enjoy every cadence, every breath…

sports

GGB Latgab – Batukuda – Genteng – Cijambu

Bandung, 20 Januari 2016


8:12 akhirnya lima orang siap start pagi itu. Om Indra, Om Kodrat, Om Maman, Om Atoe, Om Sigit mundur dan batal dengan berbagai alasan yang valid. Lokasi start dan finish adalah RS AMC, tepat di depan gerbang tol Cileunyi. Ujung jalan tol PADALEUNYI… Saya yang dua malam berturut kurang tidur sudah bertekad untuk finish full track saja sudah prestasi… Road Captain (kabarnya sih saya, dipindah tangankan dari Om Indra) sementara Om Eyang, Om Lutfi, Om Djo segera melejit kedepan tak lama setelah ketemu tanjakan aspal. Saya bersama Om Adjie di belakang…


8:41 ketemu tanda lalulintas yang tidak biasa… Ya, inilah tanjakan Cinunuk. Setiap kali saya ambil gambar di area ini selalu mendapat sambutan meriah dari para pemirsa, baik blog, forum maupun fb… Salah satu tanjakan paling dramatis di Bandung Timur


8:42 Om Adjie keheranan saya berhenti. Saya bilang, “Om Adjie jadi model foto Om…” Sekarang tanjakan ini sudah aspal, pada saat awal masih gravel seru spinning ban belakang… Saat saya kemudian sampai di ujung tanjakan ini alarm di Garmin bunyi, “Your heart rate is above maximum level…”


9:24 Pitstop pertama, Batukuda. Kabarnya sih ada batu nya yang berbentuk seperti kuda, tapi saya sendiri belom pernah ke tempat batu berada. Udahlah daripada ngomongin batu, kita ngopi saja. Kopi adalah kloter terakhir, setelah sebelumnya teh manis panas, teh kotak

Pada titik inilah sambil ambil napas lega dibawah rindang pohon pinus datanglah sebuah call…. “Om kami sudah di Kiara Payung….” Hmmm… ok baiklah, rupanya kalian memilih jalan yang baik (belok kanan)… Tujuan kami berikutnya memang Kiara Payung tapi lewat singletrack dalam hutan. Pak penjual kopi dan rekan peseda lain yang kita temui bilang, “Waduh Pak… kalo musim hujan begini trek bisa tertutup oleh semak semak tinggi…”. Saya tersenyum, dan Om Adjie matanya berbinar semangat mendengar kita akan menerobos semak semak… wkwkwk


9:49 Mengangkat sepeda melewati sungai dan kubangan air, lobang yang dalam, menariknya ke bukit diatas, pelan pelan kami menemukan juga singletracknya. “Bener ini Om?…” tanya Om Adjie, entah khawatir entah semangat lihat kita menerobos nerobos semak dibawah pohon pinus dan campuran pohon lain. Di suatu area terbuka saya bilang, “Biasanya kita bisa lihat seluruh Bandung dari sini Om Adjie…” Sayangnya cuaca hari itu mendung berkabut meskipun relatif masih pagi


10:25 melewati hutan dan semak, relatively rideable, asik meliuk dan menerabas, sambil kaki dan muka dibelai berbagai jenis dahan daun dan duri akhirnya kita keluar hutan juga dan masuk ke kampung lalu istirahat di Kiara Payung. Kita istirahat dulu karena berdasar pengalaman yang lalu susah dapat warung nasi di daerah Genteng Cijambu, saya putuskan bungkus dan masukkan ke kantong jersey. Enak bener ini jersey Bikewearr, jersey edisi XCM Bali tahun lalu yang membawa banyak semangat dan kenangan

Om Adjie dan saya makan sawo enak banget disini, seorang dua butir. Lalu sambil saya bungkus nasi lengkap lalapan dan tahu tempe ayam goreng, Om Adjie bilang ke Ibu warung, “Saya bungkus pisang saja, enam ya bu…”


11:43 Ini adalah area Genteng, area yang menjadi titik turun biasanya trek yang disebut Palintang Karpet Genteng atau sejenisnya. Ada beberapa variasi, kita tidak ke Palintang karena pilih trek pendek (opsi2). Akhirnya cuma bisa melihat layers bukit dan gunung di kejauhan… Tanjakan beton disambut makadam dalam kampungnya masih seksi dan panjang dan… ayo kita pakai grainy gear saja daripada jantung menjerit masuk area max HRM. Om Adjie sudah melejit kedepan


13:04 Keluar dari mulut buaya masuk ke mulut harimau… Keluar dari tanjakan tengah kampung yang dahsyat di area Genteng, kita mulai nanjak alus, diambut nanjak makadam, disambut hutan lagi… Inilah area Cijambu. Part hutan nya panjang banget. Ketemu rombongan motor trail, mereka bilang, “Oooo… teman nya tiga orang udah jauuuuuhhhh banget….”. Iya iya Kang… gak usah heboh gitu deh… Trek campuran doubletrack dan beberapa area ada singletrack. Yang horor adalah ada anjing pemburu, anjing nya bukan anjing kampung gitu, tapi anjing yang besar… Ampun dah… Geram nya saja udah bikin hati bergetar


13:11 Hutan tidak begitu saja berhenti habis, diselingi masuk ke kampung terpencil, kami pun masuk hutan kembali, kali ini hutan yang ketiga ini lebih wild, meskipun pohon nya secara umum adalah pinus dan pinus dominan, tapi kok ya ini trek menyeberang dan nyeberang sungai berkali kali, udah diseberangi eeee… balik lagi dan seterusnya

Di hutan ini juga kita dirubung sama semacam nyamuk atau entah serangga apa itu. Dia berputar putar di sekitar muka kita. Kalo kita jalan kadang serangga masuk ke mata jadi pedih, kadang masuk ke mulut. Pokoknya ganggu banget deh


13:46 Setelah lega akhirnya keluar hutan juga, ketemu jalan aspal rusak, lalu itu jalan masih tega juga nanjaaaakkk sampai di puncak Pasir Biru. Sempatin ambil foto di ujung tanjakan terakhir… Rasanya badan udah habis dan perut lapar sekali, Ketemu Om Adjie lagi fill up minum ke bidon, saya udah putuskan untuk buka bekel makan siang. Udah gak tahan lagi… Dapat wa message katanya tim depan lagi carbo loading juga di jalan raya Bandung-Sumedang… Seterusnya dalah turunan dan sedikit rolling tanjakan… dan itu 40an km terakhir adalah tidak terlalu penting, mbosenin dan ngantuk gowes sampe kembali ke titik start…

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
instagram.com/bikewearr/


Langkawi MTB Marathon ride #kepadaawan

Langkawi Island, 18 Oktober 2015

Trip ini sebenarnya dirancang untuk mengikuti LIMBC 2015, Langkawi International Mountain Bike Challenge yang penyelenggaraannya dibatalkan hanya sekitar sebulan sebelum acara. Kami tim dari Cikarang MTB GGB sudah memesan tiket pesawat dan booking hotel akhirnya tetap berangkat dan menjalani trek berdasarkan tracklog dari peserta event sebelumnya.

