enjoy every cadence, every breath…

Dalby Forest, aku kembali setelah dua tahun…

Dalby, Aug 20, 2015

Dalam tiga tahun terakhir, eh atau lebih ya? post saya di blog ini jadi jarang banget. Ini dalam rangka mencoba menulis lagi, mulai dengan menyelesaikan cerita tentang Bali XC Marathon 2015, dan sekarang post ini. Pusing juga sih, segitu banyak hal berkesan tentang sepedahan yang belum ditulis…

Perjalanan ini sebenarnya adalah perjalanan pembalasan dendam, dua tahun lalu sempat sudah sampai Dalby dengan susah payah dan mahal, namun hanya untuk menjumpai center nya ditutup karena sampai hanya 15 menit sebelum jam 5 sore. Setahun lalu sampai trauma dan tidak mencoba namun tahun ini sudah tidak ragu untuk memenuhi keinginan lama ini. Sangat tidak menyenangkan untuk diingat kembali.

Selama perjalanan kali ini saya menginap di kota York, dan pagi pagi sudah berada di stasiun bis untuk menuju ke kota terdekat dengan Dalby Forest, yaitu Thorton Le Dele. Silakan ikuti link untuk info tentang Dalby Forest…. Dipilih transportasi bis karena ini adalah transportasi pilihan termurah, dibandingkan kereta apalagi taxi atau sewa mobil.

Pengalaman baru juga pagi itu adalah menikmati suasana sebuah tea room. Hidangan yang unik dengan suasana menikmati teh yang belom pernah saya rasakan dimanapun. Mungkin karena ini adalah kota sangat kecil, jadi suasananya masih sangat asli.

Resiko naik bis ke kota terkecil ternyata adalah tidak ditemukannya kendaraan umum menuju lokasi. Sempat bertanya juga nomor taksi tapi kebayang kalau ongkos taksi bakal memasukkan ongkos pp dari pangkalan ke remote area kota kecil ini. Lihat peta sebentar, dan memutuskan untuk jalan, dan harus segera dimulai karena otomatis waktu gowes juga terpotong. Ayo kita awali dengan hiking, dan ternyata memerlukan 1 jam!! Sebuah rumah di tengah desa, dengan sederetan sepeda diparkir rapi, seragam. Inilah pasti tempatnya Dalby Bike Barn.

Legaaaanya… segera register buat pinjam satu sepeda dan ditawari pinjam setengah hari ataupun all day. Juga ada pilihan pinjam hardtail atau full suspension bike. Semua sepedanya SCOTT. Sejak survey info sudah mengincar akan mengambil ‘red route’ tapi petugas bike rent bilang kalau ‘unless you are very fit…” sambil menyarankan ambil ‘blue route’ yang lebih ringan. Dia juga bilang ‘red route will need a whole day…”

Oke deh, daripada berkelanjutan saya iya in saja. Yang terpenting dapat pinjaman sepeda, syaratnya adalah meninggalkan paspor. Nah beli juga peta nya rute, meskipun sebenernya dengan mengikuti petunjuk trek sangatlah jelas dan hampir tidak mungkin tersesat.

Dimulai start dari Bike Center, lalu mulai naik bukit, naik dan naik, masuk ke dalam hutan. Kondisi trek nya sangat enak. Perfect. Jadi semacam conical seperti bentuk lengkung telur hampir di seluruh part. Besepeda jadi nyaman sekali. Sesampainya di ujung tanjakan saya kaget ternyata sudah berada di titik tertinggi ‘blue route’. Waduh, baru 30 menit. Jatah maksimum 3 jam sewa sepeda harus dimanfaatkan maksimal…. Melongok ke peta (untung beli) segera mencari jalan bisa nyambung ke red route. Sambil terngiang kembali kata kata petugas di bike centre, “… unless you are very fit, I don’t think you should take the red route”… Coba ya mas mas, saya barusaja selesai ikutan Bali XC Marathon dan menjalani 8 bulan latihan sebelum event…

Setelah melewati jalan aspal memotong trek maka bertemulah dengan ‘red route’. Begitu memulai rute merah ini segera terasa betapa sotoy (sok tau-sok jago) nya saya. Trek nya jauh lebih teknikal, walaupun sama, kondisinya masih bersih dari rumput dan sampah, kalaupun ada batu penghalang trek, tampak sekali memang batu itu adalah bagian dari trek. Pantesan untuk rute merah dan gowes jadwal seharian disarankan untuk menyewa full-suspension bike.

