enjoy every cadence, every breath…

Solo Ride on Beautiful Ridge of Padalarang – part2

tulisan sambungan dari part1…

Beristirahat sejenak mengisi perbekalan air minum dingin ke dalam bidon, karena sadar berikutnya akan melewati area yang sangat jarang warung. Sambil meluruskan kaki dan melihat lagi GPS, sebelah mana akan masuk kembali ke trek karena turun nya ke jalan Rajamandala/Citatah ini tidak ada dalam rancangan trek. Rancangan trek sebenarnya masih merayap meliuk liuk diatas perbukitan.

Dengan sedikit tebak tebak masuk ke jalan yang ternyata buntu, akhirnya bisa mendapat akses kembali mendekat ke trek rancangan. Setelah disuguhi pemandangan truk truk tua pengangkut batu kapur yang berjalan perlahan lahan, maka kali ini pun diberi pemandangan kawasan eksplorasi batu kapur yang membelah belah perbukitan Padalarang. Kembali terngiang cerita rekan saya yang Geologist, Om Hanif, tentang sejarah panjang perbukitan kapur Padalarang ini. Juga dilengkapi dengan ingatan membaca buku GEOTREK Cekungan Bandung karya T. Bachtiar yang juga membahas dengan detail area ini.

Keindahan dan keunikan bentuk perbukitan kapur sudah tampak mulai tergerus gerus oleh pertambangan. Sebuah kenyataan kehidupan yang harus kita terima dengan lapang dada. Pertarungan antara pelestarian dan pemanfaatan kekayaan alam memang tidak pernah akan berhenti untuk diperdebatkan.

Setelah memotret sepeda berlatar sebuah relief bentukan batuan kapur yang akan segera punah, trek pun berlanjut dengan memeluk perbukitan, dan mulai masuk ke tanjakan menuju area pedesaan di seputaran kebun karet. Nanjaknya tidaklah tajam namun panjang dan tak berhenti, di tengah lingkungan yang cenderung berdebu karena kegiatan pertambangan.

Selanjutnya trek dihiasi dengan masuknya kita ke perkampungan. Berjalan di sebelah perumahan penduduk yang ternyata tidak selalu ada jalan setapaknya. Kita tiba-tiba dihadapkan pada drop off yang tersedia dari teras teras halaman satu rumah ke halaman rumah yang lain. Dengan sepeda 29er ini terdapat keasyikan tersendiri menjalani drop off seperti ini. Setelah menyeberang sebuah jalan aspal, sempat bimbang melanjutkan jalan offroad akhirnya dan mendapati diri saya menuruni perbukitan didalam perkebunan karet sampai berhenti di rel kereta api Bandung-Cianjur.

Mulai melewati area ini saya sudah semakin jarang memotret karena mulai sadar kalau waktu gowes mulai mepet. Padahal mood motret lagi enak, gowes sendirian juga tak perlu kuatir rekan lain menunggu kita memotret. Perut sudah mengundang untuk segera diisi nasi, dan terbayang dengan jelas jika makanan hanya akan tersedia dengan layak di warung yang akan ada di pinggir jalan nasional Padalarang-Purwakarta. Masih jauh untuk dikejar padahal waktu makan siang sudah lewat.

Pohon dan hutan karet menjadi menu utama kemudian. Turunan panjang ke rel kereta api, menyeberangi rel jurusan Cianjur lalu mulai naik nanjak masih dalam hutan karet sampai akhirnya mendapati diri disuguhi jembatan area Cipularang yang mulai tampak sangat dekat. Jadi ingat tadi juga sudah tampak jembatan ini dari jarak dan ketinggian yang berbeda. Kali ini jembatan terasa lebih nyata.

Lebih nyata termasuk betapa sebuah ‘pasir’ (nama sebutan untuk bukit) telah habis musnah dikeruk tanah/pasir nya menjadi bahan bangunan. Ya kita muncul tepat di puncak areal penambangan pasir/tanah. Pemandangan yang mencengangkan, yang juga kita selalu lihat dari arah Jalan Tol Cipularang. Makan Siang adalah acara kemudian dan harus segera dilakukan. Sebuah rumah makan padang jadi tempatnya.

Selanjutnya adalah bagian sisi lain trek yang lebih terbuka, lebih nanjak dan lebih banyak doubletrack. Tidak lagi terlalu merasa akan ‘hilang’ di sini. Meski terasa tidak akan hilang adalah benar, namun ujian berikutnya adalah pada endurance dan kesabaran menjalani tanjakan yang bertubi tubi.

Diawali dengan tanjakan jalan aspal mulus, melewati kampung dan menyeberang sungai. Lalu kampung jalannya berubah menjadi makadam dan menerobos di bawah jalan raya Tol Cipularang. Menanjak tak berhenti medan makadam dengan diselingi keteduhan pepohonan dan kadang juga area terbuka. Cuaca siang itu agak terasa panas menyengat, untungnya trek sangat sering tertutup keteduhan pepohonan. Yang juga menarik dari bagian kedua trek ini adalah jembatan rel kereta. Rel kereta yang menjalani jalur dari Padalarang menuju Purwakarta. Jalur rel kereta merayapi perbukitan menghasilkan banyak jembatan kereta baik diatas sungai ataupun melewati ngarai.

Nanjak nya selain melewati persawahan, lalu kebun dan kampung ber pohon bambu yang rindang, juga melewati singletrack di tengah kebun karet. Adem di badan dan semilir angin tapi panas di paha dan jantung berdebar kencang karena tanjakan panjang dan konstan. Sungguh sebuah ujian yang berat lalu dilanjutkan dengan trek terus nanjak ke ketinggian 970mdpl di lereng gunung Burangrang yang tidak juga berhenti menanjak. Trek tetap campuran jalan tanah, aspal dan aspal rusak. Sempitnya waktu dan target jam selesai gowes semakin menekan untuk jarang berhenti dan terus push nanjak.

Rasanya tanjakan tak ada habisnya, sebuah pemeo yang sudah sering saya buktikan bahwa tidak benar. Tanjakan itu semua ada ujungnya, semua perjuangan ada pencapaiannya. Akhirnya di puncak ujung tanjakan, sayangnya tidak ada sebuah landmark yang berarti kecuali mulai ditemui nya perkebunan teh. Dari Google Earth/Google Map tampak bahwa puncak tertinggi ada di sekitar wilayang yang dinamai Gn. Tangkil. Jalan aspal low grade bercampur tanah kering kemudian bertemu jalan aspal mulus. Saatnya jalanan turun dijalani.

Tidak sekedar turunan ternyata, karena dari jalan mulus trek berbelok lagi kekiri memasuki jalan yang lebih minor, jalan yang lebih parah dan makadam kondisinya. Dengan beberapa tanjakan melipir kaki Burangrang lalu dilanjutkan dengan turunan makadam panjang yang sangat menggairahkan. Sangat enak dilewati dengan 29in hardtail ini. Turunan makadam panjang yang seolah tak habis habis segera disambut dengan bertemu kembali rel kereta dan nanjak onroad kembali ke titik start di Padalarang. Nanjak onroad nya sendiri adalah sebuah ujian penutup yang berat untuk dilupakan.

Tracklog GPS trek ini ada
Versi lengkap all day endurance seperti cerita post blog ini ada disini…
Versi pendek fun mountainbiking disini…
Versi pendek fun mountainbiking saya jalani kemudian dengan start dan finish di Situ Ciburuy ceritanya disini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s