enjoy every cadence, every breath…

WJxc Ride#14 – Gratis Cariu part-1

IMG_2055batagorCariu, 10 Feb 2013

Sudah sejak sekitar awal tahun lalu pengen banget menengok trek di daerah Cariu ini. Awalnya sih sering mendengar tentang Gn Batu dari rekan rekan mtb dan berakhir dengan sebuah draft trek, yang semula, saya kira memang itulah gn. Batu. Ternyata? Hehehe… kayaknya sih gunung ‘sebelah’ gn. Batu. Gapapa lah masih sebelahnya.

Akhirnya pagi itu berangkatlah 8 rekan pesepeda cmtb; OmHeruHajiasim, OmOkky, OmRatmanNewAABike, OmLatifJohnEpak, OmAtoe, OmHendraElRoyan, OmQodratPaspamvresh dan @antoix. Setelah mampir ke pintu10 dulu, jam 5 pagi lebih sedikit kita sudah mangkal di nasi uduk depan aabike. Nasi uduk jengkol masuk ke perut. Kumpul di Deltamas dan tim pun lengkap. Brangkat!!

IMG_2056tanjungsariPerjalanan darat melewati jalur matjyan mengaum Cicau dilanjutkan menuju titik start di Masjid Kubah Hijau. Posisi di dekat Puskesmas Tanjungsari, Cariu, Kab. Bogor. Cuaca cerah secerah cerahnya, padahal udah khawatir saja karena sehari sebelumnya hujan turun cukup lebat di Cikarang pun. Saat mulai genjot start jam 8 malam. Mengingat memang tanpa sweeper, alias GRATIS (Genjot Rame Tanpa SwIper) maka semua peserta berdoa dan mencatat nama lokasi titik start kalau siapa tau nyasar sendirian dan perlu petunjuk ojek kembali menuju titik start.

Sebelumnya saat melihat trek nya sudah kebayang sih, kalau bakal berat, akan ada GGB dan mungkin berlumpur lumpur, seharian sudah pasti. Siap nyasar dan dengan kondisi trek tak terduga. Adventurous dan hal hal tak terduga. Mungkin jalan buntu. Mungkin saya terlalu khawatir kali ya? Tapi terus coba saya tiupkan ke rekan rekan via chat bbm sejak sehari duahari sebelumnya. Maksudnya, biar gak kaget dan biar mempersiapkan mental. “Kalau kita sampai sebelum gelap sangat beruntung…” saya sampaikan di titik start.

Gowes semacam Sakit Jiwa kolozal memberi kenikmatan yang merindukan, mau pakai Sakit Jiwa tapi kan itu sudah identik melekat dengan kolozal. Maka GRATIS ini dibuatlah untuk pelampiasan tipe gowes serupa…

12cijambeOk ok… genjot yang ditunggu segera dimulai dalam ceria jalan aspal menuju Bandung. Masuk ke kampung, rolling naik turun aspal sampai akhirnya jalan keluar juga ke jalan berbatu makadam di puncak sebuah bukit. Meski tanpa sweeper genjoter Gratis Cariu tetap dalam satu grup, termasuk saat menjalani sebuah jalan miring keatas yang panjang sampai berhenti di sebuah gerbang menuju tempat peristirahatan yang disebut tempat wisata religi.

Ngobrol dengan penduduk setempat yang dengan berapi api menjelaskan tanah ini milik pak jenderal anu dan tanah itu sekian puluh hektar milik pak jenderal itu. Rupanya berkait dengan masa lalu ada rencana memindahkan ibukota negara ke Jonggol.

“Main lagi saja ke sini dik.. nanti jalannya udah di aspal kok bentar lagi”. Wadooohhh… dengan segera rencana meng aspal ini diprotes segenap tim. Genjot miringnya enak tidak curam terus hanya di beberapa titik saja. Gowesable. “Jadi ingat sukamantri jaman dulu…” kata seorang rekan. Akhirnya kita berhenti lagi di Kampung Cijambe, menjumpai sebuah warung dan mulai memesan teh panas manis… sluruuuppp…

17tapakTak terasa lama juga kita nge-pos di warung penyedia teh manis panas ini. Meskipun tampak dari luar warung kalau ada kulkas di dalam warung, namun tampaknya isi kulkas tidaklah membahagia kan. Sampai akhir trip kita banyak menemui warung ber kulkas dengan isi kulkas yang mengecewakan. Jangan jangan buat pajangan dan naruh baju kali ya?

Trek selanjutnya adalah masih dan masih campuran antara makadam dan jalan tanah dengan kubangan dan lumpur. Semakin naik semakin sejuk anginnya semakin indah pemandangan ke arah lembah. Di kejauhan sangat menarik perhatian punuk punuk gunung seputar desa philips Ciguentis yang terlihat istimewa dan indah di kejauhan.

