sukadiPerjalanan pulang sepanjang kalimalang lebih dari 45 km kita jalani onroad plus sedikit variasi offroad yang berdebu, kering, panjang dan bikin pantat serasa pengin dilepas dan ditaruh di backpack. Kalimalang di kiri trek yang serasa tak ada habisnya, campuran antara mobil biasa, motor dan kadang truk kontainer menyalip dari kanan kami. Dengan sekitar 3 kali pitstop betapa bahagianya saat ketemu jalan raya Pangkalan. Serasa sudah dekat sekali ke rumah.

Jam menunjuk sekitar 11 malam saat saya kelaperan mengisi perut lagi di warung sate dekat rumah. Seluruh perjalanan dari rumah ke rumah 96 km. Ditempuh dari subuh sampe jam 11 malam.

Trip info:

Riding Specialized Carve 29″ hardtail
tyres: Continental X-King 2.2
uphill: 9/10
singletrack: 9/10
downhill: 8/10
technical: 6/10
endurance: 9/10
landscape view: 7/10

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr

Ride#19 Batu Loceng Hari Merdeka

3IMG_3710paradeBandung, 17 August 2013

Ini adalah hari sabtu, tepatnya sabtu pertama setelah lebaran, dan juga bertepatan dengan 17 Agustus, peringatan hari kemerdekaan. Sudah sejak akhir puasa mendambakan bisa gowes liburan lebaran, tapi tidak terlaksana, malahan sepeda gunung tertinggal seminggu di Bandung.

3IMG_3716bayarIni juga sebenernya gowes yang simpel saja, gowes kangen kangenan sama Bandung Utara. Melihat timeline, masak iya terakhir kali ke Bandung Utara genjot adalah Kolozal#10, November tahun lalu. Weleh. Padahal hampir tiap weekend ke Bandung.

Tambah lengkap lagi ini adalah gowes perayaan. Sepanjang jalan dari Buahbatu sampai Cicaheum bertemu banyak perayaan, karnaval, seru nya berbagai lomba dan kibar kibar raya bendera aneka warna.

3IMG_3720shadow
Merasakan kembali kemeriahan, karena kemeriahan serupa tidak terlalu saya rasakan saat di sekitar Cikarang. Otomatis terkenang masa kecil saat 17an adalah saatnya sibuk menghias sepeda, saatnya siap mentap melahap kerupuk, dan saatnya menjaga kelereng tidak meleset dari sendok di mulut.

3IMG_3727rayaDari Cicaheum pun mulai jalan agak miring, melewati Saung Angklung Udjo (yang juga mengadakan upacara) mulai deh genjot trek klasik Caringin Tilu. Matahari belum tinggi, udara segar. Sesegar terdengarnya kemeriahan raya kemerdekaan dari masyarakat sekitar. Dengan bak terbuka berbondong mereka menuju dekat kantor kecamatan. “…ada upacara bendera dik…” begitu jawaban yang saya dapat waktu bertanya. Terbayang kembali, kapan ya terakhir kali saya ikutan upacara bendera?

Kemiringan trek pembuka ke Caringin Tilu pun tidaklah terlalu terasa dengan berbagai hiburan visual yang tersaji. Emosional juga karena kemerdekaan. Sekaligus sedih, sampai kapan ya enthusiasme raya merdeka seperti ini akan bertahan?

Berhenti motret sering dan pitstop jadi sering juga. Sesama gowes pagi itu ada ibu ibu dengan sepeda hardtail dan full gear termasuk sepatu SIDI, belio tampak berlalu tetap gowes semetara saya mencoba menangkap raya merdeka yang mengharukan ini.

3IMG_3663gununganGenjot pun akhirnya memasuki kawasan yang paling memorial, kawasan yang ada rumah/villa besar di sebelah kiri, ini villa dari jaman baheula memang selalu tugasnya menjatuhkan mental, ada tulisan besar sekali “Km 4,8″. Kebayang segala hosh hosh kaki kraam jalan super miring dan ternyata kita mendapat hadiah informasi yang tidak kita “inginkan”. Ternyata baru 4.8km dari awal jalan ini dekat Cicaheum.

Sangat minim frekuensi genjot terasa benar. Entah berapa kali pitstop, jadi ingat waktu lalu pernah pegang ‘personal record’ cuma 2 kali pitstop dari Cicaheum. Entah berapa kali ya saya berhenti mengambil napas, sampe malu mau nyeritakannya, malas menghitung jumlahnya.

