enjoy every cadence, every breath…

WJxc Ride#18 – CikarangMTB Kolozal#11

Catangmalang, 1 Juni 2011

Post ini adalah kompilasi cerita kesan Cikarangmtb Kolozal#11 Catangmalang Cariu seperti dituturkan di milis cikarangmtb@yahoogroups.com

IMG_3013helm-istimewaExcitement khas kolozal, kayaknya tidak pernah se heboh ini. Tim AABike1 dan AABike2 dengan omratman pemegang peranan penting, dan dua staff AABike masih cukup hijau menghadapi kolozal. Sungguh seru melihat lalulalang orang, sepeda, mobil, truk sampai excavator di depan AABike1 malam itu. Meskipun sudah sering ikutan Kolozal, gelegak jiwa menghadapinya tidak pernah berubah dari kolozal satu ke berikutnya. Semua terpusat di AABike1, sepenggal toko di Tegaldanas.

Flashback saya teringat excitement Om Asol membuka rolling doornya, waktu itu masih rumah biasa mirip bengkel Pak Rahmat di sebelah AA Bike 1. Om Asol panjang lebar menceriterakan rencana belio…

Kembali ke Kolozal, akhirnya kita pun sampailah di Sabtu pagi yang heboh. Berbagai macam jersey berbagai aliran berbagai gaya berkumpul untuk dikocok kocok dengan bis, truk dan kendaraan sampai ke Catangmalang, titik start kolozal di titik 1000mdpl. Sempat ada bis yang perlu minum karena kepanasan dan sebagainya, menambah gelegak jiwa semakin tak terkendali.

Pengen cepetan staaarrrrttt…

IMG_3023eskaTitik start seolah memberi peringatan, selebar halaman rumah makan tempat kita start dipenuhi dengan batu pecah. Tempat start pun sudah makadam sekali. Kembali teringat cerita panjang Papa TB tentang Deandels, Napoleon, kemudian Tanam Paksa kopi dan akses jalan makadam Kumpeni…

Start pun kita akhirnya disambut turunan nyuuuuussss.. onroad mulus…

Pas banget dengan iklan; “Pada dasarnya turunan”

Penjajahan Kumpeni memang kejam. Terbayang kan kalau kita tidak punya tanah garapan, tidak bisa menyerahkan hasil 20% luas tanah, maka kita akan punya kewajiban kerja paksa selama 66 hari dalam setahun (20% dari waktu). Kerja paksanya salah satunya ya jelas membuat jalan jalan merambah pegunungan, seperti yang pagi itu dijejaki para peserta kolozal#11. Miring keatas menuju pertigaan Arca.

Membawa sepeda menjadi beban, banyak peserta memilih melakukan hobby lain yang lebih menarik, berjalan kaki…

IMG_3031setar-membahanaSambil berhenti di keteduhan sebuah pohon avatar di pinggir jalan yang mulus bin miring ini, maka saya berusaha menyemangati rekan rekan dengan mengeluarkan kamera. Entah apa itu ya fungsi kamera yang ajaib, banyak peserta tiba tiba jadi kuat dan gowes lagi di tanjakan setelah melihat ada kamera beraksi.

Segala iklan ‘Pada dasarnya toeroenan’ yang beredar di milis kok jadi lupa ya? Yang ingat adalah semua itu merupakan hoax yang tercela. Hmmm… hoax informasi sih bukan salah yang nyebarin deh, salahnya juga yang percaya pada kebenarannya.

Tapi coba kembali bayangkan tahun 1800an, batu masih digerakkan dengan kereta kuda atau kereta sapi, atau malah pecahan pecahan batu itu harus dipanggul satu demi satu. Ditata di tanah hutan hujan basah yang masih banyak ularnya.

Sebenernya sejak ratusan tahun yang lalu sudah penuh drama area ini…

IMG_3061nyenderKita pun berhenti di pertigaan Arca, titik tertinggi trip ini di 1100mdpl. Saya bilang, “berikutnya turunan panjang 5km…” dan tidak ada satu pun peserta yang tampak percaya dengan informasi ini, mungkin dikira hoax…

Berbelok kekiri, kami pun mendapat hadiah yang berlipat ganda. Tampak di sebelah kiri trek adalah indahnya terasering sawah dan gunung batu di kejauhan. Gunung Batu tampak rendah dan jauh. Terasering sawah menunjukkan kalau air tanah masih mengalir kuat ke bawah. Ternyata hutan yang tersisa di atas/kanan trek, masuk kawasan Taman Nasional Gede Pangrango, masih menghidupi. Masih dengan setia mengalirkan air dari perut bumi untuk menghidupi.

