enjoy every cadence, every breath…

Lobang 18 – Sekotong- Teluk Sepi- Pengantap

Mataram, 18 Agustus 2012

Liburan lebaran masih newbie, makanya ambil libur lebih banyak di sebelum lebaran, mengakibatkan waktu yang tersedia buat acara gowes pun jadi acara di saat berpuasa. Maka gowes kali ini pun gowes puasa. Puasa hari terakhir. Benar benar genjot penuh dengan ujian.

Tak lama setelah selesai sahur dan Shubuh, maka perjalanan sudah dimulai. Mataram masih adem, matahari belum kelihatan. Suasana sekitar trek berubah bertahap dari perkotaan Mataram, lalu bertahap berubah semakin kering dan kering. Dari persawahan, ke ladang, lalu ladang kering, dan akhirnya kebun yang banyak diisi oleh pohon jambu mete. Gowes Santai dengan Ki Lobang tak terasa selam 3 jam baru lah pitstop di sebuah pasar yang amat ramai, terletak di pertigaan Sekotong. Tepat sebelum pertigaan ada penunjuk jalan yang jelas jelas menunjukkan tujuan trek ini “Teluk Sepi” berbelok kekiri.

Tidak biasanya saya sangat menikmati genjot onroad yang panjang begini. Tak terasa genjot santai samapi Sekotong telah mencapai lebih dari 40km sejak titik start. Secara kilometer sudah lebih dari separuh trip dan udara baru mulai terasa panas. Matahari baru mulai terik. Perubahan secara bertahap namun kerasa, dari Mataram ke selatan, menuju arah pelabuhan Gerung yang jadi jalur penyeberangan darat ke arah Bali, maka perubahan suasana ini yang terasa jadi bumbu perjalanan. Mungkin ini salah satu yang membuat bersepeda touring jarak jauh menjadi sesuatu yang mencandui para penggemarnya yah? Wah, gejala keracunan?

Kota Sekotong sendiri (kalau boleh disebut kota) sangatlah ramai di pasarnya. Terdengar mulai ada yang membunyikan rekaman takbir. Suasana menyambut Lebaran sangatlah terasa. Sangat jelas tampak keramaian di area konter2 mirip counter HP yang bertuliskan ‘dibeli emas’. Memang menjelang kota Sekotong ini bertahap mulai terlihat ada semacam alat penambang atau pengolah tambang emas. Skala kecil dan tradisional. Maka sangatlah mungkin skenario nya adalah, menjual emas hasil menambang lalu uang nya dibelikan ayam, kelapa dan daging. Saya sampai berhenti lebih dari 15 menit di pertigaan pasar ini sambil mengeringkan keringat. Sangat menikmati suasananya.

Nah, setelah bertanya tanya dan konfirmasi arah ke Teluk Sepi, akhirnya perjalanan dimulai lagi dengan genjot perlahan dan pelan ke arah selatan, dimulai dengan jalan rata dengan kebun jambu mete di kiri kanan jalan. Cuaca semakin kering dan panas, tanjakan semakin jahanam dan tak ada habisnya. Leher mulai terasa kering memuncak.

Daripada mikirin paha cenut cenut dan bibir serta leher kering karena puasa, maka saya melihat lingkungan sekitar trek saja. Tampak area kering kerontang. Mengingatkan pada area seputar Gunung Kidul di Jogjakarta. Sementara batu batu besar berwarna hitam tampak kadang muncul dari dalam tanah atau di sebelah jalan. Vulkanik sekali suasananya.

Sepanjang perjalanan sebenernya pada prinsipnya tanjakan cuma ada tiga doang. Tanjakan nya tampak pendek, dibandingkan dengan keseluruhan perjalanan, di altitude profile cuma tampak sebagai tiga gundukan kecil. Tapi ampun ampunan deh ngadepin nya. Gundukan pertama saya rasa yang paling miring. Sampai ada semacam switchback begitu, padahal jalan besar beraspal yang dilalui ramai. Gundukan kedua panjang gak ketulungan dan paling berat. Padahal ketinggian ‘cuma’ ke 200m dpl. Tapi balasan gundukan kedua, yang dijalani saat haus haus nya, saat panas panasnya cuaca adalah turunan pendek dan miring dengan pemandangan laut biru kehijauan di depan!!

Sampailah kita akhirnya ke Teluk Sepi. Namanya melambangkan apa yang kita lihat. Perkampungan nelayan, tanpa listrik, tidak banyak sarana pendukung, warung jarang, bangungan termegah adalah kantor polisi dan masjid. Benar benar sebuah teluk yang sepi berpasir hitam dan ber air warna hijau campur biru. Seger banget di mata setelah seharian terpapar matahari arisan.

Bolak balik saya melewati jalan raya yang beraspal lalu menembus halaman perkampungan atau jalan kampung ke pantai dan sebaliknya. Pantai nya tampaknya sangat seru untuk dilihat bawah laut nya. Seperti ada hutan warna hijau dibawah sana. Benar saja, kemudian memang saya temukan di beberapa sumber di internet kalau terumbu karang teluk ini sangat indah. Apalagi ditambah laut yang tenang karena ini adalah area teluk yang menjorok ke daratan, terisolasi dari ganasnya ombak laut selatan.

