enjoy every cadence, every breath…

Posts tagged “bandung

GGB Latgab – Batukuda – Genteng – Cijambu

Bandung, 20 Januari 2016


8:12 akhirnya lima orang siap start pagi itu. Om Indra, Om Kodrat, Om Maman, Om Atoe, Om Sigit mundur dan batal dengan berbagai alasan yang valid. Lokasi start dan finish adalah RS AMC, tepat di depan gerbang tol Cileunyi. Ujung jalan tol PADALEUNYI… Saya yang dua malam berturut kurang tidur sudah bertekad untuk finish full track saja sudah prestasi… Road Captain (kabarnya sih saya, dipindah tangankan dari Om Indra) sementara Om Eyang, Om Lutfi, Om Djo segera melejit kedepan tak lama setelah ketemu tanjakan aspal. Saya bersama Om Adjie di belakang…


8:41 ketemu tanda lalulintas yang tidak biasa… Ya, inilah tanjakan Cinunuk. Setiap kali saya ambil gambar di area ini selalu mendapat sambutan meriah dari para pemirsa, baik blog, forum maupun fb… Salah satu tanjakan paling dramatis di Bandung Timur


8:42 Om Adjie keheranan saya berhenti. Saya bilang, “Om Adjie jadi model foto Om…” Sekarang tanjakan ini sudah aspal, pada saat awal masih gravel seru spinning ban belakang… Saat saya kemudian sampai di ujung tanjakan ini alarm di Garmin bunyi, “Your heart rate is above maximum level…”


9:24 Pitstop pertama, Batukuda. Kabarnya sih ada batu nya yang berbentuk seperti kuda, tapi saya sendiri belom pernah ke tempat batu berada. Udahlah daripada ngomongin batu, kita ngopi saja. Kopi adalah kloter terakhir, setelah sebelumnya teh manis panas, teh kotak

Pada titik inilah sambil ambil napas lega dibawah rindang pohon pinus datanglah sebuah call…. “Om kami sudah di Kiara Payung….” Hmmm… ok baiklah, rupanya kalian memilih jalan yang baik (belok kanan)… Tujuan kami berikutnya memang Kiara Payung tapi lewat singletrack dalam hutan. Pak penjual kopi dan rekan peseda lain yang kita temui bilang, “Waduh Pak… kalo musim hujan begini trek bisa tertutup oleh semak semak tinggi…”. Saya tersenyum, dan Om Adjie matanya berbinar semangat mendengar kita akan menerobos semak semak… wkwkwk


9:49 Mengangkat sepeda melewati sungai dan kubangan air, lobang yang dalam, menariknya ke bukit diatas, pelan pelan kami menemukan juga singletracknya. “Bener ini Om?…” tanya Om Adjie, entah khawatir entah semangat lihat kita menerobos nerobos semak dibawah pohon pinus dan campuran pohon lain. Di suatu area terbuka saya bilang, “Biasanya kita bisa lihat seluruh Bandung dari sini Om Adjie…” Sayangnya cuaca hari itu mendung berkabut meskipun relatif masih pagi


10:25 melewati hutan dan semak, relatively rideable, asik meliuk dan menerabas, sambil kaki dan muka dibelai berbagai jenis dahan daun dan duri akhirnya kita keluar hutan juga dan masuk ke kampung lalu istirahat di Kiara Payung. Kita istirahat dulu karena berdasar pengalaman yang lalu susah dapat warung nasi di daerah Genteng Cijambu, saya putuskan bungkus dan masukkan ke kantong jersey. Enak bener ini jersey Bikewearr, jersey edisi XCM Bali tahun lalu yang membawa banyak semangat dan kenangan

Om Adjie dan saya makan sawo enak banget disini, seorang dua butir. Lalu sambil saya bungkus nasi lengkap lalapan dan tahu tempe ayam goreng, Om Adjie bilang ke Ibu warung, “Saya bungkus pisang saja, enam ya bu…”


11:43 Ini adalah area Genteng, area yang menjadi titik turun biasanya trek yang disebut Palintang Karpet Genteng atau sejenisnya. Ada beberapa variasi, kita tidak ke Palintang karena pilih trek pendek (opsi2). Akhirnya cuma bisa melihat layers bukit dan gunung di kejauhan… Tanjakan beton disambut makadam dalam kampungnya masih seksi dan panjang dan… ayo kita pakai grainy gear saja daripada jantung menjerit masuk area max HRM. Om Adjie sudah melejit kedepan


13:04 Keluar dari mulut buaya masuk ke mulut harimau… Keluar dari tanjakan tengah kampung yang dahsyat di area Genteng, kita mulai nanjak alus, diambut nanjak makadam, disambut hutan lagi… Inilah area Cijambu. Part hutan nya panjang banget. Ketemu rombongan motor trail, mereka bilang, “Oooo… teman nya tiga orang udah jauuuuuhhhh banget….”. Iya iya Kang… gak usah heboh gitu deh… Trek campuran doubletrack dan beberapa area ada singletrack. Yang horor adalah ada anjing pemburu, anjing nya bukan anjing kampung gitu, tapi anjing yang besar… Ampun dah… Geram nya saja udah bikin hati bergetar