Terseok seok mulailah menghandle bagian red-route ini, terasa signifikan bedanya. Secara umum permukaan track lebih variatif, ada batu dan akar. Selain itu kemiringan tanjakan dan turunan juga lebih curam dibandingkan yang blue-route. Dengan terengah engah mulai melewatinya. Di area red-route juga pesepeda nya jauh lebih jarang, sehingga saat gowes sendiri begini terasa lebih sepi karena jarangnya bertemu dengan pesepeda lain di trek.

Meskipun tergopoh gopoh secara fisik dan cukup kesepian plus kedinginan (suhu trek sekitar 12-14 degC meskipun cerah ada matahari) tapi keputusan ambil red-route akhirnya terbayar lunas oleh pemandangan sebuah lembah terbuka. Sangatlah Inggris utara, lembah dengan hutan dan rumah yang sangat jarang, landscape nya seperti yang selama ini saya sering lihat di wallpaper standard. Luarbiasa.

Selain itu ada hidangan lain berupa rimbunnya hutan. Ya hutan dengan vegetasi yang berbeda samasekali dengan yang biasa kita temui di daerah tropis. Memang agak gelap saking rindang nya dedaunan, tidak ada orang yang merambah dan mencari kayu mungkin, tapi sungguh pengalaman yang sulit diungkapkan dengan kata kata.

Salah satu yang sangat berkesan dari pengalaman ini adalah betapa sangat jelas nya petunjuk jalan. Ada di tiap kita mendapat pilihan jalan, di sepanjang trek. Luarbiasa benar penataan nya. Sehingga selama di trek samasekali kita tidak ada keraguan, meskipun kita tidak bisa membaca peta atupun tidak membawa peta saya yakin kita tidak akan nyasar. Sangatlah jelas kemana arah black-route, red-route, blue-route, green-route dan yang menarik juga adalah escape-route. Sore itu karena sudah terdesak batas waktu penyewaan sepeda dan jam terkhir bis dari Thorton le Dele, maka saya akhirnyat tidak menyelesaikan seluruh red route dan ambil escape route kembali ke bike center.

Diakhiri dengan kembali hiking sekitar 6km lalu naik bis kembali ke York, berakhirlah perjalanan ini. Di sepanjang jalan selama hiking dan selama naik bis sangat sering kita bertemu dengan mobil keluarga lengkap dengan roof rack, sepeda bapak sampai anak anak di atas roof, atau malah sepeda sekelompok grup cyclist. Pas hiking pengen rasanya melambaikan tangan minta tumpangan ke mereka. Sampe York berjakan menuju hotel dari stasiun tempat turun bis saja kaki rasanya sudah susah digerakkan, berat banget. Untungnya petualangan hari ini ditutup dengan menemukan sebuah restoran masakan Indonesia, mendengarkan dan berbicara dengan waitress nya yang bahasa Jakarta banget. Lumayan bisa menambal rasa kangen setelah seminggu makan makanan hambar. Rasanya makanan restoran ini gimana? Jangan tanya deh. Membayar sekitar 30GBP atau sekitar 600rb rupiah untuk sepiring nasi rames dan semangkuk sayur asem rasanya sudah harus enak kan meskipun entah apa itu isinya…

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
instagram.com/bikewearr/

2 responses

  1. inspiratif,… salam kenal dari wong banyumas

    September 26, 2015 pukul 7:32 pm

  2. wow keren nih gan gowesnya..:p sukses trus yah gan🙂 hehe

    oya ane ada tips n trik dalam bergowes nih http://www.elementmtb.com semoga bermanfaat yah gan^^ semangat gowesnya~

    Oktober 13, 2015 pukul 8:49 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s