enjoy every cadence, every breath…

indonesia

GGB Latgab – Batukuda – Genteng – Cijambu

Bandung, 20 Januari 2016


8:12 akhirnya lima orang siap start pagi itu. Om Indra, Om Kodrat, Om Maman, Om Atoe, Om Sigit mundur dan batal dengan berbagai alasan yang valid. Lokasi start dan finish adalah RS AMC, tepat di depan gerbang tol Cileunyi. Ujung jalan tol PADALEUNYI… Saya yang dua malam berturut kurang tidur sudah bertekad untuk finish full track saja sudah prestasi… Road Captain (kabarnya sih saya, dipindah tangankan dari Om Indra) sementara Om Eyang, Om Lutfi, Om Djo segera melejit kedepan tak lama setelah ketemu tanjakan aspal. Saya bersama Om Adjie di belakang…


8:41 ketemu tanda lalulintas yang tidak biasa… Ya, inilah tanjakan Cinunuk. Setiap kali saya ambil gambar di area ini selalu mendapat sambutan meriah dari para pemirsa, baik blog, forum maupun fb… Salah satu tanjakan paling dramatis di Bandung Timur


8:42 Om Adjie keheranan saya berhenti. Saya bilang, “Om Adjie jadi model foto Om…” Sekarang tanjakan ini sudah aspal, pada saat awal masih gravel seru spinning ban belakang… Saat saya kemudian sampai di ujung tanjakan ini alarm di Garmin bunyi, “Your heart rate is above maximum level…”


9:24 Pitstop pertama, Batukuda. Kabarnya sih ada batu nya yang berbentuk seperti kuda, tapi saya sendiri belom pernah ke tempat batu berada. Udahlah daripada ngomongin batu, kita ngopi saja. Kopi adalah kloter terakhir, setelah sebelumnya teh manis panas, teh kotak

Pada titik inilah sambil ambil napas lega dibawah rindang pohon pinus datanglah sebuah call…. “Om kami sudah di Kiara Payung….” Hmmm… ok baiklah, rupanya kalian memilih jalan yang baik (belok kanan)… Tujuan kami berikutnya memang Kiara Payung tapi lewat singletrack dalam hutan. Pak penjual kopi dan rekan peseda lain yang kita temui bilang, “Waduh Pak… kalo musim hujan begini trek bisa tertutup oleh semak semak tinggi…”. Saya tersenyum, dan Om Adjie matanya berbinar semangat mendengar kita akan menerobos semak semak… wkwkwk


9:49 Mengangkat sepeda melewati sungai dan kubangan air, lobang yang dalam, menariknya ke bukit diatas, pelan pelan kami menemukan juga singletracknya. “Bener ini Om?…” tanya Om Adjie, entah khawatir entah semangat lihat kita menerobos nerobos semak dibawah pohon pinus dan campuran pohon lain. Di suatu area terbuka saya bilang, “Biasanya kita bisa lihat seluruh Bandung dari sini Om Adjie…” Sayangnya cuaca hari itu mendung berkabut meskipun relatif masih pagi


10:25 melewati hutan dan semak, relatively rideable, asik meliuk dan menerabas, sambil kaki dan muka dibelai berbagai jenis dahan daun dan duri akhirnya kita keluar hutan juga dan masuk ke kampung lalu istirahat di Kiara Payung. Kita istirahat dulu karena berdasar pengalaman yang lalu susah dapat warung nasi di daerah Genteng Cijambu, saya putuskan bungkus dan masukkan ke kantong jersey. Enak bener ini jersey Bikewearr, jersey edisi XCM Bali tahun lalu yang membawa banyak semangat dan kenangan

Om Adjie dan saya makan sawo enak banget disini, seorang dua butir. Lalu sambil saya bungkus nasi lengkap lalapan dan tahu tempe ayam goreng, Om Adjie bilang ke Ibu warung, “Saya bungkus pisang saja, enam ya bu…”


11:43 Ini adalah area Genteng, area yang menjadi titik turun biasanya trek yang disebut Palintang Karpet Genteng atau sejenisnya. Ada beberapa variasi, kita tidak ke Palintang karena pilih trek pendek (opsi2). Akhirnya cuma bisa melihat layers bukit dan gunung di kejauhan… Tanjakan beton disambut makadam dalam kampungnya masih seksi dan panjang dan… ayo kita pakai grainy gear saja daripada jantung menjerit masuk area max HRM. Om Adjie sudah melejit kedepan


13:04 Keluar dari mulut buaya masuk ke mulut harimau… Keluar dari tanjakan tengah kampung yang dahsyat di area Genteng, kita mulai nanjak alus, diambut nanjak makadam, disambut hutan lagi… Inilah area Cijambu. Part hutan nya panjang banget. Ketemu rombongan motor trail, mereka bilang, “Oooo… teman nya tiga orang udah jauuuuuhhhh banget….”. Iya iya Kang… gak usah heboh gitu deh… Trek campuran doubletrack dan beberapa area ada singletrack. Yang horor adalah ada anjing pemburu, anjing nya bukan anjing kampung gitu, tapi anjing yang besar… Ampun dah… Geram nya saja udah bikin hati bergetar