Hadiah kedua adalah turunaaaaannnn….

Tinggal masalah nyali saja. Seberapa lama akan melepas rem. Seberapa jauh dan seberapa cepat berani meluncur. Hari itu cuaca tidak secerah survey day genjot scooby-doo. Jika cuaca clear kita akan dengan sangat jelas bisa melihat dari jajaran perbukitan Cioray/Batutapak/Cibinong sampai jauh tiga tower Gunung Parang di jauh di belakang Sangga Buana.

IMG_3077arcaSempat saya berhenti karena salah seorang Om dengan sepeda POLICE mengalami rd-nyelip ke roda belakang. Ada 30menit an menunggu sampai aman ditangani Om Ratman yang pas jangkar di belakang saya. Sambil berhenti di lokasi sepeda rusak ini saya perhatikan di sebelah kanan ada lembah sungai Cibeet. Ada air terjun kecil indah di kejauhan sisi Cianjur seberang sungai. Susah untuk lupa dengan trip GRATIS yang sudah membuat kami menyusur lembah itu.

Jalan aspal tidaklah panjang, kita segera kembali ke jalan makadam. Siapa yang membuat makadam? Jaman pemerintahan Pak Karno? Pak Harto? Pak Habibie Pak GusDur Bu Mega Pak Beye? Bukaaannnn… Ini adalah buatan Kumpeni penjajah Belanda. Woro walondo kalo kata orang Jawa. Di sebelah trek akan dengan mudah kita temukan peninggalan ratusan tahun yang lain, pohon cengkeh, pohon kopi. Sekarang pohon pohon ini adalah penlindung perindang dan hanya menjadi hasil sampingan. Pada masa tanam paksa, Kopi adalah komoditi yang mengkilau dan dibayar sangat mahal oleh para abtenar di Eropa. Dalam 70an tahun masa Tanam Paksa Belanda berubah dari negara yang hampir bangkrut menjadi negara kaya raya yang terpandang di Eropa.

Kemudian saya standby menjangkar-i Om Siswo di pertigaan Karedok. Dengan petunjuk jalan yang jelas… ke kiri 1km Griya Siliwangi…

IMG_3085kopi-gatotkacaKepada setiap yang lewat saya sampaikan, “Ayo silakan belok kiri Om… ada tempat makan dengan pemandangan indah”
Ada yang tanya, “lho… tapi kok jalannya batu begini Om?”
Saya jawab dengan senyuman… “silakan dinikmati Om….”

Pertigaan Karedok ini sungguhlah fenomenal. Pada saat survey scooby-doo track, lebih dari separuh member tim survey terbius enaknya turunan sambil juga terbius tidak memperhatikan GPS unit udah jerit jerit minta belok ke kiri. Akibat tidak mengindahkan belokan kekiri maka ada fraksi karedok yang makan karedok dulu di dasar turunan ini, lebihkurang dua kilometer ke lembah sungai Cibeet. Turun 2km sih ok, nah nanjak kembalinya itu lho…

Belokan kekiri memang tampak sekilas tidak menjanjikan. Jalan berubah jadi berbatu makadam campur tanah. Tapi justeru itulah keahlian trekbuilder. Belio bisa melihat dari satelit bahwa pemandangan di puncak bukit akan spektakuler… Salah satu pemandangan terindah dari trip kemarin.

IMG_3100berkah-deritaMenujuk puncak memang bukanlah perkara mudah untuk diucapkan, dan juga digowes. Setelah beristirahat menunggu jangkar berikutnya dan yang muncul adalah Eyang (lho, udah dekat sapu dong?), maka saya ambil napas dan mulai menjilati tanjakan ini. Menikmati cenutan demi cenutan di betis dan paha. Menikmati setiap jengkal dan sangat malas turun kaki.

Tanjakan ini sebenarnya adalah tempat terindah mengambil foto, tampak dari foto foto karya PakDe 3 yang mengambil spot sangat mirip dengan spot foto Om Hanif saat gowes survey. Foto sedang menanjak offroad dengan latarbelakang Gunung Gede Pangrango akan jadi foto yang indah sekaligus gahar. Tapi sudah mengambil banyak foto, termasuk ulang naik turun action saat survey, hari itu saya menikmati tanjakannya.

