enjoy every cadence, every breath…

Solo Ride on Beautiful Ridge of Padalarang – part1

Bandung, 21 April 2012

Trip yang ini dilakukan seorang diri, solo ride. Cukup sering solo ride belakangan ini. Alasannya karena kadang ribet mengatur jadwal, sering gowes langsung berangkat, atau gowes yang direncanakan trek nya tapi waktunya tidak tentu. Kan susah kalo ajak ajak teman, harus komit waktu dan jadwal yang belum pasti. Alasan lain gowes solo adalah treknya bikinan sendiri dan belom ketahuan seperti apa. Apa bisa dilalui apa nggak? Survey trek mengandalkan Google Earth kadang tidaklah selalu bisa diandalkan, karena melesetnya bisa sampai 100meter. Yang dikira singletrak ternyata adalah semak belukar tak terlewati. Kedua alasan ini terbukti di trip ini.

Titik start sampai hari genjot masih bimbang, sudah lama tidak lewat Padalarang kota sejak ada Tol ke Bandung, sempat mau parkir di salah satu bank ternyata gak boleh sama Satpamnya. AKhirnya parkir di pinggir jalan raya sebelah utara Pasar Padalarang ke arah Purwakarta. Pas di depan PLN Padalarang di seberang Polsek Padalarang. Seberang kantor polisi, semoga aman.

Memasuki jalan kampung pas diatas rel kereta trek membawa ke jalan besar semen yang akhirnya menyempit menjadi singletrek semen. Jalan kampung bersemen yang turun terus sampai bertemu rel kereta. Kemudian dilanjut sedikit menyusuri rel kereta.

Memang rel kereta adalah salah satu penghias dan bagian dari sajian utama trek ini. Di area Padalarang inilah trek kereta dari arah Bandung terbagi dua, ke kanan ke arah Purwakarta lalu Jakarta, sementara kekiri ke arah Cianjur lalu Sukabumi dan kemudian Bogor. Dalam sejarahnya trek rel kereta via Sukabumi lebih dahulu dibuat di jaman kolonial, namun pada perkembangannya trek kereta via Purwakarta yang lebih sering digunakan sampai sekarang. Belitan dua trek rel kereta ini simpul menyimpul dengan keindahan pegunungan tatar Pasundan di seputar trek ini.

Selepas sepotong sekitar 200m rel kereta trek menunjuk ke atas. Ya betul, miring banget dan jelas un-genjot-able. Salah satu eksperimen pertama pada trek buatan sendiri yang ini adalah coba memasukkan singletrack. Selama ini trek buatan selalu double track, aman, hampir pasti ada beneran di lapangan. Apa yang kita lihat dari google earth kemungkinan 80% ada beneran di dunia nyata. Beda dengan singletrack, bisa terpengaruh oleh kapan update terakhir foto udara Google dan juga faktor luck.

Dan benar saja, setelah melewati pematang kebun ke pematang kebun. Jalar air ke jalan air, maka saya mendapati seorang diri di tengah bush. Di tengah rerumputan segala macam dari alang alang sampai yang berduri, dengan tinggi rumput setinggi kepala saya. Wadoh. Tebakan bahwa ‘ada singletrack lah disitu…’ saat merancang trek ternyata salah. Mulai melangkah hati hati, sambil berharap, di ketinggian 700an mdpl seperti ini tidak ada ular liar yang lagi bobo bobo pagi. Susah sekali kan dibayangkan kalau mengajak orang lain pada gowes seperti ini? Betapa kita jadi seperti menjerumuskan orang lain pada trek tak jelas. Namun kalau sendirian sebenernya berbahaya juga ya…

Sempat terpikir untuk balik kanan, melihat semakin tinggi nya pepohonan dan rerumputan, sementara jalan setapak yang semula masih tampak, kali ini sudah hilang di tengah lebatnya rerumputan. Di sebelah kanan saya sudah mulai lihat bahwa tempat ini sudah berada di ketinggian, mulai naik ke perbukitan menuju ‘ridge’/tepi tebing yang memang menjadi ide utama trek ini. Di kejauhan sekitar 30-100 m kedepan saya lihat kumpulan pohon perdu, seperti yang biasa ditanam di perbatasan antar kebun. Saya berjudi saja menembus rerumputan sambil angkat-angkat sepeda. Untungnya benar, akhirnya ketemu perkebunan di ujung bukit, tampak akses nya dari arah berlawanan, dan dikejauhan sebelah mulai tampak situ Ciburuy… Wah lega banget. Trek pun berlanjut dengan menyusur kebun dan downhill singletrack yang asyik menuju kampung sebelah situ Ciburuy.

Istirahat dan melepas ke lega an di pinggir utara situ Ciburuy. Menghilangkan duri duri yang menancap di betis. Tapi terusterang turunan dari puncak bukit ke kampung dekat situ Ciburyu tadi sangat mantap. Singletrack meliuk liuk teknikal. Sebenarnya kan ini jalan akses ke kebun buat penduduk. Mungkin mereka melewatinya pakai motor.

Tak lama selonjoran muncul lah seorang pesepeda gunung sederhana dengan hardtail specialized juga. Bersahaja memakai topi dan membawa bidon. Obrolan ringan berlanjut dengan kesepakatan buat gowes bareng. Saya bilang saya mau ke area Goa Pawon. Jadilah mulai situ Ciburuy ada teman goes. Namanya Kang Yudi. Belio tinggal tak jauh dari Cimahi. Perbatasan Cimahi-Padalarang lah. Gowes sendirian saja seperti saya. Situ Ciburuy merupakan tujuan rutin belio selain area Parongpong.

Sesuai trek rancangan di GPS, hanya jalan mulus sekitar 500m kita berbelok ke kanan, nanjak. Tanjakan jalan kampung berlapis semen. Persis jalan mau masuk ke rumah orang. Memang bener melewati beberapa rumah orang, lalu masuk ke kebun. Campuran kebun jagung, kebun pepaya, kebun singkong. Kami pun berjalan melewati jalan air dan jalan akses peladang, masih bisa mengikuti draft rute. Kali ini nasib baik trek manis menyambut, tidak seperti disambut padang ilalang mengerikan di bukit sebelumnya kami disambut singletrack, jalan akses petani, jalan air yang rapi serta jalan setapak nanjak dan turun yang gowesable.

Dan yang paling indah adalah pemandangan di sisi kanan trek. Persis seperti yang saya bayangkan tentang trek ini. Kita berjalan di sisi luar trek, di bibir jurang. Pemandangan ke bawah ke arah ngarai adalah pemandangan jalan tol Cipularang yang menjelang mencapai Padalarang, rel kereta baik Bandung Cianjur ataupun Bandung Purwakarta, juga jalan negara Bandung Purwakarta. Indah…

Langsung hati saya berbunga bunga. Inilah untuk pertama kalinya merasakan sukses merancang singletrack bersepeda!! Meskipun sudah membayangkan dan memvisualisasi tapi saat menikmati sendiri ngarai yang berlekuk lekuk jauh menurun sampai ke kawasan Purwakarta tetap saja hati saya takjub dan bergetar.

Kemudian trek ini pun ditutup dengan menemukan jalan doubletrack akses tambang galian batu kapur. Kembali terasa kekerasan dan kegarangan alam Padalarang ini sampai akhirnya kami menemukan jalanan menurun panjang meliuk liuk melipat bukit menuruni tebing ke arah Jalan Raya Padalarang via Citatah/Rajamandala. Disinilah saya terpaksa kembali gowes solo karena Om Yudi RD nya patah setelah beberapa kali problem sejak di perbukitan diatas Situ Ciburuy.

tulisan bersambung ke part2…

One response

  1. Ping-balik: Solo Ride on Beautiful Ridge of Padalarang – part2 « @antoix

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s