enjoy every cadence, every breath…

travel

GGB Latgab – Batukuda – Genteng – Cijambu

Bandung, 20 Januari 2016


8:12 akhirnya lima orang siap start pagi itu. Om Indra, Om Kodrat, Om Maman, Om Atoe, Om Sigit mundur dan batal dengan berbagai alasan yang valid. Lokasi start dan finish adalah RS AMC, tepat di depan gerbang tol Cileunyi. Ujung jalan tol PADALEUNYI… Saya yang dua malam berturut kurang tidur sudah bertekad untuk finish full track saja sudah prestasi… Road Captain (kabarnya sih saya, dipindah tangankan dari Om Indra) sementara Om Eyang, Om Lutfi, Om Djo segera melejit kedepan tak lama setelah ketemu tanjakan aspal. Saya bersama Om Adjie di belakang…


8:41 ketemu tanda lalulintas yang tidak biasa… Ya, inilah tanjakan Cinunuk. Setiap kali saya ambil gambar di area ini selalu mendapat sambutan meriah dari para pemirsa, baik blog, forum maupun fb… Salah satu tanjakan paling dramatis di Bandung Timur


8:42 Om Adjie keheranan saya berhenti. Saya bilang, “Om Adjie jadi model foto Om…” Sekarang tanjakan ini sudah aspal, pada saat awal masih gravel seru spinning ban belakang… Saat saya kemudian sampai di ujung tanjakan ini alarm di Garmin bunyi, “Your heart rate is above maximum level…”


9:24 Pitstop pertama, Batukuda. Kabarnya sih ada batu nya yang berbentuk seperti kuda, tapi saya sendiri belom pernah ke tempat batu berada. Udahlah daripada ngomongin batu, kita ngopi saja. Kopi adalah kloter terakhir, setelah sebelumnya teh manis panas, teh kotak

Pada titik inilah sambil ambil napas lega dibawah rindang pohon pinus datanglah sebuah call…. “Om kami sudah di Kiara Payung….” Hmmm… ok baiklah, rupanya kalian memilih jalan yang baik (belok kanan)… Tujuan kami berikutnya memang Kiara Payung tapi lewat singletrack dalam hutan. Pak penjual kopi dan rekan peseda lain yang kita temui bilang, “Waduh Pak… kalo musim hujan begini trek bisa tertutup oleh semak semak tinggi…”. Saya tersenyum, dan Om Adjie matanya berbinar semangat mendengar kita akan menerobos semak semak… wkwkwk


9:49 Mengangkat sepeda melewati sungai dan kubangan air, lobang yang dalam, menariknya ke bukit diatas, pelan pelan kami menemukan juga singletracknya. “Bener ini Om?…” tanya Om Adjie, entah khawatir entah semangat lihat kita menerobos nerobos semak dibawah pohon pinus dan campuran pohon lain. Di suatu area terbuka saya bilang, “Biasanya kita bisa lihat seluruh Bandung dari sini Om Adjie…” Sayangnya cuaca hari itu mendung berkabut meskipun relatif masih pagi


10:25 melewati hutan dan semak, relatively rideable, asik meliuk dan menerabas, sambil kaki dan muka dibelai berbagai jenis dahan daun dan duri akhirnya kita keluar hutan juga dan masuk ke kampung lalu istirahat di Kiara Payung. Kita istirahat dulu karena berdasar pengalaman yang lalu susah dapat warung nasi di daerah Genteng Cijambu, saya putuskan bungkus dan masukkan ke kantong jersey. Enak bener ini jersey Bikewearr, jersey edisi XCM Bali tahun lalu yang membawa banyak semangat dan kenangan

Om Adjie dan saya makan sawo enak banget disini, seorang dua butir. Lalu sambil saya bungkus nasi lengkap lalapan dan tahu tempe ayam goreng, Om Adjie bilang ke Ibu warung, “Saya bungkus pisang saja, enam ya bu…”


11:43 Ini adalah area Genteng, area yang menjadi titik turun biasanya trek yang disebut Palintang Karpet Genteng atau sejenisnya. Ada beberapa variasi, kita tidak ke Palintang karena pilih trek pendek (opsi2). Akhirnya cuma bisa melihat layers bukit dan gunung di kejauhan… Tanjakan beton disambut makadam dalam kampungnya masih seksi dan panjang dan… ayo kita pakai grainy gear saja daripada jantung menjerit masuk area max HRM. Om Adjie sudah melejit kedepan


13:04 Keluar dari mulut buaya masuk ke mulut harimau… Keluar dari tanjakan tengah kampung yang dahsyat di area Genteng, kita mulai nanjak alus, diambut nanjak makadam, disambut hutan lagi… Inilah area Cijambu. Part hutan nya panjang banget. Ketemu rombongan motor trail, mereka bilang, “Oooo… teman nya tiga orang udah jauuuuuhhhh banget….”. Iya iya Kang… gak usah heboh gitu deh… Trek campuran doubletrack dan beberapa area ada singletrack. Yang horor adalah ada anjing pemburu, anjing nya bukan anjing kampung gitu, tapi anjing yang besar… Ampun dah… Geram nya saja udah bikin hati bergetar


13:11 Hutan tidak begitu saja berhenti habis, diselingi masuk ke kampung terpencil, kami pun masuk hutan kembali, kali ini hutan yang ketiga ini lebih wild, meskipun pohon nya secara umum adalah pinus dan pinus dominan, tapi kok ya ini trek menyeberang dan nyeberang sungai berkali kali, udah diseberangi eeee… balik lagi dan seterusnya

Di hutan ini juga kita dirubung sama semacam nyamuk atau entah serangga apa itu. Dia berputar putar di sekitar muka kita. Kalo kita jalan kadang serangga masuk ke mata jadi pedih, kadang masuk ke mulut. Pokoknya ganggu banget deh


13:46 Setelah lega akhirnya keluar hutan juga, ketemu jalan aspal rusak, lalu itu jalan masih tega juga nanjaaaakkk sampai di puncak Pasir Biru. Sempatin ambil foto di ujung tanjakan terakhir… Rasanya badan udah habis dan perut lapar sekali, Ketemu Om Adjie lagi fill up minum ke bidon, saya udah putuskan untuk buka bekel makan siang. Udah gak tahan lagi… Dapat wa message katanya tim depan lagi carbo loading juga di jalan raya Bandung-Sumedang… Seterusnya dalah turunan dan sedikit rolling tanjakan… dan itu 40an km terakhir adalah tidak terlalu penting, mbosenin dan ngantuk gowes sampe kembali ke titik start…

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
instagram.com/bikewearr/


Langkawi MTB Marathon ride #kepadaawan

Langkawi Island, 18 Oktober 2015

Trip ini sebenarnya dirancang untuk mengikuti LIMBC 2015, Langkawi International Mountain Bike Challenge yang penyelenggaraannya dibatalkan hanya sekitar sebulan sebelum acara. Kami tim dari Cikarang MTB GGB sudah memesan tiket pesawat dan booking hotel akhirnya tetap berangkat dan menjalani trek berdasarkan tracklog dari peserta event sebelumnya.