13:11 Hutan tidak begitu saja berhenti habis, diselingi masuk ke kampung terpencil, kami pun masuk hutan kembali, kali ini hutan yang ketiga ini lebih wild, meskipun pohon nya secara umum adalah pinus dan pinus dominan, tapi kok ya ini trek menyeberang dan nyeberang sungai berkali kali, udah diseberangi eeee… balik lagi dan seterusnya

Di hutan ini juga kita dirubung sama semacam nyamuk atau entah serangga apa itu. Dia berputar putar di sekitar muka kita. Kalo kita jalan kadang serangga masuk ke mata jadi pedih, kadang masuk ke mulut. Pokoknya ganggu banget deh


13:46 Setelah lega akhirnya keluar hutan juga, ketemu jalan aspal rusak, lalu itu jalan masih tega juga nanjaaaakkk sampai di puncak Pasir Biru. Sempatin ambil foto di ujung tanjakan terakhir… Rasanya badan udah habis dan perut lapar sekali, Ketemu Om Adjie lagi fill up minum ke bidon, saya udah putuskan untuk buka bekel makan siang. Udah gak tahan lagi… Dapat wa message katanya tim depan lagi carbo loading juga di jalan raya Bandung-Sumedang… Seterusnya dalah turunan dan sedikit rolling tanjakan… dan itu 40an km terakhir adalah tidak terlalu penting, mbosenin dan ngantuk gowes sampe kembali ke titik start…

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
instagram.com/bikewearr/

Iklan

WJxc Ride#32 – North Bandung, East Java – Palintang Uphill & Palasari 2

DCIM100GOPROBandung, 7 Aug 2014

What happened in last Ramadhan Night Ride, a reunion with Om Indra Anggara, continues… This trip was again in contact with him. Among East Bandung mountain bike riders, Mt. Palasari been one of the main attaction, their main menu. There are currently 10 Palasari tracks available as a result of extensive mountain bike exploration from two Eastern Bandung communities: TERJAL (Cicaheum) and NGAPRAX (Cileunyi). Both communities hand in hand, not only exploring new tracks possibilities but also maintain existed ones. My highest appreciation for both communities, for doing these voluntary, amazing on these days.

Despite been doing mountain biking for 7 years now, and spend a lot of mountain biking time in Bandung area, I have only taken Palasari 3 long time back. This is really a humiliation for myself, truly a waste of time not being able to manage enough Palasari exploration trip. OK, let’s move on and plan for more Palasari trips.

Today we choose the classic way to start the track, by doing uphill ride to Palintang. There is another option by loading our bikes in load car or ‘angkot’, especially since the road condition up to the top of Palintang Hill now already in a smooth asphalt road. It was different in five years back… check this trip report…

DCIM100GOPROStart the trip with connection via Goweser Bandung Timur (GBT) page in Facebook that morning we start the ride with Om Indra and Om Heri. Om Heri is special friend also coming from Cikarang. After scrambling around Alun Alun Ujung Berung, hardly trying to pass the traditional market which overflow to the road, a bit traffic in a very small city, smiles coming when the road gradient start to be more challenging.

One of the place very popular in this uphill lines to Palintang is ‘Kampung Tanjakan Panjang’ (Long uphill village). The name reflecting what does it means; long and steep uphill in the middle of a village. I’ve been ride this uphill lines many many times, from the time when most part of the track still in very bad condition, until now the track relatively in a good condition even for car and motorcycles.

Something really never changed. North Bandung will never fail to impress you if you love to ride uphill… This tracks will broke your chest down…

North Bandung uphill will also giving you more to your eyes, the sightseeing changes from a crowded residential area, then start kampung area with more open spaces; in Bahasa Indonesia we called it ‘kebun’. Then we will see some parts of paddy fields, followed with pine woods at the final part of the uphill. The changes of sightseeing also followed by increase in gradient of the track. The gradient by the way still manageable and still ride-able. The path goes to a pass between Mt. Palasari and Mt. Palintang.

DCIM100GOPROOne village we passing by on the uphill ride is ‘Desa Palintang’. The village now been much more developed especially when better condition of roads now give full access to the village. The village become more and more important in the alternate line from Ujungberung to Maribaya.

More accessible does not always means good things, as mountain biker off-course very much missed a hard and technical macadam track just in the middle of the Kampung Palintang. Now all the way to Bukit Tunggul already smooth road even road bike can reach.

A sign of forbidden area for motor trails also appear before we enter the village. More and more access does not always means good things, including privacy and noise coming from the improved road.