Tempat yang tak terjamah, murni, sepi, damai dan eksotik.

Dan salut untuk siapapun yang pertama memberi nama tempat ini…
Saya bertekad untuk kembali ke tempat ini lagi! Mungkin dengan membawa peralatan snorkeling…

Keindahan disajikan oleh alam sudah tak terkira, keluar masuk kampung bersepeda, sambil bersiap menghadapi tanjakan ketiga dan perjalan ke Pantai Pengantap yang merupakan ujung trek, saya menemukan puluhan orang berkerumun di bawah sebuah pohon besar, di tepi lapangan dipinggir pantai.

Saya mendekat ke kerumunan dan mendapati mereka, ada berkumpul dari kakek-kakek sampai anak balita, mengerumudi tikar besar dengan potongan potongan daging yang sedang dibagi berada diatasnya. Sebagian tampak sibuk menimbang dengan timbangan sederhana, berusaha membagi rata. Dua onggok kepala sapi tampak tergeletak tak jauh.

Tertegun saya sangat lama, sambil tebar senyum. Belum berani mengeluarkan kamera. Semuanya menggunakan bahasa daerah Sasak yang di telinga saya seperti campuran atara bahasa Jawa, bahasa Bali dan bahasa Madura. Saya ikutan pakai siaran SKSD (sok kenal sok dekat), dan mulai bertanya tanya tentang apa yang terjadi.

Rupanya ini adalah tradisi di area ini. Warga kampung nelayan ini, ada 27 keluarga, bersama sama bergotong royong menyembelih dua ekor sapi. Kemudian dagingnya dibagi rata ke semua keluarga. Semua dilakukan untuk menyambut hari Lebaran yang datang esok hari. Luar biasa aura nya di area ini. Enthusiasme lebaran dalam kesederhanaan kampung dan excitement menikmati sesuatu yang lebih di hari raya.

Saya minta ijin, dan mulai memotret, berputar di sekitar area. Seorang anak balita kecil mendekati saya terus, dan berusaha memunculkan wajah dan badannya di setiap frame yang saya ambil. Kocak sekaligus lucu dan agak menyebalkan sih… hehe…

Teluk Sepi … kau kembali menunjukkan sisi keindahan mu yang lain.

Rasanya enggan meninggalkan area ini. Terlalu dalam berkesan terutama site potong sapi itu. Tapi perjalanan masih belum sampai di ujung trek rancangan.

Trek berikutnya keluar dari Teluk Sepi, akhirnya perjalanan dilanjutkan dengan melewati jalan yang tidak lagi mulus. Gravel. Campuran antara tanah, sirtu dan juga pecahan batu. Berdebu sekali setiap ada kendaraan roda empat yang lewat. Meski panas semakin menyengat dan saya tidak lagi bisa bohong kalau semua skala aerobik telah terlewati, rasanya setiap genjotan menjadi berat. Untungnya trek menyajikan sesuatu yang berbeda kali ini. Trek serasa sangat offroad. Setelah seharian didera panjangnya dan miringnya trek onroad maka perubahan ini menyegarkan banget. Terengah mendaki tanjakan ketiga, yang di GPS tampak sebagai pangkal sebuah tanjung.

Lingkungan sekitar trek kali ini berubah lagi. Di sebelah kanan tampak hutan bakau. Ya, trek dekat sekali dengan hutan bakau. Bahkan saya bisa liat contoh hutan bakau yang ditebangi dan dimanfaatkan kayunya. Saya bisa melihat genangan air laut/payau nya. Benar benar berbeda!

Sementara sebelah kiri trek berupa perbukitan dengan pohon yang jarang dan rerumputan dengan sapi digembala. Sangat Nusa Tenggara kan? Saya seperti masuk ke dalam jantung Nusa Tenggara. Trek yang pendek sekali sebenarnya, dari Teluk Sepi menuju Pantai Pengantap ini memberikan pengalaman tak terkira buat rekaman bersepeda gunung saya yang tak terasa sudah berusia lima setengah tahun.

Berikutnya adalah bertemu dengan sebuah kampung. Ya kampung. Jelas tertulis “Kepala Dusun Pengantap” di pinggir jalan. Ada jalan conblock yang saya ikuti. Tak lama kemudian anak-anak kecil mengikuti saya dan menemani saya selama hampir sejam selonjoran di Pantai Pengantap. Most probably the best beach I ever experience…

Tidak seperti Teluk Sepi, pasir Pengantap berwarna putih
Pengantap semacam teluk namun tidak tertutup, jadi masih tersa angin dan deru keras Laut Selatan
Warna air biru kehijauan
Suasana aseli
Angin kencang yang dingin

50+ kilometers to this site. I don’t know what to expect more…

Tracklog trek ini ada di.. bikemap
@antoix trekrating:
Uphill: 8/10
Downhill: 6/10
Scenery: 9.5/10
Endurance: 9/10

Guided by Garmin Etrex HCx
Ride on Specialized Carve Comp on Continental XKing 2.2
Pictures taken using Canon EOS50D and Blackberry 9105

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s