LIMBC total track

LIMBC total track


DCIM203GOPROAyo kita mulai menuliskannya. Mohon maaf ya kalau pabaliut, karena berbagai keterbatasan tapi pengen juga berbagi cerita, selamat menikmati dan silakan bersabar kalau ternyata sambungannya nunggu lama (disclaimer)

“Buset tanjakannya miring banget, belok patah, belom pernah saya seperti itu”
“Kita udah naik gak taunya puncak ada di bukit sebelahnya, pakai panjang lagi”
“Kayaknya saya mau pindah deh dari dua**tiiiiiitt** ke dua**tuuuutt**, frustasi ketemu tanjakan kaya tadi”

Section 1 AYER HANGAT

Section 1 AYER HANGAT

Sebagai member trip yang datang sehari lebih lambat dari seluruh tim, saya elus elus paha saja. Sambil membayangkan keputusan pemilihan chainring semalam…

Pagi itu semua berjalan seperti yang dibayangkan, rekan gowes saya hari ini adalah dua rekan yang sudah jelas akan memberikan cipratan air ban belakang ke muka saya. Waktu kami keluar dari hotel, yang berada di bagian selatan pulau, area bernama Kuah, maka sudah terbayang tuh mendung tampak berat banget di atas kepala. Tinggal menunggu saatnya mendung runtuh dan menimpa kita semua…

Dilepas dua rekan yang tidak ikutan gowes hari ini, karena kondisi tubuh yang tidak fit, maka saya hanya berusaha menakar adrenalin saya supaya tetap terjaga, tidak terlalu bersemangat… Semua yang terlalu kan salah…

Kita gowes onroad dulu, dan baru belokan pertama hujan rintik semakin besar butirannya sudah langsung menyambut. C’mon… ini baru jam 730 pagi… Setting hari ini tanpa tas, tanpa p3k, semua tools dan alat di saddle bag, hanya hape, batt cadangan, dan uang saja di saku. Going light… and ready for a wet rainy day…

#kepadaawan saya minta kerjasamanya yang baik yaaa… awan yang baik…

DCIM203GOPROPerasaan campur aduk saat kami lewat jalan on road melewati pusat olahraga, Olympic Center. Semestinya disini nih titik start… huh… Sambil menikmati air hujan yang merembes masuk ke kulit, gowes pun segera saja keluar dari jalan besar. Masuk ke Hutan tak jauh dari Olympic Center…

Inilah segment pertama hutan kita hari ini. Memang trek nya unik, pada dasarnya trek berputar mengelilingi pulau, ada jalan on-road mulus banget kondisi sangat bagus, tidak pernah lihat jalannya ada lobang samasekali. Muluz. Nah trek kita hari ini, yang merupakan trek Langkawi International Mountain Bike Challenge, stage pertama untuk multistage nya, atau stage XCM untuk kelas marathon nya.

Singletrack hutan segera menyambut, hutan meskipun rimbun tapi singletrack tampak terawat. Di beberapa tempat memang kita ada batang pohon tumbang yang menghalangi jalan, namun tampak sekali itu area sangat minim paparan manusia. Hanya hutan hutan dan hutan. Tidak ada pohon cabe, tumpangsari kopi, sisipan pohon wortel, seperti umumnya yang kita lihat di Tanah air. Hujan mulai berhenti dan datang lagi secara bergantian. Kami bertiga tidak terlalu memperhatikan hujan lagi, karena suguhan trek nya makin asyik.

DCIM203GOPROSetelah singletrack cenderung lurus landai, maka trek mulai deh meliuk liuk, traverse, melipir. Di tengah pulau ada satu gunung yang namanya Gunung Raya, dan trek ini pada dasarnya memutar mengelilingi gunung ini. Di satu area akhirnya kita ketemu dengan sungai. Airnya jernih banget. Salah satu rekan segera melakukan ritual nya. Belio membuka bidon, kemudian mengisi penuh bidon dengan air kali, kemudian meminumnya dengan sangat khidmat. Saya saja sampai deg deg an ngelihat nya. Persis perasaan seperti menonton ritual adat…

Entah kenapa peristiwa bertemu sungai ini seperti memberi nuansa lain buat tim, tadinya agak grogi campur semangat campur excited, sambil membayang bayangkan jika dan hanya jika event nya tidak dibatalkan, tentu kami sedang berusaha ngebut dan dengan mood gowes yang kompetitif. Adanya sungai ini membuat kami berhenti, ketawa, foto selfie karena memang nyeberang sungai dengan batu batu tidak gowesable. Kami seolah baru sadar kalau kami sebaiknya lebih menikmati trip ini tanpa ketegangan.

DCIM203GOPROTrek mulai meningkalkan ke landaiannya dan mulai menjalani kemiringan yang tidaklah terlalu sopan. Beberapa masih gowesable, ada juga bagian yang mulai membuat kami ttb bersama. Trek menjadi semakin teknikal. Kemiringan, kecuaraman, dan juga jenis permukaan trek yang variasinya tidak selalu Tanah, kadang batu, kadang serakan batu lepas, kadang Tanah keras, kadang lumpur. Untungnya lumpur karakternya jauh dari yang di Cikarang, lumpur nya tidak lengket. Tapi tetap saja licin…

Karakter trek secara keseluruhan adalah di guide oleh jalan raya aspal keliling Gunung Raya. Sementara trek menyimpang keluar segment per segment ke arah hutan, baik kiri ataupun kanan jalan. Bagian pertama hutan, segment pertama keluar dari jalan ini kita namakan saja Segment Ayer Hangat, sesuai nama daerah didekatnya.

Kepadatan vegetasi juga berubah ubah. Ada yang jalannya terbuka, doubletrack, ada juga banyak yang jalannya singletrack dan di beberapa area cenderung gelap karena tertutup pepohonan. Sungguh pengalaman berbeda buat saya, karena aseli panjang banget. Singletrack hutan paling panjang yang saya pernah lewati selama ini adalah Ciharus di Garut, yang ini lebih panjang lagi. Singletrack gelap dalam hutan tropis dataran rendah yang basah…

Pengalaman baru yang tak ternilai…

Meliuk dalam hutan lalu tiba tiba kita bertemu dengan jalan doubletrack dengan vegetasi agak terbuka, jalan lebih terang, lalu muncul lah jalan aspal sempit dan pagar yang terkunci… Haha!!! Gak di negeri sendiri gak di tempat orang, kok ya sama saja, ketemu pagar…

DCIM203GOPROSempat tertegun…

“Ada jalan Om…”
seorang rekan segera membawa sepedanya menerobos semak belukar ke sebelah kanan, masih di bagian luar pagar
Ya ya ya… tentusaja selalu ada jalan

Tim kemudian melewati sebuah lapangan, mirip lapangan bola, kemudian bertemulah kita dengan jalan aspal utama… Terlihat dengan jelas di sebelah lapangan papan nama… GUNUNG RAYA GOLF RESORT

Kami pun melewati jalan aspal mulus ini kembali. Seperti sebuah break ketegangan, kita bisa gowes ‘normal’ di jalan yang mulus, mengembalikan keseimbangan dan kondisi tubuh. Bisa dengan tenang menyedot air minum.