13:11 Hutan tidak begitu saja berhenti habis, diselingi masuk ke kampung terpencil, kami pun masuk hutan kembali, kali ini hutan yang ketiga ini lebih wild, meskipun pohon nya secara umum adalah pinus dan pinus dominan, tapi kok ya ini trek menyeberang dan nyeberang sungai berkali kali, udah diseberangi eeee… balik lagi dan seterusnya

Di hutan ini juga kita dirubung sama semacam nyamuk atau entah serangga apa itu. Dia berputar putar di sekitar muka kita. Kalo kita jalan kadang serangga masuk ke mata jadi pedih, kadang masuk ke mulut. Pokoknya ganggu banget deh


13:46 Setelah lega akhirnya keluar hutan juga, ketemu jalan aspal rusak, lalu itu jalan masih tega juga nanjaaaakkk sampai di puncak Pasir Biru. Sempatin ambil foto di ujung tanjakan terakhir… Rasanya badan udah habis dan perut lapar sekali, Ketemu Om Adjie lagi fill up minum ke bidon, saya udah putuskan untuk buka bekel makan siang. Udah gak tahan lagi… Dapat wa message katanya tim depan lagi carbo loading juga di jalan raya Bandung-Sumedang… Seterusnya dalah turunan dan sedikit rolling tanjakan… dan itu 40an km terakhir adalah tidak terlalu penting, mbosenin dan ngantuk gowes sampe kembali ke titik start…

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
instagram.com/bikewearr/

Iklan

WJxc#50 Hambalang dan The Real Anaconda Track ke Cibadak Curug Barong

Sentul, 12 September 2015

Tulisan di blog ini tambah sedikit, maaf para pemirsa (kalau masih ada), dan terimakasih kepada yang masih bersedia menengok blog ini. Kali ini saya coba cara lain untuk mempercepat post blog, segera tulis pengalaman tidak lama setelah gowes selesai, biar excitement nya belom lewat.

Ini juga mark WJxc ride #50. Tak terasa sudah ada 50 genjot mtb area Jawa Barat yang berbeda selama 3 tahun sejak dimulai catatan seri ini September 2012. Ide awalnya adalah membuat list destinasi bersepeda gunung di Jawa Barat dan mendokumentasikan dalam gambar dan tulisan. Catatan tulis nya sangat minim, tapi catatan gambar nya lumayan lengkap ada di album foto

Setelah melewati kehebohan jalan beton Babakan Madang, kita mulai nanjak dan gotong bike garagara dua jembatan yang diperbaiki. Nostalgia kembali ke bertahun lalu melewati rute ini, jembatan besar dan jalan yang sudah mulus, agak kecewa karena di ride sebelumnya ini adalah daerah makadam jahanam nanjak yang seru. Saya agak push karena excited setelah tiga minggu dua weekend tidak gowes serius, push push sampai terperanjat melihat HRM menunjukkan angka tertinggi sepanjang sejarah 188 bpm. Tampaknya saya terlalu bersemangat … I’m just way too excited

Lalu saya berusaha menenangkan diri dan menarik napas jauh lebih panjang, segera saja Om Atoe, Eyang dan Om Fajar nyalip. Dan ini adalah terakhir kali saya lihat Eyang dan Om Fajar, nanti ketemu lagi di titik finish, yah… begitulah GGB (Gowes Gak Berenti): start barengan, semua berusaha gak brenti, maka finishnya dan di track nya gak barengan.

Sementara di sisi kanan segera tampak gerbang ‘Proyek Sarana Olahraga Hambalang’. Memang sudah banyak sekali yang berubah dari trek ini termasuk jalan menanjak ini yang sekarang sudah di beton. Hambalang memang seperti kasus nya di yang kita dengar di media, dia naik dan naik terus, tidak memberi pesepeda titik ambil nafas. Hmmm… Tapi ini tidak berlaku untuk saya, segera saya berhenti setelah monitor heart rate menunjuk angka 175 bpm. Om Atoe semakin menjauh nanjak dan hilang ditelan tikungan. Ibu-ibu di sebelah track sampe nanya, “…aya naon??”. Maksudnya belio bertanya, apa saya ada masalah dengan sepeda kok berhenti, saya pun segera melanjutkan perjalanan, dengan mendorong sepeda.

Turun dari Hambalang[/caption]Setelah berhenti lagi di depan sebuah SD akhirnya sampai juga ke kampung puncak Hambalang, kampung yang sangat fenomenal dalam memori bersepeda saya. Ada kejadian dengan ketersinggungan penduduk setempat di sebuah warung di masa lalu, salah satu kejadian yang menempel sampai lebih dari lima tahun. Sampai lagi di sekitar warung terakhir itu, lalu minum dua gelas ale ale seperti tidak berasa. Isi penuh air di bidon.