Sekitar trek tidaklah tampak tanah cukup produktif. Jika bukan kebon yang berisi hutan rakyat, yaitu tanaman budidaya kayu maka lahan akan ditanami singkong, jagung meskipun sangat jarang. Juga ada pohon pisang menutup satu bukit/gunung. Tampak semua pohon pisang nya tanpa ada yang berbuah. Baru kemudian kita tahu kalau memang daun pisang nya lah yang menjadi komoditi yang dipanen.

18epakRolling kemiringan tambah miring dan sampai akhirnya bertemu kampung dengan kendaraan epak dimana kita foto dulu rekan kita John Epak di sebelah kendaraan kebanggaan.

Tak terduga kita bertanya ke anak kecil dan diberi tahu kalau ada ‘jalan aspal’ di depan. Seperti bercanda saja itu katanya ada jalan aspal. Tapi ternyata beneran, setelah ketemu jembatan lalu kita disambut tanjakan panjang ber-aspal. Seperti ada perasaan aneh di tengah negeri antah berantah begini ketemu jalan aspal.

Tak berapa lama kita segera keluar jalan aspal dan mulai miring meliuk liuk switchback sampai ketemu warung berikutnya di sebuah pertigaan. Warung Rumah Nenek yang Kang Latip memotret nenek tua. Di warung ini pun saya sampaikan kalo bagian berikutnya adalah part ‘Tembok Ratapan’, sehingga silakan loading minum dan makan sepuasnya. Saya memesan dua butir telor diceplok dimakan pakai kecap. Nyam… Untuk melonggarkan dan melebarkan pembuluh darah maka minum kopi kapal api juga…

21boboDi warung nenek inilah tim mendapat pemandangan indah, yaitu turunan, jalan makadam besar tampak enak digenjot sampai ke titik start. Tapi sayangnya tidak seorangpun dari peserta gowes benar benar mejalaninya. Meskipun stok martabak sudah mulai menumpuk, tapi ternyata stok harga diri masih memiliki tumpukan yang lebih tinggi

Selanjutnya yang dihadapi adalah sebuah tembok… Kemiringan secara tiba tiba meningkat tajam, trek pun berubah dari doubletrack jadi singletrack makadam. Sepeda hanya lah bisa digowes di beberapa titik. Sisanya kita harus rela untuk mendorong dan mendorong.

Mau cerita apa lagi di bagian ini ya? Habis cuma dorong dorong dan dorong.

Seperti yang kita lihat di warung nenek pohon pisang ini untuk dipanen daun nya. Beberapa kali kami bertemu pengendara sepeda motor. Mengingatkan saya pada gaya menyetir motor dan skill handling motor mereka dengan trek trek yang tampak tidak mungkin dikendarai dengan motor-motor bebek begitu. Mereka mengendarai motor sambil berdiri menyeimbangkan badan. Mirip gaya trial-motorbike.

Kiri dan kanan trek, selain batu dan batu tampak beberapa bagian bisa ditanami lagi lagi dengan pisang. Trek cenderung zig zag. Di banyak bagian, sebelah kanan trek adalah jurang dan di sebelah kiri trek adalah kebun secuplik atau batu dan gunung yang rasanya tak habis habis. Semakin tinggi posisi kita, pemandangan sebelah kanan, berupa lembah Cariu dengan latarbelakang pegunungan Sanggabuana semakin indah dan semakin indah.

Disinilah tim mulai semakin sering grouping, dan mulai deh Om Ratman mempopulerkan lagu “jangan pikirin abang…”
Jangan pikirin abang, dek… abang juga gak tau nasib abang bakal gimana…

25meluk-pohonSaat melihat di Google Earth memang sudah tampak kalau ada kampung tidak jauh dibalik puncak nya tanjakan tembok ratapan ini. Saat masuk ke kampung kita disambut singletrek turunan yang moy meliuk liuk dalam hujan yang mulai turun. Segala martabak, penyesalan dan penderitaan selama dorong dorong sepeda di tembok ratapan pun akhirnya selesai ketika jalan melandai lalu kita temui turunan! Ya turunan menuju sebuah kampung. Di warung yang berseberangan dengan sebuah musholla kecil kami berhenti dan hujan mulai deras mengguyur.

Warung tempat kita berteduh menjadi riuh. Ibu penjaga warung pasti kerepotan melayani permintaan rekan rekan yang mulai aneh aneh setelah meratap ratap di tanjakan. Yang jelas segera bisa dipenuhi adalah permintaan akan nasi, lalapan dan terlor ceplok plus sambal. Kalo dihidangkan di meja makan di rumah mungkin kita segera panggil bakso yang lewat saking menyedihkannya itu hidangan, tapi dalam hitungan detik segera nasi sebakul habis, semua lalapan termasuk kucai juga dilahap. Ampun deh. Memang sih waktu sudah menunjukkan sekitar jam 2 siang, wajar banget kalao lapar.