DCIM203GOPROTidak pernah lama rasanya di jalan mulus, trek kembali masuk ke vegetasi di sebelah kiri. Bretttt… Kaget setengah mati saya seperti ada yang menyambar lengan kiri saya. Berhenti saya tertegun melihat lengan panjang jersey, posisi di tengah antara pergelangan tangan dan siku, pas di tengah lengan kiri, sobek parah. Sempat panik lihat sobek jersi nya, saya periksa sebentar ternyata ada memang luka dan darah keluar dari luka nya. Darah segera membasahi jersey. Saya lihat ke belakang, apa tadi seperti benda ataupun sesuatu yang menahan. Ya, sobek jersey karena serasa seperti ditahan. Ternyata ada perdu berduri besar. Buset deh kaget saya lihat bentuk perdu nya. Besarnya duri duri nya menggetarkan hati.

DCIM203GOPROSegera saya gowes kembali karena sudah tertinggal lama dari dua rekan di depan gara gara berhenti memperhatikan luka dan perdu, eh ternyata mereka belum jauh dan sedang kebingungan karena jalan nya ilang… yang ada hanya semak semak setinggi orang dewasa serta vegetasi setinggi rumah. Nah loh… Sempat mencari beberap opsi, akhirnya kali ini benar benar balik dan kembali ke jalan aspal utama lagi.

Bener bener itu jalan sudah hilang, sudah tertutup oleh vegetasi mungkin karena setahun tak dipakai gowes dari penyelenggaraan tahun lalu

Kalau diperhatikan di peta google earth, tampak kalau area trek ini ada di antara jalan raya dan pagar lapangan golf. Tidak sampai 50m kami masuk lagi ke semak semak, mencoba kembali ke trek sesuai tracklog, dan kali ini setelah masuk terlalu dalam kita benar benar menghadapi situasi harus menembus campuran ilalang tinggi, dilengkapi dengan tanaman berduri yang menyayat nyayat betis kami bertiga. Mau balik kanan sudah tanggung karena jauh… hajar terus hantam… disertai dengan perih betis dan kaki.

DCIM203GOPROYang di pikiran saya cuma dua mahluk saat itu: lebah hutan yang sering berterbangan dan ular, semoga kami tidak mengganggu sarang mereka…

Syukurlah kemudian section ini bisa kami lewati dengan selamat, lalu trek masuk nanjak ke batas hutan lebat dan kemudian turun masuk ke kampung. Ada papan nama KAMPUNG BELANGA PECAH

Kami memasuki jalan raya kembali, serasa kembali ke rasa aman setelah jalan semak penuh ancaman terlewati.. kami pun memasuki etape berikutnya KILIM GEOPARK

02gn-raya-golfSegment Kilim Geopark ini trek berubah lagi. Setelah hutan tropis basah di segment Ayer Hangat dan area gunung kering dan bersemak di segment Belanga Pecah maka kali ini kita bertemu dengan area karst. Tanahnya campuran antara tanah cokelat dan tanah pasir serta lumpur hitam. Di beberapa area kita mulai bertemu kubangan kubangan, kadang jalan jadi ada bagian panjang berubah jadi kubangan, area berbau mangrove.

Terpampang jelas ada petunjuk bilang kalau ini area hutan produktif. Memang tampak area hutan nya berubah tanamannya jadi di beberapa ada pohon jati sementara di area lain ada pohon karet. Setelah rolling dataran rendah plus kenalan mangrove trek pun mulai nanjak full dalam kebun karet.

DCIM203GOPROKemiringan tanjakan semakin susah, permukaan trek pun sudah mulai berubah dari jalan tanah ke jalan campuran batu lalu ke batu utuh yang licin. Ya, di beberapa area tidak tampak tanah, permukaan trek adalah batu utuh yang digerus gerus untuk membuat jalan, licin dan permukaan gerusan tidaklah sopan.

Hujan kembali turun…
Deras
#kepadaawan pliiiiss deh… Iya sih keganasan cuacamu melengkapi perjalan kami, tapi jangan galak galak ya…

Sampai di ujung sebuah tanjakan kami menemui lagi jalan dipagar dan dikonci… nah…

DCIM203GOPROSelalu ada jalan setelah jalan buntu, kalau enggak di negeri orang mungkin udah kita angkat sepeda melewati pagar, tapi akhirnya kami pilih jalan lain yang ‘orientasinya sama’, dan kita temui satu tanjakan panjang sekali di tengah kebun karet, dengan permukaan trek adalah batu batu seperti marmer dipecah. Batu batunya yang berwarna putih marmer itu licin, dibantu air hujan, membuat trek jadi teknikal dan unik karakternya.

Akhirnya ketemu ujung tanjakan lalu disambut turunan tanah, disinilah kembali itu dahan pohon, yang bentuknya seperti campuran antara palem dan semak, dahannya terkena pundak saya, entah bagaimana itu dahan jadi seperti tangan yang menahan pundak saya. Kaget setengah mati di tengah turunan padahal. Badan saya terangkat karena tertahan di pundak, ban sepeda depan sudah terangkat, seperti akan terjengkang…

03kilimBrettt…

Bunyi itu lagi, lalu sepeda kembali turun sambil saya kelimpungan mempertahankan keseimbangan. Berhenti saya lihat sobekan lain yang lebih parah ada di pundak kiri. Okky yang ada tepat di belakang berhenti dengan wajah ekspresi khawatir plus kagum. Syukurlah tidak jatuh.

Sementara pemandangan di lembah di depan sungguh memanjakan mata. Tampak pantai dan laut di kejauhan sambil kita juga bisa lihat bentukan bentukan batu karst yang eksotis menyembul dari perut bumi.

Sebentar saja karena tanjakan panjang sudah menungu lagi..

Diujung bukit kita dua rekan saya di depan tiba tiba berhenti seperti tanpa sebab… Muka mereka tampak aneh ekspresinya…

DCIM203GOPROKenapa dua rekan berhenti dengan tatapan wajah yang aneh? Rupanya di tengah trek ada segerombolan sapi. Ini rupanya jawaban kita sering bertemu kotoran sapi dimana mana, di tempat yang aneh misalnya di tengah kebun karet, rupanya sapi disini dipelihara dengan dilepaskan begitu saja, segerombolan ada sekitar 6-8 sapi.

Melewati halangan unik ini kita pun turun dan akhirnya melewati sebuah tambang batu kita sampai juga di jalan raya. Awan tetap tidak baik sama kami, hujan tambah deras, kami mulai kehabisan minum di bidon dan berhenti untuk beli air mineral di sebuah warung pinggir jalan.

Ya ampun, dia enggak jual air mineral !!!

Part trek segment KILIM berikutnya adalah melipir pinggir hutan lagi, tapi tidak masuk hutan, dan mulai mengikuti jalan inspeksi di sebelah saluran air, mirip kalimalang, dan kita melewati jalan aspal di sebelahnya. Untuk pertama kalinya tim bisa kebut kebutan. Sejak dari start tidak pernah panjang di jalan aspal, dan ini adalah kesempatan pertama bisa pakai gigi 11t terkecil di sprocket

DCIM203GOPROJalan lalu bertemu dengan kembali jalan utama, jalan besar. Saya langsung tertarik penjual pisang yang menggantung dagangannya, saat kita berhenti mau beli pisang, ada yang teriak dari seberang jalan. Ternyata dua rekan tim support berhasil menemukan kami. Akhirnya isi bidon dengan air mineral juga dan mulai berangkat lagi.

Kepada awan saya minta jangan merengut gitu ah…
Langit mendung dan gelap menggantung
Matahari tertutup

DCIM203GOPROSection KILIM selesai maka kita memasuki section ULU MELAKA. Section ini kembali berada di luar jalur aspal utama yang mulus. Dimulai dengan kebingungan mencari titik awal trek yang sudah tertutup vegetasi, akhirnya kita menemukan singletrack yang makin lama tampak makin membesar menjadi doubletrack.

Bagian ini rolling. Full rolling. Kalau kuat silakan geber speed, dan itu yang tampaknya dilakukan dua rekan saya. Mereka jadi semacam titik kecil saja di depan.

Kiri kanan trek adalah kebun karet yang sedang banyak dirombak. Banyak banget pohon karet dirobohkan. Karena dilewati alat berat, doubletrack jadi sedikit berlumpur dan licin.

DCIM203GOPROSection Ulu Melaka diakhiri dengan uphill dalam kebun karet cukup berat dan panjang, di trek membentuk seperti huruf U. Trek seperti menemui puncak dan u-turn balik turun kembali. Section ditutup dengan area ‘jembatan air’ yang sudah sering kami lihat di youtube. Jalan menembus semacam reservoir bendungan, tapi kedalaman air nya hanya sekitar 10cm. Menjadi menarik untuk mencuci sepeda dan ambil foto karena kita seperti bersepeda menembus air. Disini kita manfaatkan juga untuk sedikit istirahat lagi, saya sempat mengganti baterai kamera.

04ulu-melakaTitik jembatan reservoir air ini berhasil membuat semangat naik kembali. Memang kondisi tubuh sudah turun, ini sudah jam 1130 dan kita sudah mulai gowes dari jam 7 pagi dengan istirahat praktis total tidak sampai 20 menit. Segar ketemu kubangan air berlimpah.

Keluar dari section ULU MELAKA kita masuk kembali ke jalan aspal utama. Mendung semakin berat menggantung. Dan akhirnya hujan tumpah saat kita memasuki section berikutnya, MAKAM MAHSURI

Dua section terakhir yaitu section MAKAM MAHSURI yang sangat mistis dan section BUKIT BATU yang sangat brutal teknikal adalah bagian penutup trek yang paling puncak. Selain jam gowes udah mulai diatas 5 jam, fisik dan mental sudah mulai terpengaruh dan hujan yang tidak berhenti mengguyur.

Semua diatas ditambah lagi dengan perjumpaan dengan hewan hewan liar seperti monyet dan babi hutan, semakin menjadikan penutup yang menampar.

Kita tahu persis karena sempat lewat sebagian trek ini di gowes sabtu sore, kita tahu kalau sudah dekat dengan kawasan Kuah adan Hotel area, namun yang kita temui adalah trek yang semakin brutal termasuk kubangan kubangan air ditumbuhi semak di tengah hutan.

Dua seri penutup disimpan cerita detailnya, termasuk pengalaman dengan daun BALAKACIDA untuk mengobati luka rekan, termasuk juga beberapa kejadian jatuh.

Terimakasih buat Balibiru Adventure Trip, yang sudah merancang trip ini jadi trip yang luarbiasa namun tetap terjangkau.
Terimakasih buat Bikewearr Biking Apparel, yang sudah menyediakan desain jersey khusus, jersey premium nyaman dipakai segala kondisi
Terimakasih buat Om Eyang AN, Om Rudy Mbahbro, Om HPW, Om Okky… rekan rekan seperjalanan termasuk persiapan 3 bulan sebelumnya… Trip kemarin adalah salah satu trip paling brutal yang pernah saya gowes selama ber-mtb

SEKIAN

Versi lebih lengkap dan detail, terutama di dua section terakhir silakan tengok nanti di https://antoix.wordpress.com

#kepadaawan, terimakasih sudah membuat trip hari itu menjadi lebih brutal dan berkesan… Segeralah datang ke Sumatera dan Kalimantan… kami butuh hujan

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
instagram.com/bikewearr/


Dalby Forest, aku kembali setelah dua tahun…

Dalby, Aug 20, 2015

Dalam tiga tahun terakhir, eh atau lebih ya? post saya di blog ini jadi jarang banget. Ini dalam rangka mencoba menulis lagi, mulai dengan menyelesaikan cerita tentang Bali XC Marathon 2015, dan sekarang post ini. Pusing juga sih, segitu banyak hal berkesan tentang sepedahan yang belum ditulis…

Perjalanan ini sebenarnya adalah perjalanan pembalasan dendam, dua tahun lalu sempat sudah sampai Dalby dengan susah payah dan mahal, namun hanya untuk menjumpai center nya ditutup karena sampai hanya 15 menit sebelum jam 5 sore. Setahun lalu sampai trauma dan tidak mencoba namun tahun ini sudah tidak ragu untuk memenuhi keinginan lama ini. Sangat tidak menyenangkan untuk diingat kembali.

Selama perjalanan kali ini saya menginap di kota York, dan pagi pagi sudah berada di stasiun bis untuk menuju ke kota terdekat dengan Dalby Forest, yaitu Thorton Le Dele. Silakan ikuti link untuk info tentang Dalby Forest…. Dipilih transportasi bis karena ini adalah transportasi pilihan termurah, dibandingkan kereta apalagi taxi atau sewa mobil.

