enjoy every cadence, every breath…

Empat Bulan Bersama ‘Ki Lobang’, Specialized Carve 29 in 2012

Akhirnya saat ini tiba, membuat pengakuan, karena tidak merasa pantas membuat review. Soalnya beebrapa kali mencoba sepeda, terutama sepeda full suspension, saya termasuk yang mati rasa untuk mendapatkan apa yang teman teman sering bicarakan. Misalnya perbandingan suspensi setting. Saya hampir tidak bisa merasakannya… Untung kali ini hardtail, jadi less sensitive berhubungan dengan suspensi.

Inilah sepeda yang saya pakai mulai 18 Feb 2012, Specialized Carve Comp 29
Spesifikasinya liat di website saja. Intinya dia tapered head tube, shifter dan FD alivio serta RD SLX. Rem shimano non series.

Pertanyaan yang umum saya dengar adalah “Apa alasan beralih ke 29 inch?”

Terusterang susah sekali menjawabnya. Yang jelas sebelum memiliki Carve29 ini saya secara ekstensif melakukan riset, mencoba mencari tambatan hati baru dari sepeda sebelumnya yaitu Polygon SX3 yang merupakan cross country fullsusp.

1. Hardtail

Inilah kira kira jawabannya; saya memang mencari hardtail, sudah niat berganti ke hardtail, terutama sejak dikentutin Om Oni dan Nte Rahmi di trip ke Kampung Awan. Jadi dengan kembali ke hardtail, saya baca-baca di Mountainbike Magz mereka bilang bahwa dengan budget yang saya punya (sekitar 15an juta) maka yang paling seimbang antar budget dengan performance adalah 29in hardtail. Majalah itu memberikan argumentasi bahwa pengaruh ‘rolling capability’ alias ‘kemampuan melewati rintangan dengan melindas’ (buset dah bahasa nya) adalah nilai tambah dari 29in.

Dengan sama sama hardtail, maka diameter yang lebih besar 3in, akan membuat sepeda 29 melindas hambatan trek (misal jalan berlobang atau batu) yang sama dengan lebih mulus. Waktu pertama saya dengar ini otak saya bilang “logis juga”, tapi seberapa signifikan sih? Dan semua terjawab saat Om Iwan NCC Bandung meminjamkan sepeda Hardrock 29 nya untuk saya genjot di seputar Gatot Subroto toko NCC. Memang harus mencoba sendiri untuk percaya.

2. Agresif dan Rolling

Memang perpaduan yang unik, beberapa review bilang bahwa jika kita terbiasa memakai sepeda fullsuspension dan ingin beralih ke hardtail kembali, maka diameter 29 adalah pilihan yang bijaksana. Karena pengaruh rolling yang bagus terhadap trails itu membuat peralihan dari fullsuspension ke hardtail jadi lebih mild, lebih berkurang level kekerasan nya. Meski memang hardtail itu keras dan agresive, namun ‘kemulusan’ gelinding dari 29in akan membuat nya menjadi lebih seimbang.

Semakin bertambah trek yang saya coba, semakin saya merasakan kebenaran ungkapan ini. Harus diakui 29in hardtail Carve ini adalah binatang yang powerfull namun lebut. Dia tetap saja ganas karena hardtail, tapi mild karena 29.

3. Handling

Memang tampak aneh pertama begitu saya pegang adalah handlebar yang lebar. Memang flatbar, namun asli lebar banget. Sudah serasa pegang sepeda AM saja ingat lebar nya. Untungnya sepeda sudah langsung di set sesuai dengan geometri tubuh sesaat setelah beli. Service yang keren Om Iwan NCC! Setting ini termasuk stem yang dibuat jadi negative. Perasaan seperti sepeda dh jadi hilang begitu kita mulai gowes dan mengendalikan di trek. Saat mulai dikendarai maka saya kok lupa ya kalau handlebarnya lebar.

Mungkin juga enaknya hadling dipengaruhi oleh tapered head tube? Yang katanya berfungsi membuat kontrol jadi lebih mantap itu? Wah yang ini saya belum membandingkan dengan yang tidak tapered. Tapi bisa saja kan tapered adalah salah satu jualan dan marketing gimmick saja? Kayaknya perlu nyoba naik sepeda Rockhopper29 Om Kodrat deh biar bisa membandingkan.

Sebelum berpindah ke 29in saya sudah sering membaca juga bahwa sepeda dengan diameter lebih besar ini akan terasa lebih lamban, lebih ‘clumsy’ dalam kontrol dan handling. Memang saya akui hal ini saya rasakan di awal, namun setelah berlalunya waktu dan bertambahnya jam terbang membuat kita secar otomatis juga menyesuaikan diri. Walaupun harus diakui perasaan sepeda yang gaya sentrifugalnya sering terasa ‘membuang keluar’ yang lebih kuat saat kita melewati belokan terutama di turunan, saat kencang. Juga jika menjalani rem mendadak atau ‘hard braking’ memang beda tersa pengendaliannya. Efek negatif 29in di kedua kejadian ini benar terasa.

4. Tapak dan Ban

Salah satu perbedaan signifikan yang juga segera terlihat adalah besarnya secara fisik ban 29 ini. Meskipun Ki Lobang Carve29 ini dituliskan memakai ban 29 x 2.1 tapi kok melihat besarnya secara fisik ban tampak seperti ban 2.35 kalau di 26 in. Entah ini hanya perasaan saja karena saya tidak membandingkan ukuran secara fisik misal dengan mengukur dengan alat ukur untuk mengkonfirmasi. Yang jelas ban nya gede! Berat? tentusaja ini adalah salah satu konsekuensi 29 yang memang secar volume lebih besar, secar fisik lebih besar.

Ban bawaan full bike ini yaitu Specialized Ground Control 29 x 2.1 adalah ban yang enak. Meskipun groove nya tidak terlalu banyak, bentuk groove ban seperti ban ban agresif yang membutuhkan traksi yang minimal, namun saya hampir tidak pernah mengalami problem dengan spinning. Lebih sering problem ada pada kekuatan atau power dari dengkul dan paha. Jadi gak kuat nanjak bukan karena spin ban nya namun karena dengkul udah lemas.

5. Power

Pemilihan ban yang minimal rolling resistance nya ini tentu oleh Specialized sudah diperhitungkan dengan tapak ban yang lebih banyak atau luas permukaan kontak yang lebih besar pada seepda 29in. Luas permukaan lebih besar dan kebutuhan power yang juga lebih besar menjadikan sepeda ini memang sepeda power, sepeda yang membutuhkan tenaga lebih besar dibandingkan dengan sepeda 26in.

Power ini adalah juga berkait langsung dengan perpindahan ke 29in dari 26in. Saat memakai sepeda gunung, secara tak sadar kita jadi mencetak setting di kepala, saat melihat trek dan karakternya di depan, kita otomatis memindahkan FD dan RD. Semua berdasar setting bawah sadar yang terbentuk dari jam terbang bersepeda gunung. Dengan 29in semua keseimbangan dan setting bawah sadar ini jadi kacau, terutama berkaitan dengan manajemen power kita saat menggowes.

Efek yang secara nyata muncul adalah tentunya dengkul, betis dan paha yang sering cenut cenut setelah acara gowes, terutama pagi hari nya bangun tidur. Namun ini juga berkait dengan efek power kedua dimana rekan-rekan kita akan segera merasakan kalau kita genjot tambah kencang. Kita sendiri tidak terlalu merasakannya.

Overall saya yang berpindah ke hardtail 29 dari fullsusp 3in 26 sangat merasakan cocok. Mendapatkan agresif nya hardtail namun tidaklah terlalu kehilangan smoothness saat melewati lobang atau hambatan alam dari fullsusp. Sementara naiknya performance jelas terasa walaupun perlu trade off dengan level latihan untuk mendapatkan keseimbangan power yang baru.

In short, I am a satisfied Carve 29 buyer…

5 responses

  1. Oni-aunilla

    coba yuk, hehehehhe

    Juli 26, 2012 pukul 10:05 am

  2. Anonim

    om klo boleh tahu tinggi berapa cm?itu sepeda ukuran XS atau S? nuhun

    September 5, 2013 pukul 7:02 am

  3. Tinggi badan saya 171cm Om… saya pakai ukuran 17.5

    September 7, 2013 pukul 4:08 am

  4. Kurang paham ukuran tinggi untuk XS atau S, tapi saya lihat rekan di CikarangMTB memakai ukuran S merk Specialized match banget tuh, sepeda dan orang nya kerasa seperti menyatu saat melaju. Jadi saya punya pengalaman melihat sendiri kalau tinggi badan tidak berpengaruh pada enaknya sepeda ukuran 29 ini

    September 27, 2014 pukul 6:43 pm

  5. Ping-balik: Tiga tahun bersama Specialized Carve Comp 29er 2012 | @antoix

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s