MOHON MAAF MOTOR CROOSS DILARANG MASUK

But still, an uphill to Palintang Pass always and still an interesting uphill with stunning natural beauty views. On our right side we have Mt Palintang, which also can be connected to part of Genteng Track to Tanjungsari, while on the left side of the road we have a view of Mt. Palasari with a lot of part are pine woodland still in a good condition

DCIM100GOPROWith more and more conservation woodland being converted for vegetables plantations; legally and illegally, it’s really a beautiful fact that these pine woodlands survive so far. Doing mountain biking give me more and more sightseeing of conservation destructions, and less good practice and good news like this.

Ok, let’s stop worrying and just start to enjoy the ride…

Riding inside the Pinewood started with a frightening slope for a hardtail cross country rider like me. We start very slow with a lot of scream from the brake. The frightening part was only the first 100m, after that the singletrack was flowing. A dream for every mountain biker. Please see YouTube link below to see the flowing lines.

It was just BEAUTIFUL !!!

If you love single-track like me, you got to be kidding if you don’t want to ride on this track. The track not only cool and green, but also relatively all the way long ride-able. This is not an ordinary occasion while we also met a moto-cross rider going up-hill on the single-track.

I have a big empathy for our fellow moto-cross riders, but I have to admit that my heart broken when I heard the throttle and their machine running high rpm and digging the lines of our beautiful single-track.

DCIM100GOPROFellow moto-cross riders, I understand that everybody have the same right to ride in this beautiful lines. Us, mountain biker, and you, moto-cross riders have the same right. But, please, can you just not ‘tear’ our tracks down, please…

It was strange that the flowing singletrack lines are just in the right volume. Sometimes, we found it too fast to be finished. But this line was a loooooonnggg line. Finally we found a rocky double-track. The challenge is not to stop. This double-track going traverse on the side of Palasari and all the way to finally found an open land with beautiful scenery.

A 180degree Bandung view…

STUNNING!!!

This is one of the reason riding north Bandung. When you got a clear sky, you will see a breath-taking view you’ll never forget. All the pain during a long uphill was just disappear… From this point actually we can see the Dago/Tahura part in the west, the right hand side; and all the way down to see the Bandung highland city view in front of us; to the Palintang part in the east side. And when the weather is right just like when we have the ride, it was just perfect!

DCIM100GOPROMore pictures in my facebook account…Targeting 2pm to be in the city, we were just straight down the lines and finding a short singletrack following by entry to resindential villages. Yes, the beautiful open land 180degree Bandung was actually a converted woods into plantations.

It was not long ride through kampong and then asphalt downhill to Sukamiskin area while we end up this beautiful trip.

Trip info:

Riding Specialized Carve 29″ hardtail
tyres: Maxxiss Ikon 2.2
uphill: 8/10
singletrack: 8/10
downhill: 8/10
technical: 8/10
endurance: 8/10
landscape view: 9/10

Tracklog http://www.bikemap.net/en/route/2750525-bandung-timur-palasari-2/

Short YouTube video clip…

Bandung-Palasari2

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#29 – Batukuda, Bandung – Ramadhan Night Ride Uphill

r20140705_203546Bandung, 5 July 2014

Reuni selalu menyenangkan. Dalam reuni tidak hanya tentang apa yang kita hadapi namun juga cerita masa sebelumnya yang pernah dijalani. Dan sudah lama sekali saya tidak gowes bareng Om Indra dari GBT. Hanya sehari dua hari sebelum gowes ini saya hubungi Om Indra dan akhirnya kita setuju genjot singkat trek Batukuda, setelah waktu sholat tarawih.

Trek yang kami pilih adalah Trek Batukuda, yang juga trek NR ramadhan 4-5 tahun yang lalu bersama Om Indra. Persahabatan sepeda saya dengan Om Indra memang sudah panjang banget, bisa dibilang sejak pertama kali saya mengenal sepeda gunung sekitar 7 tahun lalu. Trip panjang saya yang pertama kali adalah gowes nanjak Bandung ke Papandayan termasuk nginap di Cileleuy.

Batukuda gowes saya 3-4 kali sebelumnya selalu start dari Cileunyi, tapi kali ini kita ambil jalan nanjak yang berbeda, kita start dan finish dari Pom Bensin Cibiru. Tracklog disini….

Ini adalah cerita beberapa kali gowes ke Batukuda sebelumnya:
2009 bersama Om Sigit…
2010 Kiara Payung Batukuda bersama GBT
2011 Ngabuburit Uphill Night Ride

r20140705_213922Gowesnya sendiri ‘hampir’ gak berhenti, alias no pitstop, jadi ya hampir tidak ada fotonya nanjak. Cuma pas sudah hampir sampai titik warung Batukuda, melewati makadam di dalam hutan pinus, saya merasakan tekanan yang keras dan memaafkan diri saya untuk pitstop dan ambil foto handlebar di kegelapan yang ada di sebelah tulisan ini.

