enjoy every cadence, every breath…

Mengintip Gn Meong yang Misterius

Gambar curug disamping ini diambil dari sites.google.com.

Bandung 6 Maret 2012. Masih euphoria dengan tunggangan baru kali ini mencoba trek yang sudah diidam idamkan sejak lama…

Menuju curug cileat [lihat disini…].

Pengennya… pada kenyataannya cuma sampai 75% dari trek. Memang bersepeda hari ini sangat ambisius, trek panjang, digenjot dari Kampus ITB jalan Ganesha Bandung, dan baru mulai genjot jam 9. Hari jumat dipotong jumatan lagi!! Curug nya luarbiasa panjang dan tinggi, dari foto udara Google earth saja tampak curug ini sangat fenomenal. Bikin penasaran.

Curug Cileat memiliki ketinggian ± 100 m dan berada di Gunung Canggah. Tumpahan airnya membentuk sebuah kubangan atau kolam yang sangat besar dengan radius hampir 40 meter sehingga pengunjung dapat bermain air dan berendam di dalammnya. Curug Cileat ini terdiri dua buah air terjun yang berdampingan menempel di atas tebing batu, Curug yang satu debit airnya tidak terlalu besar sedangkan curug satunya lagi jatuhan airnya cukup deras dan besar. Dalam perjalanan menuju Curug Cileat ini ada 3 buah curug yang akan ditemui yaitu Curug Citorok yang memiliki tinggi sekitar 70 m, Curug Cimuncang 1 dengan ketinggian sekitar 80 m, dan Cimuncang 2 (Pasir) dengan ketinggian sekitar 90 m. [dikutip dari sites.google.com]

Tak berapa lama genjot melewati Jalan Cipaganti naik terus melewati Vila Isola di Jalan Setyabudi. Onroad pelan pelan tapi meminimkan istirahat. Sempat berhenti bentar di tempat jual kelinci, juga beli pocari di Lembang, lalu makan siang di sebelum Maribaya.

Ternyata trip ini tidak hanya akan berpacu dengan waktu tapi juga berpacu dengan cuaca. Hujan masih sering muncul, terutama di ketinggian dataran tinggi. Selepas dari Lembang, ujian sebenarnya baru dimulai. Menuju ke Maribaya jalan mulai beranekaragam. Angkot di jalan yang menyempit, jalan yang mulai berbatu batu lobang di beberapa tempat.

Kalau dipikir pikir walaupun akhirnya saya menyesali melakukan start trip ini dari Bandung, namun ternyata trip ini cukup lengkap ya, ada Cipaganti, ada kelinci Lembang, ada pasar Lembang, ada Maribaya, ada Vila Isola. Memang dimulai dengan tanjakan aspal mulus yang cukup membosankan sih kalau buat saya. Ya untung bawa kamera buat tetap membuat mikir gimana cara merekam lingkungan sekitar trek.

Trek dari trip ini sudah dirancang sebelumnya di Google Earth, namun ternyata sempat kebingungan juga pas di seputar gerbang parkir Maribaya. Tampak banyak pilihan jalan dan akhirnya mengambil jalan yang ternyata miring nya tidak logis di mata. Ini adalah bagian dari patahan Sesar Lembang, salah satu patahan yang dibuat jalan menanjak sehingga sangatlah miring.

Berkecamuk di kepala. Antara pengen terus menggenjot untuk mencoba melewati tanjakan ini tanpa pitstop ataukah berhenti dan memotret. Akhirnya diputuskan ambil pilihan kedua. Memang ini salah satu tanjakan pendek namun fenomenal yang pernah saya ingat. Cukup dekat dengan Bandung, jadi buat yang gowes ke area Lembang atau Maribaya, tanpa perlu jauh jauh ke Monteng.

Benar saja kekhawatiran akan cuaca segera terwujud. Setelah agak landai mendapat dataran tinggi setelah tanjakan Chicken S yang luarbiasa di depan gerbang Maribaya akhirnya kita kehujanan, dan Jumatan di sebuah desa kecil Cikawati.

Sambil hujan melanda maka saya berganti baju kering, mengeluarkan sarung dan mulai menikmati kantuk di tengah khotbah yang berbahasa Sunda halus. Tentusaja saya jadi pusat perhatian di antara jamaah. Pakai jersey warna cerah, datang membawa sepeda.

Saat jumatan selesai, saya kembali ke baju basah setting, memasukkan kamera ke dry bag, dan memutuskan terus genjot mengikuti tracklog menuju ke Cileat. Tak berapa lama jalan mulus berakhir, dalam hujan kita pun mulai masuk jalan makadam yang terjal dan miring keatas mulai kerasa lebih kental. Inilah saat kita mulai masuk dan naik ke Gn Cikidang (nama menurut Google Earth)

Trek kondisinya dan karakternya sangat mengingatkan pada tanjakan ke Pondok Pemburu setelah lewat dari KM Nol. Berganti antara batu, tanah keras licin, tanah lepas, batu lepas, makadam dan miring. Sesungguhnya ini adalah tipe trek yang saya sangat suka. Teknikal tapi tidak susah amat, namun juga tidak menyiksa. Pas. Ditambah basahnya hujan.

Salah satu bumbu penyedap dari trip ini adalah kesendirian. Betul memang trek nya asyik, tapi kesendirian, dengan hanya 2-3 kali bertemu orang dari arah berseberangan selama gowes, sangat membuat adrenalin mencapai titik tertinggi. Campuran antara menantang diri sendiri, penasaran, namun juga keingintahuan. Semua menemani sampai titik tertinggi Gn Cikidang dan mulai tampak samar samar dibalik kabut yang datang dan pergi, lembah Cipunagara. Seperti melewati sebuah gerbang, kita diujung tertinggi dan mendaki, sekarang terhampar turunan dan lembah berkabut dalam suasana hujan dan tentusaja badan basah dingin jika berhenti.

Menghadapi hujan saat bersepeda gunung belakangan ini saya sering memakai strategi tetap terus jalan dan memilih berbasah basah. Pilihan memakai jaket pernah saya jalani, terutama dengan jaket yang model tembus pandang itu. Dengan cara ini selain saya tidak memperlambat perjalanan karena harus pasang lepas jaket atau menunggu hujan reda, saya juga tidak harus kepanasan karena bersepeda pakai jaket dan musti bawa backpack.

Mulai kita menuruni doubletrack twisty yang indah ini. Indah dengan saput kabut nya dan juga pemandangan jauh di bawah lebah, seperti ada perumahan yang muncul dan tenggelam di balik kabut. Benar benar pengalaman yang menyenangkan dan tak terlupakan view nya. Hanya satu yang sangat mengganggu, adalah kenyataan bahwa nanti harus kembali ke titik start melewati turunan miring dan panjang ini, yang tentusaja akan berubah menjai tanjakan yang kejam…

Sebelum terlanjur terlena dengan turunan yang adem dan asyik pemandangan maupun ride nya, akhirnya ketemu di pinggang lembah, jalan agak mendatar dan track GPS pun memerintahkan untuk berbelok ke kanan. Ke jalan yang lebih sempit, tampak lebih remote dan lebih jarang dikunjungi. Jika doubletrack tadi mulus dan tampak dilewati motor, doubletrack yang ini rumput nya tinggi. Doubletrack belok kanan ini seperti melewati pinggang nya Gunung, jadi tidak mengikuti flow turunan yang terus ke arah Cipunagara.

Doubletrack yang semula dihiasi tanaman keras penghasil kayu di kiri kanan lalu sempat berubah menjadi kebun teh. Kabut makin tebal menutup gunung di sebelah kanan trek ataupun lembah dalam di sebelah kiri trek. Rumput makin tinggi dan doubletrek diantara ketinggian rumput menampakkan tanda tanda kalau jarang dilewati. Berlumpur pasir yang tebal, atau tertutup rumput samasekali. Apalagi setelah perkebunan teh yang hanya terasa sedikit lalu berganti menjadi kebun sayur. Disinilah saya akhirnya berhenti, jam 2 siang. Berhenti sambil bertanya kepada Bapak petani yang tampak sedang mengolah lahan. Ekspresi muka Bapak petani tampak takjub ada sepeda sendirian sampai ke titik itu.

Bapak petani dengan ramah melayani pertanyaan mengenai Curug Cileat. Menurut belio, jika cuaca baik dan tidak hujan, perjalan ke Curug Cileat dari titik itu adalah sekitar 2 jam lagi. Melewati hutan dan menyeberang sungai. Huaduh… Memang saya sendiri sudah membuat target bahwa sekitar jam 2 siang harus kembali balik ke Ganesha Bandung. Agar tidak perlu harus maghrib sampai di titik start kembali.

Melihat saya solo ride seorang diri Bapak bijak ini pun memberikan kata kata yang tak bisa saya tolak, “…karena adik sendirian, kalau ditanya sih saya juga tidak akan mengijinkan adek pergi ke Cileat sekarang. Hujan dan adek belom pernah…”

Ya sudah inilah rupanya ujung perjalanan kali ini. Rasa penasaran akan Curug Cileat dan pikiran logis bertarung di kepala. Akhirnya dengan rasa terimakasih saya berpamitan balik kanan menjalani tanjakan twisty lalu ke Maribaya dan ke Dago lewat jalur bengkok dibalik.

Tracklog Bikemap-Cibogo to Gn Meong Curug Cileat….

One response

  1. Ping-balik: WJxc Ride#10 Cipunagara CikarangMTB Kolozal#10 Survey (En) « @antoix

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s