enjoy every cadence, every breath…

Bersepeda keliling Banten Lama

Bagian pertama: Masjid Agung Banten dan Pelabuhan Karangantu

Dari semua gowes bareng rekan Cikarangmtb, rasanya ini adalah gowes yang paling aneh berangkatnya. Bayangkan jam 2 pagi saya sudah genjot ke Alfamidi… Jam 2 pagi??? Iya !!! beneran !!! Masih mendingan saya genjot ke Alfamidi, ada tuh rekan yang sepedanya dipanggul (mentang2 super enteng ye….). Kalo tidak hati2 bisa di semprit satpam Jababeka, dikira yang sering bawa barang orang malam-malam…

Singkat kata akhirnya berangkat jam 3 juga, kerena ternyata satu rekan menggali terlalu dalam untuk ritual pagi nya. Dalaaaaammm banget digali manual sehingga membutuhkan 1 jam tambahan dari rekan rekan yang lain… piiiissss…. *dua jari victory

Tak terasa avanza sudah sampai di KM 68 arah Merak, matahari belum tampak dan kami putuskan untuk rehat di istirahat tol. Setelah kumpul dua mobil akhirnya kita beriringan memasuki Old City of Banten, rasanya mirip banget sama masuk kota gede Yogyakarta atau Tamansari Yogyakarta juga. Parkir lalu kita pun masuk ke labirin pedagang kaki lima yang seperti pasar tradisional buat menemukan masjid Agung Banten yang indah… Terasa ke – Agung an nya tidak lekang oleh waktu. Saat saya sholat subuh dan melihat ke atap, mirip banget feeling nya seperti di masjid2 tradisional dan tua lain yang saya pernah kunjungi… Megah, agung dan bersahaja…

Jeprat jepret harus tergesa karena ternyata harus segera berlari menyambut munculnya sinar matahari di pelabuhan Karangantu. Ini adalah pelabuhan tua yang sekarang tertinggal seperti sebuah sungai saja. Padahal pada masa jayanya pelabuhan ini adalah salah satu pusat peredaran rempah-rempah dari kawasan timur Indonesia. Susah saya membayangkan 6-8 abad yang lalu sekiranya seperti apa ramainya pelabuhan ini… Dari masjid Agung pun kita ngicik gowes pagi serasa seperti gowes cari keringat di Cikarang…

Gowesnya cuma 3-4 km tapi motretnya tiga jam. Ada yang motret lumut, motret bayangan, motret tali kapal, motret kapal rusak, motret jaring ikan, apasaja dipotret… Kalau tak karena perut yang sudah menunggu diisi sarapan dan seorang rekan “serba sepasang” sudah berisik ngajak makan, mungkin kita akan lupa makan pagi… Gowes 2km dan kita pun makan pagi di sebuah pertigaan, nasi uduk, sayang tidak ada belut goreng…


Bagian Kedua: Istana Kaibon dan Petirahan Tasikardi

Genjot menuju Istana Kaibon dari tempat nyarap, ternyata dekat sekali, tidak sampai 500m sudah sampai di reruntuhan Istana Kaibon. Kemudian baru saya paham kenapa namanya Kaibon, rupanya ada kaitannya dengan Ibu. Istana ini dibuat untuk Ibu dari Sultan Syafiudin yang naik takhta pada usia 5 tahun. Bangunan istanya ini benar-benar tinggal reruntuhannya saja, namun masih tampak jelas terlihat bagian bangunan yang semula adalah bangunan masjid. Ada tempat Imam, posisi lantai yang tinggi, ada tempat ber-wudhu. Yang sangat menarik adalah lantai keramik terakota nya yang membuat reruntuhan masjid ini pun tampak indah.

Sepeda-sepeda kita bisa bebas masuk ke kompleks istana Kaibon karena lingkungan situs purbakala ini tidaklah dikunci pintunya. Kita bisa bawa sepeda mendekat ke reruntuhan bangunan. Benar-benar spesial, saya jadi ingat beberapa kali bersepeda ke Candi-candi di Jawatimur, tidak satupun yang memperbolehkan saya membawa sepeda melewati pagar dan masuk ke dalam kompleks candi.

Keunikan ini terjawab kemudian setelah hari berlanjut siang. Ada banyak anak SD yang memanfaatkan lingkungan kompleks Istana Kaibon ini untuk berolah raga. Rupanya istana ini sudah menjadi ‘public space’ seperti lapangan olahraga saja.

Disinilah Om AL menemui dan memotret Firman Utina dengan asyiknya. Sementara Om MbahBro dan Om PakDe 3D melakukan pendekatan pada dua orang anak untuk menjadi obyek dan model mereka. Salah satu Om segera bergumam, “…tau gitu gua bawa model yang (anu) dari jakarta deh…” Saya balik bertanya, “Lho bukannya model nya tadi ikutan di mobil? Kenapa dibiarkan tidur di mobil?…”

Rasanya kasih saya Ibu terasa benar pada aura istana ini. Saya merasa kerasan dan agak malas berangkat menuju obyek berikutnya. Adanya banyak anak kecil membuat berjibun nya kemungkinan model untuk istana ini. Jika kita memotret reruntuhan istana aja akan hanya jadi potret batu-dan reruntuhan, namun jika ada anak kecil akan membuat foto lebih berbicara.

Kami pun beranjak naik sepeda lagi menuju ke Petirahan Tasikardi. Perjalanan melewati singletrack! Iya betul. Jalan air yang canggih, menyaring air dan mengalirkan air tawar ke Istana dan Masjid Agung Banten, dalam perpipaan yang menggunakan pipa mirip pipa modern jaman sekarang, canggih. Disini kita melewati 3 level ‘pengindelan’, yang artinya adalah bangunan penyaringan air. Saya jadi teringat tadi pagi mengambil air wudhu yang berasa payau di masjid Agung Banten.

Petirahan ini adalah semacam danau buatan berbentuk segi empat yang sangat rapi, melambangkan kekuatan ilmu bangunan dan ukur mengukur Kerajaan Banten. Dengan sebuah pulau kecil berada di tengahnya. Tasikardi sendiri kabarnya terdiri dari kata Tasik yang artinya danau dan ardi yang artinya buatan. Jadi sudah jelas bahwa danau ini adalah danau buatan.

Perlu diceritakan apa yang dilakukan para peserta genjot dengan kamera? Tidak perlu toh?

Akhirnya kita pun berkongkow dengan minuman dingin… cessss di leher…

Bagian Ketiga: Wihara Avalokitesvara dan Benteng Spellwijk

Dari Tasikardi kita melewati jalan onroad melewat masjid Pecinan. Masjid ini tinggal menara nya saja yang berdiri, juga tampak bagian ruangan tempat imam yang masih tersisa dari bangunan. Bagian lain sudah rata dengan tanah. Masjid di tengah kawasan pecinan ini tentu menunjukkan bahwa akulturasi budaya berjalan dengan sangat baik kala itu. Papa ‘The Highlander’ Tebe juga bercerita bahwa bentuk beberapa bagian dari bangunan, seperti bentukan melengkung dari pintu ataupun jendela, adalah pengaruh kebudayaan Cina.

Melewati rel kereta, kami pun masuk ke kampung style, mirip rasanya lingkungan seperti umumnya kampung di seputar kaligandu. Asli, tidak terasa bahwa ini adalah salah satu pusat peradadaban lebih dari 500 tahun yang lalu. Papa Tebe juga bercerita bahwa kekuasaan Kesultanan Banten itu sampai ke daerah Udug-Udug (Cherry sono an dikit).

Genjotan terasa berat dan kaget saat kami menemui dua obyek sekaligus yang sangat terasa ‘asing’ bagi lingkungannya yang ‘kampung’ dan sederhana. Di sebelah kiri ada Wihara yang sangat besar, sementara di sebelah kanan, dibatasi oleh sungai kecil ada Benteng ala Eropa yang reruntuhannya masih megah.

Saya bersama Om Tri dan Om Isbat pun menuju ke arah Wihara sementara Om-om yang lain sudah tak sabar menuju ke Benteng. Baru tahu kemudian rupanya ada spot memotret dalam goa bawah tanah yang sangat eksotis. Memang begitu tuh kelakuan para nona, sebelum berbelanja pasti milih salon terdekat yang kira kira asyik buat meni-pedi (note: nona= no narsis, kegiatan memotret dan bukan narsis dari komunitas bersepeda gunung cikarangmtb).

Setelah cukup puas di Vihara kami bertiga pun menuju ke Benteng Spellwijk. Wah, mengingatkan saya pada benteng-benteng tua belanda yang lain. Tipikal benteng eropa. Kokoh dan angkuh. Yang unik, di tengah benteng, ada sepasang gawang lapangan bola hahaha….


Bagian Keempat: Masjid Agung Banten

Setelah selesai dengan Benteng dan lumut hijau nya, kami pun beringsut kembali ke Masjid Agung Banten. Ini genjot lagi onroad dan jalan kampung hanya sekitar 3km lagi.

Sesampainya di masjid Agung Banten kami menemui wujud dan keramaian masjid yang samasekali berbeda dibanding tadi pagi subuh. Asli ini masjid hiruk pikuk. Rupanya di bulan Maulid ini banyak sekali wisatawan lokal yang melakukan ziarah religi. Di sekitar masjid juga ada banyak makam dari keluarga kerajaan Banten dan juga para pemimpin dan ulama.

Om Isbat dengan santai bilang, “Nah, tuh… punya kebun jeruk ditawari jeruk” saat beberapa Mat Kodak (fotografer keliling bersenjata digicam pocket) menawarkan ajakan narsis. Kami hanya menjawab dengan senyum sambil mulai memarkir sepeda di pagar masjid. Sayang sekali waktu saya akan memasuki pagar masjid saya ditegur oleh para pemuda yang nongkrong di dekat gerbang, “Jangan masuk…!! bawa kamera kan?”. Rupanya segerombolan enam orang yang semua bawa kamera telah mengusik ketenangan para pencari rejeki yang mengandalkan Masjid Banten sebagai obyek background.

Sementara di kejauhan kami melihat segerombolan ibu-ibu pengajian rupanya, sedang berbaris berfoto. “Foto keluarga kolozal…” kata seorang rekan.

Kami pun beringsut menuju obyek terakhir, Istana Surosowan. Sebelumnya kami sempat juga mengunjungi Museum Banten Lama. Wah, melihat musium ini jadi terbayang betapa maju dan besarnya pengaruh Kesultanan Banten pada masa jaya nya. Papa ‘the Highlander’ pun bilang bahwa inilah salah satu Kesultanan yang membuat posisi kerajaan Hindu Siliwangi terdesak ke area Bogor dan beberapa berkumpul di kampung-kampung terpencil ‘kasepuhan’ Sunda.

Di dalam musium diceritakan bahwa Kesultanan Banten menguasai teknologi keramik, juga teknologi perpipaan dengan pipa-pipa yang dari keramik/gerabah juga. Yang juga menarik adalah telah juga dikuasai teknologi kunci dan anak kunci untuk pintu. Tampak sekali teknologi pengairan dan geodesi nya maju, karena saya sangat ingat Tasikardi benar-benar lurus dan dari atas (Google Earth) tampak seperti belah ketupat yang pas dengan arah mata angin. Juga masih ingat teknologi pengairan dan kanal yang diterapkan di area Karawang.


Bagian Kelima: Istana Surosowan

Kawasan Masjid Agung Banten ini punya keunikan, dimana area luas halaman, terminal dan jalan-jalan menuju masjid dipenuhi pedagang kaki lima, sudah sangat mirip pasar tradisional. Mereka menggunakan tenda2 terpal yang kadang hanya sedikit diatas kepala kita. Dari kawasan ‘Terminal’ yang merupakan lapangan parkir besar kita harus melewati jalan seperti di tengah pasar berkelok-kelok tanpa petunjuk jelas sampai akhirnya sampai atau keluar dari kawasan Masjid Agung. Unik dan menarik, tapi juga sekaligus kotor dan mengganggu. Bagaimanapun kawasan Masjid Agung ini adalah satu-satunya bangunan peninggalan Kasultanan Banten sejak abad 14 yang masih tersisa. Yang lain sudah dihancurkan oleh Belanda pada masa penjajahan, salah satunya alasan dihancurkannya Kasultanan adalah karena Kasultanan Banten menolak mendukung proyek jalan Anyer-Panarukan.

Setelah melewati jalan berbelit meninggalkan masjid, kami pun sampai kembali ke sebuah reruntuhan yang tampak seperti reruntuhan benteng jika kita lihat dari luar. Sempat berputar-putar dengan sepeda mencari dimanakah pintu masuk, ditemui semua pintu masuk terkunci rapat, digembok. Atas petunjuk salah satu pedagang kaki lima di area pintu, “… naik aja, panjat…” Maka terjadilah acara panjat memanjat alias trek nanjak 90 derajat.

Tidak seperti luarnya yang berkesan tertutup dan juga seperti benteng, Istana Surosowan ini benar benar menampakkan sisa-sisa kemegahan istana di bagian dalam nya. Kompleks Istana yang sebesar mungkin 5-6 kali lapanan sepakbola ini tinggal pondasi dan sisa-sisa tonggak tembok saja. Rupanya Istana ini benar-benar telah dihancurkan dalam sebuah kekalahan perang.

Salah satu yang menarik adalah bangunan luas seperti teras, dengan lantai keramik yang sangat indah dan tertata rapi, seperti Sitihinggil kalau di umumnya keraton Jawa. Waktu saya melewatinya tampak segerombolan anak-anak kampung yang barusaja selesai mandi di salah sebuah kolam.

Rasanya memang Istana ini dibangun dengan menggunakan teknologi bangunan yang sudah cukup modern. Tampak benar meskipun tinggal reruntuhan sisa pondasi, bangunan dibuat kuat dengan teknologi semen/keramik yang maju. Salah satu literatur bilang bahwa arsitek istana ini adalah seorang berkebangsaan Belanda bernama Hendrik Lucasz.

Yang sangat menarik dari reruntuhan adalah sisa reruntuhan area pemandian. Ada berbagai macam kolam berbagai bentuk berbagai kedalaman berbagai ukuran. Sambil motret berputar layaknya arkeolog saya dan Om Hanif mencoba menerka dan mendiskusikan tipe-tipe kolamnya. Salah satu kolam rupanya punya legenda bahwa tidak pernah kering. Walau air nya dipompa keluar pun akan selalu muncul air lagi. Kolam ini bernama Kolam Bale Kambang Rara Denok. Mungkin kolam yang dimaksud adalah yang sempat saya foto ini.

Reruntuhan ini membuat miris juga karena terbayang betapa kejamnya perebutan rempah dan kekuasaan area sampai peradaban setinggi ini harus dihancurkan mungkin dalam semalam saja.

Kompleks wisata budaya/religi Kasultanan Banten lama ini kalau saya bayangkan dikelola dengan rapi dan baikk, ditata dan diberikan petunjuk area yang jelas, akan merupakan suatu area yang sangat menarik bagi wisatawan. Sayang sekali kebersihan dan sanitasi yang buruk serta semrawutnya pedagang dan preman membuat wisata religi yang masih bertahan pun sangat kewalahan bertahan hanya untuk menjadi menarik dan enak untuk dinikmati.

Selesai

5 responses

  1. koq foto2nya hitam putih sih om?

    Februari 29, 2012 pukul 10:00 am

  2. As usual, love the pictures…….. Besok2 ajak-ajak gowes model begini dunk. Pengen juga plesiran, ngak cuma olahragaan :))

    Maret 7, 2012 pukul 5:12 pm

  3. Om Abraham, betul hitamputih. Setahun belakangan saya memang sedang belajar memotret dan mendalami fotografi hitamputih… semoga tetap bisa dinikmati Om…

    Juli 29, 2012 pukul 3:09 am

  4. Nte, Rahmi. Beneran serius kah mau gowes pelesiran. Seharian dibawah 15km lhooo …… wkwkw

    Juli 29, 2012 pukul 3:10 am

  5. Ping-balik: A Simple Heritage City Ride… ride around Ayutthaya (En) | @antoix

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s