3IMG_3680caringin3IMG_3688caringin3Cuaca mendukung sekali, sedikit terik, tapi terang sekali. Bandung dataran tinggi, yang sebenarnya adalah sebuah cekungan itu, tampak anggun dibawah sana. Gunung gunung berderet di seberang Bandung pun tampak jelas banget; Gn Papandayan dan sekitarnya, Gn Puntang dan sekiranya Pangalengan disebaliknya, Gn Patuha Ciwidey dan sekitarnya. Lumayan dapat pemandangan indah sambil menurunkan kembali degub heart rate.

Akhirnya dengan tergopoh gopoh sampailah di area warung sekitar pohon beringin kawasan Caringin Tilu. Jadi teringat kembali gowes pertama kali ke Caringin Tilu bersama Kang Indra…

3IMG_3736kp-buntisCukup lama di kawasan Caringin Tilu ini. Makan pagi, karena belom sempat tadi waktu berangkat, juga bungkus makan buat nanti siang. Wah harga nasi bungkus nya harga sama dengan di Jabotabek, jadi kerasa mahal. Mungkin karena ini kawasan wisata. Tampak benar dibandingkan 3-4 tahun lalu saat pertama kunjungi jumlah warung pinggir jalan mungkin sudah 3 kali lipat. Kebayang kalau malam hari libur kawasan ini bakal jadi tempat pacaran. Cuman bisa berdoa semoga tidak berkembang jadi lebih buruk.

Nama kawasan ini yang terkait dengan tiga beringin, tapi kok saya hanya melihat dua pohon beringin besar ya dari tadi. Genjot pun dilanjutkan dan kembali masuk kampung nostalgia kembali, Kampung Buntis.

3IMG_3746puncakSetelah kampung ini masuk hutan. Wah, gowes sendirian begini terpikir juga untuk balik kanan, jalan menurun sampai rumah. Tapi segera saya ingat kembali tadi pagi waktu nulis track, membaca kisah kisah tentang Batu Lonceng. Misteri dan keunikannya, entah kenapa tetap lanjut pengen menuju Batu Lonceng. Kemudian tak lama datang 5 orang pesepeda TERJAL. Hosh hosh keringatan mereka, kebayang gowes nanjak push ala mereka. Pilihan buat ke trek menurun ‘Firdaus/ Tamiya’ pun sempat menggoda. Tapi ayo kuatkan niat dan segera berangkat berangkat lagi.

Sempat disalip oleh segerombolan motor trail, trek bagian masuk ke hutan ini semestinya jadi trek yang menyenangkan dan menantang. Singletrek uphill, teknikal, dan panjang. Sayangnya sendirian di singletrek tengah hutan dan mulai gerimis mempengaruhi juga kenikmatan genjot. Bagaimanapun rasa khawatir genjot sendiri mengurangi kenikmatan. Ujungnya play safe, tidak push padahal trek rideable dan menantang. Sampailah di ujung tanjakan sebuah warung kecil yang ramai dengan ATV, fourwheels, motor trails. Hanya saya yang pesepeda. Mulai buka bekal dan makan nasi bungkus dari Caringin Tilu.

3IMG_3753batuloncengBagian selanjutnya dari trek setelah melewati warung tempat istirahat, yang posisinya di puncak Sesar Lembang ini pun benar benar hiburan sekaligus tantangan yang mengasyikkan. Di ujung tanjakan kita sempat ada di titik dimana sebelah kiri kita bisa melihat dataran tinggi Bandung dan disebelah kanan datarang tinggi Lembang. Turunan singletrack ‘babagongan’ ke arah Kampung Batu Lonceng sungguh balasan yang setimpal dari segala tanjakan yang mendera dari Cicaheum. Akhirnya sampailah di kampung Batu Lonceng dan mampir ke rumah Bapak Juru Kunci Batu Lonceng.

Ngobrol bersama Bapak Juru Kunci, tentang Batu Lonceng yang berbentuk seperti Lonceng, tentang legenda batu akan berbunyi seperti lonceng saat ada bahaya mendekat ke desa, juga tenang legenda batu yang merupakan senjata bagi ksatria Kerajaan Galuh Padjadjaran. Cerita juga berkembang tentang tuah Batu Lonceng yang mengundang pendatang dari penjuru nusantara, bahakan mancanegara, untuk datang berkunjung. Ketika kemudian saya share sebagian foto di facebook, ada respon dari rekan ‘komunitas Riset Cekungan Bandung’ bahwa nama yang benar adalah ‘Batu Loceng’ bukan ‘Batu Lonceng’.