Sepanjang jalan saya menginformasikan kepada teman teman yang istirahat untuk lanjut karena tanjakan tidak panjang lagi, cuma 50meter. Hehehe… kayaknya sih tidak ada yang percaya ya dari jawaban sekilas dan bahasa tubuhnya…

Nah, kok makadamnya hilang? Apakah kumpeni tidak berperan lagi disini? Tentusaja tidak. Tampak di ujung tanjakan, kita rolling sedikit di kebun (lagi lagi) kopi. Jalan makadam juga tampak masih jelas di puncak punggung bukit sampai ke tempat makan siang; Griya Siliwangi.

IMG_3109bocahTempat istirahat sendiri sangatlah strategis dan indah. Salut untuk kegigihan Eyang yang pada akhirnya memungkinkan 150orang bisa diperbolehkan masuk ke area ini oleh si empunya.

Kumpeni merintis jalan jalan akses, untuk logistik kebun kebun emas hijau mereka. Ya, emas hijau. Masa 1800an adalah masa kejayaan komoditi yang sekarang menurut kita ‘biasa’ seperti teh, kopi, cengkeh, pala adalah primadona ekonomi dunia. Jika sekarang negara negara berperang untuk mendapatkan akses pada energi, maka pada masa jalan jalan akses ini dibuat, Inggris Perancis dan Belanda berperang dari lepas pantai pulau Jawa sampai dataran Eropa untuk memperebutkan akses pada emas hijau ini.

IMG_3126mushallaMulai meninggalkan Griya Siliwangi saya ingat benar, trek nya mulai kasar, mulai galak. Area ini adalah area yang trek nya makadam namun tampak cukup jarang dilalui kendaraan. Bregajulan makadam susunannya sangat tidak sopan. Selain makadamnya tidak sopan, juga perpaduan tanjakan dan turunan sangat mungkin membuat paha cenut cenut. Meskipun begitu kami diberi hadiah turunan jalan tanah panjang yang meliuk meliku flowing. Mengingatkan pada turunan serupa di daerah bandung utara juga di daerah hambalang. Turunan tanah ini adalah hiburan dan hadiah yang setimpal dibandingkan tanjakan makadam ke puncak Griya Siliwangi tadi.

Setelah meliuk tanah lalu makadam rolling bergajulan menghujam turun ke arah lembah sungai Cibeet hulu, kita disambut lagi dengan nanjak makadam bergajulan juga. Sampai ke titik kumpul berikutnya yaitu ‘Warung Mertua’. Mertua siapa??? Nanti juga menantunya jawab sendiri kok…

Kebayang ya jaman 1800an area ini masih dikuasai oleh tuan tuan tanah, keturunan bangsawan dan keturunan orang sakti penguasa wilayah. Kumpeni mengerahkan para pekerja tanam paksa untuk membuat akses meliuk liuk membelah bukit dan gunung. Untuk meyakinkan bahwa semua hasilnya lancar sampai pelabuhan terdekat untuk segera menjadi pundi pundi tambahan kemakmuran negeri penjajah.

IMG_3140buntelanAkses jalan dan logistik adalah peninggalan pola berpikir Deandels yang sudah berpikir seperti ahli supply chain jaman sekarang. Saking fenomenalnya pemikiran Deandels sehingga Napoleon pun merekrutnya ke Eropa untuk diajak perang ke Rusia… dan kalah…

Nobody perfect!

Seperti juga kampung kecil rumah mertua ini, kampung ini hanya bisa ada dua jalan akses, lewat tempat kita nanjak itu dari arah Cipanas Cianjur dan juga lewat tahap berikutnya perjalanan trek Kumpeni ini… sebuah singletrek makadam meliuk yang saat GRATISAN diberi nama ‘tembok ratapan’…

Lepas dari Rumah Mertua, sudah menunggu tanjakan di depan. Kelihatan jelas dari tempat istirahat. Banyak yang bertanya, “Kenapa gak kekanan aja Om…?”. Jalan kekanan dari arah Rumah Mertua memang tampak sangat landai dan menjanjikan. Tapi dua kali lewat sana selalu sekitar jam 10 malam sampai di masjid kubah hijau. Padahal jika berbelok ke kanan dan melewati kebun kebun kopi yang relatif masih aseli. Pohon kopi yang mungkin sudah berusia ratusan tahun… jejak Kumpeni akan lebih terasa…

IMG_3141antri-dongSesampainya di ujung tanjakan, sudah menunggu pemandangan indah, mejelang sore hari ke arah lembah Cariu dengan latarbelakang pemakaman Quiling dan pegunungan SanggaBuana. Banyak yang tampak kaget waktu diberi tahu di seberang lembah adalah Quiling… “Jadi kita lanjut nanjak ke Quiling Om?….”

