enjoy every cadence, every breath…

WJxc#50 Hambalang dan The Real Anaconda Track ke Cibadak Curug Barong

Sentul, 12 September 2015

Tulisan di blog ini tambah sedikit, maaf para pemirsa (kalau masih ada), dan terimakasih kepada yang masih bersedia menengok blog ini. Kali ini saya coba cara lain untuk mempercepat post blog, segera tulis pengalaman tidak lama setelah gowes selesai, biar excitement nya belom lewat.

Ini juga mark WJxc ride #50. Tak terasa sudah ada 50 genjot mtb area Jawa Barat yang berbeda selama 3 tahun sejak dimulai catatan seri ini September 2012. Ide awalnya adalah membuat list destinasi bersepeda gunung di Jawa Barat dan mendokumentasikan dalam gambar dan tulisan. Catatan tulis nya sangat minim, tapi catatan gambar nya lumayan lengkap ada di album foto

Setelah melewati kehebohan jalan beton Babakan Madang, kita mulai nanjak dan gotong bike garagara dua jembatan yang diperbaiki. Nostalgia kembali ke bertahun lalu melewati rute ini, jembatan besar dan jalan yang sudah mulus, agak kecewa karena di ride sebelumnya ini adalah daerah makadam jahanam nanjak yang seru. Saya agak push karena excited setelah tiga minggu dua weekend tidak gowes serius, push push sampai terperanjat melihat HRM menunjukkan angka tertinggi sepanjang sejarah 188 bpm. Tampaknya saya terlalu bersemangat … I’m just way too excited

Lalu saya berusaha menenangkan diri dan menarik napas jauh lebih panjang, segera saja Om Atoe, Eyang dan Om Fajar nyalip. Dan ini adalah terakhir kali saya lihat Eyang dan Om Fajar, nanti ketemu lagi di titik finish, yah… begitulah GGB (Gowes Gak Berenti): start barengan, semua berusaha gak brenti, maka finishnya dan di track nya gak barengan.

Sementara di sisi kanan segera tampak gerbang ‘Proyek Sarana Olahraga Hambalang’. Memang sudah banyak sekali yang berubah dari trek ini termasuk jalan menanjak ini yang sekarang sudah di beton. Hambalang memang seperti kasus nya di yang kita dengar di media, dia naik dan naik terus, tidak memberi pesepeda titik ambil nafas. Hmmm… Tapi ini tidak berlaku untuk saya, segera saya berhenti setelah monitor heart rate menunjuk angka 175 bpm. Om Atoe semakin menjauh nanjak dan hilang ditelan tikungan. Ibu-ibu di sebelah track sampe nanya, “…aya naon??”. Maksudnya belio bertanya, apa saya ada masalah dengan sepeda kok berhenti, saya pun segera melanjutkan perjalanan, dengan mendorong sepeda.

Turun dari Hambalang[/caption]Setelah berhenti lagi di depan sebuah SD akhirnya sampai juga ke kampung puncak Hambalang, kampung yang sangat fenomenal dalam memori bersepeda saya. Ada kejadian dengan ketersinggungan penduduk setempat di sebuah warung di masa lalu, salah satu kejadian yang menempel sampai lebih dari lima tahun. Sampai lagi di sekitar warung terakhir itu, lalu minum dua gelas ale ale seperti tidak berasa. Isi penuh air di bidon.

Ambil napas banyak sekali saya di warung puncak Hambalang, saya yakinkan Eyang, Om Fajar TS dan Om Atoe enggak butuh napas sebanyak saya karena mereka tidak tampak disini. Perjalanan saya yang lalu ke Hambalang setelah titik ini adalah perjalan pulang lewat Anaconda menuju Sentul kembali, namun trek kali ini jauh berbeda, katanya Hambalang ini barulah tumpeng pertama, masih ada tiga tumpeng lagi: Gn Pancar, Km O-Curug Panjang, Gn Geulis. Kok rasanya perjalanan jadi masih jauh banget ya?

Emaaaangggg…..

Selanjutnya adalah turun turun dan turun. Paduan antara singletrack doubletrack dan jalan makadam. Wah kalo udah turunan jadi ingat ban belakang yang tipis, setiap kali speed ketinggian dan rem maka ban belakang skid, ngepot seolah mau nyalip ban depan. Saya nikmati turunan panjang dalam kesendirian dalam kekhawatiran. Bukan khawatir salah jalan tapi khawatir melihat jalan meliuk nanjak di depan… Akhirnya segala turunan berhenti di sebuah sungai yang hampir kering.

Oke ayo dengan ikhlas kita gowes nanjak setelah sungai ini. Trek tampak seperti jalan masa depan, mungkin pemerintah baik hati sudah memikirkan akses dari Sentul City ke Cibadak tapi tidak lewat Babakan Madang- Cibinong. Selalu ada banyak orang baik hati, cuma tanjakan tanah ini saja yang kurang baik hati karena serasa gak habis habis. Entah kenapa nanjak disini serasa istimewa, rasanya kok berat tiada habis. Yang unik lagi juga setiap mencapai HR tinggi, lama banget untuk bisa turun kembali ke normal. Kenapa ya?

Di ujung tanjakan ada pilihan singletrack kekiri, bener trek gps menunjuk kesitu. Disambut pemandangan kering yang indah. Jalan meliuk liuk singletrack agak ekstrim turunannya. Sementara di kejauhan tampak lembah dan sungai lalu sudah kembali menunggu tanjakan ke rerimbunan pohon di atas bukit. Nah, itu rupanya desa yang kita tuju.

Aseli ini single track bikin ekstra hati hati karena setiap kali ban belakang yang profilnya lebih gundul seolah mau nyalip saja ban depan. Segerombolan Pramuka dan seorang guru nya tampak bercengkerama di pinggir sungai. Indah sekali. Suasana belajar yang gak mungkin diperoleh di Cikarang Baru. Tanjakan miring berkelok dan bertemu seorang pramuka kecil bawa buku dibawah pohon bambu. Pohon disini aseli kecil kecil, sangat susah menemukan pohon pada ukuran untuk bisa hanya berteduh saja. Saya pun berhenti dan berbagi snekers cokelat dengan pramuka kecil. Udah disogok cokelat, si pramuka tetap jujur memperlihatkan dengan tangannya kemiringan tanjakan yang menunggu didepan…

“…tebih keneh…”

Akhirnya dengan susah payah masuk lah ke kampung, ternyata ada SD nya rame, ternyata di kampung ini bertemu dengan Om Atoe, Om Sigit dan Om HPW. Cukup lega ketemu mereka, meskipun agak gondok juga, karena terakhir kali saya melihat rekan lain di belakang adalah saat saya mulai nanjak dari sungai kecil hampir kering, rekan rekan ini hanya tampak seperti titik titik di kejauhan, lha kok sekarang barengan.

Om Sigit dan Om Atoe tampak mampir ke warung, saya sotoy dan enggak refill bidon dengan air minum. Sesuatu yang saya sesali kemudian. Dari titik ini tiga pesepeda melanjutkan perjalanan segera, dan di sebuah pertigaan kebingungan membaca arah trek. Dengan hanya sedikit diskusi, kita putuskan belok ke kanan, yang ternyata salah. Sempat re-check di tengah, dan ternyata masih membuat analisa yang salah dan bertiga makin dalam nyasar ke arah turunan panjang, yang tentunya kemudian menjadi tanjakan panjang saat diputuskan kembali.

Nyasar ini tidak hanya menghabiskan air minum saya, namun juga mulai menghabiskan tenaga saya. Trek rasanya panas sekali (baru kemudian dikonfirmasi kemudian kabarnya suhu trek mencapai 41 derajat celcius), air habis, cokelat masih satu tapi lembek, maka saya pun mulai memakai jurus dorong di tanjakan. Pokoknya jalan terus saja daripada berhenti dan kehilangan waktu. Meskipun pelan tetap maju. Om Sigit sudah tidak tampak lagi di belakang, Om Atoe sempat menunggu di titik yang meragukan.

Untuk digambarkan trek bagian ini adalah trek jalan tanah, kadang bercampur makadam dan pecahan batu alam, lalu hampir tanpa vegetasi samasekali, hanya ilalang dan beberapa area bekas terbakar di musim kemarau. Mau berteduh pun tidak ada tempat karena tidak ada pohon. Di beberapa tempat ada semacam saung, mungkin bekas warung, tapi samasekali tidak ada penghuninya.

Di salah satu sisi trek akhirnya kita bisa melihat jelas jalan raya Cibadak, jalan aspal dari arah Cibinong menuju ke Sukamakmur. Posisi trek ini diatas jalan itu dan banyak kesempatan trek berada di balik bukit. Akhirnya seperti anugerah trek berubah menjadi campuran turunan dan mendatar, melilit bukit dan akhirnya kita bertemu banyak rumah dan perempatan jalan aspal rusak. Akhirnya bertemu peradaban, tapi warung belum tampak. Yang tampak pertama adalah papan petunjuk belok ke arah Curug Barong.

Di sebelah sebuah jembatan akhirnya kami menemukan warung, dengan lemari es!!! Kalap saya minum berturut turut empat botol 500mL minuman teh gelas. Disini juga bertemu dengan rombongan Om Gun bersama dua orang rekannya.

Semangat banget setelah ketemu air dingin dalam lemari es, maunya berhenti tidak lama dan secukupnya saja mulai gowes lagi. Heran sekali baru mulai sudah lemas, dan tanjakan tidak berhenti menuju titik tertinggi Curug Barong. Meskipun trek lebih bersahabat dibandingkan saat di tengah gurun tadi, namun di satu titik saya rasakan energi hilang samasekali. Padahal tidak kraam dan tidak kehilangan semangat, namun aseli tidak lagi ada energi dan sedikit goyang karena keseimbangan terganggu. Saya putuskan tiduran di pinggir trek. Satu persatu rombongan Om Gun menyalip. Disinilah diputuskan untuk menyelesaikan saja trip ini dan kembali ke Bakmi Golek.

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
instagram.com/bikewearr/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s