Ambil napas banyak sekali saya di warung puncak Hambalang, saya yakinkan Eyang, Om Fajar TS dan Om Atoe enggak butuh napas sebanyak saya karena mereka tidak tampak disini. Perjalanan saya yang lalu ke Hambalang setelah titik ini adalah perjalan pulang lewat Anaconda menuju Sentul kembali, namun trek kali ini jauh berbeda, katanya Hambalang ini barulah tumpeng pertama, masih ada tiga tumpeng lagi: Gn Pancar, Km O-Curug Panjang, Gn Geulis. Kok rasanya perjalanan jadi masih jauh banget ya?

Emaaaangggg…..

Selanjutnya adalah turun turun dan turun. Paduan antara singletrack doubletrack dan jalan makadam. Wah kalo udah turunan jadi ingat ban belakang yang tipis, setiap kali speed ketinggian dan rem maka ban belakang skid, ngepot seolah mau nyalip ban depan. Saya nikmati turunan panjang dalam kesendirian dalam kekhawatiran. Bukan khawatir salah jalan tapi khawatir melihat jalan meliuk nanjak di depan… Akhirnya segala turunan berhenti di sebuah sungai yang hampir kering.

Oke ayo dengan ikhlas kita gowes nanjak setelah sungai ini. Trek tampak seperti jalan masa depan, mungkin pemerintah baik hati sudah memikirkan akses dari Sentul City ke Cibadak tapi tidak lewat Babakan Madang- Cibinong. Selalu ada banyak orang baik hati, cuma tanjakan tanah ini saja yang kurang baik hati karena serasa gak habis habis. Entah kenapa nanjak disini serasa istimewa, rasanya kok berat tiada habis. Yang unik lagi juga setiap mencapai HR tinggi, lama banget untuk bisa turun kembali ke normal. Kenapa ya?

Di ujung tanjakan ada pilihan singletrack kekiri, bener trek gps menunjuk kesitu. Disambut pemandangan kering yang indah. Jalan meliuk liuk singletrack agak ekstrim turunannya. Sementara di kejauhan tampak lembah dan sungai lalu sudah kembali menunggu tanjakan ke rerimbunan pohon di atas bukit. Nah, itu rupanya desa yang kita tuju.

Aseli ini single track bikin ekstra hati hati karena setiap kali ban belakang yang profilnya lebih gundul seolah mau nyalip saja ban depan. Segerombolan Pramuka dan seorang guru nya tampak bercengkerama di pinggir sungai. Indah sekali. Suasana belajar yang gak mungkin diperoleh di Cikarang Baru. Tanjakan miring berkelok dan bertemu seorang pramuka kecil bawa buku dibawah pohon bambu. Pohon disini aseli kecil kecil, sangat susah menemukan pohon pada ukuran untuk bisa hanya berteduh saja. Saya pun berhenti dan berbagi snekers cokelat dengan pramuka kecil. Udah disogok cokelat, si pramuka tetap jujur memperlihatkan dengan tangannya kemiringan tanjakan yang menunggu didepan…

“…tebih keneh…”

Akhirnya dengan susah payah masuk lah ke kampung, ternyata ada SD nya rame, ternyata di kampung ini bertemu dengan Om Atoe, Om Sigit dan Om HPW. Cukup lega ketemu mereka, meskipun agak gondok juga, karena terakhir kali saya melihat rekan lain di belakang adalah saat saya mulai nanjak dari sungai kecil hampir kering, rekan rekan ini hanya tampak seperti titik titik di kejauhan, lha kok sekarang barengan.

Om Sigit dan Om Atoe tampak mampir ke warung, saya sotoy dan enggak refill bidon dengan air minum. Sesuatu yang saya sesali kemudian. Dari titik ini tiga pesepeda melanjutkan perjalanan segera, dan di sebuah pertigaan kebingungan membaca arah trek. Dengan hanya sedikit diskusi, kita putuskan belok ke kanan, yang ternyata salah. Sempat re-check di tengah, dan ternyata masih membuat analisa yang salah dan bertiga makin dalam nyasar ke arah turunan panjang, yang tentunya kemudian menjadi tanjakan panjang saat diputuskan kembali.

Nyasar ini tidak hanya menghabiskan air minum saya, namun juga mulai menghabiskan tenaga saya. Trek rasanya panas sekali (baru kemudian dikonfirmasi kemudian kabarnya suhu trek mencapai 41 derajat celcius), air habis, cokelat masih satu tapi lembek, maka saya pun mulai memakai jurus dorong di tanjakan. Pokoknya jalan terus saja daripada berhenti dan kehilangan waktu. Meskipun pelan tetap maju. Om Sigit sudah tidak tampak lagi di belakang, Om Atoe sempat menunggu di titik yang meragukan.

Untuk digambarkan trek bagian ini adalah trek jalan tanah, kadang bercampur makadam dan pecahan batu alam, lalu hampir tanpa vegetasi samasekali, hanya ilalang dan beberapa area bekas terbakar di musim kemarau. Mau berteduh pun tidak ada tempat karena tidak ada pohon. Di beberapa tempat ada semacam saung, mungkin bekas warung, tapi samasekali tidak ada penghuninya.

Di salah satu sisi trek akhirnya kita bisa melihat jelas jalan raya Cibadak, jalan aspal dari arah Cibinong menuju ke Sukamakmur. Posisi trek ini diatas jalan itu dan banyak kesempatan trek berada di balik bukit. Akhirnya seperti anugerah trek berubah menjadi campuran turunan dan mendatar, melilit bukit dan akhirnya kita bertemu banyak rumah dan perempatan jalan aspal rusak. Akhirnya bertemu peradaban, tapi warung belum tampak. Yang tampak pertama adalah papan petunjuk belok ke arah Curug Barong.

Di sebelah sebuah jembatan akhirnya kami menemukan warung, dengan lemari es!!! Kalap saya minum berturut turut empat botol 500mL minuman teh gelas. Disini juga bertemu dengan rombongan Om Gun bersama dua orang rekannya.

Semangat banget setelah ketemu air dingin dalam lemari es, maunya berhenti tidak lama dan secukupnya saja mulai gowes lagi. Heran sekali baru mulai sudah lemas, dan tanjakan tidak berhenti menuju titik tertinggi Curug Barong. Meskipun trek lebih bersahabat dibandingkan saat di tengah gurun tadi, namun di satu titik saya rasakan energi hilang samasekali. Padahal tidak kraam dan tidak kehilangan semangat, namun aseli tidak lagi ada energi dan sedikit goyang karena keseimbangan terganggu. Saya putuskan tiduran di pinggir trek. Satu persatu rombongan Om Gun menyalip. Disinilah diputuskan untuk menyelesaikan saja trip ini dan kembali ke Bakmi Golek.

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
instagram.com/bikewearr/


What a 72 km ride… Bali Mountain Bike Marathon 2015

DCIM101GOPRO

DCIM101GOPRO

Bali, 6 Juni 2015

Inilah saatnya datang juga. Seperti tidak percaya akhirnya ikutan event mountain bike marathon ini, suatu event yang semula saya tidak bayangkan saya akan mampu melewatinya, bahkan selama persiapan baru sebulan belakangan terusterang dapat merasakan rasa percaya diri untuk mampu finish di event ini. Ya, untuk mencapai keyakinan mampu finish dan tidak perlu terkena cut-off saja perlu waktu panjang buat saya.

Sore itu di penginapan, melihat nomor start race nempel di sepeda kok terasa asing sekali. Saya gak pernah ikutan race, ini adalah partisipasi pertama saya dalam race sepeda gunung. Ada perasaan aneh dan canggung namun juga haru. Sudahlah, tidak perlu terlalu dipikirkan.

Malam berusaha tidur, tapi kesulitan. Terlalu banyak hal baru yang akan datang hari esok.

DCIM101GOPRO

DCIM101GOPRO

Bali, 7 Juni 2015

Pagi ini dimulai dengan sangat santai, bahkan kami baru meninggalkan penginapan dengan waktu yang mepet ke waktu start. Mobil hanya bisa mengantar sampai bawah, dan sambil mengikuti petunjuk jalan menuju titik start saya semakin terkagum dengan kawasan black lava Gunung Batur ini. Luarbiasa, baik secara pemandangan untuk mata, dimana sangat eksotis dan lain dari yang lain, namun juga dari sisi karakter trek nya sebagai pesepeda gunung, campuran antara batu dan pasir. Dan kalau sudah nanjak offroad ke arah titik start, maka kita jumpai bagian trek yang sangat unik karena jenis dan karakter rolling batu nya yang juga unik.

Tempat start dan finish pemandangan nya luarbiasa, harus diakui ini tempat yang tepat untuk urusan pemandangan dan tingkat kesulitan trek. Sudah kebayang nanti akan finish uphill menuju titik ini di akhir lomba, bakal berat.

DCIM101GOPRO

DCIM101GOPRO

Area start dan finish ini pun terasa sempit sebenarnya. Dengan begitu banyak pesepeda akan start bersama langsung terasa penuh. Lomba sendiri diikuti oleh pesepeda dari berbagai bangsa. Dari total sekitar 120 peserta tahun ini, kurang lebih 20-30 orang adalah ekspatriat eropa/amerika. Ekspatriat asia susah dideteksi kecuali dari jersey yang mereka kenakan atau dari bahasa mereka, tapi perkiraan saya sekitar 30-40 orang juga. Bisa dibilang 40-50% saja pesepeda dari Indonesia sebagai tuan rumah.

Saya ber-tiga dari tim CikarangMTB, nyelip diantara kerumunan di belakang, lalu kita gowes santai start turun ke jalan aspal. Di jalan aspal inilah start sebenarnya baru dimulai. Perasaan campur aduk dan adrenalin memuncak, saya berusaha mengimbangi rombongan depan, dimana ternyata hanya mampu bertahan sebentar.

DCIM101GOPRO

DCIM101GOPRO

Trek dimulai dengan aspal rata dengan beberapa tanjakan rolling menyusuri tepian danau Batur menuju Desa Terunyan, desa yang terkenal dengan adatnya membiarkan jenazah warga yang meninggal dengan didiamkan dibawah salah satu pohon di dalam desa.

Pesepeda yang sudah mencapai titik balik, pasang stiker pertama, dan balik lalu papasan dengan kami yang sendang menuju titik balik. Tampak lomba dipimpin oleh pesepeda dengan jersey NINER. Baru kemudian tau kalau pesepeda berjersey NINER adalah pesepeda dari Singapore yang baru saja kembali dari ABSA Cape Epic 2015. Para pesepeda tim nasional seperti Trio Jabar dan Fanani pun tampak dibelakang sedikit. Rupanya inilah saat terakhir saya bisa melihat peleton depan, selanjutnya hanya akan melihat sebagian dari mereka di garis finish dan penghormatan pemenang.

Trek aspal biasanya membosankan buat saya, tapi kali ini agak lain, karena aspal pula saya bisa agak mengikuti peleton, saat berbalik saya berada di buncit diantara ketiga rekan CikarangMTB dan berada di tengah dari seluruh rombongan peserta.

Black Lava

Black Lava

Trek kembali ke arah black lava titik start, dan sebelum mencapai titik start kita berbelok langsung menembus black lava. Kecepatan saya langsung turun drastis, trek pasir dan batu, jalan doubletrack yang dilewati oleh truk pengangkut pasir, dan beberapa kali berpapasan dengan pengangkut pasir di trek. Hari belum terlalu terik, namun trek sudah memberikan pantulan panas yang terasa sampai ke muka.

Ini adalah kedua kalinya saya gowes di area black lava ini, dan tidak juga berhenti kagum dengan suasana yang ditimbulkannya. Ada teman teman yang bilang kalau seperti di bulan atau di planet Mars.

Keluar dari area offroad black lava kita bertemu jalan aspal, beberapa part jalan aspal dibuat menembus kawasan lava yang sudah mengering. Benar benar seperti batu besar yang mencuat dari perut bumi. Aktualnya memang seluruh kaldera selebar 10km ini adalah sebuah kawah gunung. Kadang kalau dipikirkan kita berdiri diatas bumi yang sangat rentan, yang bisa meletus sewaktu waktu.

DCIM101GOPRO

Tanjakan Iblis

Akhirnya sampailah di area yang paling menarik dari lomba ini, apa yang disebut sebagai ‘Tanjakan Iblis’ oleh Om Indra GBT, sementara oleh segment strava disebut sebagai ‘Lung Buster’. Area ini lengkap sekali, water point sebelum dan setelah segment, banyak fotografer dan penonton, dan seperti tampak di foto sebelah ini saya memilih untuk lari di awal, lalu disambut ttb, memang inilah apa yang sudah direncanakan dengan single chainring bike… It’s an excuse, but a valid one… Om Atoe rekan saya sukses all way digenjot dari bawah.

Tapi ternyata tanjakan yang singkat ini memberi kesempatan buat rider untuk berinteraksi. Sempat ngobrol dengan beberapa peserta lain. Unik juga melihat peserta ladies sepeda nya di ttb in sama rekan dan this lady biker ambil foto rekan rekannya….

Setelah all the way dari start kita in rush rush heboh, tiba tiba ketemu keadaan yang fun!

DCIM101GOPRO

to highest 1400 mdpl

Tanjakan dengan gradasi maksimal sampai 24% ini (tengok segment Strava…) pun akhirnya berakhir, lalu kita disuguhi jalan mulus nanjak menuju titik tertinggi trek di 1650 mdpl. Tanjakan ini meskipun sebenernya gowesable dan mulus namun benar benar menguras fisik. Untuk pertama kalinya sejak start saya putuskan ambil waktu sekitar 3 menit buat berhenti, duduk dan makan cokelat, hanya sekitar 50 meter dari puncak 1650 mdpl yang juga merupakan pos pemeriksaan dan pemasangan sticker yang kedua.

Alhamdulillah dapat Pocari dan pisang di pos ini…

Selanjutnya gowes sendirian teringat gowes awal Januari lalu, lewat daerah Sukawana. Lalu trek berlanjut dengan onroad turun melewati punggung kaldera pertama (kaldera luar Gunung Batur). Trek pada dasarnya turunan dari 1650 mdpl menuju 1200 mdpl melewati daerah Pinggan, Siyakin dan Belandingan berakhir di pos pemeriksaan ketiga di Songan.

DCIM101GOPRO

Desa Surga

Bagian trek berikutnya adalah bagian trek yang saya belom pernah coba, saat trial trek Januari lalu tidak ambil jalur ini. Trek bagian ini cukup ganas juga karena diawali dengan jalan makadam yang rusak dan nanjak. Trek bervariasi meniti antara dua area kaldera pertama dan kaldera kedua Gunung Batur. Secara fisik melewati sebuah sungai dan kemudian ada tanjakan jalan semen yang bikin putus asa, meskipun tidak sampai bikin kraam.