LIMBC total track

LIMBC total track


DCIM203GOPROAyo kita mulai menuliskannya. Mohon maaf ya kalau pabaliut, karena berbagai keterbatasan tapi pengen juga berbagi cerita, selamat menikmati dan silakan bersabar kalau ternyata sambungannya nunggu lama (disclaimer)

“Buset tanjakannya miring banget, belok patah, belom pernah saya seperti itu”
“Kita udah naik gak taunya puncak ada di bukit sebelahnya, pakai panjang lagi”
“Kayaknya saya mau pindah deh dari dua**tiiiiiitt** ke dua**tuuuutt**, frustasi ketemu tanjakan kaya tadi”

Section 1 AYER HANGAT

Section 1 AYER HANGAT

Sebagai member trip yang datang sehari lebih lambat dari seluruh tim, saya elus elus paha saja. Sambil membayangkan keputusan pemilihan chainring semalam…

Pagi itu semua berjalan seperti yang dibayangkan, rekan gowes saya hari ini adalah dua rekan yang sudah jelas akan memberikan cipratan air ban belakang ke muka saya. Waktu kami keluar dari hotel, yang berada di bagian selatan pulau, area bernama Kuah, maka sudah terbayang tuh mendung tampak berat banget di atas kepala. Tinggal menunggu saatnya mendung runtuh dan menimpa kita semua…

Dilepas dua rekan yang tidak ikutan gowes hari ini, karena kondisi tubuh yang tidak fit, maka saya hanya berusaha menakar adrenalin saya supaya tetap terjaga, tidak terlalu bersemangat… Semua yang terlalu kan salah…

Kita gowes onroad dulu, dan baru belokan pertama hujan rintik semakin besar butirannya sudah langsung menyambut. C’mon… ini baru jam 730 pagi… Setting hari ini tanpa tas, tanpa p3k, semua tools dan alat di saddle bag, hanya hape, batt cadangan, dan uang saja di saku. Going light… and ready for a wet rainy day…

#kepadaawan saya minta kerjasamanya yang baik yaaa… awan yang baik…

DCIM203GOPROPerasaan campur aduk saat kami lewat jalan on road melewati pusat olahraga, Olympic Center. Semestinya disini nih titik start… huh… Sambil menikmati air hujan yang merembes masuk ke kulit, gowes pun segera saja keluar dari jalan besar. Masuk ke Hutan tak jauh dari Olympic Center…

Inilah segment pertama hutan kita hari ini. Memang trek nya unik, pada dasarnya trek berputar mengelilingi pulau, ada jalan on-road mulus banget kondisi sangat bagus, tidak pernah lihat jalannya ada lobang samasekali. Muluz. Nah trek kita hari ini, yang merupakan trek Langkawi International Mountain Bike Challenge, stage pertama untuk multistage nya, atau stage XCM untuk kelas marathon nya.

Singletrack hutan segera menyambut, hutan meskipun rimbun tapi singletrack tampak terawat. Di beberapa tempat memang kita ada batang pohon tumbang yang menghalangi jalan, namun tampak sekali itu area sangat minim paparan manusia. Hanya hutan hutan dan hutan. Tidak ada pohon cabe, tumpangsari kopi, sisipan pohon wortel, seperti umumnya yang kita lihat di Tanah air. Hujan mulai berhenti dan datang lagi secara bergantian. Kami bertiga tidak terlalu memperhatikan hujan lagi, karena suguhan trek nya makin asyik.

DCIM203GOPROSetelah singletrack cenderung lurus landai, maka trek mulai deh meliuk liuk, traverse, melipir. Di tengah pulau ada satu gunung yang namanya Gunung Raya, dan trek ini pada dasarnya memutar mengelilingi gunung ini. Di satu area akhirnya kita ketemu dengan sungai. Airnya jernih banget. Salah satu rekan segera melakukan ritual nya. Belio membuka bidon, kemudian mengisi penuh bidon dengan air kali, kemudian meminumnya dengan sangat khidmat. Saya saja sampai deg deg an ngelihat nya. Persis perasaan seperti menonton ritual adat…

Entah kenapa peristiwa bertemu sungai ini seperti memberi nuansa lain buat tim, tadinya agak grogi campur semangat campur excited, sambil membayang bayangkan jika dan hanya jika event nya tidak dibatalkan, tentu kami sedang berusaha ngebut dan dengan mood gowes yang kompetitif. Adanya sungai ini membuat kami berhenti, ketawa, foto selfie karena memang nyeberang sungai dengan batu batu tidak gowesable. Kami seolah baru sadar kalau kami sebaiknya lebih menikmati trip ini tanpa ketegangan.

DCIM203GOPROTrek mulai meningkalkan ke landaiannya dan mulai menjalani kemiringan yang tidaklah terlalu sopan. Beberapa masih gowesable, ada juga bagian yang mulai membuat kami ttb bersama. Trek menjadi semakin teknikal. Kemiringan, kecuaraman, dan juga jenis permukaan trek yang variasinya tidak selalu Tanah, kadang batu, kadang serakan batu lepas, kadang Tanah keras, kadang lumpur. Untungnya lumpur karakternya jauh dari yang di Cikarang, lumpur nya tidak lengket. Tapi tetap saja licin…

Karakter trek secara keseluruhan adalah di guide oleh jalan raya aspal keliling Gunung Raya. Sementara trek menyimpang keluar segment per segment ke arah hutan, baik kiri ataupun kanan jalan. Bagian pertama hutan, segment pertama keluar dari jalan ini kita namakan saja Segment Ayer Hangat, sesuai nama daerah didekatnya.

Kepadatan vegetasi juga berubah ubah. Ada yang jalannya terbuka, doubletrack, ada juga banyak yang jalannya singletrack dan di beberapa area cenderung gelap karena tertutup pepohonan. Sungguh pengalaman berbeda buat saya, karena aseli panjang banget. Singletrack hutan paling panjang yang saya pernah lewati selama ini adalah Ciharus di Garut, yang ini lebih panjang lagi. Singletrack gelap dalam hutan tropis dataran rendah yang basah…

Pengalaman baru yang tak ternilai…

Meliuk dalam hutan lalu tiba tiba kita bertemu dengan jalan doubletrack dengan vegetasi agak terbuka, jalan lebih terang, lalu muncul lah jalan aspal sempit dan pagar yang terkunci… Haha!!! Gak di negeri sendiri gak di tempat orang, kok ya sama saja, ketemu pagar…

DCIM203GOPROSempat tertegun…

“Ada jalan Om…”
seorang rekan segera membawa sepedanya menerobos semak belukar ke sebelah kanan, masih di bagian luar pagar
Ya ya ya… tentusaja selalu ada jalan

Tim kemudian melewati sebuah lapangan, mirip lapangan bola, kemudian bertemulah kita dengan jalan aspal utama… Terlihat dengan jelas di sebelah lapangan papan nama… GUNUNG RAYA GOLF RESORT

Kami pun melewati jalan aspal mulus ini kembali. Seperti sebuah break ketegangan, kita bisa gowes ‘normal’ di jalan yang mulus, mengembalikan keseimbangan dan kondisi tubuh. Bisa dengan tenang menyedot air minum.

DCIM203GOPROTidak pernah lama rasanya di jalan mulus, trek kembali masuk ke vegetasi di sebelah kiri. Bretttt… Kaget setengah mati saya seperti ada yang menyambar lengan kiri saya. Berhenti saya tertegun melihat lengan panjang jersey, posisi di tengah antara pergelangan tangan dan siku, pas di tengah lengan kiri, sobek parah. Sempat panik lihat sobek jersi nya, saya periksa sebentar ternyata ada memang luka dan darah keluar dari luka nya. Darah segera membasahi jersey. Saya lihat ke belakang, apa tadi seperti benda ataupun sesuatu yang menahan. Ya, sobek jersey karena serasa seperti ditahan. Ternyata ada perdu berduri besar. Buset deh kaget saya lihat bentuk perdu nya. Besarnya duri duri nya menggetarkan hati.

DCIM203GOPROSegera saya gowes kembali karena sudah tertinggal lama dari dua rekan di depan gara gara berhenti memperhatikan luka dan perdu, eh ternyata mereka belum jauh dan sedang kebingungan karena jalan nya ilang… yang ada hanya semak semak setinggi orang dewasa serta vegetasi setinggi rumah. Nah loh… Sempat mencari beberap opsi, akhirnya kali ini benar benar balik dan kembali ke jalan aspal utama lagi.

Bener bener itu jalan sudah hilang, sudah tertutup oleh vegetasi mungkin karena setahun tak dipakai gowes dari penyelenggaraan tahun lalu

Kalau diperhatikan di peta google earth, tampak kalau area trek ini ada di antara jalan raya dan pagar lapangan golf. Tidak sampai 50m kami masuk lagi ke semak semak, mencoba kembali ke trek sesuai tracklog, dan kali ini setelah masuk terlalu dalam kita benar benar menghadapi situasi harus menembus campuran ilalang tinggi, dilengkapi dengan tanaman berduri yang menyayat nyayat betis kami bertiga. Mau balik kanan sudah tanggung karena jauh… hajar terus hantam… disertai dengan perih betis dan kaki.

DCIM203GOPROYang di pikiran saya cuma dua mahluk saat itu: lebah hutan yang sering berterbangan dan ular, semoga kami tidak mengganggu sarang mereka…

Syukurlah kemudian section ini bisa kami lewati dengan selamat, lalu trek masuk nanjak ke batas hutan lebat dan kemudian turun masuk ke kampung. Ada papan nama KAMPUNG BELANGA PECAH

Kami memasuki jalan raya kembali, serasa kembali ke rasa aman setelah jalan semak penuh ancaman terlewati.. kami pun memasuki etape berikutnya KILIM GEOPARK

02gn-raya-golfSegment Kilim Geopark ini trek berubah lagi. Setelah hutan tropis basah di segment Ayer Hangat dan area gunung kering dan bersemak di segment Belanga Pecah maka kali ini kita bertemu dengan area karst. Tanahnya campuran antara tanah cokelat dan tanah pasir serta lumpur hitam. Di beberapa area kita mulai bertemu kubangan kubangan, kadang jalan jadi ada bagian panjang berubah jadi kubangan, area berbau mangrove.

Terpampang jelas ada petunjuk bilang kalau ini area hutan produktif. Memang tampak area hutan nya berubah tanamannya jadi di beberapa ada pohon jati sementara di area lain ada pohon karet. Setelah rolling dataran rendah plus kenalan mangrove trek pun mulai nanjak full dalam kebun karet.

DCIM203GOPROKemiringan tanjakan semakin susah, permukaan trek pun sudah mulai berubah dari jalan tanah ke jalan campuran batu lalu ke batu utuh yang licin. Ya, di beberapa area tidak tampak tanah, permukaan trek adalah batu utuh yang digerus gerus untuk membuat jalan, licin dan permukaan gerusan tidaklah sopan.

Hujan kembali turun…
Deras
#kepadaawan pliiiiss deh… Iya sih keganasan cuacamu melengkapi perjalan kami, tapi jangan galak galak ya…

Sampai di ujung sebuah tanjakan kami menemui lagi jalan dipagar dan dikonci… nah…

DCIM203GOPROSelalu ada jalan setelah jalan buntu, kalau enggak di negeri orang mungkin udah kita angkat sepeda melewati pagar, tapi akhirnya kami pilih jalan lain yang ‘orientasinya sama’, dan kita temui satu tanjakan panjang sekali di tengah kebun karet, dengan permukaan trek adalah batu batu seperti marmer dipecah. Batu batunya yang berwarna putih marmer itu licin, dibantu air hujan, membuat trek jadi teknikal dan unik karakternya.

Akhirnya ketemu ujung tanjakan lalu disambut turunan tanah, disinilah kembali itu dahan pohon, yang bentuknya seperti campuran antara palem dan semak, dahannya terkena pundak saya, entah bagaimana itu dahan jadi seperti tangan yang menahan pundak saya. Kaget setengah mati di tengah turunan padahal. Badan saya terangkat karena tertahan di pundak, ban sepeda depan sudah terangkat, seperti akan terjengkang…

03kilimBrettt…

Bunyi itu lagi, lalu sepeda kembali turun sambil saya kelimpungan mempertahankan keseimbangan. Berhenti saya lihat sobekan lain yang lebih parah ada di pundak kiri. Okky yang ada tepat di belakang berhenti dengan wajah ekspresi khawatir plus kagum. Syukurlah tidak jatuh.

Sementara pemandangan di lembah di depan sungguh memanjakan mata. Tampak pantai dan laut di kejauhan sambil kita juga bisa lihat bentukan bentukan batu karst yang eksotis menyembul dari perut bumi.

Sebentar saja karena tanjakan panjang sudah menungu lagi..

Diujung bukit kita dua rekan saya di depan tiba tiba berhenti seperti tanpa sebab… Muka mereka tampak aneh ekspresinya…

DCIM203GOPROKenapa dua rekan berhenti dengan tatapan wajah yang aneh? Rupanya di tengah trek ada segerombolan sapi. Ini rupanya jawaban kita sering bertemu kotoran sapi dimana mana, di tempat yang aneh misalnya di tengah kebun karet, rupanya sapi disini dipelihara dengan dilepaskan begitu saja, segerombolan ada sekitar 6-8 sapi.

Melewati halangan unik ini kita pun turun dan akhirnya melewati sebuah tambang batu kita sampai juga di jalan raya. Awan tetap tidak baik sama kami, hujan tambah deras, kami mulai kehabisan minum di bidon dan berhenti untuk beli air mineral di sebuah warung pinggir jalan.