Pengalaman baru juga pagi itu adalah menikmati suasana sebuah tea room. Hidangan yang unik dengan suasana menikmati teh yang belom pernah saya rasakan dimanapun. Mungkin karena ini adalah kota sangat kecil, jadi suasananya masih sangat asli.

Resiko naik bis ke kota terkecil ternyata adalah tidak ditemukannya kendaraan umum menuju lokasi. Sempat bertanya juga nomor taksi tapi kebayang kalau ongkos taksi bakal memasukkan ongkos pp dari pangkalan ke remote area kota kecil ini. Lihat peta sebentar, dan memutuskan untuk jalan, dan harus segera dimulai karena otomatis waktu gowes juga terpotong. Ayo kita awali dengan hiking, dan ternyata memerlukan 1 jam!! Sebuah rumah di tengah desa, dengan sederetan sepeda diparkir rapi, seragam. Inilah pasti tempatnya Dalby Bike Barn.

Legaaaanya… segera register buat pinjam satu sepeda dan ditawari pinjam setengah hari ataupun all day. Juga ada pilihan pinjam hardtail atau full suspension bike. Semua sepedanya SCOTT. Sejak survey info sudah mengincar akan mengambil ‘red route’ tapi petugas bike rent bilang kalau ‘unless you are very fit…” sambil menyarankan ambil ‘blue route’ yang lebih ringan. Dia juga bilang ‘red route will need a whole day…”

Oke deh, daripada berkelanjutan saya iya in saja. Yang terpenting dapat pinjaman sepeda, syaratnya adalah meninggalkan paspor. Nah beli juga peta nya rute, meskipun sebenernya dengan mengikuti petunjuk trek sangatlah jelas dan hampir tidak mungkin tersesat.

Dimulai start dari Bike Center, lalu mulai naik bukit, naik dan naik, masuk ke dalam hutan. Kondisi trek nya sangat enak. Perfect. Jadi semacam conical seperti bentuk lengkung telur hampir di seluruh part. Besepeda jadi nyaman sekali. Sesampainya di ujung tanjakan saya kaget ternyata sudah berada di titik tertinggi ‘blue route’. Waduh, baru 30 menit. Jatah maksimum 3 jam sewa sepeda harus dimanfaatkan maksimal…. Melongok ke peta (untung beli) segera mencari jalan bisa nyambung ke red route. Sambil terngiang kembali kata kata petugas di bike centre, “… unless you are very fit, I don’t think you should take the red route”… Coba ya mas mas, saya barusaja selesai ikutan Bali XC Marathon dan menjalani 8 bulan latihan sebelum event…

Setelah melewati jalan aspal memotong trek maka bertemulah dengan ‘red route’. Begitu memulai rute merah ini segera terasa betapa sotoy (sok tau-sok jago) nya saya. Trek nya jauh lebih teknikal, walaupun sama, kondisinya masih bersih dari rumput dan sampah, kalaupun ada batu penghalang trek, tampak sekali memang batu itu adalah bagian dari trek. Pantesan untuk rute merah dan gowes jadwal seharian disarankan untuk menyewa full-suspension bike.

Terseok seok mulailah menghandle bagian red-route ini, terasa signifikan bedanya. Secara umum permukaan track lebih variatif, ada batu dan akar. Selain itu kemiringan tanjakan dan turunan juga lebih curam dibandingkan yang blue-route. Dengan terengah engah mulai melewatinya. Di area red-route juga pesepeda nya jauh lebih jarang, sehingga saat gowes sendiri begini terasa lebih sepi karena jarangnya bertemu dengan pesepeda lain di trek.

Meskipun tergopoh gopoh secara fisik dan cukup kesepian plus kedinginan (suhu trek sekitar 12-14 degC meskipun cerah ada matahari) tapi keputusan ambil red-route akhirnya terbayar lunas oleh pemandangan sebuah lembah terbuka. Sangatlah Inggris utara, lembah dengan hutan dan rumah yang sangat jarang, landscape nya seperti yang selama ini saya sering lihat di wallpaper standard. Luarbiasa.

Selain itu ada hidangan lain berupa rimbunnya hutan. Ya hutan dengan vegetasi yang berbeda samasekali dengan yang biasa kita temui di daerah tropis. Memang agak gelap saking rindang nya dedaunan, tidak ada orang yang merambah dan mencari kayu mungkin, tapi sungguh pengalaman yang sulit diungkapkan dengan kata kata.

Salah satu yang sangat berkesan dari pengalaman ini adalah betapa sangat jelas nya petunjuk jalan. Ada di tiap kita mendapat pilihan jalan, di sepanjang trek. Luarbiasa benar penataan nya. Sehingga selama di trek samasekali kita tidak ada keraguan, meskipun kita tidak bisa membaca peta atupun tidak membawa peta saya yakin kita tidak akan nyasar. Sangatlah jelas kemana arah black-route, red-route, blue-route, green-route dan yang menarik juga adalah escape-route. Sore itu karena sudah terdesak batas waktu penyewaan sepeda dan jam terkhir bis dari Thorton le Dele, maka saya akhirnyat tidak menyelesaikan seluruh red route dan ambil escape route kembali ke bike center.

Diakhiri dengan kembali hiking sekitar 6km lalu naik bis kembali ke York, berakhirlah perjalanan ini. Di sepanjang jalan selama hiking dan selama naik bis sangat sering kita bertemu dengan mobil keluarga lengkap dengan roof rack, sepeda bapak sampai anak anak di atas roof, atau malah sepeda sekelompok grup cyclist. Pas hiking pengen rasanya melambaikan tangan minta tumpangan ke mereka. Sampe York berjakan menuju hotel dari stasiun tempat turun bis saja kaki rasanya sudah susah digerakkan, berat banget. Untungnya petualangan hari ini ditutup dengan menemukan sebuah restoran masakan Indonesia, mendengarkan dan berbicara dengan waitress nya yang bahasa Jakarta banget. Lumayan bisa menambal rasa kangen setelah seminggu makan makanan hambar. Rasanya makanan restoran ini gimana? Jangan tanya deh. Membayar sekitar 30GBP atau sekitar 600rb rupiah untuk sepiring nasi rames dan semangkuk sayur asem rasanya sudah harus enak kan meskipun entah apa itu isinya…

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
instagram.com/bikewearr/


What a 72 km ride… Bali Mountain Bike Marathon 2015

DCIM101GOPRO

DCIM101GOPRO

Bali, 6 Juni 2015

Inilah saatnya datang juga. Seperti tidak percaya akhirnya ikutan event mountain bike marathon ini, suatu event yang semula saya tidak bayangkan saya akan mampu melewatinya, bahkan selama persiapan baru sebulan belakangan terusterang dapat merasakan rasa percaya diri untuk mampu finish di event ini. Ya, untuk mencapai keyakinan mampu finish dan tidak perlu terkena cut-off saja perlu waktu panjang buat saya.

Sore itu di penginapan, melihat nomor start race nempel di sepeda kok terasa asing sekali. Saya gak pernah ikutan race, ini adalah partisipasi pertama saya dalam race sepeda gunung. Ada perasaan aneh dan canggung namun juga haru. Sudahlah, tidak perlu terlalu dipikirkan.

Malam berusaha tidur, tapi kesulitan. Terlalu banyak hal baru yang akan datang hari esok.

DCIM101GOPRO

DCIM101GOPRO

Bali, 7 Juni 2015

Pagi ini dimulai dengan sangat santai, bahkan kami baru meninggalkan penginapan dengan waktu yang mepet ke waktu start. Mobil hanya bisa mengantar sampai bawah, dan sambil mengikuti petunjuk jalan menuju titik start saya semakin terkagum dengan kawasan black lava Gunung Batur ini. Luarbiasa, baik secara pemandangan untuk mata, dimana sangat eksotis dan lain dari yang lain, namun juga dari sisi karakter trek nya sebagai pesepeda gunung, campuran antara batu dan pasir. Dan kalau sudah nanjak offroad ke arah titik start, maka kita jumpai bagian trek yang sangat unik karena jenis dan karakter rolling batu nya yang juga unik.

Tempat start dan finish pemandangan nya luarbiasa, harus diakui ini tempat yang tepat untuk urusan pemandangan dan tingkat kesulitan trek. Sudah kebayang nanti akan finish uphill menuju titik ini di akhir lomba, bakal berat.

DCIM101GOPRO

DCIM101GOPRO

Area start dan finish ini pun terasa sempit sebenarnya. Dengan begitu banyak pesepeda akan start bersama langsung terasa penuh. Lomba sendiri diikuti oleh pesepeda dari berbagai bangsa. Dari total sekitar 120 peserta tahun ini, kurang lebih 20-30 orang adalah ekspatriat eropa/amerika. Ekspatriat asia susah dideteksi kecuali dari jersey yang mereka kenakan atau dari bahasa mereka, tapi perkiraan saya sekitar 30-40 orang juga. Bisa dibilang 40-50% saja pesepeda dari Indonesia sebagai tuan rumah.

Saya ber-tiga dari tim CikarangMTB, nyelip diantara kerumunan di belakang, lalu kita gowes santai start turun ke jalan aspal. Di jalan aspal inilah start sebenarnya baru dimulai. Perasaan campur aduk dan adrenalin memuncak, saya berusaha mengimbangi rombongan depan, dimana ternyata hanya mampu bertahan sebentar.

DCIM101GOPRO

DCIM101GOPRO

Trek dimulai dengan aspal rata dengan beberapa tanjakan rolling menyusuri tepian danau Batur menuju Desa Terunyan, desa yang terkenal dengan adatnya membiarkan jenazah warga yang meninggal dengan didiamkan dibawah salah satu pohon di dalam desa.

Pesepeda yang sudah mencapai titik balik, pasang stiker pertama, dan balik lalu papasan dengan kami yang sendang menuju titik balik. Tampak lomba dipimpin oleh pesepeda dengan jersey NINER. Baru kemudian tau kalau pesepeda berjersey NINER adalah pesepeda dari Singapore yang baru saja kembali dari ABSA Cape Epic 2015. Para pesepeda tim nasional seperti Trio Jabar dan Fanani pun tampak dibelakang sedikit. Rupanya inilah saat terakhir saya bisa melihat peleton depan, selanjutnya hanya akan melihat sebagian dari mereka di garis finish dan penghormatan pemenang.

Trek aspal biasanya membosankan buat saya, tapi kali ini agak lain, karena aspal pula saya bisa agak mengikuti peleton, saat berbalik saya berada di buncit diantara ketiga rekan CikarangMTB dan berada di tengah dari seluruh rombongan peserta.

Black Lava

Black Lava

Trek kembali ke arah black lava titik start, dan sebelum mencapai titik start kita berbelok langsung menembus black lava. Kecepatan saya langsung turun drastis, trek pasir dan batu, jalan doubletrack yang dilewati oleh truk pengangkut pasir, dan beberapa kali berpapasan dengan pengangkut pasir di trek. Hari belum terlalu terik, namun trek sudah memberikan pantulan panas yang terasa sampai ke muka.

Ini adalah kedua kalinya saya gowes di area black lava ini, dan tidak juga berhenti kagum dengan suasana yang ditimbulkannya. Ada teman teman yang bilang kalau seperti di bulan atau di planet Mars.

Keluar dari area offroad black lava kita bertemu jalan aspal, beberapa part jalan aspal dibuat menembus kawasan lava yang sudah mengering. Benar benar seperti batu besar yang mencuat dari perut bumi. Aktualnya memang seluruh kaldera selebar 10km ini adalah sebuah kawah gunung. Kadang kalau dipikirkan kita berdiri diatas bumi yang sangat rentan, yang bisa meletus sewaktu waktu.

DCIM101GOPRO

Tanjakan Iblis

Akhirnya sampailah di area yang paling menarik dari lomba ini, apa yang disebut sebagai ‘Tanjakan Iblis’ oleh Om Indra GBT, sementara oleh segment strava disebut sebagai ‘Lung Buster’. Area ini lengkap sekali, water point sebelum dan setelah segment, banyak fotografer dan penonton, dan seperti tampak di foto sebelah ini saya memilih untuk lari di awal, lalu disambut ttb, memang inilah apa yang sudah direncanakan dengan single chainring bike… It’s an excuse, but a valid one… Om Atoe rekan saya sukses all way digenjot dari bawah.

Tapi ternyata tanjakan yang singkat ini memberi kesempatan buat rider untuk berinteraksi. Sempat ngobrol dengan beberapa peserta lain. Unik juga melihat peserta ladies sepeda nya di ttb in sama rekan dan this lady biker ambil foto rekan rekannya….

Setelah all the way dari start kita in rush rush heboh, tiba tiba ketemu keadaan yang fun!

DCIM101GOPRO

to highest 1400 mdpl

Tanjakan dengan gradasi maksimal sampai 24% ini (tengok segment Strava…) pun akhirnya berakhir, lalu kita disuguhi jalan mulus nanjak menuju titik tertinggi trek di 1650 mdpl. Tanjakan ini meskipun sebenernya gowesable dan mulus namun benar benar menguras fisik. Untuk pertama kalinya sejak start saya putuskan ambil waktu sekitar 3 menit buat berhenti, duduk dan makan cokelat, hanya sekitar 50 meter dari puncak 1650 mdpl yang juga merupakan pos pemeriksaan dan pemasangan sticker yang kedua.