Sepanjang jalan, saya kagum juga pada diri sendiri, karena kami bisa sambil ngobrol dengan lancar. Artinya saya tidak terlalu ngosh ngosh an mengimbangi speed om Indra. Atau malah Om Indra nya yang memelan kan speed nya untuk bisa ngobrol bareng? Hehehe… ini paling mungkin. Karena dari jaman dulu sampai sekarang saya jelas jelas satu dua tingkat di bawah Om Indra endurance nya. Om Indra juga sering mempersiapkan diri dan mengikuti lomba lomba cross country di seputar jawa barat.

Salah satu event yang diceritakan Om Indra adalah event Bali Mountain Bike Marathon yang dua kali belio ikuti, juga event Eiger cross country race yang akan datang dalam 2-3 minggu mendatang. Entah kenapa saya tidak pernah tertarik untuk mengikuti event seperti ini, meskipun partitisipasi sebagai pesepeda amatir pun. Ini lebih karena saya tidak pernah merasa cukup layak dan fit untuk bertanding. Padahal kalau melihat dan membaca event pertandingan olahraga di negara yang lain, amatir berpartisipasi adalah hal yang lumrah dan wajar. Tidak semata selalu dikaitkan dengan posisi urutan finish ataupun catatan waktu.

Mendengar kembali penuturan Om Indra, tampaknya perlu dipertimbangkan nih mengikuti event kompetitif, sebagai bagian dari hobby dan dukungan pada perkembangan olahraga yang kita nikmati ini.

r20140705_214211Yang juga lain dari gowes NR kali ini adalah Om Indra membawa backpack yang cukup ‘serius’. Sekitar seperti akan pergi untuk 2 hari tas nya, dan ternyata berisi kompor gas mini dan kami pun menghangatkan diri sambil minum air panas di sebelah warung Batukuda, di tengah hutan pinus Batukuda, yang tanpa cahaya dan listrik sedikitpun malam itu.

Membawa alat masak ini tentu juga ada hubungannya dengan trend ‘bike camping’ yang juga ikut ditekuni Om Indra. Wah, yang ini saya tidak ikutan deh. Sebatas membawa sleeping bag sampai sarung tapi jangan membawa tenda deh kalo saya. Hihihi…

Setelah secangkir air putih panas habis, kami pun turun kembali lewat jalan naik yang tadi diambil. Setelah dilihat di bikemap kemudian, trek ini ternyata pendek sekali, jarak start ke finish hanya 5km. Fyuh, pantas terasa singkat gowesnya meskipun di 1km akhir harus diakui tingkat kemiringannya lumayan banget, gak bisa ngobrol lagi…

Ok, ini pengalaman gowes di bulan puasa lalu namun baru ditulis di blog di Oktober 2014, hampir 3 bulan kemudian. Tumben malam ini internet indosat di Cikarang lagi lancar jadinya semangat dan cepat nulis nya.


WJxc Ride#26 – Kolozal#12 Wayang Windu

IMG_4505gendong

[tulisan ini diselesaikan pada Juni 2014, jauh setelah waktu Kolozal#12 yang di 8 Feb 2014]

Cikarang, 7 Feb 2014

 
Malam itu dengan mata kantuk karena bermalam malam kurang tidur, akhirnya sampailah di detik detik berbahagia gowes kolozal… berkumpul di aabike dan mulai loading sepeda ke atas truk. Perasaan aneh antara semangat, excited, juga grogi plus gemes adalah kata kata yang keluar dari mulut para pesepeda. 3 truk saja yang cukup penuh, sementara satu truk terakhir diisi motor trail plus 15 dus aqua botol.

Pemandangan wajah cemas dan penasaran para pesepeda, diiringi oleh putra putrinya, keluarganya ngantar sepeda ke aabike untuk loading, sungguh pemandangan mengharukan seperti foto pesepeda antar sepeda untuk loading sambil gendong putranya berikut ini. Mungkin memang begitu teknik nya untuk selalu membuat antenna RR1 terpancang tegak sampai hari H…

Malam itu sempat merekam beberapa shot video, untuk keperluan iseng dokumentasi. Menjalani kegemaran dokumentasi ini, dengan memotret dan melakukan wawancara singkat, memberi pengalaman berlebih pada acara Kolozal yang saya jalani, dan juga memberi kejutan kejutan jawaban yang unik.

IMG_4531startCikarang, 8 Februari 2014

Kolozal kali ini saya ikut menunggu tim di pintu keluar Buahbatu, Bandung. Duluan berangkat ke Bandung, tidak terkait dengan heboh bangun subuh dan sholat subuh berjamaah di tempat istirahat tol yang dijalani oleh tim besar. Ternyata saya tidak sendirian, ada satu rekan juga, rekan lama Om Didik adik Om AH yang menunggu di tempat yang sama. Tak lama naik ke bis dan perjalanan lanjut ke titik start di Perkebunan Teh Malabar.

Titik start kolozal kali ini berada di area Perkebunan Teh Malabar, kita unloading sepeda dan persiapan di area dekat makam KRR Boscha, salah satu tokoh yang berperan penting dalam sejarah kota Bandung di abad 19.

Dibandingkan edisi Kolozal sebelumnya yang berada di area Cariu, yang panas dan kering, kali ini sudah terus didengungkan adalah kolozal yang basah, sangat mungkin hujan dan yang pasti dingin. Titik start di ketinggian 1400mdpl dan titik tertinggi trek di ketinggian 1820mdpl. Seluruh tim merasakan ini akan jadi kolozal yang istimewa.

IMG_4564ceriaSedikit lebih awal dari diperkirakan, waktu bis peserta sampai titik start/finish lebih awal dari perkiraan, rupanya efek berangkat sebelum subuh dan sholat subuh berjamaah di tempat istirahat tol sangat efektif memangkas perjalanan sekitar 150km dari AA Bike ke titik start. Seperti sudah diduga sebelumnya, mendung sudah tampak saat peserta mempersiapkan sepeda dan gerimis sudah menyambut saat ketemu tanjakan pertama.

Ini pengalaman pertama kalinya saya jadi penunjuk jalan alias orang terdepan dari 12 Kolozal. Tentang jalan sih tidak khawatir, cuma tentang physical challenge nya yang bakal merupakan ujian, apalagi bisa dibilang 3-4 bulan terakhir sangat berkurang porsi gowes weekend dan bike to work. Sampai di desa terakhir dekat Kawah, dekat Pemandian Cibolang, keadaan masih relatif terkendali, karena hujan paling banter cuma gerimis dan sekali sekali hilang, namun setelah melewati puncak Cibolang hujan berubah deras dan peserta sudah mulai tak sabaran. Peserta di depan tak sabar untuk menunggu dan kumpul dulu. Selain masih kuat gowes memang kalau menunggu dibawah hujan dinginnya gak ketulungan. Mulai tuh ada yang ‘sotoy’ dan jauh meninggalkan track leader. Kalau tanya penduduk pasti diberi tahu jalan yang enak dan mulus alias aspal… Akhirnya saya terpaksa cuek sambil mengingatkan sebisanya buat mereka yang memutuskan berangkat lebih dulu karena tak sabar kedinginan berhenti.

Area yang disebut ‘Pizza Hut’ alias gubuk petani di dalam hutan terlewati dalam hujan cukup deras. Areal teh menyambut setelah single track dan akhirnya meikmati jalan menghindar mengelilingi pinggul gunung Wayang Windu tanpa masuk ke kampung Kertasarie.

Entah jalur apa yang diambil rekan rekan yang tak sabar dan mendahului, tapi hampir dipastikan mereka lewat kertasarie dan ambil jalan utama ke Situ Cisanti. Hampir tidak ada tantangan samasekali. Plain bahkan cenderung membosankan. Sementara trek offroad mengelilingi pinggul Wayang Windu ini benar benar disuguhi pemandangan menawan ke arah lembah Kertasarie yang diselimuti kabut tipis setelah hujan.

kol12mapKertasarie sudah berubah dari 2008, enam tahun lalu. Jalan sudah aspal mulus dari Majalaya, hutan di ketinggian bukit tampak juga semakin jarang vegetasinya. Keindahan yang terkikis. Tak lama kami pun pit stop makan siang dengan baju basah di Situ Cisanti. Dinginnya berhenti gowes, dan enaknya perut terisi makanan segera disambut tanda start tahap kedua karena akan segera ditutup trek agak tidak kemalaman di jalan.

Menyempatkan memasang handphone sebagai kamera video di fork, nanjak makadam ke celah lawang-angin 1820mdpl dimulai. Sempat bisa digowes selama masih di double track, sampai akhirnya ketemu single track yang 80% adalah gowes dorong dorong bike. Nanjak, miring, un-gowesable, diguyur hujan, angin sore menjelang malam yang dingin. Sebuah trip yang sempurna (siksaannya).

Leganya mencapai puncak tertinggi trip ini 1820mdpl. Yang tersisa adalah dinginnya jalan turun, menggigil gemetaran sampai kembali ke titik start kebun Malabar. Salah satu pemandangan menarik adalah Pembangkit Listrik tenaga panas bumi di area ini. Masa depan energi Indonesia…

Trip info:

Riding Specialized Carve 29″ hardtail
tyres: Continental X-King 2.2
uphill: 8/10
singletrack: 6/10
downhill: 4/10
technical: 8/10
endurance: 8/10
landscape view: 8/10


WJxc Ride#21 Kukurilingan Batukarut

wIMG_3926-relBandung, 21 September 2013

After having a rude trip two weeks earlier in Kutajati trip … , this is the time to do simple mountain biking… Yes simple trip from my in laws home in Buahbatu, South Eastern part of Bandung to Batukarut, hilly area Eastern of Bandung.

A lot of the track part was an asphalt town track, full with dusty smokey and reckless Indonesian style motorist drive. Luckily it was start 6am in the morning, resulting a nice and relatively empty road all the way 18 km from Buahbatu to Batukarut. Stop by take pictures around terusan Buahbatu and Pasar Kordon. Yes, relatively empty, but for me, it was a boring line to cycle. I really missing the roughness of off-road mountain bike tracks…

IMG_3928kordonBy riding bicycle you will have a passport to stop and take pictures without somebody suspicious on why you take pictures. This is one of the beauty of cycling, it fit with my other passion: photography. Stop by at Pasar Kordon, a busy and hectic parking practice traditional market. If you only bring camera and take pictures, a lot of people will think you are some kind of journalist which covering news on traditional market which being a usual source of long traffic jam around Terusan Buahbatu, Bandung. But with bicycle, even the tricycle rider give a big smile…

Over an hour of simple and flat on asphalt boring ride, reach Banjaran. A small rural city South Eastern part of Bandung. This area been one of the busy textille industry area around the region. Packed narrow asphalt road with an overload traffic.

32ruinsTurn left off the main road, going up the hill to Batukarut. Yes, now you face a partly bad condition road, a lot of holes combined with asphalt. The scenery become more and more interesting since the ride going up to the hill side.

IMG_3941jagung

Trip info:

Riding Specialized Carve 29″ hardtail
tyres: Continental X-King 2.2
uphill: 7/10
singletrack: 4/10
downhill: 7/10
technical: 4/10
endurance: 8/10
landscape view: 6/10

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


Ride#19 Batu Loceng Hari Merdeka

3IMG_3710paradeBandung, 17 August 2013

Ini adalah hari sabtu, tepatnya sabtu pertama setelah lebaran, dan juga bertepatan dengan 17 Agustus, peringatan hari kemerdekaan. Sudah sejak akhir puasa mendambakan bisa gowes liburan lebaran, tapi tidak terlaksana, malahan sepeda gunung tertinggal seminggu di Bandung.

3IMG_3716bayarIni juga sebenernya gowes yang simpel saja, gowes kangen kangenan sama Bandung Utara. Melihat timeline, masak iya terakhir kali ke Bandung Utara genjot adalah Kolozal#10, November tahun lalu. Weleh. Padahal hampir tiap weekend ke Bandung.

Tambah lengkap lagi ini adalah gowes perayaan. Sepanjang jalan dari Buahbatu sampai Cicaheum bertemu banyak perayaan, karnaval, seru nya berbagai lomba dan kibar kibar raya bendera aneka warna.

3IMG_3720shadow
Merasakan kembali kemeriahan, karena kemeriahan serupa tidak terlalu saya rasakan saat di sekitar Cikarang. Otomatis terkenang masa kecil saat 17an adalah saatnya sibuk menghias sepeda, saatnya siap mentap melahap kerupuk, dan saatnya menjaga kelereng tidak meleset dari sendok di mulut.

3IMG_3727rayaDari Cicaheum pun mulai jalan agak miring, melewati Saung Angklung Udjo (yang juga mengadakan upacara) mulai deh genjot trek klasik Caringin Tilu. Matahari belum tinggi, udara segar. Sesegar terdengarnya kemeriahan raya kemerdekaan dari masyarakat sekitar. Dengan bak terbuka berbondong mereka menuju dekat kantor kecamatan. “…ada upacara bendera dik…” begitu jawaban yang saya dapat waktu bertanya. Terbayang kembali, kapan ya terakhir kali saya ikutan upacara bendera?

Kemiringan trek pembuka ke Caringin Tilu pun tidaklah terlalu terasa dengan berbagai hiburan visual yang tersaji. Emosional juga karena kemerdekaan. Sekaligus sedih, sampai kapan ya enthusiasme raya merdeka seperti ini akan bertahan?

Berhenti motret sering dan pitstop jadi sering juga. Sesama gowes pagi itu ada ibu ibu dengan sepeda hardtail dan full gear termasuk sepatu SIDI, belio tampak berlalu tetap gowes semetara saya mencoba menangkap raya merdeka yang mengharukan ini.

3IMG_3663gununganGenjot pun akhirnya memasuki kawasan yang paling memorial, kawasan yang ada rumah/villa besar di sebelah kiri, ini villa dari jaman baheula memang selalu tugasnya menjatuhkan mental, ada tulisan besar sekali “Km 4,8”. Kebayang segala hosh hosh kaki kraam jalan super miring dan ternyata kita mendapat hadiah informasi yang tidak kita “inginkan”. Ternyata baru 4.8km dari awal jalan ini dekat Cicaheum.

Sangat minim frekuensi genjot terasa benar. Entah berapa kali pitstop, jadi ingat waktu lalu pernah pegang ‘personal record’ cuma 2 kali pitstop dari Cicaheum. Entah berapa kali ya saya berhenti mengambil napas, sampe malu mau nyeritakannya, malas menghitung jumlahnya.

3IMG_3680caringin3IMG_3688caringin3Cuaca mendukung sekali, sedikit terik, tapi terang sekali. Bandung dataran tinggi, yang sebenarnya adalah sebuah cekungan itu, tampak anggun dibawah sana. Gunung gunung berderet di seberang Bandung pun tampak jelas banget; Gn Papandayan dan sekitarnya, Gn Puntang dan sekiranya Pangalengan disebaliknya, Gn Patuha Ciwidey dan sekitarnya. Lumayan dapat pemandangan indah sambil menurunkan kembali degub heart rate.

Akhirnya dengan tergopoh gopoh sampailah di area warung sekitar pohon beringin kawasan Caringin Tilu. Jadi teringat kembali gowes pertama kali ke Caringin Tilu bersama Kang Indra…

3IMG_3736kp-buntisCukup lama di kawasan Caringin Tilu ini. Makan pagi, karena belom sempat tadi waktu berangkat, juga bungkus makan buat nanti siang. Wah harga nasi bungkus nya harga sama dengan di Jabotabek, jadi kerasa mahal. Mungkin karena ini kawasan wisata. Tampak benar dibandingkan 3-4 tahun lalu saat pertama kunjungi jumlah warung pinggir jalan mungkin sudah 3 kali lipat. Kebayang kalau malam hari libur kawasan ini bakal jadi tempat pacaran. Cuman bisa berdoa semoga tidak berkembang jadi lebih buruk.

Nama kawasan ini yang terkait dengan tiga beringin, tapi kok saya hanya melihat dua pohon beringin besar ya dari tadi. Genjot pun dilanjutkan dan kembali masuk kampung nostalgia kembali, Kampung Buntis.

3IMG_3746puncakSetelah kampung ini masuk hutan. Wah, gowes sendirian begini terpikir juga untuk balik kanan, jalan menurun sampai rumah. Tapi segera saya ingat kembali tadi pagi waktu nulis track, membaca kisah kisah tentang Batu Lonceng. Misteri dan keunikannya, entah kenapa tetap lanjut pengen menuju Batu Lonceng. Kemudian tak lama datang 5 orang pesepeda TERJAL. Hosh hosh keringatan mereka, kebayang gowes nanjak push ala mereka. Pilihan buat ke trek menurun ‘Firdaus/ Tamiya’ pun sempat menggoda. Tapi ayo kuatkan niat dan segera berangkat berangkat lagi.

Sempat disalip oleh segerombolan motor trail, trek bagian masuk ke hutan ini semestinya jadi trek yang menyenangkan dan menantang. Singletrek uphill, teknikal, dan panjang. Sayangnya sendirian di singletrek tengah hutan dan mulai gerimis mempengaruhi juga kenikmatan genjot. Bagaimanapun rasa khawatir genjot sendiri mengurangi kenikmatan. Ujungnya play safe, tidak push padahal trek rideable dan menantang. Sampailah di ujung tanjakan sebuah warung kecil yang ramai dengan ATV, fourwheels, motor trails. Hanya saya yang pesepeda. Mulai buka bekal dan makan nasi bungkus dari Caringin Tilu.

3IMG_3753batuloncengBagian selanjutnya dari trek setelah melewati warung tempat istirahat, yang posisinya di puncak Sesar Lembang ini pun benar benar hiburan sekaligus tantangan yang mengasyikkan. Di ujung tanjakan kita sempat ada di titik dimana sebelah kiri kita bisa melihat dataran tinggi Bandung dan disebelah kanan datarang tinggi Lembang. Turunan singletrack ‘babagongan’ ke arah Kampung Batu Lonceng sungguh balasan yang setimpal dari segala tanjakan yang mendera dari Cicaheum. Akhirnya sampailah di kampung Batu Lonceng dan mampir ke rumah Bapak Juru Kunci Batu Lonceng.

Ngobrol bersama Bapak Juru Kunci, tentang Batu Lonceng yang berbentuk seperti Lonceng, tentang legenda batu akan berbunyi seperti lonceng saat ada bahaya mendekat ke desa, juga tenang legenda batu yang merupakan senjata bagi ksatria Kerajaan Galuh Padjadjaran. Cerita juga berkembang tentang tuah Batu Lonceng yang mengundang pendatang dari penjuru nusantara, bahakan mancanegara, untuk datang berkunjung. Ketika kemudian saya share sebagian foto di facebook, ada respon dari rekan ‘komunitas Riset Cekungan Bandung’ bahwa nama yang benar adalah ‘Batu Loceng’ bukan ‘Batu Lonceng’.

3IMG_3760ride19Setelah istirahat sekaligus menghilangkan rasa penasaran pada Batu Lonceng, sayangnya tidak tepat waktunya buat menengok batu nya yang berposisi 1km dari rumah Bapak Juru Kunci, genjot pun dilanjutkan ke arah kebun kina Palintang. Saya mengira gowes akan nanjak tidak setinggi waktu di puncak babagongan Batu Lonceng, namun ternyata meskipun jalan akses kebun kina lebih landai, namun ujung tanjakan tetaplah sekitar 1400mdpl juga sebelum meluncur turun lewat desa Palintang menuju Ujung Berung.

Trip info:

Riding Specialized Carve 29″ hardtail
tyres: Continental X-King 2.2
uphill: 9/10
singletrack: 7/10
downhill: 8/10

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#12 CikarangMTB Kolozal#10 Bandung to Cipunagara

kol10-1Bandung, 24 November 2012

Siap siap bisa berarti banyak hal. Bisa nyiapin sepeda, mengentaskan sepeda dari tumpukan barang di rumah, dibawa spa biar mulus dan maniez. Bisa juganyiapin kostum tas dan lain lain, belanja maksudnya. Bisa juga loading sepeda di malam sebelum gowes.

Kalau saya selalu menikmati suasana tegang deg deg plass malam sebelum gowes, termasuk heboh nya loading, juga wajah wajah khawatir, harap cemas dan juga optimistis dari para senior tim ruzuh yang pengen acara ini sukses.

kol10-2

Tidak ada yang seheboh pagi kolozal. Rasanya semuanya kegiatan dan ketegangan persiapan dan kerinduan akan gowes kolozal terkumpul di satu momen saat pagi pagi berkumpul dan berangkat ini. Wajah wajah excited, serta juga tegang dan khawatir bercampur baur. Heboh pindah pindah dan list isi bis bikin yang heboh makin heboh.

Sampai akhirnya bisa duduk di kendaraan dan berangkat, sambil makan snack pagi hari berisi ubi, pisang dan leupeut… Tegaldanas-an bangeeeettt….

kol10-3Gedung Sate, Bandung. Tidak ada yang paham isi kepala setiap orang. Yang jelas keenam orang ini tampak sama, mereka memegang kepala semua saat start, katanya kepala terasa sakiiiiiitttt… Sakit setengah mati karena ingin segera gowes, sakau gowes. Kalau perlu porsi nya *ditambahin sedikit*.

kol10-4Setengah mati genjot nonstop dari 750 ke 1000 mdpl. Sekitar 6km dan dalam 50 menit. Tetap saja di gerbang tahura cuma bertemu dengan
buntut, dengan tim suwiii-per. Ada juga om ratman yang lagi heboh ngoprek sepeda Om Pande.

Masuk tahura asli adem banget sampe lupa motret. Suejuk nya membius. Udaranya suegerrrrr… Padahal hutan ini aseli hanya ada di lembah sungai cikapundung saja. Jika kita melihat ke atas, dari jalan yang ada di lembah, tampak hijau, tapi dibaliknya adalah kebun kebun, kapling rumah dan pemukiman. Tetap saja, Tahura adalah sebuah oase di kota Bandung. Sesampainya di gua belanda sudah terlambat. Foto keluarga yang dikejar sudahlah bubar…

kol10-5Gua belanda ini adalah semacam tempat isolasi dan interogasi pada jaman belanda. Dan pada awal kemerdekaan sampai tahun 70an dipakai oleh TNI untuk menyimpan senjata dan mesiu… Gowes gelap gelapan karena malas mengeluarkan lampu dari tas.

Hutan yang adem, angin yang semilir, udara yang sejuk…

Dada yang serasa mau meledak, paha yang panas, dengkul yang gemeretak…

kol10-6Tidak lupa melaksanakan kewajiban

Sebelum berangkat saya sudah mantengin akan coba cari perubahan wajah, mencoba meotretnya. Kira kira semula ceria, lalu berangsur menjadi terlunta lunta… Tapi memang para member cikarangmtb sudah sangat terlatih untuk menyantap martabak… sehingga yang tampak di depan kamera hanyalah wajah wajah ceria

Kami pun segera berkemas menghadapi hujan

Saya tidak terlalu mengerti apa yang sering disebut dengan foto heroik. Menurut saya seluruh perjalanan ini sudah heroik sejak ide dan survey nya… Semua fotonya juga adalah heroik.

kol10-7Heroik mendapatkan semangat timruzuh untuk ngurusin kolozal
Heroik dapat rri
Heroik menyisihkan waktu
Heroik spa dan upgrade
Heroik ngantuk seharian
Heroik nanjak
Heroik hujan
Heroik turunan tiada henti

Semua tim kolozal ini adalah Heroik..

Setelah akhirnya mencapai puncak tertinggi dalam hujan deras, kami pun menjalani turunan 18 km yang panjang dan serasa tak ada habisnya. Sangat melelahkan namun juga sangat nikmat. Apalagi area Ciupunagara ini tampak masih sangat asri dan jauh dari jamah peradaban.

Tracklog GPS dapat di download di http://www.bikemap.net/route/1922846

mapkol#10

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr