enjoy every cadence, every breath…

Ranca Upas to Kawah Putih; Survey Cikarangmtb Kolozal#8 ~ part2 of 3

Lanjutan dari tulisan bagian pertama…

Setelah ketemu pertigaan, jalanan menjadi melambung ke kanan, beberapa tanjakan menyambut, kontur masih jalan makadam, kadang makadam batu lepas di tengah perkebunan teh. Kiri kita adalah punggungan pegungungan penuh kebun teh dengan puncak-puncak berupa hutan, sementara di kanan bervariasi dari kebun teh dan juga kadang hutan. Kalau pas pemandangan terbuka ke arah lembah, udah deh, dengan cuaca cerah begini bakal jadi foto yang bikin iri siapapun di facebook…

Setelah tanjakan demi tanjakan yang memaksa saya berhenti ambil napas, maka tiba-tiba kita dihadapkan pada jalanan agak mendatar dan agak menurun. Di kanan bawah tampak desa kecil perkampungan di tengah kebun teh. Jalanan mendatar cenderung turun ini membuat malas untuk berhenti, mau nya mengayuh dan mengayuh terus. Angin tidaklah lagi semilir tapi sudah kencang berbunyi di telinga. Lalu tiba lah kita di sebuah tanjakan yang tampak bertumpuk dan bertumpuk…

Bertumpuk? Maksudnya tampak di depan jalan miring sekali keatas meliuk liuk merayapi kebun teh, menuju ke atas entah kemana. Sementara Gunung Patuha tampak menyembul masih lah jauh di belakang.

Benar saja, saya jadi teringat profil trek yang dilihat di bikemap tadi di Patengan. Tanjakannya total cuma ada tiga kok. Dalam hati saya berharap semoga ini sudahlah mulai tanjakan tahap ketiga. Sudah tinggal satu tanjakan saja, walaupun memang tampak panjang dan seperti tak ada putusnya keatas.

This is hard. Hanya maju 15 meter sudah membuat jantung saya bedetak naik dari 120bpm ke 170+bpm. Miring amat ya? Terpaksa saya berhenti dan membagi menyelesaikan tanjakan pendek ini menjadi beberapa bagian. Sementara tampak di sebelah kanan kebun teh yang dibongkar, diremajakan tanamannya. Saat menyelesaikan satu bagian, susah bener ya mendapatkan momentum untuk sekedar membuat sepeda mau berjalan lagi menyelesaikan tahap berikutnya. Ampun dah. Dalam hati saya berkata, “wah, kalo kaya gini terus apa ya cocok buat Kolozal??”

Kekhawatiran saya segera terjawab karena di depan ternyata jalan mendatar lalu bertemu jalan aspal. Menurut yang membuat trek, jalan aspal ini adalah jalan raya menuju ke arah pantai selatan, pantai Jayanti dan sekitarnya. Kami pun berhenti di sebuah warung, menyruput teh manis asli perkebunan Walini Situ Patengan. Sementara dari arah jalan aspal tampak hanyalah dekat di bawah Situ Patengan yang tenang airnya. Halah!! Rasanya sudah habis kok ya masih saja dekat dengan tempat makan siang tadi.

Di warung saya cerita kalau senang akhirnya kita memasuki tanjakan ketiga juga. Tanjakan ketiga maksudnya tanjakan terakhir sampai tujuan. Diketawain sama Eyang dan Papa TB. “hoahahahahaha… tanjakan ketiganya belum mulai Om, ini baru persiapan nya saja…” ” WHATTT !!!????” hampir saja mata saya keluar dari kelopak karena melotot. Ampun dah trek ini. And still long way to go.

Buset, tanjakan sepanjang dan semiring tadi ternyata bukanlah tanjakan ketiga yang panjang dan miring tampak di kepek-an itu. Ah, memang ilmu membaca medan masih jongkok. Sambil pijat-pijat paha dan betis yang menegang, saya mulai mempersiapkan mental buat sebuah tanjakan offroad yang sangat amat panjang dan miring.

peta
[peta disusun oleh Om Hanif untuk cikarangmtb]

Hanya sebentar di warung ini, mengingat sudah lewat jam 2 dan masih ada satu tanjakan menanti. Beranjak lah tim genjot pelan di jalan mulus aspal onroad nanjak. Lho kok onroad? Halah! Jangan protes!!! Ini cuma berlangsung tak sampai 1km. Papa TB menghentikan kita di sebuah tikungan curam dan menunjuk jalan kekiri, makadam lepas miriiiinggg banget. Solusi mudah segera tampak di kepala sebagai opsi utama, TTB. Tapi penasaran, saya lanjutkan nanjak dikit lagi di jalan aspal, supaya dapat ancang-ancang, sambil menunggu heartrate turun ke 120bpm. Sedikit saya paksakan paha dan betis, emang enak ya ternyata melahap tanjakan pas yang lain lg TTB wkwkwkw…. meskipun pada gak tau kan saat ketemu belokan pertama, saya berhenti di 170bpm dan tersengal sengal hanya untuk bisa ambil napas yang lancar.

Sejak sprocket dan rd ganti ke SRAM, saya mendapati gigi 34T di belakang, lebih besar dari 32T yang biasa saya pakai sebelumnya di deore. Tapi kemudian di tanjakan-tanjakan ini saya temui bahwa 32T masihlah yang terbaik untuk melahap medan teknikal, kecepatan minimalnya masih dapat. 34T biasanya malah saya pakai saat agak landai dan bisa gowes spinning aerobik sambil menstabilkan napas dan degub jantung. Trik ini saya pakai sering sekali terus menerus sepanjang trip. Semakin curam tanjakannya semakin cepat crank saya kayuh di posisi sprocket 32T. Saya jumpai sering gagal di 34T karena momentum speed nya gak dapat. Halah! sok membahas… ujung-ujungnya berenti juga ambil napas! Intinya saya temui bahwa 10 speed di belakang belum tentu solusi juga untuk setiap orang, saya jadi semakin susah membayangkan kalo 36T dipasang di belakang seperti di sprocket series X0 yang ada di sepeda beberapa teman.

Diselingi dengan tidur di salah satu pertigaan (huenak bener memang tidur di tengah trek, wkwkw…. udara dingin buat bobo siang), akhirnya tanjakan demi tanjakan (sudaaahhh… jangan lagi tanya ada jalan datar atau turunan, ini sudah masuk tanjakan ketiga yang tiada henti…) harus kita lalui di tengah keindahan kebun teh yang kadang bercampur dengan hutan industri. Papa TB tampak mengarahkan memasuki singletrek kekanan, di tengah kebun teh. Ampun super asyik ini singletrek berkelok kelok di tengah keindahan alam dan kesegaran udara. Sampailah akhirnya kita di ujung tanjakan, jalan agak mendatar menyenggol sebuah kampung. Kampung ini akan menjadi kampung yang penting pada gowes KOLOZAL mendatang. Kampung ini akan membedakan orang waras dan tidak waras. Orang yang gemar menyiksa diri dan orang yang menberi deraan tubuh secukupnya saja.

Kampung ini tidaklah dimasuki namun hanya dicicipi gonggongan anjing nya di ujung jalan saja, lalu tampak jalan menanjak menuju ke atas, miring, terjal, batu, lepas, udara tipis. Hanya bergerak setiap 10-20 meter lalu berhenti ambil napas. Sebelah kiri kita sudah hutan, perkebunan teh semakin tertinggal jauh di sebelah kanan. Jalan kedepan semakin miring dan semakin memasuki kawasan hutan industri. Hutan berisi pohon rasamala, pohon kina, dan pohon pohon penahan air yang lain. Tampaknya memang dijaga untuk menyangga dan supply air ke kawasan perkebunan teh.

Akhirnya sampailah kita di titik 1800m dpl. Setelah tercerai berai, tim berkumpul dan regrup di titik ini. Mas Fotografer yang berjenggot sudah tidak mau lagi mengingat bahwa belio membawa kamera. Mukanya lurus banget waktu ditawari, “… pemandangannya bagus nih Om, kok gak difoto…” Untung masih muncul senyum simpul (sdikit aja), sambil buru2 ambil air, bukan ambil kamera.

Tim juga terheran heran melihat sebuah truk kepala kuning menuruni tanjakan dari arah atas. What the hell… bagaimana mungkin ini bisa terjadi? bagaimana itu truk mencapai atas sana? Kami semua melamun melihat tanjakan di depan dan tidak membayangkan lagi bisa mengayuh sepeda menjalaninya lha kok ini truk jalan saja? Yang ekstrim tidak hanya alam dan trek nya namun ternyata para pekerja perkebunan Walini pun telah berubah menjadi ekstrim dalam kesehariannya. Trek ini setelah diamati sambil menegak air dari bidon, tampak sangat mirip dengan trek turun trip Talaga Bodas yang tenar itu. Batunya segede2 sepatu, ada yang segede kepala. Batunya lepas di banyak tempat. Saya sedang membayangkan apa yang akan dilakukan para akap-ers Cikarangmtb menghadapi trek seperti di depan.

Gak usahlah tanya apa yang akan kami lakukan, salah seorang rekan segera memulai dengan bilang… “… tuntun bersama yuk…”

Titik finish kabarnya di ketinggian 2200mdpl dan kita masih 400m dibawahnya. Hari sudah mulai beranjak sore… Adzan ashar sudah lama lewat. Saat dorong saya jadi ingat lagi lagu Alamat Palsu. Sudah setinggi ini semoga saja bukan Alamat Palsu yang kita sedang cari…

cerita bersambung ke bagian ketiga….

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear

One response

  1. Ping-balik: Ranca Upas to Kawah Putih; Survey Cikarangmtb Kolozal#8 ~ part3 of 3 « @antoix

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s