Bagian trek ini sebenernya cukup berat apalagi setelah hampir satu jam kita disuguhi trek rolling lebih banyak turunan. Pemandangan ke arah gunung dan danau batur sebenernya indah sekali. Desa desa yang ada disini seperti berada di surga, meskipun kita lihat kondisi ekonomi desanya tampak tidak sejahtera.

Bagian trek ini saya sempat ambil sekali lagi pitstop makan cokelat sambil ambil foto trek dan pemandangan seperti di bawah ini.

Suguhan rolling dari titik di Ulun Danu Batur sekitar 1150 mdpl memuncak di titik 1300 mdpl dan kembali kita bertemu dengan ujung tanjakan iblis lung buster.

Trek pun sekarang melewati kebalikan saat berangkat, di area Yeh Mapeh inilah saya mendapat keajaiban pisang. Panitia menyediakan water points dan pisang. Wah saya langsung makan dua pisang dan kemudian seperti dapat energi baru.

Selain karena pisang, energi baru dan excitement luarbiasa saya dapatkan juga dari feeling kuat bahwa kita ternyata akan segera finish. Ternyata mampu!!!

Tidak bertemu banyak peserta lain saya mulai kembali memasuki area Black lava.

Setelah keluar dari jalur doubletrack tambang pasir, jalur utama dalam black lava, trek memasuki bagian yang tersulit, kita gowes pada intinya diatas batu batu hitam gunung Batur yang licin dan menggelinding gak jelas saat kita push. Ada frustasi nya juga, seperti juga saya lihat dialami para peserta lain, cuma dengan hawa panas yang sangat mirip cikarang-jonggol, area tempat kami berlatih, membuat saya malah bisa push dan melewati cukup banyak, sekitar 10 peserta lain. Kayaknya ini pengalaman pertama saya melewati peserta lain deh sejak dari awal start.

Serasa seperti di kampung sendiri karena panas nya, tiba tiba trek sudah masuk ke area ber-pasir, lalu area ber-vegetasi pohon, nah, ini membawa memori kembali ke trip awal 2014 sehingga saya yakin bahwa area finish sudah sangat dekat.

Alhamdulillah finish … Tanpa Evak!!! Sesuai target…
Perasan luar biasa yan tak mudah dilukiskan… Habis gowes 5.5 jam tapi masih ceria

Podium time[/caption]Hasil lengkap disini …
No start: 80
Position: 62
Class: Veteran
Time: 05;28;48;56
Toatal peserta: sekitar 130

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
instagram.com/bikewearr/


Bali Batur 2015 – Cross Country Mountain Bike solo 44km ride

DCIM101GOPROBatur-Bali, 2 Jan 2015

Saat menuliskan post ini, sudah lewat empat bulan lebih trip awal tahun 2015 ini. Masih sangat kesulitan mengumpulkan kata kata dan juga semangat. Saking terasa berkesannya ride ini jadi terlalu banyak ekspektasi. Inilah salah satu kesulitan menulis blog, saat kita menulis serasa tidak pernah bisa menggambarkan apa kejadian yang kita alami. Tulisan serasa tidak mewakili pengalaman.

Tapi sudahlah, ayo kita mulai saja cerita genjot sepeda sendirian ini.

Memang sudah direncanakan jauh hari untuk berlibur tahun baru, dan kali ini cukup istimewa karena bawa sepeda dan sudah dijadwalkan dari awal untuk menghabiskan satu hari untuk bersepeda. Menginap di Lakeview Hotel, pagi itu menghabiskan lebih dari satu jam untuk merakit sepeda. Ini baru pertama kali dialami selama ini dibutuhkan hanya untuk merakit, semua gara gara posisi anting RD yang dilepas dan rantai yang kacau ditambah tidak adanya chain-tools. Halah! Akhirnya dengan lega bisa melihat sepeda berdiri, waktu sudah menunjuk lebih sejam dari target semula start gowes. Seolah gowes hari ini dimulai dengan kekacauan… gimana ya gowes hari ini akan berjalan?

gerbang masuk ke area black lava

gerbang masuk ke area black lava

Setelah mengganti batere GPS, kebiasaan yang saya selalu lakukan kalau terutama untuk antisipasi gowes yang panjang dan akan banyak bergantung GPS. Dari area start Kintamani, sebuah wilayah di bibir kaldera pertama (kaldera lapisan luar) dari Gunung Batur. Trek perjalanan hari ini diperoleh dari tracklog Kang Indra Anggara, saat Bali XCM 2013. Memang mencoba trial di actual track Bali XCM ini salah satu alasan kuat perjalanan total tiga hari ke Pulau Bali kali ini. Asli penasaran banget seperti apa track nya. Hari ini akan gowes sendirian, dan waktu cek ke Kang Indra, infonya track ini masih berada relatif di tengah area yang dihuni. Jadi aman lah gowes sendirian…

Track dimulai dengan turunan aspal sampai ke tepi danau Batur. Kirim foto sebuah rumah makan yang tepat berada di mulut pintu masuk ke track. Foto dikirim agar tim support bisa nunggu disini nanti sore saat finish.

