enjoy every cadence, every breath…

Ranca Upas to Kawah Putih; Survey Cikarangmtb Kolozal#8 ~ part3 of 3

Tulisan ini adalah lanjutan dari bagian kedua…

Tanjakan “Diagonal” seperti yang diceritakan Om Hanif sangatlah indah dan keren untuk dituliskan dan dibicarakan, namun sangatlah pedih untuk dijalani dan dikenang. Sepeda-sepeda sampai puluhan juta rupiah, berat sepeda dibawah 14kg, baju jersey keren para pesepedanya, backpack dari merk terkenal, tak ketinggalan sepatu lengkap dengan cleat, semuanya tidaklah terlalu berarti. Matador. Manggih tanjakan dorong… Terusterang saya merasa sedih dan terhina, namun tentusaja saya tidak akan meresiko kan diri mencoba dan ambruk dengan cleat gate/cleat injury terbaru. Tawakal saja dorong dorong bike, heartrate sih tidaklah jauh dari 140an bpm. Cuma kaki cenut-cenut, sepatu beberapa kali terpeleset karena batu batu lepas. Susahpayah kita menemukan jalur yang enak hanya untuk sekedar mendorong sepeda. Tim segera tercerai berai, dan hampir tidak ada suara apapun kecuali suara sepatu dan ban bertemu batu makadam. Krosak… krosak…

Bagian trek ini mengingatkan saya pada tanjakan-tanjakan di trek Cioray. Miring, hampir mustahil untuk dikendarai dengan sepeda. Lho? Hampir mustahil? Apa ada yang bisa? Jawabannya nanti kita cari dari orang-orang yang ngacung memiliki banyak masalah pribadi serta ingin menguji derajat sakit jiwa masing-masing. Nanti ya 19 November saya jawab apa ada yang bisa.

diagonal
[foto oleh antoix tapi pinjem kamera masbro yg sudah malas memotret]

Mengejutkan, tiba-tiba kita menemui sedikit jalan melandai. Rupanya setelah diagonal melewati pinggang dan dada, kita akhirnya sampai juga di ujung kepala dari punggungan ini. Fyuh!! Sambil menegak air, saya jadi mulai memperhatikan bahwa di sekitar kita samasekali sudah tak tampak pohon teh, namun kita berada di tengah hutan pohon kina dan pohon-pohon perindang lainnya. Mungkin sampai sekarang masih ngilu rekan-rekan yang kemarin lewat trek ini. Malah jadi ada pertanyaan dengan ekspresi wajah super heran, “… emangnya Om mau lewat situ lagi???…”

Datar sedikit bisa gowes dilanjutkan dengan tanjakan berganti-ganti. Lalu tiba-tiba mendatar jalannya (ajaib!!) dan benar saja disusul dengan berhenti nya Papa TB dan Om Eyang mendiskusikan trek. Wadoh. Alamat deh… Alamat Palsu…

Dimanaaa.. dimanaaa… dimanaaa….
*mbayangin Ayu ting ting

Wakakakaka…

Tahap selanjutnya adalah kita memutuskan memotong ke kanan, masuk ke rerimbunan belukar setinggi sekitar 2.5-3 meter. Pohon-pohon perindang kecil saja di kiri kanan jalan singletrak menanjak setapak. Acara tuntun dimulai lagi. Singletrack ini adalah jalan akses ke kebun paprika di tengahnya rupanya. Pohon mirip cabe dengan buah nya yang hijau dan besar-besar mengingatkan saya pada Pizza Hut. Kruyuk… kruyuk… jadi laper perut. Hah! Konsentrasi dorong dulu.

Setelah memasuki kebun paprika, maka kita mulai masuk ke area yang tanpa singletrack. Masing-masing mencari jalannya sendiri. Berusaha sekedar melewatkan sepeda mengatasi area ini. “Ada kebun teh di depan” kata Papa TB seperti seorang peramal… Melihat kondisinya seperti nanjak di foto-foto “Tipar, jalan yang hilang”, hanya ini semak-semaknya tinggi tinggi banget. Baru kemudian saya sadar MBahBro tampak kepayahan, terutama karena handlebar-nya yang lebar, yang nyangkut kesana kemari. Muka MbahBro sudah memelas sekali, cuma sinar matanya masih mengkilat-kilat kayak mau makan Gurame saus Tauco.

(diingatkan lagi, nama dan sebutan hanya fiksi saja…)

Akhrinya, tampaklah secercah kebun teh di depan… Alhamdulillah… lega nya serasa bertemu peradaban lagi. Tapi ternyata masalah hidup kita memang berat, kita masih harus naik ke atas lagi, membelah celah pohon-pohon teh yang sempit, hanya seperti jalan air saja, menuju ke atas… “…ada jalan di atas…” kata Papa TB lagi. Suara belio seperti campuran antara ramalan dan perintah serta harapan, saya sudah susah membedakan.

Dimanaaa.. dimanaaa… dimanaaa….
*mbayangin Ayu ting ting (lagi)

Menghadapi kejadian TTB-DDB-GGB ini mulai tampaklah darimana asal perguruan para pesepeda. Ada yang dari perguruan Taman Safari (sepeda didorong), lalu perguruan Nona (bukan ndorong sepeda malah motret), lalu perguruan Kopasuss (Sepeda dipanggul), dan tak lupa perguruan Tong Setan Tegaldanas (Sepeda diangkat jumping ban balakang digelindingkan di trek, sepeda didorong pake perut). Wah, segala jurus keluar, hanya untuk kembali mendapatkan jalan di perkebunan teh…

Fyuih!!!

Saat ketemu jalan makadam lagi, hati lega, langit pun mulai gelap
Masalah kehidupan kami berempat memang terbukti berat sekali…

Jalanan yang kami temukan adalah jalanan makadam, tidaklah mulus khas kebun teh, namun entah kenapa jalanan itu sore menjelang malam itu tampak baguuuuusss banget yah? Malam beneran menjelang, mulai didata logistik, siapa masih ada air, siapa masih ada roti, siapa masih ada biskuit, siapa bawa lampu, wah kejadian kaya gawat bener aja.

Setelah selonjoran melemaskan otot, memandang Situ Patengan di kejauhan dibawah sana, sayup-sayup terdengar suara gas menyembur dari sumur pengeboran di bawah sana. Entah kenapa feeling saya jadi seperti pas kita selesai menanjak di Gn. Padang dan dari ketinggian melihat kebawah ke arah situs gunung Padang. Mana jam nya mirip lagi, sekitar maghrib.

Setelah nyawa sudah terkumpul, kami pun mulai menyusuri jalan inspeksi kebun teh, kali ini cukup landai kok, tidak ada lagi tanjakan-tanjakan Ayu Ting Ting seperti di tengah kebun Kina. Gelap segera cepat sekali menyergap, tanpa kami sempat melihat dimanakah tujuan seputar puncak gunung, kawah Putih. Senangnya kami waktu bertemu bapak-bapak naik motor, lalu bertemu penjaga kebun dengan api unggun nya di sebelah trek. Serasa benar kembali ke peradaban yang rasanya setelah 1800mdpl tadi jauuuhhh banget dari jangkauan.

Jalanan gravel kadang digenjot dan kadang juga dituntun berjamaah. Tuntun dilakukan kembali karena ternyata peristiwa TTB-DDB-GGB tadi sangatlah menguras energi dan semangat. Fisik dan mental. Tak lama kami menjumpai di sebelah kiri trek, di bawah jalan yang kita lalui, ada kampung kecil berisi sekitar 20-an rumah, mungkin perkampungan pekerja perkebunan. Wah, ini kampung tanpa listrik, samasekali tidak tampak ada suara kehidupan dari bawah sana.

Jalanan gravel dan makadam masih kami lalui, dengan beberapa kali bertemu motor dari arah berlawanan. Beberapa motor berhenti dan bertanya, “Mau kemana??…”. Dorong di tanjakan, kadang kadang digenjot juga kalau masih mampu, akhirnya kami sampai juga di semacam titik tertinggi. Seputar trek sudah asli hutan saja, tidak ada lagi perkebunan atau perkampungan. Dari titik seperti di puncak bukit ini (diperkirakan 2200m dpl) maka kami turun dan menemui jalan berubah menjadi aspal!! Aspal mulus!! Cihuiyyy… hati berdegub kencang, lega campur girang bukan kepalang.

Meluncur turun, ditunggu tanjakan, lalu sampailah kita di semacam area parkir. Dengan gagah tampak penanda tempat ini “Kawah Putih”… Alhamdulillah… sampai !!! Suasana ceria dan lega segera menyebar ke seluruh tim.

Area itu sih sepi sekali, tanpa penghuni tanpa warung tanpa listrik tanpa cahaya. Hanya tampak semacam area parkir dan area berteduh. Seluruh anggota tim duduk selonjoran di aspal dan mulai ada yang merokok. Suasana canda tawa tiba-tiba hadir kembali secara instan. Cokelat dan biskuit pun segera beredar. Melongok jam tangan saya melihat jam 1830. Hampir 13 jam kami menjalani trip ini.

Sama seperti trip trip menanjak yang lain, seberapa tinggi pun gunung, seberapa panjang pun tanjakan, pasti ada juga yang namanya ujung tanjakan. Semua penderitaan dan kesulitan selama perjalanan kok ya hilang begitu saja dengan sampai di tempat yang dituju.

Setelah seremonial foto dan menengok kawah putih yang guelap, akhirnya kami pun berangkat turun… Ya, turun kembali ke Ranca Upas melewati jalur onroad. Jalur onroad kita turun ini adalah jalur yang biasa digunakan orang-orang naik mobil/motor untuk berkunjung ke Kawah Putih.

Hanya dua dari empat pesepeda dengan lampu. Satu headlamp satu handlebar lamp. Turun dari sekitar 2200 m ke 1500 mdpl ini kami jalani dalam sekitar 30-45 menit. Rasanya panjang banget, dan jelas pasti dingin sekali. Hanya saya yang bawa windbreaker, rekan-rekan lain pasti lah kedinginan banget di trek turunan yang curam berkelok kelok ini. Kami hanya 2-3 kali pedalling, malah lebih sering menguji rem karena medan nya memang cukup menantang. Apalagi ditambah gelap.

Akhirnya dengan lega dan hati bahagia kami kembali menemukan kendaraan yang parkir di Ranca Upas. Jam sekitar menjelang jam 8 malam. Rasa tidak percaya berhasil melalui perjalanan ini. Rasa percaya diri juga bercampur didalamnya, karena ternyata masih diberi kekuatan untuk bisa melewati trek seberat ini.

Alhamdulillah…

SELESAI

Tracklog bisa dilihat disini…
Foto-foto bisa dilihat disini..
Keterangan acara Kolozal#8 ada disini…

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s