enjoy every cadence, every breath…

Gowa Pawon Padalarang Trip

Iklan bahwa akan berangkat jam 5 pg dari alfamidi akhirnya tidak terlaksana. Akhirnya jumlah peserta 6 orang dua mobil dan isi satu mobil jam 7pg masih nyruput kopi aceh di kedai razali km 72.

“Maaf Om, kami berhenti dulu. Om cari sarapan dulu aja” kata saya. Akhirnya mendekati jam 8 beneran ketemu dua mobil di simpang Padalarang. Gowes nya terasa “beneran” akan ada.

Tak lama dua innova segera tergoyang2 downhill dan uphill menjalani trek makadam offroad. Tak percaya melihat trek nya yang mirip sungai kering ternyata berujung di area parkir kawasan gowa pawon.

Kegiatan mengunjungi goa pun dimulai…

Goa pawon sangat tampak kentara menghias suatu bukit batuan kapur. Sebelah ada gn masigit, yg telah diputuskan bupati untuk tidak ditambang lagi. Gunung2 lain diarea ini tampak sedang mengalami penambangan. Area juga dilengkapi dgn pembakaran batu kapur yang mengingatkan saya pada area skitar pangkalan.

Ber enam kami pun mulai masuk goa dan kegiatan jeprat jepret, lengkap dgn live report pun dimulai. Goa nya tinggi di beberapa tempat dan kita harus masuk merunduk di tempat lain. Sayangnya saya tak tahan dengan bau kelelawarnya, sementara rekan lain masih eksplor sampai dalam. Sampai ketemu tempat kerangka manusia purba.

Setelah keluar memisahkan diri karena gak tahan bau, saya minum teh panas di warung, dan akhirnya dapat info dan mendaki mendatangi ‘Taman Batu’ alias ‘Rock Garden’

Tak lama diatas karena ternyata tim udah start dan saya temui ki lobang tinggal sendirian.

Gowes pun dimulai

Setelah haha hihi termasuk segala macam istilah terutama, “Japri aja deh…” maka kami ber enam pun melanjutkan perjalanan. Akhirnya genjot beneran. Genjotnya sudah kayak gak punya udel semua, karena selain trek nya ajib dan asyik, ternyata juga alarm yang berbunyi bukan HRM namun keroncongan di perut yang sudah mencapai skala akut.

Trek bervariasi nanjak yang miring dan turun yang miring juga. Mirip KM97 karakternya, jarang banget ada jalan datar. Diantara yang seru adalah trek jalan beton singletrack jalan motor yang nanjak meliuk liuk di tengah kampung. Juga trek turunan panjang dan asyik buat ngebut dengan pagar tanaman di kiri kanan trek, hanya tersisa beberapa sentimeter lebihan dari handlebar. Adem sekaligus membuat tak tahan untuk menikmati liukannya sambil berteriak kegirangan. Masih misteri buat saya kok ya Papa TB bisa liat di Google Earth trek selebar handlebar?

* geleng-geleng kepala

Akhirnya kami pun menemui jalan raya Padalarang-Cikalong yang merupakan jalan negara sebelum ada jalan TOl Cipularang. Emang udah rejeki langsung disambut rumah makan padang tak jauh dari tempat kami berhenti. Warung padang ini seperti dijatuhkan dari langit buat enam orang kelaperan. Dan Mbak yang di warung padang seperti paham dengan menerapkan standar ‘sepasang’ pada semua piring yang disiapkan…

Perut kenyang, rasanya kaki dan hati berat sekali untuk mulai gowes lagi. Kayaknya mendingan tadi deh waktu perut keroncongan, tanjakan dan turunan dilibas bareng hanya karena ada angin surga berita ‘dua kilometer lagi jalan raya’. Setelah melewati jembatan di jalan raya cikalong tiba-tiba gps trek menunjuk kekanan. Masuk ke kampung, yang kemudian dinamai oleh rekan-rekan sebagai Kampung Mexico. Kampungnya miring, berdiri di tanah yang sangat miring menempel bukit. Jalan yang disebut ‘trek’ adalah jalanan kampung antar rumah yang di beberapa area hanya selebar handlebar lebih sedikit. Aduh! Lagi lagi kok handlebar lebih sedikit

Kemudian trek selanjutnya adalah nanjak onroad, onroad rusak, jalan kampung beton, ggb kebon, pematang sawah, “buntu jalannya, Jang…” sampai kita menjumpai diri kami dalam posisi cukup terlunta-lunta di pinggir sebuah jalan beton tak jauh dari TOL Cipularang. Berhenti disini cukup lama sambil berkali ada body language yang ‘asik’ saat angkot kosong atau pickup bakter kosong lewat… hahaha

Trek sudah menyimpang dari rencana, namun akhirnya kami pun sampai di spot djaminan MOETOE berikutnya, yaitu rel kereta Purwakarta-Bandung. Lengkungan rel kereta dan jembatan-jembatan rel kereta struktur besi dari jaman sebelum perang dunia. Menyisir rolling, naik turun dalam kampung yang warganya super ramah dan banyak terenyum. Sejuk banget di hati. Sampai akhirnya trek dinyatakan selesai pada sekitar jam 0530 sore di jalan raya Cikalong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s