Tak lama setelah keluar dari jalan aspal pinggiran danau Batur, disambut trek lebar, dengan beberapa kali papasan dengan truk pengangkut pasir, maka kita segera disambut dengan area ‘black lava’. Rupanya penduduk di area start tadi tidaklah berelebihan saat bercerita, “… lewat black lava saja (sambil jari menunjuk ke gerbang), tempatnya indah sekali”.

DCIM101GOPROSudah sering saya gowes melewati banyak tipe kawah dan lansekap gunung, namun jelas area black lava-nya Batur ini sangatlah indah dan eksotis. Sangat minim (atau bahkan tanpa) vegetasi, semua serba hitam warna batu, dan bentukan fisik batu yang sangat unik. Menjadikan area ini seperti sebuah taman geologi, taman batu, rock garden.

Trip info:

Riding Specialized Carve 29″ hardtail
tyres: Maxxiss Ikon 2.2
uphill: 9/10
singletrack: 8/10
downhill: 8/10
technical: 8/10
endurance: 9/10
landscape view: 9/10

Tracklog http://www.bikemap.net/en/route/2909959-baturkintamani-yeh-mampeh-sukawana-belandingan-toya-bungkah-kedisan-44km/

Short YouTube video clip…

aa201501batur

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc RIde#33 Jalur Pipa Gas – Tangerang

DCIM100GOPROTangerang, 16 Aug 2014

Ini adalah kunjungan keempat saya ke trek ini. Ya, hanya empat kali dalam delapan tahun; cukup jarang untuk cerita dan kisah serta legenda yang tertanam di trek ini. Setelah berkenalan dengan trek ini sekali, menjalaninya setelah hujan sekali, ikutan di salah satu event nya sekali, maka genjot sepeda gunung kali ini adalah yang keempat kali untuk reuni bersama teman teman lama yang sudah tersebar di penjuru belahan dunia. Ya, ini sekitar liburan lebaran sehingga semua bisa bertemu dan memilih sebuah kegiatan unik buat bertemu.

DCIM100GOPROMeski semalam trek terkena hujan, tapi tidaklah terlalu basah, masih bisa gowes dengan full of fun. Apalagi salah seorang dari peserta gowes adalah rekan yang samasekali baru mencoba ber sepeda gunung, sepeda pun kita carikan pinjaman. Meskipun sempat kuatir dengan acara ‘reuni dengan gowes’, tapi ternyata seru dan fun, karena ada juga warung Mpok tempat rekan kami yang tidak ikut gowes dan memilih menunggu sambil makan minum sederhana.

DCIM100GOPROTrek dan ride nya sendiri sangat santai, hampir satu jam untuk satu lap saja. Santai habis selain juga trek licin jadi banyak yang harus tuntun sepeda.

Kamera GoPro saya mount di salah seorang rekan yang paling newbie dan baru coba sepedahan, untung belio nya rajin lari dan nge-gym jadi secara kondisi fisik ok. Di edit iseng juga buat dokumentasi reuni di video berikut ini…

Saya rekomendasikan ride pagi di JPG bisa jadi salah satu pilihan acara reuni alternatif… fun, murah, dan spesial serta berkeringat.


WJxc Ride#32 – North Bandung, East Java – Palintang Uphill & Palasari 2

DCIM100GOPROBandung, 7 Aug 2014

What happened in last Ramadhan Night Ride, a reunion with Om Indra Anggara, continues… This trip was again in contact with him. Among East Bandung mountain bike riders, Mt. Palasari been one of the main attaction, their main menu. There are currently 10 Palasari tracks available as a result of extensive mountain bike exploration from two Eastern Bandung communities: TERJAL (Cicaheum) and NGAPRAX (Cileunyi). Both communities hand in hand, not only exploring new tracks possibilities but also maintain existed ones. My highest appreciation for both communities, for doing these voluntary, amazing on these days.

Despite been doing mountain biking for 7 years now, and spend a lot of mountain biking time in Bandung area, I have only taken Palasari 3 long time back. This is really a humiliation for myself, truly a waste of time not being able to manage enough Palasari exploration trip. OK, let’s move on and plan for more Palasari trips.

Today we choose the classic way to start the track, by doing uphill ride to Palintang. There is another option by loading our bikes in load car or ‘angkot’, especially since the road condition up to the top of Palintang Hill now already in a smooth asphalt road. It was different in five years back… check this trip report…

DCIM100GOPROStart the trip with connection via Goweser Bandung Timur (GBT) page in Facebook that morning we start the ride with Om Indra and Om Heri. Om Heri is special friend also coming from Cikarang. After scrambling around Alun Alun Ujung Berung, hardly trying to pass the traditional market which overflow to the road, a bit traffic in a very small city, smiles coming when the road gradient start to be more challenging.

