enjoy every cadence, every breath…

Night Ride Cikarangmtb Jalur Lio

Cikarang, 27 Juli 2012

Sedulur Songolikur saya Om Qoqo yang pertama mengompor ngompori acara night ride ini. Memang bener sih pesona dan sensasi ngebut malam malam di bulan ramadhan sangat ngangenin. Seolah melupakan semua kesulitan mengatasi ngantuknya hari kemudian, juga melupakan rasa cenuth cenuth dengkul akibat pasti ngebut karena gak ada yang mau di belakang…

Saat akhirnya berkumpul malam itu, kaget juga ya… boanyak juga. Eyang AN bilang, “Wah… begini begini 28 orang berkumpul Om…”. Memang banyak banget!! Wah, saya sampai susah kalau diminta nyebut satu satu.

Seolah tau Rawon nya memang moanteb! ada tuh seorang rekan yang tjuri tjuri start menyantap rawon dulu “Sambil nunggu pejabat negara yang bikin duplkat kunci….” Yang juga menarik adalah malam itu suasana cukup ceria. Banyak haha hihi. Perasaan saya saja kali ya? seperti sudah lama banget ya cikarangmtb tidak haha hihi…

Ki Lobang masih dilapis debu dari duet kebut2an ama OmRatman. Tapi fokus perhatian malam itu pada sepeda merah putih punya om Kodrat. Dengan gotongroyong divariasi dengan mengubah menjadi sepeda 69er.

Tambah seru waktu akhirnya pakpress hadir. Sambutan berupa peluk cium, sambitan, tendangan sampai pujian serta cacian gurau seru segera menghangatkan seputar pintu sebelas pak brewok. Keriuh rendah an malam itu mengingatkan pada ke riuh rendah an ala aa bike yang sudah lama tidak kita rasakan.

Memang malam itu jadi gowes seru kangen kangenan…

Start…

Wah dimulai dengan ngicik asik, biar otot paha gak kaget, langsung mengarah ke jalur perempatan gemalapik. Tim masih bergerak dalam peleton besar. Asik banget yah, liat hampir 30 sepeda lengkap dengan lampu kelap kelip menusuk malam (halah bahasanya).

Melewati jembatan tol, kemudian melewati perempatan gemalapik, kita pun seperti masuk ke dalam trek sebenarnya. Saya ingat sekali trek ini di masa lalu adalah trek gravel yang maknyuss, meliuk liuk belok kiri kanan juga naik turun. Hosh hosh nya saat nanjak dipadu dengan deg deg an dengan speed saat turunan bersahut sahut sambil kita bisa mulai melihat perumahan Lippo Cikarang di sebelah kanan trek, jauh di bawah. Disinilah kita ketemu segerombolan sapi lagi jalan-jalan malam. Heran deh. Gak kurang dari 10 ekor sapi diumbar gitu aja. Berkeliaran nutup nutupin jalan.

Disambut downhill ke arah Lippo Cikarang, lewat jalan tanah bergelombang yang maknyeeeesss dilahap pake Ki Lobang. Tau tau saya sudah ada di pintu Ellysium. Di kejauhan saya lihat ada kelap kelip lampu nanjak ke arah Cibodas. Wah wah… mungkin karena sangking gemar nya nanjak, sampai seharusnya trek mendatar masuk Ellysium ini rombongan malah beriringan nanjak. Terpaksa saya dekati. Oooo… ternyata rombongan *tiiiiiiittttt*

Kemudian tim yang secara musik jazz disebut “tim improvisasi” ini pun bergenjot ke arah Ellysium sambil tersenyum senyum simpul. Malu berkata kata meskipun alasan sih ada saja. “Kita kan cari keringet Om Anto, makanya milih jalan menanjak…” demikian pernyataan resmi bernada pencitraan diri.

Tampak teman-teman berkumpul lagi di tengah kawasan industri Delta Silicon 5, sebelah Ellysium. Tak berapa lama tim pun melahap tanjakan ke arah desa jalur Rally Perang. Kita kasih nama saja ya, ‘Tanjakan Rally Perang’, lalu melipir di atas perbukitan. Memang menggetarkan hati, kawasan perbukitan kampung kering ini sudah mulai diratakan. Kita genjot di jalan gravel yang masyuk digowes, dengan pemandangan di kiri dan kanan jalan adalah kawasan industri.

Akhirnya kita pun memasuki jalur klasik Cicau. Di pertigaan ini, seorang rekan berinisial minuman sruput panas melakukan cek ulang, “Bener nih, Om Anto, jalannya lurus ke arah Serang?”. Tampak sekali ada nada nada romantisme plus kekhawatiran mendalam dalam tiap kata nya. Hmmm, mungkin pengalaman pengalaman gowes ke Serang yang lalu tidaklah terlalu menyenangkan buat belio. Gowes pun jadi dilanjutkan dari “Jalur Rally Perang” nyambung ke “Jalur Nu J3”. Jalur Nu J3 yang digubah oleh Eyang ini adalah jalur NR juga tampaknya, mungkin dua puasa yang lalu ya? Waktu itu masih banyak makadam nya.

Sedikit menyimpang dari jalur Nu J3 yang sudah jadi jalur beton full, gowes pun belok kiri ke “Jalur Lio”. Jalur ini melewati boanyak sekali lio lio alias pembuatan dan pembakaran batubata. Kalau kata Kang Asol, “Asik jalur ini, keluar dan masuk lio…”. Meskipun dibuka dengan jalan gravel, jalur yang sejajar dengan “Jalur Klasik Cicau” ini sudah mulai ada beberapa bagian di beton juga.

Naik dan turun asyik akhirnya jalur ini memakan korbannya. Di salah satu turunan tampak seorang pesepeda kehilangan keseimbangan, terjatuh dan ditabrak pesepeda dibelakangnya. Saya kurang jelas siapa yang jatuh, yang jelas belio tidak tampak terganggu gowesannya. Mantab!!

Tak berapa lama setelah ini, grup tengah yang saya ikuti tampak terjadi kemacetan. Tim bergabung dalam peleton besoar sundul menyundul tidak mau gowes di belakang, khas NR. Tapi tampak dua punggawa di depan mengendalikan kecepatan gowes… siapakah dua sejoli ini???…. tunggu di part berikutnya

Pitstop pertigaan cukup lama, kali ini trek menjumpai jalan beton lebar. Tampak heboh di bagian tengah, oh rupanya ada yang ban nya lagi enak enaknya makanya perlu diganti ban dalamnya. Kabar kabur yang beredar sih pengendara sepeda ini agak pecicilan ngepot2 di depan makanya dihadiahi sebilah paku ke dalam ban nya.

Menunggu yang mengganti ban tampaklah kelap kelip dan ragam gaya dan jenis peserta malam itu. Memang gowes nr salah satu istimewanya adalah adem dan semilir angin malam. Para goweser dari tadi tampak genjot bersama lebih kencang dari genjot sehari hari biasanya Cikarang. Adem nya gowes malam memang memberi energi tersendiri.

Saatnya pun berangkat kembali. Dari pertigaan rombongan berbelok ke kiri. Kembali saya dengar gumam rekan penggemar minuman panas penahan kantuk, “Lho, kok kekiri bukan kekanan?…”. Segera saya pahami betapa arah Serang sudah sedemikian mendarah daging. Ada didalam setiap aliran darahnya.

Sisa gowes via PLN Cicau dan Pemda adalah gowes ngebut. Wuzzz wuzz wuzzz. Saya yang terpisah dari tim dan melewati SMA serta gravel lalu bundaran PEMDA hanya kebagian asep nya saja… Sampai di Rawon semua selonjoran lalu menikmati hidangan Rawon dan Tahu Petis…

Tracklog GPS rute ini ada disini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s