enjoy every cadence, every breath…

Ride#19 Batu Loceng Hari Merdeka

3IMG_3710paradeBandung, 17 August 2013

Ini adalah hari sabtu, tepatnya sabtu pertama setelah lebaran, dan juga bertepatan dengan 17 Agustus, peringatan hari kemerdekaan. Sudah sejak akhir puasa mendambakan bisa gowes liburan lebaran, tapi tidak terlaksana, malahan sepeda gunung tertinggal seminggu di Bandung.

3IMG_3716bayarIni juga sebenernya gowes yang simpel saja, gowes kangen kangenan sama Bandung Utara. Melihat timeline, masak iya terakhir kali ke Bandung Utara genjot adalah Kolozal#10, November tahun lalu. Weleh. Padahal hampir tiap weekend ke Bandung.

Tambah lengkap lagi ini adalah gowes perayaan. Sepanjang jalan dari Buahbatu sampai Cicaheum bertemu banyak perayaan, karnaval, seru nya berbagai lomba dan kibar kibar raya bendera aneka warna.

3IMG_3720shadow
Merasakan kembali kemeriahan, karena kemeriahan serupa tidak terlalu saya rasakan saat di sekitar Cikarang. Otomatis terkenang masa kecil saat 17an adalah saatnya sibuk menghias sepeda, saatnya siap mentap melahap kerupuk, dan saatnya menjaga kelereng tidak meleset dari sendok di mulut.

3IMG_3727rayaDari Cicaheum pun mulai jalan agak miring, melewati Saung Angklung Udjo (yang juga mengadakan upacara) mulai deh genjot trek klasik Caringin Tilu. Matahari belum tinggi, udara segar. Sesegar terdengarnya kemeriahan raya kemerdekaan dari masyarakat sekitar. Dengan bak terbuka berbondong mereka menuju dekat kantor kecamatan. “…ada upacara bendera dik…” begitu jawaban yang saya dapat waktu bertanya. Terbayang kembali, kapan ya terakhir kali saya ikutan upacara bendera?

Kemiringan trek pembuka ke Caringin Tilu pun tidaklah terlalu terasa dengan berbagai hiburan visual yang tersaji. Emosional juga karena kemerdekaan. Sekaligus sedih, sampai kapan ya enthusiasme raya merdeka seperti ini akan bertahan?

Berhenti motret sering dan pitstop jadi sering juga. Sesama gowes pagi itu ada ibu ibu dengan sepeda hardtail dan full gear termasuk sepatu SIDI, belio tampak berlalu tetap gowes semetara saya mencoba menangkap raya merdeka yang mengharukan ini.

3IMG_3663gununganGenjot pun akhirnya memasuki kawasan yang paling memorial, kawasan yang ada rumah/villa besar di sebelah kiri, ini villa dari jaman baheula memang selalu tugasnya menjatuhkan mental, ada tulisan besar sekali “Km 4,8”. Kebayang segala hosh hosh kaki kraam jalan super miring dan ternyata kita mendapat hadiah informasi yang tidak kita “inginkan”. Ternyata baru 4.8km dari awal jalan ini dekat Cicaheum.

Sangat minim frekuensi genjot terasa benar. Entah berapa kali pitstop, jadi ingat waktu lalu pernah pegang ‘personal record’ cuma 2 kali pitstop dari Cicaheum. Entah berapa kali ya saya berhenti mengambil napas, sampe malu mau nyeritakannya, malas menghitung jumlahnya.

3IMG_3680caringin3IMG_3688caringin3Cuaca mendukung sekali, sedikit terik, tapi terang sekali. Bandung dataran tinggi, yang sebenarnya adalah sebuah cekungan itu, tampak anggun dibawah sana. Gunung gunung berderet di seberang Bandung pun tampak jelas banget; Gn Papandayan dan sekitarnya, Gn Puntang dan sekiranya Pangalengan disebaliknya, Gn Patuha Ciwidey dan sekitarnya. Lumayan dapat pemandangan indah sambil menurunkan kembali degub heart rate.

Akhirnya dengan tergopoh gopoh sampailah di area warung sekitar pohon beringin kawasan Caringin Tilu. Jadi teringat kembali gowes pertama kali ke Caringin Tilu bersama Kang Indra…

3IMG_3736kp-buntisCukup lama di kawasan Caringin Tilu ini. Makan pagi, karena belom sempat tadi waktu berangkat, juga bungkus makan buat nanti siang. Wah harga nasi bungkus nya harga sama dengan di Jabotabek, jadi kerasa mahal. Mungkin karena ini kawasan wisata. Tampak benar dibandingkan 3-4 tahun lalu saat pertama kunjungi jumlah warung pinggir jalan mungkin sudah 3 kali lipat. Kebayang kalau malam hari libur kawasan ini bakal jadi tempat pacaran. Cuman bisa berdoa semoga tidak berkembang jadi lebih buruk.

Nama kawasan ini yang terkait dengan tiga beringin, tapi kok saya hanya melihat dua pohon beringin besar ya dari tadi. Genjot pun dilanjutkan dan kembali masuk kampung nostalgia kembali, Kampung Buntis.

3IMG_3746puncakSetelah kampung ini masuk hutan. Wah, gowes sendirian begini terpikir juga untuk balik kanan, jalan menurun sampai rumah. Tapi segera saya ingat kembali tadi pagi waktu nulis track, membaca kisah kisah tentang Batu Lonceng. Misteri dan keunikannya, entah kenapa tetap lanjut pengen menuju Batu Lonceng. Kemudian tak lama datang 5 orang pesepeda TERJAL. Hosh hosh keringatan mereka, kebayang gowes nanjak push ala mereka. Pilihan buat ke trek menurun ‘Firdaus/ Tamiya’ pun sempat menggoda. Tapi ayo kuatkan niat dan segera berangkat berangkat lagi.

Sempat disalip oleh segerombolan motor trail, trek bagian masuk ke hutan ini semestinya jadi trek yang menyenangkan dan menantang. Singletrek uphill, teknikal, dan panjang. Sayangnya sendirian di singletrek tengah hutan dan mulai gerimis mempengaruhi juga kenikmatan genjot. Bagaimanapun rasa khawatir genjot sendiri mengurangi kenikmatan. Ujungnya play safe, tidak push padahal trek rideable dan menantang. Sampailah di ujung tanjakan sebuah warung kecil yang ramai dengan ATV, fourwheels, motor trails. Hanya saya yang pesepeda. Mulai buka bekal dan makan nasi bungkus dari Caringin Tilu.

3IMG_3753batuloncengBagian selanjutnya dari trek setelah melewati warung tempat istirahat, yang posisinya di puncak Sesar Lembang ini pun benar benar hiburan sekaligus tantangan yang mengasyikkan. Di ujung tanjakan kita sempat ada di titik dimana sebelah kiri kita bisa melihat dataran tinggi Bandung dan disebelah kanan datarang tinggi Lembang. Turunan singletrack ‘babagongan’ ke arah Kampung Batu Lonceng sungguh balasan yang setimpal dari segala tanjakan yang mendera dari Cicaheum. Akhirnya sampailah di kampung Batu Lonceng dan mampir ke rumah Bapak Juru Kunci Batu Lonceng.

Ngobrol bersama Bapak Juru Kunci, tentang Batu Lonceng yang berbentuk seperti Lonceng, tentang legenda batu akan berbunyi seperti lonceng saat ada bahaya mendekat ke desa, juga tenang legenda batu yang merupakan senjata bagi ksatria Kerajaan Galuh Padjadjaran. Cerita juga berkembang tentang tuah Batu Lonceng yang mengundang pendatang dari penjuru nusantara, bahakan mancanegara, untuk datang berkunjung. Ketika kemudian saya share sebagian foto di facebook, ada respon dari rekan ‘komunitas Riset Cekungan Bandung’ bahwa nama yang benar adalah ‘Batu Loceng’ bukan ‘Batu Lonceng’.

3IMG_3760ride19Setelah istirahat sekaligus menghilangkan rasa penasaran pada Batu Lonceng, sayangnya tidak tepat waktunya buat menengok batu nya yang berposisi 1km dari rumah Bapak Juru Kunci, genjot pun dilanjutkan ke arah kebun kina Palintang. Saya mengira gowes akan nanjak tidak setinggi waktu di puncak babagongan Batu Lonceng, namun ternyata meskipun jalan akses kebun kina lebih landai, namun ujung tanjakan tetaplah sekitar 1400mdpl juga sebelum meluncur turun lewat desa Palintang menuju Ujung Berung.

Trip info:

Riding Specialized Carve 29″ hardtail
tyres: Continental X-King 2.2
uphill: 9/10
singletrack: 7/10
downhill: 8/10

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s