Ya ampun, dia enggak jual air mineral !!!

Part trek segment KILIM berikutnya adalah melipir pinggir hutan lagi, tapi tidak masuk hutan, dan mulai mengikuti jalan inspeksi di sebelah saluran air, mirip kalimalang, dan kita melewati jalan aspal di sebelahnya. Untuk pertama kalinya tim bisa kebut kebutan. Sejak dari start tidak pernah panjang di jalan aspal, dan ini adalah kesempatan pertama bisa pakai gigi 11t terkecil di sprocket

DCIM203GOPROJalan lalu bertemu dengan kembali jalan utama, jalan besar. Saya langsung tertarik penjual pisang yang menggantung dagangannya, saat kita berhenti mau beli pisang, ada yang teriak dari seberang jalan. Ternyata dua rekan tim support berhasil menemukan kami. Akhirnya isi bidon dengan air mineral juga dan mulai berangkat lagi.

Kepada awan saya minta jangan merengut gitu ah…
Langit mendung dan gelap menggantung
Matahari tertutup

DCIM203GOPROSection KILIM selesai maka kita memasuki section ULU MELAKA. Section ini kembali berada di luar jalur aspal utama yang mulus. Dimulai dengan kebingungan mencari titik awal trek yang sudah tertutup vegetasi, akhirnya kita menemukan singletrack yang makin lama tampak makin membesar menjadi doubletrack.

Bagian ini rolling. Full rolling. Kalau kuat silakan geber speed, dan itu yang tampaknya dilakukan dua rekan saya. Mereka jadi semacam titik kecil saja di depan.

Kiri kanan trek adalah kebun karet yang sedang banyak dirombak. Banyak banget pohon karet dirobohkan. Karena dilewati alat berat, doubletrack jadi sedikit berlumpur dan licin.

DCIM203GOPROSection Ulu Melaka diakhiri dengan uphill dalam kebun karet cukup berat dan panjang, di trek membentuk seperti huruf U. Trek seperti menemui puncak dan u-turn balik turun kembali. Section ditutup dengan area ‘jembatan air’ yang sudah sering kami lihat di youtube. Jalan menembus semacam reservoir bendungan, tapi kedalaman air nya hanya sekitar 10cm. Menjadi menarik untuk mencuci sepeda dan ambil foto karena kita seperti bersepeda menembus air. Disini kita manfaatkan juga untuk sedikit istirahat lagi, saya sempat mengganti baterai kamera.

04ulu-melakaTitik jembatan reservoir air ini berhasil membuat semangat naik kembali. Memang kondisi tubuh sudah turun, ini sudah jam 1130 dan kita sudah mulai gowes dari jam 7 pagi dengan istirahat praktis total tidak sampai 20 menit. Segar ketemu kubangan air berlimpah.

Keluar dari section ULU MELAKA kita masuk kembali ke jalan aspal utama. Mendung semakin berat menggantung. Dan akhirnya hujan tumpah saat kita memasuki section berikutnya, MAKAM MAHSURI

Dua section terakhir yaitu section MAKAM MAHSURI yang sangat mistis dan section BUKIT BATU yang sangat brutal teknikal adalah bagian penutup trek yang paling puncak. Selain jam gowes udah mulai diatas 5 jam, fisik dan mental sudah mulai terpengaruh dan hujan yang tidak berhenti mengguyur.

Semua diatas ditambah lagi dengan perjumpaan dengan hewan hewan liar seperti monyet dan babi hutan, semakin menjadikan penutup yang menampar.

Kita tahu persis karena sempat lewat sebagian trek ini di gowes sabtu sore, kita tahu kalau sudah dekat dengan kawasan Kuah adan Hotel area, namun yang kita temui adalah trek yang semakin brutal termasuk kubangan kubangan air ditumbuhi semak di tengah hutan.

Dua seri penutup disimpan cerita detailnya, termasuk pengalaman dengan daun BALAKACIDA untuk mengobati luka rekan, termasuk juga beberapa kejadian jatuh.

Terimakasih buat Balibiru Adventure Trip, yang sudah merancang trip ini jadi trip yang luarbiasa namun tetap terjangkau.
Terimakasih buat Bikewearr Biking Apparel, yang sudah menyediakan desain jersey khusus, jersey premium nyaman dipakai segala kondisi
Terimakasih buat Om Eyang AN, Om Rudy Mbahbro, Om HPW, Om Okky… rekan rekan seperjalanan termasuk persiapan 3 bulan sebelumnya… Trip kemarin adalah salah satu trip paling brutal yang pernah saya gowes selama ber-mtb

SEKIAN

Versi lebih lengkap dan detail, terutama di dua section terakhir silakan tengok nanti di https://antoix.wordpress.com

#kepadaawan, terimakasih sudah membuat trip hari itu menjadi lebih brutal dan berkesan… Segeralah datang ke Sumatera dan Kalimantan… kami butuh hujan

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
instagram.com/bikewearr/


What a 72 km ride… Bali Mountain Bike Marathon 2015

DCIM101GOPRO

DCIM101GOPRO

Bali, 6 Juni 2015

Inilah saatnya datang juga. Seperti tidak percaya akhirnya ikutan event mountain bike marathon ini, suatu event yang semula saya tidak bayangkan saya akan mampu melewatinya, bahkan selama persiapan baru sebulan belakangan terusterang dapat merasakan rasa percaya diri untuk mampu finish di event ini. Ya, untuk mencapai keyakinan mampu finish dan tidak perlu terkena cut-off saja perlu waktu panjang buat saya.

Sore itu di penginapan, melihat nomor start race nempel di sepeda kok terasa asing sekali. Saya gak pernah ikutan race, ini adalah partisipasi pertama saya dalam race sepeda gunung. Ada perasaan aneh dan canggung namun juga haru. Sudahlah, tidak perlu terlalu dipikirkan.

Malam berusaha tidur, tapi kesulitan. Terlalu banyak hal baru yang akan datang hari esok.

DCIM101GOPRO

DCIM101GOPRO

Bali, 7 Juni 2015

Pagi ini dimulai dengan sangat santai, bahkan kami baru meninggalkan penginapan dengan waktu yang mepet ke waktu start. Mobil hanya bisa mengantar sampai bawah, dan sambil mengikuti petunjuk jalan menuju titik start saya semakin terkagum dengan kawasan black lava Gunung Batur ini. Luarbiasa, baik secara pemandangan untuk mata, dimana sangat eksotis dan lain dari yang lain, namun juga dari sisi karakter trek nya sebagai pesepeda gunung, campuran antara batu dan pasir. Dan kalau sudah nanjak offroad ke arah titik start, maka kita jumpai bagian trek yang sangat unik karena jenis dan karakter rolling batu nya yang juga unik.