Peristiwa yang mengejutkan adalah tampilnya salah satu member trip dalam menjalankan keakhliannya. Tiba tiba dari dalam warung, dari dalam rumah penjual, muncullah seorang jejaka berkacamata hanyalah berbelit sarung saja. Wadoh. Maaf kalau ceritanya agak porno. Tapi begitulah adanya. Rambut belio tampak basah, rupanya habis mandi. Ya, mandi siang siang di rumah orang. Dengan santai belio menjawab semua kekaguman kita dengan jawaban singkat, “… makluuummm menantuuu….”

28kucaiHuaduh!! Gubrax!!
Nemuuu aja ya WC buat mandi letaknya dimana.

Setelah semua sholat dan selonjoran. Agak hilang trauma ratapan, maka saya sampaikan tiga pilihan lanjutan trek. #1 Melewati Cigaruguy… akan masuk hutan tapi minim tanjakan dan tidak menyeberang sungai. #2 Melewati jalan makadam ke Arah Cipanas akan ada jembatan tapi onroad martabak tanjakan moy. #3 Balik lewat jalan berangkat.

Tidak ada yang menjawab pilih yang mana, malah ada yang nanya “apa pilihan ke #4 om?”. Setelah juga kita tanya2 bapak penunggu warung maka belio bilang kalo Lewat Cigaruguy adalah “TIASA”. Werrr.. kami pun menuju Cigaruguy…

29cibeetSegeralah kita keluar dari jalan makadam dan disambut tanjakan tanah. Dorong sepeda sambil merenungi ban sepeda yang makin tebal dan tebal karena lumpur dan tanah menempel. Biking ngosh ngosh juga. Untung turunan segera menyambut. Turunan dalam kampung makin lama makin habis dan jalan makin tak terlihat. Saya tengok di GPS saat aktual perjalanan sudah mulai menyimpang dari rencana. Ternyata jalan yang ada dalam rencana (artinya tampak seperti jalan setapak di Google Earth) ternyata pada kenyataannya tidak ada di tempat. Huaduh!!

Sempat bingung dan tanya-tanya dalam kampung dan kepada siapapun yang kita temui, semua bilang ‘Tiasaaa…’. Pada kenyataannya kita berhenti di pematang sawah yang makin dan makin sempit. Untung bertemu mang Jajang yang bersedia mengantarkan sampai Ciagaruguy, tentusaja setelah mendapat wejangan dari pak John Epak pake bahasa yang baik dan benar.

Track sudah keluar dari rencana. Berbelok ke kanan masuk ke lembah Cibeet dalam petunjuk Mang Jajang. Blusukan dalam arti sebenar benarnya. Masuk ke trek yang tidak seperti trek. Saya yakin kalaupun tanpa bawa sepeda saja sudah susah menembus campuran atara pematang sawah, kebun dan padang alang-alang… Disini lah Om Ratman meraja lela dengan bb nya merekam foto dan video kumpulan orang sempoyongan bawa sepeda yang tigusruk kiri dan kanan. Menyedihkan… Onak dan duri jangan lagi ditanya, membabat dengan sukses tangan kaki dan muka. Tambah perih dalam siraman air hujan ringan.

Acara akrobat yang rasanya tak habis habis ini disambut dengan mendekatnya penampakan dan suara sungai Cibeet Hulu. Sungai ini membatasi kabupaten Bogor (tempat kita berada) dan kabupaten Cianjur (seberang sungai). Semakin mendekat maka suara deru air sungai semakin membuat hati saya pahit dan bergetar.

Akhirnya dengan sukses kita sampai di kampung Cigaruguy, ketemu sebuah keluarga. Betapaaaa…. leganya bertemu kampung dan peradaban setelah terbanting banting di tengah ‘Bukit Tiasa’ Cigaruguy…

Yang bikin keder, warga kampung bengong melongo waktu kami bilang kami mau nyeberang Cibeet..

Ampuuuunnnn.. di kejauhan terdengar suara gemuruh air sungai Cibeet

Saya sampai gak ngambil foto satu pun. Yang ada di pikiran cuma belom bikin surat wasiat saja…

post berlanjut ke bagian kedua…

This ride report supported by Bikewearr, hardcore biking apparell
www.bikewearr.com
www.facebook.com/bikewearr
twitter:bikewearr

One response

  1. Ping-balik: WJxc Ride#14 – Gratis Cariu part-2 | @antoix

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s