enjoy every cadence, every breath…

Posts tagged “travel

Langkawi MTB Marathon ride #kepadaawan

Langkawi Island, 18 Oktober 2015

Trip ini sebenarnya dirancang untuk mengikuti LIMBC 2015, Langkawi International Mountain Bike Challenge yang penyelenggaraannya dibatalkan hanya sekitar sebulan sebelum acara. Kami tim dari Cikarang MTB GGB sudah memesan tiket pesawat dan booking hotel akhirnya tetap berangkat dan menjalani trek berdasarkan tracklog dari peserta event sebelumnya.

LIMBC total track

LIMBC total track


DCIM203GOPROAyo kita mulai menuliskannya. Mohon maaf ya kalau pabaliut, karena berbagai keterbatasan tapi pengen juga berbagi cerita, selamat menikmati dan silakan bersabar kalau ternyata sambungannya nunggu lama (disclaimer)

“Buset tanjakannya miring banget, belok patah, belom pernah saya seperti itu”
“Kita udah naik gak taunya puncak ada di bukit sebelahnya, pakai panjang lagi”
“Kayaknya saya mau pindah deh dari dua**tiiiiiitt** ke dua**tuuuutt**, frustasi ketemu tanjakan kaya tadi”

Section 1 AYER HANGAT

Section 1 AYER HANGAT

Sebagai member trip yang datang sehari lebih lambat dari seluruh tim, saya elus elus paha saja. Sambil membayangkan keputusan pemilihan chainring semalam…

Pagi itu semua berjalan seperti yang dibayangkan, rekan gowes saya hari ini adalah dua rekan yang sudah jelas akan memberikan cipratan air ban belakang ke muka saya. Waktu kami keluar dari hotel, yang berada di bagian selatan pulau, area bernama Kuah, maka sudah terbayang tuh mendung tampak berat banget di atas kepala. Tinggal menunggu saatnya mendung runtuh dan menimpa kita semua…

Dilepas dua rekan yang tidak ikutan gowes hari ini, karena kondisi tubuh yang tidak fit, maka saya hanya berusaha menakar adrenalin saya supaya tetap terjaga, tidak terlalu bersemangat… Semua yang terlalu kan salah…

Kita gowes onroad dulu, dan baru belokan pertama hujan rintik semakin besar butirannya sudah langsung menyambut. C’mon… ini baru jam 730 pagi… Setting hari ini tanpa tas, tanpa p3k, semua tools dan alat di saddle bag, hanya hape, batt cadangan, dan uang saja di saku. Going light… and ready for a wet rainy day…

#kepadaawan saya minta kerjasamanya yang baik yaaa… awan yang baik…

DCIM203GOPROPerasaan campur aduk saat kami lewat jalan on road melewati pusat olahraga, Olympic Center. Semestinya disini nih titik start… huh… Sambil menikmati air hujan yang merembes masuk ke kulit, gowes pun segera saja keluar dari jalan besar. Masuk ke Hutan tak jauh dari Olympic Center…

Inilah segment pertama hutan kita hari ini. Memang trek nya unik, pada dasarnya trek berputar mengelilingi pulau, ada jalan on-road mulus banget kondisi sangat bagus, tidak pernah lihat jalannya ada lobang samasekali. Muluz. Nah trek kita hari ini, yang merupakan trek Langkawi International Mountain Bike Challenge, stage pertama untuk multistage nya, atau stage XCM untuk kelas marathon nya.

Singletrack hutan segera menyambut, hutan meskipun rimbun tapi singletrack tampak terawat. Di beberapa tempat memang kita ada batang pohon tumbang yang menghalangi jalan, namun tampak sekali itu area sangat minim paparan manusia. Hanya hutan hutan dan hutan. Tidak ada pohon cabe, tumpangsari kopi, sisipan pohon wortel, seperti umumnya yang kita lihat di Tanah air. Hujan mulai berhenti dan datang lagi secara bergantian. Kami bertiga tidak terlalu memperhatikan hujan lagi, karena suguhan trek nya makin asyik.

DCIM203GOPROSetelah singletrack cenderung lurus landai, maka trek mulai deh meliuk liuk, traverse, melipir. Di tengah pulau ada satu gunung yang namanya Gunung Raya, dan trek ini pada dasarnya memutar mengelilingi gunung ini. Di satu area akhirnya kita ketemu dengan sungai. Airnya jernih banget. Salah satu rekan segera melakukan ritual nya. Belio membuka bidon, kemudian mengisi penuh bidon dengan air kali, kemudian meminumnya dengan sangat khidmat. Saya saja sampai deg deg an ngelihat nya. Persis perasaan seperti menonton ritual adat…

Entah kenapa peristiwa bertemu sungai ini seperti memberi nuansa lain buat tim, tadinya agak grogi campur semangat campur excited, sambil membayang bayangkan jika dan hanya jika event nya tidak dibatalkan, tentu kami sedang berusaha ngebut dan dengan mood gowes yang kompetitif. Adanya sungai ini membuat kami berhenti, ketawa, foto selfie karena memang nyeberang sungai dengan batu batu tidak gowesable. Kami seolah baru sadar kalau kami sebaiknya lebih menikmati trip ini tanpa ketegangan.

DCIM203GOPROTrek mulai meningkalkan ke landaiannya dan mulai menjalani kemiringan yang tidaklah terlalu sopan. Beberapa masih gowesable, ada juga bagian yang mulai membuat kami ttb bersama. Trek menjadi semakin teknikal. Kemiringan, kecuaraman, dan juga jenis permukaan trek yang variasinya tidak selalu Tanah, kadang batu, kadang serakan batu lepas, kadang Tanah keras, kadang lumpur. Untungnya lumpur karakternya jauh dari yang di Cikarang, lumpur nya tidak lengket. Tapi tetap saja licin…

Karakter trek secara keseluruhan adalah di guide oleh jalan raya aspal keliling Gunung Raya. Sementara trek menyimpang keluar segment per segment ke arah hutan, baik kiri ataupun kanan jalan. Bagian pertama hutan, segment pertama keluar dari jalan ini kita namakan saja Segment Ayer Hangat, sesuai nama daerah didekatnya.

Kepadatan vegetasi juga berubah ubah. Ada yang jalannya terbuka, doubletrack, ada juga banyak yang jalannya singletrack dan di beberapa area cenderung gelap karena tertutup pepohonan. Sungguh pengalaman berbeda buat saya, karena aseli panjang banget. Singletrack hutan paling panjang yang saya pernah lewati selama ini adalah Ciharus di Garut, yang ini lebih panjang lagi. Singletrack gelap dalam hutan tropis dataran rendah yang basah…

Pengalaman baru yang tak ternilai…

Meliuk dalam hutan lalu tiba tiba kita bertemu dengan jalan doubletrack dengan vegetasi agak terbuka, jalan lebih terang, lalu muncul lah jalan aspal sempit dan pagar yang terkunci… Haha!!! Gak di negeri sendiri gak di tempat orang, kok ya sama saja, ketemu pagar…

DCIM203GOPROSempat tertegun…

“Ada jalan Om…”
seorang rekan segera membawa sepedanya menerobos semak belukar ke sebelah kanan, masih di bagian luar pagar
Ya ya ya… tentusaja selalu ada jalan

Tim kemudian melewati sebuah lapangan, mirip lapangan bola, kemudian bertemulah kita dengan jalan aspal utama… Terlihat dengan jelas di sebelah lapangan papan nama… GUNUNG RAYA GOLF RESORT

Kami pun melewati jalan aspal mulus ini kembali. Seperti sebuah break ketegangan, kita bisa gowes ‘normal’ di jalan yang mulus, mengembalikan keseimbangan dan kondisi tubuh. Bisa dengan tenang menyedot air minum.

DCIM203GOPROTidak pernah lama rasanya di jalan mulus, trek kembali masuk ke vegetasi di sebelah kiri. Bretttt… Kaget setengah mati saya seperti ada yang menyambar lengan kiri saya. Berhenti saya tertegun melihat lengan panjang jersey, posisi di tengah antara pergelangan tangan dan siku, pas di tengah lengan kiri, sobek parah. Sempat panik lihat sobek jersi nya, saya periksa sebentar ternyata ada memang luka dan darah keluar dari luka nya. Darah segera membasahi jersey. Saya lihat ke belakang, apa tadi seperti benda ataupun sesuatu yang menahan. Ya, sobek jersey karena serasa seperti ditahan. Ternyata ada perdu berduri besar. Buset deh kaget saya lihat bentuk perdu nya. Besarnya duri duri nya menggetarkan hati.

DCIM203GOPROSegera saya gowes kembali karena sudah tertinggal lama dari dua rekan di depan gara gara berhenti memperhatikan luka dan perdu, eh ternyata mereka belum jauh dan sedang kebingungan karena jalan nya ilang… yang ada hanya semak semak setinggi orang dewasa serta vegetasi setinggi rumah. Nah loh… Sempat mencari beberap opsi, akhirnya kali ini benar benar balik dan kembali ke jalan aspal utama lagi.

Bener bener itu jalan sudah hilang, sudah tertutup oleh vegetasi mungkin karena setahun tak dipakai gowes dari penyelenggaraan tahun lalu

Kalau diperhatikan di peta google earth, tampak kalau area trek ini ada di antara jalan raya dan pagar lapangan golf. Tidak sampai 50m kami masuk lagi ke semak semak, mencoba kembali ke trek sesuai tracklog, dan kali ini setelah masuk terlalu dalam kita benar benar menghadapi situasi harus menembus campuran ilalang tinggi, dilengkapi dengan tanaman berduri yang menyayat nyayat betis kami bertiga. Mau balik kanan sudah tanggung karena jauh… hajar terus hantam… disertai dengan perih betis dan kaki.

DCIM203GOPROYang di pikiran saya cuma dua mahluk saat itu: lebah hutan yang sering berterbangan dan ular, semoga kami tidak mengganggu sarang mereka…

Syukurlah kemudian section ini bisa kami lewati dengan selamat, lalu trek masuk nanjak ke batas hutan lebat dan kemudian turun masuk ke kampung. Ada papan nama KAMPUNG BELANGA PECAH

Kami memasuki jalan raya kembali, serasa kembali ke rasa aman setelah jalan semak penuh ancaman terlewati.. kami pun memasuki etape berikutnya KILIM GEOPARK

02gn-raya-golfSegment Kilim Geopark ini trek berubah lagi. Setelah hutan tropis basah di segment Ayer Hangat dan area gunung kering dan bersemak di segment Belanga Pecah maka kali ini kita bertemu dengan area karst. Tanahnya campuran antara tanah cokelat dan tanah pasir serta lumpur hitam. Di beberapa area kita mulai bertemu kubangan kubangan, kadang jalan jadi ada bagian panjang berubah jadi kubangan, area berbau mangrove.

Terpampang jelas ada petunjuk bilang kalau ini area hutan produktif. Memang tampak area hutan nya berubah tanamannya jadi di beberapa ada pohon jati sementara di area lain ada pohon karet. Setelah rolling dataran rendah plus kenalan mangrove trek pun mulai nanjak full dalam kebun karet.

DCIM203GOPROKemiringan tanjakan semakin susah, permukaan trek pun sudah mulai berubah dari jalan tanah ke jalan campuran batu lalu ke batu utuh yang licin. Ya, di beberapa area tidak tampak tanah, permukaan trek adalah batu utuh yang digerus gerus untuk membuat jalan, licin dan permukaan gerusan tidaklah sopan.

Hujan kembali turun…
Deras
#kepadaawan pliiiiss deh… Iya sih keganasan cuacamu melengkapi perjalan kami, tapi jangan galak galak ya…

Sampai di ujung sebuah tanjakan kami menemui lagi jalan dipagar dan dikonci… nah…

DCIM203GOPROSelalu ada jalan setelah jalan buntu, kalau enggak di negeri orang mungkin udah kita angkat sepeda melewati pagar, tapi akhirnya kami pilih jalan lain yang ‘orientasinya sama’, dan kita temui satu tanjakan panjang sekali di tengah kebun karet, dengan permukaan trek adalah batu batu seperti marmer dipecah. Batu batunya yang berwarna putih marmer itu licin, dibantu air hujan, membuat trek jadi teknikal dan unik karakternya.

Akhirnya ketemu ujung tanjakan lalu disambut turunan tanah, disinilah kembali itu dahan pohon, yang bentuknya seperti campuran antara palem dan semak, dahannya terkena pundak saya, entah bagaimana itu dahan jadi seperti tangan yang menahan pundak saya. Kaget setengah mati di tengah turunan padahal. Badan saya terangkat karena tertahan di pundak, ban sepeda depan sudah terangkat, seperti akan terjengkang…

03kilimBrettt…

Bunyi itu lagi, lalu sepeda kembali turun sambil saya kelimpungan mempertahankan keseimbangan. Berhenti saya lihat sobekan lain yang lebih parah ada di pundak kiri. Okky yang ada tepat di belakang berhenti dengan wajah ekspresi khawatir plus kagum. Syukurlah tidak jatuh.

Sementara pemandangan di lembah di depan sungguh memanjakan mata. Tampak pantai dan laut di kejauhan sambil kita juga bisa lihat bentukan bentukan batu karst yang eksotis menyembul dari perut bumi.

Sebentar saja karena tanjakan panjang sudah menungu lagi..

Diujung bukit kita dua rekan saya di depan tiba tiba berhenti seperti tanpa sebab… Muka mereka tampak aneh ekspresinya…

DCIM203GOPROKenapa dua rekan berhenti dengan tatapan wajah yang aneh? Rupanya di tengah trek ada segerombolan sapi. Ini rupanya jawaban kita sering bertemu kotoran sapi dimana mana, di tempat yang aneh misalnya di tengah kebun karet, rupanya sapi disini dipelihara dengan dilepaskan begitu saja, segerombolan ada sekitar 6-8 sapi.

Melewati halangan unik ini kita pun turun dan akhirnya melewati sebuah tambang batu kita sampai juga di jalan raya. Awan tetap tidak baik sama kami, hujan tambah deras, kami mulai kehabisan minum di bidon dan berhenti untuk beli air mineral di sebuah warung pinggir jalan.

Ya ampun, dia enggak jual air mineral !!!

Part trek segment KILIM berikutnya adalah melipir pinggir hutan lagi, tapi tidak masuk hutan, dan mulai mengikuti jalan inspeksi di sebelah saluran air, mirip kalimalang, dan kita melewati jalan aspal di sebelahnya. Untuk pertama kalinya tim bisa kebut kebutan. Sejak dari start tidak pernah panjang di jalan aspal, dan ini adalah kesempatan pertama bisa pakai gigi 11t terkecil di sprocket

DCIM203GOPROJalan lalu bertemu dengan kembali jalan utama, jalan besar. Saya langsung tertarik penjual pisang yang menggantung dagangannya, saat kita berhenti mau beli pisang, ada yang teriak dari seberang jalan. Ternyata dua rekan tim support berhasil menemukan kami. Akhirnya isi bidon dengan air mineral juga dan mulai berangkat lagi.

Kepada awan saya minta jangan merengut gitu ah…
Langit mendung dan gelap menggantung
Matahari tertutup

DCIM203GOPROSection KILIM selesai maka kita memasuki section ULU MELAKA. Section ini kembali berada di luar jalur aspal utama yang mulus. Dimulai dengan kebingungan mencari titik awal trek yang sudah tertutup vegetasi, akhirnya kita menemukan singletrack yang makin lama tampak makin membesar menjadi doubletrack.

Bagian ini rolling. Full rolling. Kalau kuat silakan geber speed, dan itu yang tampaknya dilakukan dua rekan saya. Mereka jadi semacam titik kecil saja di depan.

Kiri kanan trek adalah kebun karet yang sedang banyak dirombak. Banyak banget pohon karet dirobohkan. Karena dilewati alat berat, doubletrack jadi sedikit berlumpur dan licin.

DCIM203GOPROSection Ulu Melaka diakhiri dengan uphill dalam kebun karet cukup berat dan panjang, di trek membentuk seperti huruf U. Trek seperti menemui puncak dan u-turn balik turun kembali. Section ditutup dengan area ‘jembatan air’ yang sudah sering kami lihat di youtube. Jalan menembus semacam reservoir bendungan, tapi kedalaman air nya hanya sekitar 10cm. Menjadi menarik untuk mencuci sepeda dan ambil foto karena kita seperti bersepeda menembus air. Disini kita manfaatkan juga untuk sedikit istirahat lagi, saya sempat mengganti baterai kamera.

04ulu-melakaTitik jembatan reservoir air ini berhasil membuat semangat naik kembali. Memang kondisi tubuh sudah turun, ini sudah jam 1130 dan kita sudah mulai gowes dari jam 7 pagi dengan istirahat praktis total tidak sampai 20 menit. Segar ketemu kubangan air berlimpah.

Keluar dari section ULU MELAKA kita masuk kembali ke jalan aspal utama. Mendung semakin berat menggantung. Dan akhirnya hujan tumpah saat kita memasuki section berikutnya, MAKAM MAHSURI

Dua section terakhir yaitu section MAKAM MAHSURI yang sangat mistis dan section BUKIT BATU yang sangat brutal teknikal adalah bagian penutup trek yang paling puncak. Selain jam gowes udah mulai diatas 5 jam, fisik dan mental sudah mulai terpengaruh dan hujan yang tidak berhenti mengguyur.

Semua diatas ditambah lagi dengan perjumpaan dengan hewan hewan liar seperti monyet dan babi hutan, semakin menjadikan penutup yang menampar.

Kita tahu persis karena sempat lewat sebagian trek ini di gowes sabtu sore, kita tahu kalau sudah dekat dengan kawasan Kuah adan Hotel area, namun yang kita temui adalah trek yang semakin brutal termasuk kubangan kubangan air ditumbuhi semak di tengah hutan.

Dua seri penutup disimpan cerita detailnya, termasuk pengalaman dengan daun BALAKACIDA untuk mengobati luka rekan, termasuk juga beberapa kejadian jatuh.

Terimakasih buat Balibiru Adventure Trip, yang sudah merancang trip ini jadi trip yang luarbiasa namun tetap terjangkau.
Terimakasih buat Bikewearr Biking Apparel, yang sudah menyediakan desain jersey khusus, jersey premium nyaman dipakai segala kondisi
Terimakasih buat Om Eyang AN, Om Rudy Mbahbro, Om HPW, Om Okky… rekan rekan seperjalanan termasuk persiapan 3 bulan sebelumnya… Trip kemarin adalah salah satu trip paling brutal yang pernah saya gowes selama ber-mtb

SEKIAN

Versi lebih lengkap dan detail, terutama di dua section terakhir silakan tengok nanti di https://antoix.wordpress.com

#kepadaawan, terimakasih sudah membuat trip hari itu menjadi lebih brutal dan berkesan… Segeralah datang ke Sumatera dan Kalimantan… kami butuh hujan

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
instagram.com/bikewearr/


Dalby Forest, aku kembali setelah dua tahun…

Dalby, Aug 20, 2015

Dalam tiga tahun terakhir, eh atau lebih ya? post saya di blog ini jadi jarang banget. Ini dalam rangka mencoba menulis lagi, mulai dengan menyelesaikan cerita tentang Bali XC Marathon 2015, dan sekarang post ini. Pusing juga sih, segitu banyak hal berkesan tentang sepedahan yang belum ditulis…

Perjalanan ini sebenarnya adalah perjalanan pembalasan dendam, dua tahun lalu sempat sudah sampai Dalby dengan susah payah dan mahal, namun hanya untuk menjumpai center nya ditutup karena sampai hanya 15 menit sebelum jam 5 sore. Setahun lalu sampai trauma dan tidak mencoba namun tahun ini sudah tidak ragu untuk memenuhi keinginan lama ini. Sangat tidak menyenangkan untuk diingat kembali.

Selama perjalanan kali ini saya menginap di kota York, dan pagi pagi sudah berada di stasiun bis untuk menuju ke kota terdekat dengan Dalby Forest, yaitu Thorton Le Dele. Silakan ikuti link untuk info tentang Dalby Forest…. Dipilih transportasi bis karena ini adalah transportasi pilihan termurah, dibandingkan kereta apalagi taxi atau sewa mobil.

Pengalaman baru juga pagi itu adalah menikmati suasana sebuah tea room. Hidangan yang unik dengan suasana menikmati teh yang belom pernah saya rasakan dimanapun. Mungkin karena ini adalah kota sangat kecil, jadi suasananya masih sangat asli.

Resiko naik bis ke kota terkecil ternyata adalah tidak ditemukannya kendaraan umum menuju lokasi. Sempat bertanya juga nomor taksi tapi kebayang kalau ongkos taksi bakal memasukkan ongkos pp dari pangkalan ke remote area kota kecil ini. Lihat peta sebentar, dan memutuskan untuk jalan, dan harus segera dimulai karena otomatis waktu gowes juga terpotong. Ayo kita awali dengan hiking, dan ternyata memerlukan 1 jam!! Sebuah rumah di tengah desa, dengan sederetan sepeda diparkir rapi, seragam. Inilah pasti tempatnya Dalby Bike Barn.

Legaaaanya… segera register buat pinjam satu sepeda dan ditawari pinjam setengah hari ataupun all day. Juga ada pilihan pinjam hardtail atau full suspension bike. Semua sepedanya SCOTT. Sejak survey info sudah mengincar akan mengambil ‘red route’ tapi petugas bike rent bilang kalau ‘unless you are very fit…” sambil menyarankan ambil ‘blue route’ yang lebih ringan. Dia juga bilang ‘red route will need a whole day…”

Oke deh, daripada berkelanjutan saya iya in saja. Yang terpenting dapat pinjaman sepeda, syaratnya adalah meninggalkan paspor. Nah beli juga peta nya rute, meskipun sebenernya dengan mengikuti petunjuk trek sangatlah jelas dan hampir tidak mungkin tersesat.

Dimulai start dari Bike Center, lalu mulai naik bukit, naik dan naik, masuk ke dalam hutan. Kondisi trek nya sangat enak. Perfect. Jadi semacam conical seperti bentuk lengkung telur hampir di seluruh part. Besepeda jadi nyaman sekali. Sesampainya di ujung tanjakan saya kaget ternyata sudah berada di titik tertinggi ‘blue route’. Waduh, baru 30 menit. Jatah maksimum 3 jam sewa sepeda harus dimanfaatkan maksimal…. Melongok ke peta (untung beli) segera mencari jalan bisa nyambung ke red route. Sambil terngiang kembali kata kata petugas di bike centre, “… unless you are very fit, I don’t think you should take the red route”… Coba ya mas mas, saya barusaja selesai ikutan Bali XC Marathon dan menjalani 8 bulan latihan sebelum event…

Setelah melewati jalan aspal memotong trek maka bertemulah dengan ‘red route’. Begitu memulai rute merah ini segera terasa betapa sotoy (sok tau-sok jago) nya saya. Trek nya jauh lebih teknikal, walaupun sama, kondisinya masih bersih dari rumput dan sampah, kalaupun ada batu penghalang trek, tampak sekali memang batu itu adalah bagian dari trek. Pantesan untuk rute merah dan gowes jadwal seharian disarankan untuk menyewa full-suspension bike.

Terseok seok mulailah menghandle bagian red-route ini, terasa signifikan bedanya. Secara umum permukaan track lebih variatif, ada batu dan akar. Selain itu kemiringan tanjakan dan turunan juga lebih curam dibandingkan yang blue-route. Dengan terengah engah mulai melewatinya. Di area red-route juga pesepeda nya jauh lebih jarang, sehingga saat gowes sendiri begini terasa lebih sepi karena jarangnya bertemu dengan pesepeda lain di trek.

Meskipun tergopoh gopoh secara fisik dan cukup kesepian plus kedinginan (suhu trek sekitar 12-14 degC meskipun cerah ada matahari) tapi keputusan ambil red-route akhirnya terbayar lunas oleh pemandangan sebuah lembah terbuka. Sangatlah Inggris utara, lembah dengan hutan dan rumah yang sangat jarang, landscape nya seperti yang selama ini saya sering lihat di wallpaper standard. Luarbiasa.

Selain itu ada hidangan lain berupa rimbunnya hutan. Ya hutan dengan vegetasi yang berbeda samasekali dengan yang biasa kita temui di daerah tropis. Memang agak gelap saking rindang nya dedaunan, tidak ada orang yang merambah dan mencari kayu mungkin, tapi sungguh pengalaman yang sulit diungkapkan dengan kata kata.

Salah satu yang sangat berkesan dari pengalaman ini adalah betapa sangat jelas nya petunjuk jalan. Ada di tiap kita mendapat pilihan jalan, di sepanjang trek. Luarbiasa benar penataan nya. Sehingga selama di trek samasekali kita tidak ada keraguan, meskipun kita tidak bisa membaca peta atupun tidak membawa peta saya yakin kita tidak akan nyasar. Sangatlah jelas kemana arah black-route, red-route, blue-route, green-route dan yang menarik juga adalah escape-route. Sore itu karena sudah terdesak batas waktu penyewaan sepeda dan jam terkhir bis dari Thorton le Dele, maka saya akhirnyat tidak menyelesaikan seluruh red route dan ambil escape route kembali ke bike center.

Diakhiri dengan kembali hiking sekitar 6km lalu naik bis kembali ke York, berakhirlah perjalanan ini. Di sepanjang jalan selama hiking dan selama naik bis sangat sering kita bertemu dengan mobil keluarga lengkap dengan roof rack, sepeda bapak sampai anak anak di atas roof, atau malah sepeda sekelompok grup cyclist. Pas hiking pengen rasanya melambaikan tangan minta tumpangan ke mereka. Sampe York berjakan menuju hotel dari stasiun tempat turun bis saja kaki rasanya sudah susah digerakkan, berat banget. Untungnya petualangan hari ini ditutup dengan menemukan sebuah restoran masakan Indonesia, mendengarkan dan berbicara dengan waitress nya yang bahasa Jakarta banget. Lumayan bisa menambal rasa kangen setelah seminggu makan makanan hambar. Rasanya makanan restoran ini gimana? Jangan tanya deh. Membayar sekitar 30GBP atau sekitar 600rb rupiah untuk sepiring nasi rames dan semangkuk sayur asem rasanya sudah harus enak kan meskipun entah apa itu isinya…

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr
instagram.com/bikewearr/


Bali Batur 2015 – Cross Country Mountain Bike solo 44km ride

DCIM101GOPROBatur-Bali, 2 Jan 2015

Saat menuliskan post ini, sudah lewat empat bulan lebih trip awal tahun 2015 ini. Masih sangat kesulitan mengumpulkan kata kata dan juga semangat. Saking terasa berkesannya ride ini jadi terlalu banyak ekspektasi. Inilah salah satu kesulitan menulis blog, saat kita menulis serasa tidak pernah bisa menggambarkan apa kejadian yang kita alami. Tulisan serasa tidak mewakili pengalaman.

Tapi sudahlah, ayo kita mulai saja cerita genjot sepeda sendirian ini.

Memang sudah direncanakan jauh hari untuk berlibur tahun baru, dan kali ini cukup istimewa karena bawa sepeda dan sudah dijadwalkan dari awal untuk menghabiskan satu hari untuk bersepeda. Menginap di Lakeview Hotel, pagi itu menghabiskan lebih dari satu jam untuk merakit sepeda. Ini baru pertama kali dialami selama ini dibutuhkan hanya untuk merakit, semua gara gara posisi anting RD yang dilepas dan rantai yang kacau ditambah tidak adanya chain-tools. Halah! Akhirnya dengan lega bisa melihat sepeda berdiri, waktu sudah menunjuk lebih sejam dari target semula start gowes. Seolah gowes hari ini dimulai dengan kekacauan… gimana ya gowes hari ini akan berjalan?

gerbang masuk ke area black lava

gerbang masuk ke area black lava

Setelah mengganti batere GPS, kebiasaan yang saya selalu lakukan kalau terutama untuk antisipasi gowes yang panjang dan akan banyak bergantung GPS. Dari area start Kintamani, sebuah wilayah di bibir kaldera pertama (kaldera lapisan luar) dari Gunung Batur. Trek perjalanan hari ini diperoleh dari tracklog Kang Indra Anggara, saat Bali XCM 2013. Memang mencoba trial di actual track Bali XCM ini salah satu alasan kuat perjalanan total tiga hari ke Pulau Bali kali ini. Asli penasaran banget seperti apa track nya. Hari ini akan gowes sendirian, dan waktu cek ke Kang Indra, infonya track ini masih berada relatif di tengah area yang dihuni. Jadi aman lah gowes sendirian…

Track dimulai dengan turunan aspal sampai ke tepi danau Batur. Kirim foto sebuah rumah makan yang tepat berada di mulut pintu masuk ke track. Foto dikirim agar tim support bisa nunggu disini nanti sore saat finish.

Tak lama setelah keluar dari jalan aspal pinggiran danau Batur, disambut trek lebar, dengan beberapa kali papasan dengan truk pengangkut pasir, maka kita segera disambut dengan area ‘black lava’. Rupanya penduduk di area start tadi tidaklah berelebihan saat bercerita, “… lewat black lava saja (sambil jari menunjuk ke gerbang), tempatnya indah sekali”.

DCIM101GOPROSudah sering saya gowes melewati banyak tipe kawah dan lansekap gunung, namun jelas area black lava-nya Batur ini sangatlah indah dan eksotis. Sangat minim (atau bahkan tanpa) vegetasi, semua serba hitam warna batu, dan bentukan fisik batu yang sangat unik. Menjadikan area ini seperti sebuah taman geologi, taman batu, rock garden.

Trip info:

Riding Specialized Carve 29″ hardtail
tyres: Maxxiss Ikon 2.2
uphill: 9/10
singletrack: 8/10
downhill: 8/10
technical: 8/10
endurance: 9/10
landscape view: 9/10

Tracklog http://www.bikemap.net/en/route/2909959-baturkintamani-yeh-mampeh-sukawana-belandingan-toya-bungkah-kedisan-44km/

Short YouTube video clip…

aa201501batur

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


A Simple Heritage Cycling Ride… ride around Ayutthaya (En)

a warm morning welcome

a warm morning welcome

a 29 ride

a 29 ride

bike05Ayutthaya, 13 Jan 2013

This is my only second time to Thailand. This time I have more time, two night and tree days, yet I found to be not enough.

Going to Ayutthaya (see… http://wikitravel.org/en/Ayutthaya ) found after browsing with keywords ‘ruins’. Last experiences on photographing ruins always proven to be a worth to take visits: Situs Gunung Padang, Cetha Temple, Sukuh Temple, Ratu Boko Temple, Tamansari, Kraton Kaibon, Kraton Surosowan. I have become a ruin buildings fans. Ruins always giving a lot of exploration possibilities to take pictures. Ruins also giving us a feeling of drama. Ruins always dramatic. Visually ruins also giving a lot of visual, composition and content possibilities. Background history will add more on content of the photograph.

My other posts related to ruins (most of them in Bahasa Indonesia language):
Gunung Padang Megalith Ruins https://antoix.wordpress.com/2011/05/06/tgunung-padang/
Cetha Temple https://antoix.wordpress.com/2011/04/22/uphill-candi-cetha/
Kaibon and Surosowan Palace https://antoix.wordpress.com/2012/02/28/banten-lama/

Ruins of a temple, or once a military fortress, or once a royal palace already give us a shock and a lot of drama, this time we are talking about ruins of a city, ruins of an old capital of Siam. Ayutthaya, a city once inhabited by more than one million back in 16th century. A city full of prosperity and glory, full of luxury and greatness.

Ok, enough on the ruins story, let me write on the cycling trip…
What? Cycling trip?

Yes. This time I will not write on mountain bike ride as usual, this time about cycling around the old city of Ayutthaya. From one tourism spot to other.

Bicycle was not hard to find, rental in front of Ayutthaya Train Station already written as a reliable and cheap bike rental. It cost us around 1.0-1.2 USD per day. You only need to show your passport and they will take a copy of your passport. This copy will be returned back to us. The bicycle rental spot also widely known and write by blogger/fellow travelers, it was well known and easy to find.

Bicycle condition? Hey! It’s a 1USD rental, what do you expect? At least it was ready to be ridden, not mention the gears change problem off course. But anyway it’s not too much problem since the track was flat, unless the part hike across the Chao Praya river bridge. Some part of the city, especially in the area of temple complex, the road was not crowded and we have bicycle lane under the trees. Really enjoy the ride.

The tourism area also not too far to take on bicycle. Taking the Sleeping Budha site and Chao Praya river/Train Station was 10+ km ride

Although it’s not a mountain bike, it’s really give a spice to the city tour. You have a different feeling, got some sweat, meet other cyclist, take unique angle to picture the city. I really recommend you to take bicycle around the city. Yes, we receive some security precautions from the cycling-rental, not to put bags into the basket in front of the handlebar.

The same feeling as bike to work, while you on bicycle you will have a very different view of what’s around you. You move slower, you have more plan to see what’s around, you can have the smell (literally) of the streets.

Tacklog could be find here… http://www.bikemap.net/route/2015404

Distance: 10.4km
Terrain: asphalt city road, flat

map-ayutthaya

This ride supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr


Berat

bike05“Memang berat Om, kalo punya lebih dari satu hobby…”

Demikian nasihat bijak dari salah satu rekan senior bersepeda gunung. Dan, hari ini saya rasakan semakin benar saja itu kutipan. Mungkin memang salah ya punya lebih dari satu hobby

Tiba tiba saya baru sadar kalau sudah sejak pergantian tahun ke 2013 belum menulis di blog ini. Menulis di blog adalah salah satu hobby yang agak ter-telantar-kan. Kalau masih ada yang subscribe blog ini, mohon maaf ya… pasti dimaafin, karena saya sudah mulai menulis lagi nih malam malam dinihari begini.

Kok bisa dua bulan tanpa post di blog ini yah? Padahal ada tuh masa nya blog ini selalu saya usahakan ada post SETIAP HARI. Ya, setiap hari. Dan kenapa ya, sekarang sampai 60 hari lebih tidak posting? Hehehe… nyambung lagi, jangan jangan deh kalau menulis jadi hobby yang ‘berat’.

Tulisan ini saya merasakan flow yang sama dengan saat lalu, saat saya tidak terlalu mempermasalahkan kualitas konten blog, saat saya tidak terlalu peduli kalau blog posting nya musti begini musti begitu, saat posting di blog jadi enteng, makanya bisa tiap hari, makanya juga hits ke blog ini bisa terus meningkat. Salah satunya karena posting tiap hari. Saat kata kata saya biarkan mengalir dari jari dan keyboard…

Semoga tulisan ini, ditengah konten WJxc ride yang berbahasa Inggris dan terasa ‘serius’ bisa melunakkan isi blog, bisa membuat menulis menjadi kembali hobby yang ringan…

Hobby memang tidak seharusnya menjadi berat…

[foto diambil di Ayutthaya, Januari 2013]


Lombok 22 – Uphill to Otak Kokoq, Tetebatu dan Jeruk Manis, Lombok Timur

Lombok Timur, 22 Agustus 2012.

Perjalanan ini adalah perjalan adventure bersepeda ketiga selama seminggu liburan lebaran 2012 di Lombok. Dua trip yang lalu dilakukan di bulan puasa, sambil berpuasa. Yang kali ini adalah hari keempat lebaran, dan lebih ‘seru’ nya lagi adalah trip ini dilakukan pada hari yang sama dengan penerbangan kembali ke ibukota. Jam 3 sore penerbangan nya, jadi boarding jam 2 siang, jadi harus berangkat dari mataram jam 1 siang, jadi semua genjot harus beres jam 12 siang, akhirnya jam 630 pagi sudah berangkat dengan avanza menuju ke titik start di sekitar Masbagik.

Titik start sendiri sebenarnya belomlah ditemukan. Hehe… namanya juga adventure kan? Menjalani pagi yang masih sepi menyetir menuju ke arah Masbagik melewati bagian timur Mataram. Seteleh 45 menit setir, mulai mencari titik start yang tepat. Menengok beberapa kali ke arah Pom Bensin, Kantor Polisi ataupun Masjid. Tapi pada akhirnya memilih sebuah kantor KODIM. Saya hampiri petugas jaga di KODIM dan menanyakan apakah benar jalan masuk kekiri di depan adalah ke arah Air Terjun Jeruk Manis? Ternyata jawabannya sangat mencengangkan. Pak petugas menyarankan saya ke arah Otak Kokoq/Otak Kokok saja, karena sudah teruji jalur jalan nya untuk pariwisata. Jika ke Jeruk Manis, selain jauh juga katanya ‘masih tidak aman takut perampokan’. Waduh! Melayang rencana ke Jeruk Manis dan dengan manis saya genjot pelan pelan dengan tujuan Otak Kokoq.

Permulaan trek yang berupa jalan aspal mulus ini tampak cukup mengecewakan, jalan aspal di tengah kampung, agak rata, sedikit kemiringan. Dalam hati saya berkata, wadoh kalau jalan landai seperti ini bakal merana nasih petualangan hari ini. Di kepala berusa mengingat ingat bahwa memang ketinggian yang akan dicapai adalaha cukup.

Di ingatan saya ada tiga obyek air terjun di area ini. Di sebelah kanan atas adalah air terjun Jeruk Manis yang semula dituju oleh trek ini, sementara di kiri atas ada air terjun Kelambu yang juga sudah di plot di GPS namun pesimis untuk bisa ditengok. Sementara di tengah ada semacam mata air dan wisata kolam renang. Tampaknya inilah yang disebut Otak Kokoq/Otak Kokok. Yah, tampaknya memang keadaan memaksa ku untuk memilih tujuan yang tak terlalu menarik, pemandian dan mata air.

Daripada kecewa berkelanjutan saya mulai mengamati sekitar trek. Melihat sepeda gunung digenjot tampaknya masyarakat tidaklah heran. Mungkin pernah melihat sebelumnya. Yang jelas saya berpapasan dengan satu satunya pesepeda gunung hari itu. Betul! Ada pesepeda gunung ber helm yang turun dari atas berlawanan arah dengan saya. Hanya melambai dan sapa senyum saja.

Jalan masih mulus dan kiri kanan yang semula banyak perkampungan dengan ciri rumah yang diubah jadi sarang walet pun mulai berubah. Sawah yang hijau dengan dominasi tanaman padi, mulai menghiasi kiri kanan trek. Seperti tidak berada di puncak musim kemarau saja. Seperti tak percaya bahwa tempat ini hanya dua jam perjalan dari area Sekotong-Pengantap yang kering kerontang di trek sebelumnya.

Kunikmati genjot demi genjot kayuh sepedaku sampai akhirnya jalanan tiba tiba menjadi miring secara cukup ekstrim dan cukup mengagetkan. Kemiringan jalan aseli datang dengan mengejutkan dan tiba tiba. Tak lama kemudian ternyata sampai lah di kawasan Otak Kokok.

Tampak dengan jelas ini adalah kawasan wisata yang sudah jauh berkembang. Tampak gerbang kawasan wisata yang representatif, tampak juga area aspal luas yang dimanfaatkan sebagai area parkir. Tapi semua masih relatif kosong, karena memang waktu masih sangat pagi.

Saya pun memakai jurus lama, mencari warung dan memesan teh manis panas. Mulai sambil melihat ke sekitar dan memotret beberapa. Melihat gejala gejalanya maka kawasan wisatanya tidaklah tampak menarik. Tambahan dari obrolan dengan penjaga warung katanya didalam adanya “mata air yang muncul dari bawah pohon” yang dilengkapi dengan “pemandian dan kolam renang”. Memang sih, situasi cukup sejuk. Dan tampak memang area ini adalah area perbatasan antara area pemukiman penduduk dengan area Taman Nasional Gunung Rinjani.

Dari penjaga warung teh manis juga dapat informasi kalau ternyata keamanan tidaklah se heboh dan se mengkhawatirkan apa yang saya dengar sebelumnya sebelum berangkat. Mamang warung bercerita kalau “…insya Allah keamanan disini baik Pak…”. Semangat saya kembali menggelora dan mulailah menanyakan jalan ke tujuan semula, Air Terjun Jerukmanis. Lagi lagi Pak Warung menceritakan kalau “…jauh Pak… dan jalannya rusak, aspal tapi rusak sekali…”

Whatt???
Aspal tapi rusak sekali???
Tanpa berpikir panjang saya segera pamit dan mulai genjot ke arah yang ditunjukkan sebagai ‘jalan aspal rusak sekali’.

Segera disambut sedikit sekali tanjakan, lalu kemudian adalah jalan turun bablas dan panjang. Bapak penjaga warung benar, jalan turun ini adalah aspal low grade yang rusak sekali. Tentusaja inilah memang habitat daripada sepeda gunung. Wuzzz…..

Beberapa kali saya tengok ke GPS, wah ini sudah melenceng jauh dari trek rancangan. Saya pun kembali mengingat waktu memeloti Google Earth merencanakan trek ini, sangat kesulitan menemukan jalan di foto udara karena area di sekitar Tetebatu dan Air Terjun Jerukmanis ini adalah area yang tertutup awan.

Sambil melirik GPS tidak tampak adanya jalan berbelok kekiri agar mendekati rancangan trek semula. Jalan semakin turun dan semakin jauh turun. Wah, saya mulai terbayang keterbatasan waktu dan nanti harus nanjak lagi ke lokasi Jerukmanis. Semakin turun jauh semakin khawatir. Bukan khawatir tanjakannya, namun khawatir waktu yang diperlukan untuk mencapai Jerukmanis.

Alhamdulillah akhirnya tampak jalan ‘agak besar’ seperti jalan kampung tanah plus sedikit batu. Saya berbelok kekiri dan mulai masuk kampung ke kampung penuh dengan pesawahan yang ter airi baik dan tampak subur. Kondisinya mengingatkan saya pada sisi selatan Gunung Merapi. Kawasan pedesaan lereng gunung yang dihidupi dengan air yang melimpah turun dari gunung. Sempat bertanya keapda sekumpulan orang yang sedang bekerja bakti, ternyata benar inilah jalan yang bisa menuju ke Air terjun Jerukmanis.

Jalan turunan tanpa henti yang memabukkan ternyata tidaklah lama, hanya sekitar sepuluh menit saja. Setelah melewati rolling khas traversing lereng gunung, yaitu rolling lalu turun ke sungai/jembatan lalu nanjak lagi dan seterusnya akhirnya kita sampai ke sebuah desa kecil yang ramai diikuti oleh pertigaan utama yang seolah adalah pusat dari desa itu. Seorang pedagang keliling yang naik motor dan tau waktu saya bertanya di tengah kampung ketemu kembali dan menunjukkan jalan saya ambil adalah arah kanan dari pertigaan didepan. Terimakasih Pak. Selalu datang pertolongan dan pemberitahuan tak terduga seperti ini ya? Kalau tak diberi tahu dan hanya melihat GPS sangat mungkin saya akan mengambil jalan yang salah lurus.

Kembali genjot melewati jalan rolling traversing. Tipe rolling paling berat yang seperti mengelilingi pinggang gunung. Kita dipaksa untuk mengikuti lekuk demi lekuk tubuh gunung itu. Cukup menakjubkan ketika saya menemukan diri saya bersepeda gunung di tengah kampung yang sangat berbau tourism!! Suasananya lain dan sangat internasional namun juga sekaligus tradisional.

Saya temui ada papan papan nama dan petunjuk arah yang berbahasa Inggris. Ada semacam saung dan penginapan dengan bentuk bangunan seperti rumah adat Sasak. Beratap rumbia dan menghadap ke persawahan. Ada banyak mobil lalu lalang dan menaik turunkan penumpang berparas asing berkulit putih dan tinggi. Baru kemudian saya tengok kembali ke artikel artikel kalau inilah daerah yang disebut Tetebatu.

Jalanan pun tampak sedang dengan serius diperbaiki, jalan diurug batu dan pasir sirtu. Asyik juga digenjotnya meski beberapa kali harus waspada karena berpapasan dengan kendaraan berat alat perbaikan jalan. Debu pun mulai mengepul baik dari ban sepeda saya ataupun apalagi jika disalip kendaraan bermotor. Wah ada gak enaknya juga nih… Sampailah saya di perempatan yang tampak ada tukang tukang ojek berkumpul. Saya temui disini petunjuk jalan. Waterfall Jerukmanis 6km… Segera saya menengok ke jam tangan.

Berikutnya adalah 6kilometer yang terpanjang yang saya pernah alami dalam bersepeda. Terbayang oleh saya boarding Garuda yang sudah dibuka dua jam sebelum keberangkatan pesawat, berarti sekarang saat ini di perempatan ini sudah hampir dibuka itu boarding ke pesawat yang akan membawa ke Cengkareng. Ragu. Akhirnya diputuskan untuk genjot sedapatnya menjalani 6kilometer jalan pasir berdebu dan nanjak.

Hampir tanpa berhenti sepanjang 6kilometer. Semula sempat berpikir untuk balik di tengah jalan. Beberapa kali bimbang sambil menghitung waktu yang tersisa. Sampai akhirnya memandang sebuah ‘mumuntuk’ (gundukan bukit bahasa Ciakrang area) untuk memilihnya sebagai bukit terakhir yang saya ingin capai. Mengagumkan dan serasa gak percaya bahwa ternyata di balik mumuntuk itu ada gerbang ke Taman Nasional Gunung Rinjani.

Ya, sampai di area parkir Air Terjun Jerukmanis….

Suasana hati bercampur aduk antara gembira, karena berhasil mencapai juga tempat sepeda tidak lagi diperbolehkan dibawa masuk. Petugas Taman Nasional tidak memperkenankan sepeda dibawa ke air terjun.

Namun suasana hati juga sedih karena sudah pasti tidak akan sempat bisa mengunjungi air terjun nya.

Dengan bimbang saya bertanya ke petugas berapa lama mencapai air terjun. Wah tetap saja meskipun saya berlari tidaklah sebuah pilihan yang bijaksana saat boarding pesawat pun sudah mulai dibuka di Bandara International Lombok.

Inilah rupanya akhir dan ujung dari petualangan hari ini.

Rasanya lengkap sudah perjalanan ke Lombok bersepeda. Mengunjungi perbukitan diatas Kota Mataram. Juga mengunjungi pantai yang eksotis di Pengantap serta kali ini mencicipi kaki selatan Gunugn Rinjani.

Alhamdullilah saya rela genjot pulang ke titik start secepatnya….
Kali ini dengan meninggalkan asap debu panjang dibelakang saya. Meninggalkan trek indah ini dan membawa sebagian debu trek menempel ke Ki Lobang, Specialized Carve Comp tercinta.

TAMAT

@antoix trackrating:
Uphill: 8/10
Downhill: 8/10
Physical Challenge: 8/10
Scenery on Track: 7/10

Riden on Specialized Carve Comp 29
on Continental XKing 2.2

Tracklog ada disini…


Lobang 20 – Trip to Gili Trawangan, Lombok

Lagi trip ini bukan trip bersepeda namun pengalaman wisata bersama keluarga besar ke Gili Trawangan, Lombok

Kira kira bermobil sekitar 45menit-1jam ke arah xxx kita terus disuguhi dengan pemandangan indah deretan pantai dari Senggigi, Malibu, dan Tanjung. Tampaknya jika pengen ekonomis dan tidak ribet harus melakukan survey perahu penyeberangan ke Gili terlebih dahulu. Memang ada dermaga dermaga perahu cepat, namun dengan antrian yang panjang wisatawan manca berwajah suntuk (ketahuan sudah lama nunggu perahu) plus ditambah harga dollar yang mahal tentusaja.

Secara umum pilihannya ada dua, menggunakan perahu boat cepat yang tentusaja lebih cepat sampai ke tujuan, namun dengan resiko sekujur badan akan basah karena terpaan ombak. Keluarga kami sudah memesan dua buah perahu kayu. Masing masing perahu hanya diperbolehkan maksimum 14 orang katanya. Entahlah, padahal tampak masih ada cukup ruang tersisa untuk tembahan orang lagi. Sewa satu perahu pulang balik sekitar 400 ribu rupiah. Kita diantar dan dijemput dengan perjanjian waktu.

Ada tiga pilihan pulau yang bisa dikunjungi, berurutan dari pulau yang terdekat dengan Lombok: Gili Air, Gili Melo dan Gili Trawangan. Kami menuju Gili Trawangan, pulau dengan fasilitas paling lengkap dan kunjungan paling ramai.

Di Gili Trawangan dijaga tidak ada kendaraan bermotor. Seantero pulau hanya diakses dengan kapal motor, atau sepeda sewaan atau Cidomo, semacam kereta berkuda ala Lombok.