Tempat start dan finish pemandangan nya luarbiasa, harus diakui ini tempat yang tepat untuk urusan pemandangan dan tingkat kesulitan trek. Sudah kebayang nanti akan finish uphill menuju titik ini di akhir lomba, bakal berat.

DCIM101GOPRO

DCIM101GOPRO

Area start dan finish ini pun terasa sempit sebenarnya. Dengan begitu banyak pesepeda akan start bersama langsung terasa penuh. Lomba sendiri diikuti oleh pesepeda dari berbagai bangsa. Dari total sekitar 120 peserta tahun ini, kurang lebih 20-30 orang adalah ekspatriat eropa/amerika. Ekspatriat asia susah dideteksi kecuali dari jersey yang mereka kenakan atau dari bahasa mereka, tapi perkiraan saya sekitar 30-40 orang juga. Bisa dibilang 40-50% saja pesepeda dari Indonesia sebagai tuan rumah.

Saya ber-tiga dari tim CikarangMTB, nyelip diantara kerumunan di belakang, lalu kita gowes santai start turun ke jalan aspal. Di jalan aspal inilah start sebenarnya baru dimulai. Perasaan campur aduk dan adrenalin memuncak, saya berusaha mengimbangi rombongan depan, dimana ternyata hanya mampu bertahan sebentar.

DCIM101GOPRO

DCIM101GOPRO

Trek dimulai dengan aspal rata dengan beberapa tanjakan rolling menyusuri tepian danau Batur menuju Desa Terunyan, desa yang terkenal dengan adatnya membiarkan jenazah warga yang meninggal dengan didiamkan dibawah salah satu pohon di dalam desa.

Pesepeda yang sudah mencapai titik balik, pasang stiker pertama, dan balik lalu papasan dengan kami yang sendang menuju titik balik. Tampak lomba dipimpin oleh pesepeda dengan jersey NINER. Baru kemudian tau kalau pesepeda berjersey NINER adalah pesepeda dari Singapore yang baru saja kembali dari ABSA Cape Epic 2015. Para pesepeda tim nasional seperti Trio Jabar dan Fanani pun tampak dibelakang sedikit. Rupanya inilah saat terakhir saya bisa melihat peleton depan, selanjutnya hanya akan melihat sebagian dari mereka di garis finish dan penghormatan pemenang.

Trek aspal biasanya membosankan buat saya, tapi kali ini agak lain, karena aspal pula saya bisa agak mengikuti peleton, saat berbalik saya berada di buncit diantara ketiga rekan CikarangMTB dan berada di tengah dari seluruh rombongan peserta.

Black Lava

Black Lava

Trek kembali ke arah black lava titik start, dan sebelum mencapai titik start kita berbelok langsung menembus black lava. Kecepatan saya langsung turun drastis, trek pasir dan batu, jalan doubletrack yang dilewati oleh truk pengangkut pasir, dan beberapa kali berpapasan dengan pengangkut pasir di trek. Hari belum terlalu terik, namun trek sudah memberikan pantulan panas yang terasa sampai ke muka.

Ini adalah kedua kalinya saya gowes di area black lava ini, dan tidak juga berhenti kagum dengan suasana yang ditimbulkannya. Ada teman teman yang bilang kalau seperti di bulan atau di planet Mars.

Keluar dari area offroad black lava kita bertemu jalan aspal, beberapa part jalan aspal dibuat menembus kawasan lava yang sudah mengering. Benar benar seperti batu besar yang mencuat dari perut bumi. Aktualnya memang seluruh kaldera selebar 10km ini adalah sebuah kawah gunung. Kadang kalau dipikirkan kita berdiri diatas bumi yang sangat rentan, yang bisa meletus sewaktu waktu.

DCIM101GOPRO

Tanjakan Iblis

Akhirnya sampailah di area yang paling menarik dari lomba ini, apa yang disebut sebagai ‘Tanjakan Iblis’ oleh Om Indra GBT, sementara oleh segment strava disebut sebagai ‘Lung Buster’. Area ini lengkap sekali, water point sebelum dan setelah segment, banyak fotografer dan penonton, dan seperti tampak di foto sebelah ini saya memilih untuk lari di awal, lalu disambut ttb, memang inilah apa yang sudah direncanakan dengan single chainring bike… It’s an excuse, but a valid one… Om Atoe rekan saya sukses all way digenjot dari bawah.

Tapi ternyata tanjakan yang singkat ini memberi kesempatan buat rider untuk berinteraksi. Sempat ngobrol dengan beberapa peserta lain. Unik juga melihat peserta ladies sepeda nya di ttb in sama rekan dan this lady biker ambil foto rekan rekannya….

Setelah all the way dari start kita in rush rush heboh, tiba tiba ketemu keadaan yang fun!

DCIM101GOPRO

to highest 1400 mdpl

Tanjakan dengan gradasi maksimal sampai 24% ini (tengok segment Strava…) pun akhirnya berakhir, lalu kita disuguhi jalan mulus nanjak menuju titik tertinggi trek di 1650 mdpl. Tanjakan ini meskipun sebenernya gowesable dan mulus namun benar benar menguras fisik. Untuk pertama kalinya sejak start saya putuskan ambil waktu sekitar 3 menit buat berhenti, duduk dan makan cokelat, hanya sekitar 50 meter dari puncak 1650 mdpl yang juga merupakan pos pemeriksaan dan pemasangan sticker yang kedua.

Alhamdulillah dapat Pocari dan pisang di pos ini…

Selanjutnya gowes sendirian teringat gowes awal Januari lalu, lewat daerah Sukawana. Lalu trek berlanjut dengan onroad turun melewati punggung kaldera pertama (kaldera luar Gunung Batur). Trek pada dasarnya turunan dari 1650 mdpl menuju 1200 mdpl melewati daerah Pinggan, Siyakin dan Belandingan berakhir di pos pemeriksaan ketiga di Songan.

DCIM101GOPRO

Desa Surga

Bagian trek berikutnya adalah bagian trek yang saya belom pernah coba, saat trial trek Januari lalu tidak ambil jalur ini. Trek bagian ini cukup ganas juga karena diawali dengan jalan makadam yang rusak dan nanjak. Trek bervariasi meniti antara dua area kaldera pertama dan kaldera kedua Gunung Batur. Secara fisik melewati sebuah sungai dan kemudian ada tanjakan jalan semen yang bikin putus asa, meskipun tidak sampai bikin kraam.

Bagian trek ini sebenernya cukup berat apalagi setelah hampir satu jam kita disuguhi trek rolling lebih banyak turunan. Pemandangan ke arah gunung dan danau batur sebenernya indah sekali. Desa desa yang ada disini seperti berada di surga, meskipun kita lihat kondisi ekonomi desanya tampak tidak sejahtera.

Bagian trek ini saya sempat ambil sekali lagi pitstop makan cokelat sambil ambil foto trek dan pemandangan seperti di bawah ini.

Suguhan rolling dari titik di Ulun Danu Batur sekitar 1150 mdpl memuncak di titik 1300 mdpl dan kembali kita bertemu dengan ujung tanjakan iblis lung buster.

Trek pun sekarang melewati kebalikan saat berangkat, di area Yeh Mapeh inilah saya mendapat keajaiban pisang. Panitia menyediakan water points dan pisang. Wah saya langsung makan dua pisang dan kemudian seperti dapat energi baru.

Selain karena pisang, energi baru dan excitement luarbiasa saya dapatkan juga dari feeling kuat bahwa kita ternyata akan segera finish. Ternyata mampu!!!

Tidak bertemu banyak peserta lain saya mulai kembali memasuki area Black lava.

Setelah keluar dari jalur doubletrack tambang pasir, jalur utama dalam black lava, trek memasuki bagian yang tersulit, kita gowes pada intinya diatas batu batu hitam gunung Batur yang licin dan menggelinding gak jelas saat kita push. Ada frustasi nya juga, seperti juga saya lihat dialami para peserta lain, cuma dengan hawa panas yang sangat mirip cikarang-jonggol, area tempat kami berlatih, membuat saya malah bisa push dan melewati cukup banyak, sekitar 10 peserta lain. Kayaknya ini pengalaman pertama saya melewati peserta lain deh sejak dari awal start.

Serasa seperti di kampung sendiri karena panas nya, tiba tiba trek sudah masuk ke area ber-pasir, lalu area ber-vegetasi pohon, nah, ini membawa memori kembali ke trip awal 2014 sehingga saya yakin bahwa area finish sudah sangat dekat.

Alhamdulillah finish … Tanpa Evak!!! Sesuai target…
Perasan luar biasa yan tak mudah dilukiskan… Habis gowes 5.5 jam tapi masih ceria

Podium time[/caption]Hasil lengkap disini …
No start: 80
Position: 62
Class: Veteran
Time: 05;28;48;56
Toatal peserta: sekitar 130

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
instagram.com/bikewearr/


WJxc Ride#12 CikarangMTB Kolozal#10 Bandung to Cipunagara

kol10-1Bandung, 24 November 2012

Siap siap bisa berarti banyak hal. Bisa nyiapin sepeda, mengentaskan sepeda dari tumpukan barang di rumah, dibawa spa biar mulus dan maniez. Bisa juganyiapin kostum tas dan lain lain, belanja maksudnya. Bisa juga loading sepeda di malam sebelum gowes.

Kalau saya selalu menikmati suasana tegang deg deg plass malam sebelum gowes, termasuk heboh nya loading, juga wajah wajah khawatir, harap cemas dan juga optimistis dari para senior tim ruzuh yang pengen acara ini sukses.

kol10-2

Tidak ada yang seheboh pagi kolozal. Rasanya semuanya kegiatan dan ketegangan persiapan dan kerinduan akan gowes kolozal terkumpul di satu momen saat pagi pagi berkumpul dan berangkat ini. Wajah wajah excited, serta juga tegang dan khawatir bercampur baur. Heboh pindah pindah dan list isi bis bikin yang heboh makin heboh.

Sampai akhirnya bisa duduk di kendaraan dan berangkat, sambil makan snack pagi hari berisi ubi, pisang dan leupeut… Tegaldanas-an bangeeeettt….

kol10-3Gedung Sate, Bandung. Tidak ada yang paham isi kepala setiap orang. Yang jelas keenam orang ini tampak sama, mereka memegang kepala semua saat start, katanya kepala terasa sakiiiiiitttt… Sakit setengah mati karena ingin segera gowes, sakau gowes. Kalau perlu porsi nya *ditambahin sedikit*.

kol10-4Setengah mati genjot nonstop dari 750 ke 1000 mdpl. Sekitar 6km dan dalam 50 menit. Tetap saja di gerbang tahura cuma bertemu dengan
buntut, dengan tim suwiii-per. Ada juga om ratman yang lagi heboh ngoprek sepeda Om Pande.

Masuk tahura asli adem banget sampe lupa motret. Suejuk nya membius. Udaranya suegerrrrr… Padahal hutan ini aseli hanya ada di lembah sungai cikapundung saja. Jika kita melihat ke atas, dari jalan yang ada di lembah, tampak hijau, tapi dibaliknya adalah kebun kebun, kapling rumah dan pemukiman. Tetap saja, Tahura adalah sebuah oase di kota Bandung. Sesampainya di gua belanda sudah terlambat. Foto keluarga yang dikejar sudahlah bubar…

kol10-5Gua belanda ini adalah semacam tempat isolasi dan interogasi pada jaman belanda. Dan pada awal kemerdekaan sampai tahun 70an dipakai oleh TNI untuk menyimpan senjata dan mesiu… Gowes gelap gelapan karena malas mengeluarkan lampu dari tas.

Hutan yang adem, angin yang semilir, udara yang sejuk…

Dada yang serasa mau meledak, paha yang panas, dengkul yang gemeretak…

kol10-6Tidak lupa melaksanakan kewajiban

Sebelum berangkat saya sudah mantengin akan coba cari perubahan wajah, mencoba meotretnya. Kira kira semula ceria, lalu berangsur menjadi terlunta lunta… Tapi memang para member cikarangmtb sudah sangat terlatih untuk menyantap martabak… sehingga yang tampak di depan kamera hanyalah wajah wajah ceria

Kami pun segera berkemas menghadapi hujan

Saya tidak terlalu mengerti apa yang sering disebut dengan foto heroik. Menurut saya seluruh perjalanan ini sudah heroik sejak ide dan survey nya… Semua fotonya juga adalah heroik.

kol10-7Heroik mendapatkan semangat timruzuh untuk ngurusin kolozal
Heroik dapat rri
Heroik menyisihkan waktu
Heroik spa dan upgrade
Heroik ngantuk seharian
Heroik nanjak
Heroik hujan
Heroik turunan tiada henti

Semua tim kolozal ini adalah Heroik..

Setelah akhirnya mencapai puncak tertinggi dalam hujan deras, kami pun menjalani turunan 18 km yang panjang dan serasa tak ada habisnya. Sangat melelahkan namun juga sangat nikmat. Apalagi area Ciupunagara ini tampak masih sangat asri dan jauh dari jamah peradaban.

Tracklog GPS dapat di download di http://www.bikemap.net/route/1922846

mapkol#10

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


Lobang 18 – Sekotong- Teluk Sepi- Pengantap

Mataram, 18 Agustus 2012

Liburan lebaran masih newbie, makanya ambil libur lebih banyak di sebelum lebaran, mengakibatkan waktu yang tersedia buat acara gowes pun jadi acara di saat berpuasa. Maka gowes kali ini pun gowes puasa. Puasa hari terakhir. Benar benar genjot penuh dengan ujian.

Tak lama setelah selesai sahur dan Shubuh, maka perjalanan sudah dimulai. Mataram masih adem, matahari belum kelihatan. Suasana sekitar trek berubah bertahap dari perkotaan Mataram, lalu bertahap berubah semakin kering dan kering. Dari persawahan, ke ladang, lalu ladang kering, dan akhirnya kebun yang banyak diisi oleh pohon jambu mete. Gowes Santai dengan Ki Lobang tak terasa selam 3 jam baru lah pitstop di sebuah pasar yang amat ramai, terletak di pertigaan Sekotong. Tepat sebelum pertigaan ada penunjuk jalan yang jelas jelas menunjukkan tujuan trek ini “Teluk Sepi” berbelok kekiri.

Tidak biasanya saya sangat menikmati genjot onroad yang panjang begini. Tak terasa genjot santai samapi Sekotong telah mencapai lebih dari 40km sejak titik start. Secara kilometer sudah lebih dari separuh trip dan udara baru mulai terasa panas. Matahari baru mulai terik. Perubahan secara bertahap namun kerasa, dari Mataram ke selatan, menuju arah pelabuhan Gerung yang jadi jalur penyeberangan darat ke arah Bali, maka perubahan suasana ini yang terasa jadi bumbu perjalanan. Mungkin ini salah satu yang membuat bersepeda touring jarak jauh menjadi sesuatu yang mencandui para penggemarnya yah? Wah, gejala keracunan?

Kota Sekotong sendiri (kalau boleh disebut kota) sangatlah ramai di pasarnya. Terdengar mulai ada yang membunyikan rekaman takbir. Suasana menyambut Lebaran sangatlah terasa. Sangat jelas tampak keramaian di area konter2 mirip counter HP yang bertuliskan ‘dibeli emas’. Memang menjelang kota Sekotong ini bertahap mulai terlihat ada semacam alat penambang atau pengolah tambang emas. Skala kecil dan tradisional. Maka sangatlah mungkin skenario nya adalah, menjual emas hasil menambang lalu uang nya dibelikan ayam, kelapa dan daging. Saya sampai berhenti lebih dari 15 menit di pertigaan pasar ini sambil mengeringkan keringat. Sangat menikmati suasananya.

Nah, setelah bertanya tanya dan konfirmasi arah ke Teluk Sepi, akhirnya perjalanan dimulai lagi dengan genjot perlahan dan pelan ke arah selatan, dimulai dengan jalan rata dengan kebun jambu mete di kiri kanan jalan. Cuaca semakin kering dan panas, tanjakan semakin jahanam dan tak ada habisnya. Leher mulai terasa kering memuncak.

Daripada mikirin paha cenut cenut dan bibir serta leher kering karena puasa, maka saya melihat lingkungan sekitar trek saja. Tampak area kering kerontang. Mengingatkan pada area seputar Gunung Kidul di Jogjakarta. Sementara batu batu besar berwarna hitam tampak kadang muncul dari dalam tanah atau di sebelah jalan. Vulkanik sekali suasananya.

Sepanjang perjalanan sebenernya pada prinsipnya tanjakan cuma ada tiga doang. Tanjakan nya tampak pendek, dibandingkan dengan keseluruhan perjalanan, di altitude profile cuma tampak sebagai tiga gundukan kecil. Tapi ampun ampunan deh ngadepin nya. Gundukan pertama saya rasa yang paling miring. Sampai ada semacam switchback begitu, padahal jalan besar beraspal yang dilalui ramai. Gundukan kedua panjang gak ketulungan dan paling berat. Padahal ketinggian ‘cuma’ ke 200m dpl. Tapi balasan gundukan kedua, yang dijalani saat haus haus nya, saat panas panasnya cuaca adalah turunan pendek dan miring dengan pemandangan laut biru kehijauan di depan!!

Sampailah kita akhirnya ke Teluk Sepi. Namanya melambangkan apa yang kita lihat. Perkampungan nelayan, tanpa listrik, tidak banyak sarana pendukung, warung jarang, bangungan termegah adalah kantor polisi dan masjid. Benar benar sebuah teluk yang sepi berpasir hitam dan ber air warna hijau campur biru. Seger banget di mata setelah seharian terpapar matahari arisan.

Bolak balik saya melewati jalan raya yang beraspal lalu menembus halaman perkampungan atau jalan kampung ke pantai dan sebaliknya. Pantai nya tampaknya sangat seru untuk dilihat bawah laut nya. Seperti ada hutan warna hijau dibawah sana. Benar saja, kemudian memang saya temukan di beberapa sumber di internet kalau terumbu karang teluk ini sangat indah. Apalagi ditambah laut yang tenang karena ini adalah area teluk yang menjorok ke daratan, terisolasi dari ganasnya ombak laut selatan.

Tempat yang tak terjamah, murni, sepi, damai dan eksotik.

Dan salut untuk siapapun yang pertama memberi nama tempat ini…
Saya bertekad untuk kembali ke tempat ini lagi! Mungkin dengan membawa peralatan snorkeling…

Keindahan disajikan oleh alam sudah tak terkira, keluar masuk kampung bersepeda, sambil bersiap menghadapi tanjakan ketiga dan perjalan ke Pantai Pengantap yang merupakan ujung trek, saya menemukan puluhan orang berkerumun di bawah sebuah pohon besar, di tepi lapangan dipinggir pantai.

Saya mendekat ke kerumunan dan mendapati mereka, ada berkumpul dari kakek-kakek sampai anak balita, mengerumudi tikar besar dengan potongan potongan daging yang sedang dibagi berada diatasnya. Sebagian tampak sibuk menimbang dengan timbangan sederhana, berusaha membagi rata. Dua onggok kepala sapi tampak tergeletak tak jauh.

Tertegun saya sangat lama, sambil tebar senyum. Belum berani mengeluarkan kamera. Semuanya menggunakan bahasa daerah Sasak yang di telinga saya seperti campuran atara bahasa Jawa, bahasa Bali dan bahasa Madura. Saya ikutan pakai siaran SKSD (sok kenal sok dekat), dan mulai bertanya tanya tentang apa yang terjadi.

Rupanya ini adalah tradisi di area ini. Warga kampung nelayan ini, ada 27 keluarga, bersama sama bergotong royong menyembelih dua ekor sapi. Kemudian dagingnya dibagi rata ke semua keluarga. Semua dilakukan untuk menyambut hari Lebaran yang datang esok hari. Luar biasa aura nya di area ini. Enthusiasme lebaran dalam kesederhanaan kampung dan excitement menikmati sesuatu yang lebih di hari raya.

Saya minta ijin, dan mulai memotret, berputar di sekitar area. Seorang anak balita kecil mendekati saya terus, dan berusaha memunculkan wajah dan badannya di setiap frame yang saya ambil. Kocak sekaligus lucu dan agak menyebalkan sih… hehe…

Teluk Sepi … kau kembali menunjukkan sisi keindahan mu yang lain.

Rasanya enggan meninggalkan area ini. Terlalu dalam berkesan terutama site potong sapi itu. Tapi perjalanan masih belum sampai di ujung trek rancangan.

Trek berikutnya keluar dari Teluk Sepi, akhirnya perjalanan dilanjutkan dengan melewati jalan yang tidak lagi mulus. Gravel. Campuran antara tanah, sirtu dan juga pecahan batu. Berdebu sekali setiap ada kendaraan roda empat yang lewat. Meski panas semakin menyengat dan saya tidak lagi bisa bohong kalau semua skala aerobik telah terlewati, rasanya setiap genjotan menjadi berat. Untungnya trek menyajikan sesuatu yang berbeda kali ini. Trek serasa sangat offroad. Setelah seharian didera panjangnya dan miringnya trek onroad maka perubahan ini menyegarkan banget. Terengah mendaki tanjakan ketiga, yang di GPS tampak sebagai pangkal sebuah tanjung.

Lingkungan sekitar trek kali ini berubah lagi. Di sebelah kanan tampak hutan bakau. Ya, trek dekat sekali dengan hutan bakau. Bahkan saya bisa liat contoh hutan bakau yang ditebangi dan dimanfaatkan kayunya. Saya bisa melihat genangan air laut/payau nya. Benar benar berbeda!

Sementara sebelah kiri trek berupa perbukitan dengan pohon yang jarang dan rerumputan dengan sapi digembala. Sangat Nusa Tenggara kan? Saya seperti masuk ke dalam jantung Nusa Tenggara. Trek yang pendek sekali sebenarnya, dari Teluk Sepi menuju Pantai Pengantap ini memberikan pengalaman tak terkira buat rekaman bersepeda gunung saya yang tak terasa sudah berusia lima setengah tahun.

Berikutnya adalah bertemu dengan sebuah kampung. Ya kampung. Jelas tertulis “Kepala Dusun Pengantap” di pinggir jalan. Ada jalan conblock yang saya ikuti. Tak lama kemudian anak-anak kecil mengikuti saya dan menemani saya selama hampir sejam selonjoran di Pantai Pengantap. Most probably the best beach I ever experience…

Tidak seperti Teluk Sepi, pasir Pengantap berwarna putih
Pengantap semacam teluk namun tidak tertutup, jadi masih tersa angin dan deru keras Laut Selatan
Warna air biru kehijauan
Suasana aseli
Angin kencang yang dingin

50+ kilometers to this site. I don’t know what to expect more…

Tracklog trek ini ada di.. bikemap
@antoix trekrating:
Uphill: 8/10
Downhill: 6/10
Scenery: 9.5/10
Endurance: 9/10

Guided by Garmin Etrex HCx
Ride on Specialized Carve Comp on Continental XKing 2.2
Pictures taken using Canon EOS50D and Blackberry 9105


Bertemu Komunitas Trial Cycling Bandung di Lap. Saparua

Dua minggu lalu, sekitar seminggu sebelum puasa, saya sekilas melewati Lapangan Saparua. Wah, lapangan ini tampak berbeda sekarang, jadinya penasaran dan seminggu lalu, sehari sebelum puasa mulai, mampir deh ke lapangan ini setelah sebelumnya melewatkan salah satu kegiatan favorit minggu pagi di Bandung: hunting foto di Lapangan Gasibu.

Sampai di site ini sudah siang, diatas jam 10 seingat saya. Sempat saya mendekat ke area yang dipake oleh bmx untuk lompat lompat. Wah, seru juga. Belum sempat ambil foto mereka sudah bubar deh.

Tampak juga area yang dipakai untuk skateboarding, masih nyambung dari area bmx jump tadi.

Yang paling mendominasi adalah area berlatih rollerblade. Mendominasi kegunaan Lapangan Saparua sekarang. Dibuat semacam sirkuit melingkar di bagian dalam Lapangan Saparua yang dulu merupakan lapangan bola kalau tak salah.

(foto area ini menyusul)

Trial Bike Saparua-IMG_1944-11G-rez-Siluet

Trial Bike, perhatikan bentuk frame dan tanpa sadel

Dan akhirnya saya menghabiskan banyak waktu di pojokan utara, area yang dipakai oleh komunitas ‘trial bike’. Lebih karena inilah pertama kalinya saya lihat komunitas trial sejak saya kenal bersepeda gunung. Selama empat tahun ya baru kali ini ketemu komunitas Trial.

Trial Bike Saparua - IMG_1949-11G-rez-Lompat

Siluet Trial Bike Saparua

Sempat berkenalan dengan Om Has dan beberapa anggota lain komunitas ini. Tampak mereka menggunakan tummpukan pallet plastik untuk berlatih melompat dan atraksi lainnya. Wah, asli seru banget. Excited melihatnya karena selama ini cuma melihat dari rekaman rekaman di youtube saja. Akhirnya melihat dengan mata kepala sendiri.

Lapangan Saparua Bandung - IMG_1958-11G-rez-saparua

Pemandangan dari arah utara Lapangan Saparua

Penasaran buat melihat lagi dan memotret lagi komunitas ini. Pasti saya datang lagi deh kesini…


Nonton Asia Pacific Downhill Challenge Songgoriti Malang

Bersepeda sejak 2007, sekitar 3 tahun, dengan sebagian besar trek dan perjalanan adalah Cross Country (XC) dan Uphill. Baru kali ini menonton sebuah event downhill. Pernah 2 kali melewati trek downhill di seputaran sentul, tapi samasekali tak tertarik untuk menengok pun… 2 kali itu pun dalam rangka perjalanan turun dari uphill ke Pondok Pemburu.

Setelah menonton event Asia Pacific Downhill Challenge (tengok http://twitter.com/indobicycleday )ini saya jadi semakin mantap kalau ‘Downhill is not my cup of tea’. Jelas ini bukan olahraga yang saya ingin dalami lebih jauh. Eniwei, saya datang ke event ini karena Sam Hill. Sering membaca di majalah2 tentang kiprah Sam Hill, pengen juga lihat live dengan mata kepala sendiri… Sekalian refreshing di tengah ketegangan kerjaan Pasuruan. Alasan lain selain Sam Hill adalah pengen nyobain sport photography… yang fast obyeknya gitu…

Tempat: Gn. Banyak, Songgoriti, Batu, Malang, Jawa Timur

Berikut koleksi foto2-nya… masih pemula motret… masih trial error settingnya

Sudah terkagum melihat tingkat kemiringan dari titik start ke titik finish. Berhenti dulu, lalu memotret dari seberang Gn. Banyak

Finish area

Jalan naik dari Finish area

Di seputaran Rock Garden


ada marshall setiap 50-100 meter


ini scene yang membuat saya memutuskan, ‘this is definitely NOT my cup of tea’

Sekelebat (beneran sekelebat, cepat sekali) Sam Hill

Dan inilah sepeda Popo Ario Setiaji http://twitter.com/popoariosejati yang dipakai untuk mengalahkan Sam Hill..

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear