enjoy every cadence, every breath…

Resiko bersepeda gunung dan kegiatan ekstrim

Saat menengok Kang Asol, saya ‘berdebat’ cukup panjang dengan salah seorang rekan cmtb, isi perdebatannya sebenarnya sama dengan yang pernah kita perdebatkan sebelumnya juga. Waktu sebelumnya, sekitar dua tahun lalu perdebatan malah lebih seru karena seorang rekan ini pas dalam keadaan cedera dan sedang kita bawa pulang ke cikarang, eee.. waktu itu malah debat di mobil sambil belio masih meringis kesakitan…

Isi perdebatan adalah, sering kita jadi berpikir, “salah siapa?” jika sebuah kecelakaan terjadi dalam kegiatan bersepeda gunung. Memang kita sering bilang resiko ditanggung juga oleh yang menikmati ke asyikan bersepeda gunung, tapi bagaimana dengan keluarga? Kerabat? Pertanyaan semacam, “Kok bisa jatuh?” dan “Siapa sih yang ngajak?” bisa juga muncul. Ini juga berkait dengan kekuatan sinyal RRI di masing2 televisi dari rumah ke rumah berbeda.

Saya juga teringat seorang rekan cmtb lain curhat, karena belio mendapatkan ‘teguran’ daripada mertua. Kayaknya kalo teguran dan omelan istri sudah tidak lagi mempan, maka ada tuh yang akhirnya setelah mertua yang menegur maka ‘jadi dipikirin’. Ini juga berkait dengan resiko bersepeda gunung…

Sebenarnya baik internal (kalangan pesepeda gunung, sebagai subyek) ataupun eksternal (orang awam, kebanyakan) setuju pada satu titik bahwa bersepeda gunung adalah kegiatan olahraga EKSTRIM. Kenapa ekstrim disebut-sebut? Ya karena memang resikonya tinggi, pol…..

Kadang karena satu dan lain hal, kita sendiri sebagai subyek atau pesepeda nya sendiri tidak sadar, atau cuek. Bisa juga karena kita bersepeda naik secara bertahap, pertama ke aa bike aja, lalu keliling komplek, lalu bike to work, lalu ikutan ke deltamas, lalu ke jeng jeng, lalu ke kolong tol, eeee… tau-tau kita udah di tengah hutan dekat dengan kawah… Karena bertahap kita sendiri tidak sadar atau tidak merasa bahwa resiko nya beranjak naik, semakin esktrim.

Kita saja belum tentu aware, bagaimana dengan keluarga, kerabat? Melihat kita bersepeda sampai nginap, waktu kita cerita sampai masuk hutan naik gunung, foto di fb ada di tengah kawah rengganis. Bagaimana kita bisa menyeimbangkan dengan keluarga terdekat kita, supaya walaupun mereka khuatir tapi kita selayaknya menjelaskan apa yang sedang kita lakukan.

Agak bingung sebenarnya saya menuliskannya. Tapi intinya:
– awareness, bahwa kita yang melakukan, ataupun keluarga kita sama-sama sadar resiko kegiatan ekstrim
– keep informed, jadi RRI tidak hanya masalah kunci rumah saja, namun juga yang dirumah tau kita kemana dan harus menghubungi siapa dalam keadaan emergency
– communicate, jadi ya kita ceritakan bahwa perjalan kita direncanakan, resikonya ditimbang dan diantisipasi, khawatir boleh tapi ya doakan selamat saja

Tidak semudah menuliskannya…
Padahal nulis ini pun tidak mudah, saya dipenuhi dilema saat mengetiknya…

Maafkan jika ada kata-kata yang tidak berkenan

Doa kita semua untuk Kang Asol agar segera bisa pulih kembali…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s