Alhamdulillah dapat Pocari dan pisang di pos ini…

Selanjutnya gowes sendirian teringat gowes awal Januari lalu, lewat daerah Sukawana. Lalu trek berlanjut dengan onroad turun melewati punggung kaldera pertama (kaldera luar Gunung Batur). Trek pada dasarnya turunan dari 1650 mdpl menuju 1200 mdpl melewati daerah Pinggan, Siyakin dan Belandingan berakhir di pos pemeriksaan ketiga di Songan.

DCIM101GOPRO

Desa Surga

Bagian trek berikutnya adalah bagian trek yang saya belom pernah coba, saat trial trek Januari lalu tidak ambil jalur ini. Trek bagian ini cukup ganas juga karena diawali dengan jalan makadam yang rusak dan nanjak. Trek bervariasi meniti antara dua area kaldera pertama dan kaldera kedua Gunung Batur. Secara fisik melewati sebuah sungai dan kemudian ada tanjakan jalan semen yang bikin putus asa, meskipun tidak sampai bikin kraam.

Bagian trek ini sebenernya cukup berat apalagi setelah hampir satu jam kita disuguhi trek rolling lebih banyak turunan. Pemandangan ke arah gunung dan danau batur sebenernya indah sekali. Desa desa yang ada disini seperti berada di surga, meskipun kita lihat kondisi ekonomi desanya tampak tidak sejahtera.

Bagian trek ini saya sempat ambil sekali lagi pitstop makan cokelat sambil ambil foto trek dan pemandangan seperti di bawah ini.

Suguhan rolling dari titik di Ulun Danu Batur sekitar 1150 mdpl memuncak di titik 1300 mdpl dan kembali kita bertemu dengan ujung tanjakan iblis lung buster.

Trek pun sekarang melewati kebalikan saat berangkat, di area Yeh Mapeh inilah saya mendapat keajaiban pisang. Panitia menyediakan water points dan pisang. Wah saya langsung makan dua pisang dan kemudian seperti dapat energi baru.

Selain karena pisang, energi baru dan excitement luarbiasa saya dapatkan juga dari feeling kuat bahwa kita ternyata akan segera finish. Ternyata mampu!!!

Tidak bertemu banyak peserta lain saya mulai kembali memasuki area Black lava.

Setelah keluar dari jalur doubletrack tambang pasir, jalur utama dalam black lava, trek memasuki bagian yang tersulit, kita gowes pada intinya diatas batu batu hitam gunung Batur yang licin dan menggelinding gak jelas saat kita push. Ada frustasi nya juga, seperti juga saya lihat dialami para peserta lain, cuma dengan hawa panas yang sangat mirip cikarang-jonggol, area tempat kami berlatih, membuat saya malah bisa push dan melewati cukup banyak, sekitar 10 peserta lain. Kayaknya ini pengalaman pertama saya melewati peserta lain deh sejak dari awal start.

Serasa seperti di kampung sendiri karena panas nya, tiba tiba trek sudah masuk ke area ber-pasir, lalu area ber-vegetasi pohon, nah, ini membawa memori kembali ke trip awal 2014 sehingga saya yakin bahwa area finish sudah sangat dekat.

Alhamdulillah finish … Tanpa Evak!!! Sesuai target…
Perasan luar biasa yan tak mudah dilukiskan… Habis gowes 5.5 jam tapi masih ceria

Podium time[/caption]Hasil lengkap disini …
No start: 80
Position: 62
Class: Veteran
Time: 05;28;48;56
Toatal peserta: sekitar 130

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
instagram.com/bikewearr/


Bali Batur 2015 – Cross Country Mountain Bike solo 44km ride

DCIM101GOPROBatur-Bali, 2 Jan 2015

Saat menuliskan post ini, sudah lewat empat bulan lebih trip awal tahun 2015 ini. Masih sangat kesulitan mengumpulkan kata kata dan juga semangat. Saking terasa berkesannya ride ini jadi terlalu banyak ekspektasi. Inilah salah satu kesulitan menulis blog, saat kita menulis serasa tidak pernah bisa menggambarkan apa kejadian yang kita alami. Tulisan serasa tidak mewakili pengalaman.

Tapi sudahlah, ayo kita mulai saja cerita genjot sepeda sendirian ini.

Memang sudah direncanakan jauh hari untuk berlibur tahun baru, dan kali ini cukup istimewa karena bawa sepeda dan sudah dijadwalkan dari awal untuk menghabiskan satu hari untuk bersepeda. Menginap di Lakeview Hotel, pagi itu menghabiskan lebih dari satu jam untuk merakit sepeda. Ini baru pertama kali dialami selama ini dibutuhkan hanya untuk merakit, semua gara gara posisi anting RD yang dilepas dan rantai yang kacau ditambah tidak adanya chain-tools. Halah! Akhirnya dengan lega bisa melihat sepeda berdiri, waktu sudah menunjuk lebih sejam dari target semula start gowes. Seolah gowes hari ini dimulai dengan kekacauan… gimana ya gowes hari ini akan berjalan?

gerbang masuk ke area black lava

gerbang masuk ke area black lava

Setelah mengganti batere GPS, kebiasaan yang saya selalu lakukan kalau terutama untuk antisipasi gowes yang panjang dan akan banyak bergantung GPS. Dari area start Kintamani, sebuah wilayah di bibir kaldera pertama (kaldera lapisan luar) dari Gunung Batur. Trek perjalanan hari ini diperoleh dari tracklog Kang Indra Anggara, saat Bali XCM 2013. Memang mencoba trial di actual track Bali XCM ini salah satu alasan kuat perjalanan total tiga hari ke Pulau Bali kali ini. Asli penasaran banget seperti apa track nya. Hari ini akan gowes sendirian, dan waktu cek ke Kang Indra, infonya track ini masih berada relatif di tengah area yang dihuni. Jadi aman lah gowes sendirian…

Track dimulai dengan turunan aspal sampai ke tepi danau Batur. Kirim foto sebuah rumah makan yang tepat berada di mulut pintu masuk ke track. Foto dikirim agar tim support bisa nunggu disini nanti sore saat finish.

Tak lama setelah keluar dari jalan aspal pinggiran danau Batur, disambut trek lebar, dengan beberapa kali papasan dengan truk pengangkut pasir, maka kita segera disambut dengan area ‘black lava’. Rupanya penduduk di area start tadi tidaklah berelebihan saat bercerita, “… lewat black lava saja (sambil jari menunjuk ke gerbang), tempatnya indah sekali”.

DCIM101GOPROSudah sering saya gowes melewati banyak tipe kawah dan lansekap gunung, namun jelas area black lava-nya Batur ini sangatlah indah dan eksotis. Sangat minim (atau bahkan tanpa) vegetasi, semua serba hitam warna batu, dan bentukan fisik batu yang sangat unik. Menjadikan area ini seperti sebuah taman geologi, taman batu, rock garden.