Turunan ke arah warung Cipadu alias warung kirix sangatlah mengasyikkan dan sekaligus juga emosional. Jalur dari Warung Mertua sampai dengan masjid kubah hijau adalah jalur nanjak trip GRATIS. Susah sekali saya membayangkan pemandangan ratusan orang bergeletakan muka mulai kelelahan di Warung Mertua. Waktu pertama kami menginjak warung ini saat GRATIS, saya tidak membayangkan akan ada pesepeda lain yang bersedia dijerumuskan bersepeda sampai disini. Tidak membayangkan ada yang bersedia, dan lebih tidak tega lagi untuk mengajak kesini… Feeling seperti ini yang saya pelajari dari Pak TB… susah sekali dijelaskan.

IMG_3151bregajulTurunan asoy dan teknikal, singletrek makadam meliuk liuk menantang, berbahaya sekaligus menggemaskan. Asyik luarbiasa dijalani dengan sadel yang diturunkan. Seperti sebuah part yang emosional dan penuh perasaan ‘pembalasan’. Saat trip GRATIS kami berjalan dari arah sebaliknya. 95% dorong… Jadilah part ini mengenang kembali ratapan ratapan kami saat menanjak…

Warung kirix pun tampak saat semakin sore hari nya…. Kembali kita disambut oleh jalan makadam berbatu ala Kumpeni untuk trek selanjutnya

Dari warung kirix kita disambut turunan yang panjang, namun menakutkan. Batu batu makadam di turunan yang sangat curam. Waduh. Ekstra konsentrasi dan ekstra hati hati. Di beberapa tempat turunan ini malah ada air mengalir. Basah menambah trek jadi semakin berbahaya. Aseli, kalau tidak ingat harus cepat menghindar dari malam, karena tidak bawa lampu, maka saya akan pilih tuntun nih turunan.

Segera ketemu jembatan dekat kuil shaolin. Disini saya menggantikan rekan jangkar depan dan mulai mengarahkan rekan rekan yang lain untuk berbelok. Salah satu dari peserta sambil menengok cyclo meternya, bertanya, “Lho, Om… masih 10km lagi, lewat kanan ini benar??”… senyum simpul sambil menjawab, “Betul Om, 10km lagi rolling makadam… selamat menikmati”. Wajah campuran antara maklum dan menyesal serta ngeri segera saya lihat.

IMG_3197dawnSetelah pada akhirnya saya bisa bergantian dengan Om Ratman di pertigaan ini maka saya agak push untuk sejarang mungkin berhenti supaya gak kemalaman. Siksaan yang lumayan juga di tengah trek makadam Kumpeni ini rolling naik dan turun meskipun relatif masih banyak turunan dari tanjakannya. Di bagian trek ini pada akhirnya memakan korban sampai harus cedera. Memang trek nya membius, terutama di turunan kita pengennya lepas rem karena tau akan ada tanjakan lagi berikutnya.

Tapi akhirnya kena gowes gelap gelapan juga kira kira 1km menjelang kantor desa Cibadak matahari benar benar telah bersembunyi dan tinggal gelap jalannya saja. Menjalani dengan ikhlas part onroad Cibadak dan bonus tanjakan panjang nya maka berhenti di sebelah lapangan bola. pertigaan terakhir.

Sempat lama kongkow dan menunggu sampai akhirnya dapat kabar tentang kecelakaan sampai patah tangan. Waduh… tanpa bisa membayangkan seberapa parah rekan yang patah akhirnya menyegerakan ke titik finish dan dengan mobil menjemput evakuasi. Akhirnya kebagian evakuasi Aiko San dan penerjemahnya. Kasian udah kepayahan banget. Benar benar tak tenang sepanjang finish sampai akhirnya mendengar kabar jika Om Atang yang cedera sudah langsung meluncur ke Cikarang…. Semakin tengan saat melihat tim penyapu dengan wajah cerah nyampai di titik finish…

The Cikarangmtb KOLOZAL#11 organized by: Cikarangmtb@yahoogroups.com
Logo cikarangMTB

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr

One response

  1. Anonim

    Mantab om Antoix, kolozal #11 ini sangat spesial buat saya…di daulat jdi juru potret tim tc2, tapi kabur ninggalin mereka karena kebayang start yg terlambat & gak bawa lampu…pas magrib smp masjid dapat bonus kram 2x…hihihihi…

    Oktober 3, 2013 pukul 7:30 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s