One of the place very popular in this uphill lines to Palintang is ‘Kampung Tanjakan Panjang’ (Long uphill village). The name reflecting what does it means; long and steep uphill in the middle of a village. I’ve been ride this uphill lines many many times, from the time when most part of the track still in very bad condition, until now the track relatively in a good condition even for car and motorcycles.

Something really never changed. North Bandung will never fail to impress you if you love to ride uphill… This tracks will broke your chest down…

North Bandung uphill will also giving you more to your eyes, the sightseeing changes from a crowded residential area, then start kampung area with more open spaces; in Bahasa Indonesia we called it ‘kebun’. Then we will see some parts of paddy fields, followed with pine woods at the final part of the uphill. The changes of sightseeing also followed by increase in gradient of the track. The gradient by the way still manageable and still ride-able. The path goes to a pass between Mt. Palasari and Mt. Palintang.

DCIM100GOPROOne village we passing by on the uphill ride is ‘Desa Palintang’. The village now been much more developed especially when better condition of roads now give full access to the village. The village become more and more important in the alternate line from Ujungberung to Maribaya.

More accessible does not always means good things, as mountain biker off-course very much missed a hard and technical macadam track just in the middle of the Kampung Palintang. Now all the way to Bukit Tunggul already smooth road even road bike can reach.

A sign of forbidden area for motor trails also appear before we enter the village. More and more access does not always means good things, including privacy and noise coming from the improved road.

MOHON MAAF MOTOR CROOSS DILARANG MASUK

But still, an uphill to Palintang Pass always and still an interesting uphill with stunning natural beauty views. On our right side we have Mt Palintang, which also can be connected to part of Genteng Track to Tanjungsari, while on the left side of the road we have a view of Mt. Palasari with a lot of part are pine woodland still in a good condition

DCIM100GOPROWith more and more conservation woodland being converted for vegetables plantations; legally and illegally, it’s really a beautiful fact that these pine woodlands survive so far. Doing mountain biking give me more and more sightseeing of conservation destructions, and less good practice and good news like this.

Ok, let’s stop worrying and just start to enjoy the ride…

Riding inside the Pinewood started with a frightening slope for a hardtail cross country rider like me. We start very slow with a lot of scream from the brake. The frightening part was only the first 100m, after that the singletrack was flowing. A dream for every mountain biker. Please see YouTube link below to see the flowing lines.

It was just BEAUTIFUL !!!

If you love single-track like me, you got to be kidding if you don’t want to ride on this track. The track not only cool and green, but also relatively all the way long ride-able. This is not an ordinary occasion while we also met a moto-cross rider going up-hill on the single-track.

I have a big empathy for our fellow moto-cross riders, but I have to admit that my heart broken when I heard the throttle and their machine running high rpm and digging the lines of our beautiful single-track.

DCIM100GOPROFellow moto-cross riders, I understand that everybody have the same right to ride in this beautiful lines. Us, mountain biker, and you, moto-cross riders have the same right. But, please, can you just not ‘tear’ our tracks down, please…

It was strange that the flowing singletrack lines are just in the right volume. Sometimes, we found it too fast to be finished. But this line was a loooooonnggg line. Finally we found a rocky double-track. The challenge is not to stop. This double-track going traverse on the side of Palasari and all the way to finally found an open land with beautiful scenery.

A 180degree Bandung view…

STUNNING!!!

This is one of the reason riding north Bandung. When you got a clear sky, you will see a breath-taking view you’ll never forget. All the pain during a long uphill was just disappear… From this point actually we can see the Dago/Tahura part in the west, the right hand side; and all the way down to see the Bandung highland city view in front of us; to the Palintang part in the east side. And when the weather is right just like when we have the ride, it was just perfect!

DCIM100GOPROMore pictures in my facebook account…Targeting 2pm to be in the city, we were just straight down the lines and finding a short singletrack following by entry to resindential villages. Yes, the beautiful open land 180degree Bandung was actually a converted woods into plantations.

It was not long ride through kampong and then asphalt downhill to Sukamiskin area while we end up this beautiful trip.

Trip info:

Riding Specialized Carve 29″ hardtail
tyres: Maxxiss Ikon 2.2
uphill: 8/10
singletrack: 8/10
downhill: 8/10
technical: 8/10
endurance: 8/10
landscape view: 9/10

Tracklog http://www.bikemap.net/en/route/2750525-bandung-timur-palasari-2/

Short YouTube video clip…

Bandung-Palasari2

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


Video TALAGA: Back to Basic CikarangMTB KOLOZAL#13

Bandung, 30 Nov 2014

Selama ini tidak pernah post video di page ini, mana video nya berwarna lagi… Tapi melihat feedback nya, kaget juga… Sekalian bantu publikasi acara CikarangMTB KOLOZAL ini…

Diambilnya pakai GoPro Hero 3+ dan pakai iMovie untuk membuat clip nya

Trailer resmi Trek TALAGA:Back to Basic KOLOZAL#13