Trip info:

Riding Specialized Carve 29″ hardtail
tyres: Maxxiss Ikon 2.2
uphill: 9/10
singletrack: 8/10
downhill: 8/10
technical: 8/10
endurance: 9/10
landscape view: 9/10

Tracklog http://www.bikemap.net/en/route/2909959-baturkintamani-yeh-mampeh-sukawana-belandingan-toya-bungkah-kedisan-44km/

Short YouTube video clip…

aa201501batur

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


WJxc Ride#17 – Gn Terate, Seminggu sebelum Kolozal#11

finishIMG-20130526-01068rCariu, 26 Mei 2013

Ijinkan saya memulai catatan kecil Cikarangmtb Kolozal#11… semoga tahan semangat nulisnya sampai tamat, karena pas nulis ini ngantuk banget dan juga sekujur tubuh bagian bawah cenut cenut semua. Sebut saja betis, paha, pantat, punggung… tapi herannya tangan kok tidak cenuth cenuth… bukti betapa enaknya gelindingan Ki Lobang… heheh…

Kisah berputar balik ke tahun 1800 saat VOC resmi dibubarkan. Pemerintah Belanda pun mengalami tahun yang berat dari 1800-1830 diantaranya ditandai dengan jatuhnya Batavia ke tangan Inggris, dikuasainya negeri Belanda oleh Napoleon dan Perancis, perang Diponegoro yang menguras, perang Belgia yang menjadikan berdirinya negara Belgia terlepas dari Belanda. Singkat kata akhirnya pemerintah Belanda menerapkan Tanam Paksa pada komoditi ekspor unggulan kala itu, diantaranya tebu dan kopi. Secara peraturan 20% dari tanah milik harus ditanami dengan komoditi ini. Kopi, yang bukan tanaman aseli Indonesia, aselinya berasal dari sekitar Ethiopia, ditanam secara meluas di Indonesia.

finishIMG-20130526-01077rLalu meloncat ke H-6 kolozal, adalah hari Minggu. Dengan niatan ‘mencari trek penutup yang lebih menampar’ maka tim kecil bergerak ke arah masjid Kubah Hijau, mencoba hidangan yang direncanakan sebagai hidangan penutup trek Cikarangmtb Kolozal#11. Ya, betul, dicari trek melambung, memutar sedikit agar lebih menampar.

“Kayaknya 27km terlalu pendek deh… ayo kita coba carikan jalan melambung”

Akhirul kata, pada akhir H-6 itupun diputuskan bahwa trek original, tidak perlu lambung melambung sudah sangatlah menampar. Termasuk didalamnya adalah rolling indah sepanjang sekitar 10km dari jembatan/Kuil Shaolin ke arah titik finish Mesjid Kubah Hijau.

Artinya? Survey hidangan penutup memutuskan kembali ke hidangan utama.

Ntar dulu. Apa hubungannya dengan Tanam Paksa?

Silakan menikmati dulu foto foto H-6. Sementara tim kecil yang punya niat ‘memberi tamparan akhir trek’ ternyata menemukan dirinya ditampar oleh trek survey yang melingkar lingkar di kaki Gn Terate. Menapaki jalan jalan makadam dengan sisa sisa tanaman kopi di kiri kanan secara sporadis. Terbayangkah dulu di 1800an ribuan orang harus menyumbangkan 66hari kerja dalam setahun, menjadi buruh tanpa bayar, memasang satu demi satu batu batu makadam begajulan yang kemarin kita lewati…

his ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


A Simple Heritage Cycling Ride… ride around Ayutthaya (En)

a warm morning welcome

a warm morning welcome

a 29 ride

a 29 ride

bike05Ayutthaya, 13 Jan 2013

This is my only second time to Thailand. This time I have more time, two night and tree days, yet I found to be not enough.

Going to Ayutthaya (see… http://wikitravel.org/en/Ayutthaya ) found after browsing with keywords ‘ruins’. Last experiences on photographing ruins always proven to be a worth to take visits: Situs Gunung Padang, Cetha Temple, Sukuh Temple, Ratu Boko Temple, Tamansari, Kraton Kaibon, Kraton Surosowan. I have become a ruin buildings fans. Ruins always giving a lot of exploration possibilities to take pictures. Ruins also giving us a feeling of drama. Ruins always dramatic. Visually ruins also giving a lot of visual, composition and content possibilities. Background history will add more on content of the photograph.

My other posts related to ruins (most of them in Bahasa Indonesia language):
Gunung Padang Megalith Ruins https://antoix.wordpress.com/2011/05/06/tgunung-padang/
Cetha Temple https://antoix.wordpress.com/2011/04/22/uphill-candi-cetha/
Kaibon and Surosowan Palace https://antoix.wordpress.com/2012/02/28/banten-lama/

Ruins of a temple, or once a military fortress, or once a royal palace already give us a shock and a lot of drama, this time we are talking about ruins of a city, ruins of an old capital of Siam. Ayutthaya, a city once inhabited by more than one million back in 16th century. A city full of prosperity and glory, full of luxury and greatness.

Ok, enough on the ruins story, let me write on the cycling trip…
What? Cycling trip?

Yes. This time I will not write on mountain bike ride as usual, this time about cycling around the old city of Ayutthaya. From one tourism spot to other.

Bicycle was not hard to find, rental in front of Ayutthaya Train Station already written as a reliable and cheap bike rental. It cost us around 1.0-1.2 USD per day. You only need to show your passport and they will take a copy of your passport. This copy will be returned back to us. The bicycle rental spot also widely known and write by blogger/fellow travelers, it was well known and easy to find.

Bicycle condition? Hey! It’s a 1USD rental, what do you expect? At least it was ready to be ridden, not mention the gears change problem off course. But anyway it’s not too much problem since the track was flat, unless the part hike across the Chao Praya river bridge. Some part of the city, especially in the area of temple complex, the road was not crowded and we have bicycle lane under the trees. Really enjoy the ride.

The tourism area also not too far to take on bicycle. Taking the Sleeping Budha site and Chao Praya river/Train Station was 10+ km ride

Although it’s not a mountain bike, it’s really give a spice to the city tour. You have a different feeling, got some sweat, meet other cyclist, take unique angle to picture the city. I really recommend you to take bicycle around the city. Yes, we receive some security precautions from the cycling-rental, not to put bags into the basket in front of the handlebar.

The same feeling as bike to work, while you on bicycle you will have a very different view of what’s around you. You move slower, you have more plan to see what’s around, you can have the smell (literally) of the streets.

Tacklog could be find here… http://www.bikemap.net/route/2015404

Distance: 10.4km
Terrain: asphalt city road, flat

map-ayutthaya

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr