enjoy every cadence, every breath…

CikarangMTB Kolozal#8 Ranca Upas – Situ Patengan – Kawah Putih

Acara CikarangMTB Kolozal#8 19 Nov 2011 Kawah Rengganis kali ini istimewa karena ada paket kita bisa menginap kemping di Ranca Upas. Juga istimewa karena ada tim kecil SJ 15 orang yang gowes sampai ke Kawah Putih.


[sunrise at Ranca Upas]


[suasana pagi setelah kemping]


[persiapan start]

Rekan-rekan SJ Langgeng Utama boleh saja merasa asik ngebut setelah start, tidak terganggu kemacetan singletrek, tapi coba apa yang lebih *nendang* saat kita (yang katanya sak!t z!w@) ternyata dilibas, dikentutin, dikebulin sama peserta gowes norma (yang katanya sehat wal afiat).

Kejadian dimulai dari lepas singletrack, mulai nampak kebun teh, entah bagaimana maka kita keluar ke jalan makadam dari jalur yang berbeda, singletreknya lebih rideable dan asik sih, tapi ya muter jauh.

Udah gitu baru kemudian setelah ketemu pertigaan saya sadar kalau Kang Latif “fullkobir” Dolbon sedang terengah-engah dengan gadgets full-packed-photographer nya. Aduh rasa dosa saya segera kebayang deh mengingat gembolan Kang Latif waktu tadi berangkat start. Daripada nyasar di pertigaan akhirnya saya memutuskan ngetem dan menunggu grup paling belakang.

Satu menit, tiga menit, lima menit, limabelas menit, akhirnya tampak Kang Fotografer kita. Aduh saya segera hilang rasa menyesal lihat betapa raut muka Kang Latif sangat amat bersemangat. Seperti api akan keluar dari matanya. Tidak tampak penderitaan samasekali, yang ada semangat Bushido yang membara… salut untuk Kang Latif yang sehat ikut menguntit yang s4kit.

Setelah Kang Latif ‘aman’ saya meluncur ke depan, saya sudah pengen banget melihat kembali spot narsis Situ Patengan dari atas yang tampak jelas dari puncak Ranca Bali. Ketemu pertigaan dan, waduh tampak jalan sangat meyakinkan ke depan. Segera yang s4kit grup belakang saya minta duluan belok kiri, meluncur ke bawah menjemput impian, impian para peserta sakit yang keenakan turun nanjak dua bukit ketemu jalan buntu baru berhenti mereka. Bersama mereka pun akhirnya balik kanan (dua bukit lagi) dan tak lama kemudian mencapai site narsis puncak Rancabali.

Antrian segera terbentuk dan mulai lah saya lihat Sir Alex. Aduh buset, sudah kesundul kesalip kita sama peserta yang sehat!!! Tampak juga Om Jixzy dengan sepatu Cinderella nya yang juga sudah nongol dengan wajah merona, mungkin habis ngentut in Om TiJeh…

Akhirnya dengan sedikit pemaksaan dan Om Latif yang belum enak benar dengan tempat memotret kita paksakan satu satu peserta, dimulai dengan yang sakit dulu, untuk narsis satu persatu dengan latar belakang Situ Patengan dikejauhan.

Semestinya nanti hasilnya akan mirip dan sejenis seperti foto terlampir dengan sentuhan ala Om Latif tentusaja…

Siapa bilang s4k!t jiwa itu keren? Disalip aja bilang keren… Apalagi saat saya membantu Om Yadi ganti dua ban dalam nya di ujung turunan. Aduh, diasapin abiiiissss…

om yadi ganti ban depan belakang snakebite

Setelah pitstop warung Situ Patengan ala F1 yang sangat amat singkat dan “diusir usir” oleh yang nyetir panther saya🙂 maka kami pun segera berangkat lagi. Anggota tim berubah ada yang bertukar kursi. Total 16 orang.

Segeralah setelah melewati bagian belakang Situ Patengan, kita pun melewati tanjakan ‘Bebekway’. Tanjakan ‘bebekway’ ini adalah pilihan lain dari tanjakan ‘chickenway’. Sepanjang menjalani tanjakan ini beberapa kali juga rekan-rekan berhenti dan bertanya, apa benar ini jalannya dan bukan jalan turun yang tampak lebih menarik?

Yak! itulah esensi dari ‘chickenway’ hehe… padahal ujung chickenway akan sama juga, nanjak miring jantung berdegub. Memasuki kawasan hutan lindung kecil, tanjakan ini pun berakhir… Kami pun lalu mendapat jalan relatif flat sambil terdengar adzan dhuhur, dan sampai ketemu jalan aspal dan makan siang dan sholat.

Trek segera dimulai setelah perut kenyang, melewati jalan aspal lalu nanjak kebun teh lagi ke desa Cipenganten. Trek setelah lepas dari jalan aspal adalah trek batu gravel dan makadam yang nanjak dan nanjak dan nanjak. Sebagian trek juga adalah singletrack asoy yang meliuk liuk di perkebunan teh, mencoba menghindari tingkat kemiringan kontur. Pada trip ini desa Cipanganten dijadikan checkpoint, jika team lebih dari jam 2 siang di desa ini maka tim akan balik kanan karena tidak akan cukup waktu ke Kawah Putih.

Bagian selanjutnya adalah salah satu bagian paling berat dari trip ini. Disebut ‘Tanjakan Diagonal’ memberikan trek yang menggemaskan, semuanya adalah makadam batu batu besar, dimulai dari tanjakan yang masih gowesable lalu naik sedikit demi sedikit kemiringannya sampai di level yang tidak lagi memungkinkan kaki dan hati untuk menggenjot. Sebagian besar ikhlas menjalaninya dengan acara menuntun bersama, hanya dua orang extraordinary dari member grup yang masih bisa genjot sampai di ujung memasuki kebun kina.

Di perkebunan kina ini sempat berhenti lagi, re group, dan beredarlah kuis pertanyaan ke setiap anggota trip, ”… mau kesini lagi gak Om?…” jawabannya aneh aneh, mungkin akibat oksigen yang kian menipis dan pengaruh tt berjamaah, termasuk jawaban ngajakin NR ke trek ini. Melihat respon dari member tim dan kondisi waktu, akhirnya diputuskan untuk melambung ke trek alternatif ”Longsoran Putih” yang sudah di-draft di Google Earth.

Pilihan yang segera tak saya sesali, karena selepas kebun Kina kita dihadapkan pada singletrack kebun teh yang nanjak manja namun dengan lingkungan kebun teh dengan kemiringan yang mengagumkan. Kalau kata Om AJE, seperti ‘negeri di awan’. Pengungkapan yang pas banget.

Tanjakan demi tanjakan tersaji terus tanpa henti. Rasanya kok disediakan tanpa melihat seberapa banyak yang kita bisa bayangkan. Rasanya itu tanjakan kok tak habis habis diatas meja terhidang padahal kita sudah mau muntah rasanya. Kemiringannya juga menggemaskan, pada keadaan fisik prima dan full power biasanya kita bisa atasi tanjakan seperti ini, namun kok akhirnya memilih untuk menyesuaikan berganti gowes dan tuntun. Asal terus maju ke sepan saja. Dan, untuk membuatnya lebih sebih sempurna trip ini segera menyediakan kegiatan gotong gotong bike melewati jalan berundak di tengah kebun teh.

Kenapa ya kalau GGB seperti ini rasanya kok jauh lebih berat daripada genjot atau TTB? Rasanya ‘habis’ benar sesampainya kembali di jalan makadam. Perjalanan pun dilanjutkan, jalan makadam kebun teh seperti tidak juga habis menyediakan tanjakan. Sampai di sebuah pertigaan seluruh tim regrup berhenti, tampak tanjakan panjang menunggu miring didepan. Rasanya seperti gak mau menemui kenyataan kita harus terus nanjak lagi.

Dengan ikhlas kita padukan teknik tuntun dan genjot di trek teknikal makadam miring nanjak. Yang ada di kepala saya adalah, ”aduuuhhh… kapan sih ini semua berakhir? ”. Pertanyaan dari rekan rekan pun sudah mulai aneh dan mendesak. Dimulai dari ”Kawah putih nya masih jauh gak Om?” lalu ke ”Sebenarnya kawah putihnya disebelah mana sih Om?” lalu sampai ke ”Ah, dari tadi kawah putih dibilang deket deket terus tapi gak nyampai nyampai…”

Pendakian kita pun mencapai sebuah ujung tanjakan dengan pemandangan desa ‘tanpa listrik’ yang kami lihat waktu survey. Pemandangan sebenarnya indah banget, cuma ya anggota tim sudah mulai gelisah karena hari semakin beranjak sore dan juga kondisi fisik semakin habis. Mungkin juga pengaruh emosional karena secara fisik oksigen mulai tipis di ketinggian seperti ini.

Setelah melewati sebuah saung, jalan pun membawa kita turun dan menemui pemandangan menakjubkan apa yang saya sebut sebagai ‘Longsoran Putih’.

Setelah melewati longsoran putih yang magis, memasuki hutan nanjak lagi sedikit sampailah kita di Kawah Putih. Sayang sekali segera disambut hujan deras sehingga mengurungkan niat untuk masuk ke lokasi wisata alam yang indah ini. Langsung meluncur turun kembali ke titik start Ranca Upas.

kwh

Tracklog ada di

Perjalanan survey (garis ungu), aktual perjalanan hari h (garis merah)

2 responses

  1. Anonim

    Terhanyut bacanya, walaupun secara kenyataan jauh lebih “menghanyut”kan dan bikin kangen balik lagi. Masalah tanjakan diagonal, sebenarnya saya mengungkapkan rasa solidaritas ke mayoritas yang ttb. Malu kalo seorang perempuan terlihat terlalu perkasa, wkwkwkwk.

    As usual, love all the pict captured. Tapi pasti yang berwarna lebih indah cerminan asli ciptaanNYA.

    Desember 29, 2011 pukul 1:48 pm

  2. keren treknya gan, pengen nyoba juga sih

    Januari 3, 2012 pukul 8:19 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s