3IMG_3760ride19Setelah istirahat sekaligus menghilangkan rasa penasaran pada Batu Lonceng, sayangnya tidak tepat waktunya buat menengok batu nya yang berposisi 1km dari rumah Bapak Juru Kunci, genjot pun dilanjutkan ke arah kebun kina Palintang. Saya mengira gowes akan nanjak tidak setinggi waktu di puncak babagongan Batu Lonceng, namun ternyata meskipun jalan akses kebun kina lebih landai, namun ujung tanjakan tetaplah sekitar 1400mdpl juga sebelum meluncur turun lewat desa Palintang menuju Ujung Berung.

Trip info:

Riding Specialized Carve 29″ hardtail
tyres: Continental X-King 2.2
uphill: 9/10
singletrack: 7/10
downhill: 8/10

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr

Pait Ride Sore Puasa

IMG_3678kolamCikarang, 4 Agustus 2013

Salah satu yang menarik dari puasa adalah olahraga genjot sepeda gunung sore sore. Ekstasi nya berbeda sekali dengan genjot sepeda gunung di hari biasa, tambahan mulut yang kering dan pahit, leher yang garing, napas yang lebih berat, juga kondisi fisik yang relatif menurun karena frekuensi bersepeda di bulan puasa yang berkurang.

Tertunda tunda dari awal puasa, akhirnya sore itu berhasil mendapat teman, Om Hanif, untuk genjot sore puasa. Kami pun mengarah sepeda ke area Cibatu. Jalanan sudah relatif sepi, karena musim mudik sudah dimulai, ini genjot menjelang lebaran, saat area Cikarang sudah mulai berangsur sepi.

Sambil ngobrol ngalor ngidul, terutama tentang rencana gowes luar kota di bulan November nanti. Ini adalah tema yang paling seru, merencanakan trip, apalagi trip ke tempat jauh yang tidak bisa sepenuhnya kita survey seperti ini memang beda sensasinya.

IMG_3682situSetelah area Cibatu dan pintu tolnya yang (sangat sayang sudah siap tapi belum difungsikan) kita masuk blusuk blusuk lewati jalan penggembala sapi. Akhirnya kita masuk ke area Cibatu lanjut ke arah Kota Deltamas lewat akses jala beton, yang semestinya adalah akses toll-road yang sudah siap.

Ok, sore-sore gowes pait tidak jauh, namun masuk ke trek ‘timunsuri’ yang selama ini tidak terbayang kalau ada disitu, ada di dekat hidung kita setiap waktu. Saya sendiri ragu apa yang dimaksud Pak TeBe dengan ‘timunsuri’, karena memang kita tadi gowes pas jam nya lagi nyuci timun suri… wkwkwk…

Meiliuk liuk singletrack, timun suri tampak merekah di kiri kanan trek, tak jauh tampak telaga danau yang sambung menyambung, menyelinap di rerimbunan pohon bambu , pohon pisang dan juga tentunya ggb pematang sawah dan meniti jembatan jembatan kayu…

Sayang sekali tidak membawa GPS, padahal ini part timunsuri sangat menarik untuk dilanjutkan dan terus digenjot asik. Sebut saja part ini adalah Situ Cibinong Kidul. Memang bagian trek, yang sekarang baru dimanfaatkan oleh para pemancing, adalah sisi selatan dari Situ Cibinong. Salah satu situ yang masih tersisa (banyak yang hilang, dimanfaatkan menjadi sawah, dan diurug jadi perumahan) di area Cikarang. Bahkan di awal musim kemarau seperti sekarang pun situ ini memiliki banyak stok air.

Akhirnya, meski leher kering dan mulut benar benar pait saat speeding menuju rumah, sekitar 9km dari Situ Cibinong ini, saya temukan gowes sore sore puasa memang layak untuk selalu dicoba dan dilanjutkan. Kembali jadi teringat gowes gowes berat di puasa tahun lalu selama di Lombok. Tahun ini gowes pait nya kurang semangat…

Cuma bisa menyesal karena bulan puasa dengan libur kosong cukup panjang sebelum lebaran telah berlalu…

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 44 pengikut lainnya.