enjoy every cadence, every breath…

Ranca Upas to Kawah Putih; Survey Cikarangmtb Kolozal#8 ~ part1 of 3

Trip ini 15 Oktober 2011, sekitar sebulan sebelum Kolozal#8 19 Nov 2011
Member trip adalah empat orang: Om Hanif, Om Rudy, Om Ardian dan antoix.
Foto-foto dalam trip ini diambil oleh Om Rudy, Om Hanif, dan Om Sigit untuk cikarangmtb.

Setelah menikmati keindahan pagi itu, karena tim empat sepedah telah bersiap untuk start. Siapakah track leader tentu tidaklah perlu dipertanyakan, Om Hanif aka. Papa TB aka. Trekbuilder yang memimpin di depan. Perjalanan hari itu pun dimulai dengan mengitar sekeliling Ranca Upas (ketinggian sekitar 1600m dpl) kemudian masuk merambat ke kebun sayur menyisir punggungan yang terletak di sebelah kiri jalan masuk ke Ranca Upas. Kata-kata pertama Papa TB saya ingat banget, “Trek nya dimulai disekitar sini lah, coba kita cari jalannya saja…” halah…!!!

Tampak indah di sebelah kanan trek, semacam kolam/danau kecil di tengah kawasan bumi perkemahan ini. Sebenernya kalo liat pemandangan dan empuk nya tenda kok ya tampak lebih menarik kongkow dalam tenda yah?

kolam ranca upas
[foto karya om rudy untuk cikarangmtb]

Jalanan adalah singletrack yang meliuk liuk. Sedikit berdebu karena rupanya trek belum terlalu sering terkena hujan. Meliuk kanan kiri, sedikit bumbu batu makadam walaupun jarang, kami pun mendaki, menanjak sedikit demi sedikit. Singletrack heaven seperti ini memang selalu membuat kangen, apalagi dilakukan di tempat yang duingin begini, samasekali gak keringetan meskipun degub jantung menanjak mendekat melewati 170bpm. Tampak setelah melewati sebuah tanjakan panjang Papa TB dan Eyang berhenti di depan. Kita pun menunggu MasBro mendekat dan memperdengarkan lagu yang lagi top…

Kemanaaa… kemanaaa… kemana…?
Kuharus mencari kemanaaaa…
Kekasih setia…

Halah, alamat palsu deh, alias nyasar…!!
Acara balik kanan pun segera dilakukan. Tanjakan jadi turunan dan turunan berubah jadi tanjakan.

GUABROK!!! GUABROK!!!
Suara Kusen jati melibat turunan
Semakin kencang suaranya saat menyisir tanjakan. Kencang suara napas maksudnya.

Tapi alamat palsu kita ternyata membawa ke sebuah pemandangan indah kebun teh tersaji setelah tanjakan. Kebun teh tampak berjajar rapiii sekali, tidak seperti kebun teh di tempat lain. Heran ini perkebunan cenderung blok-blok nya rapi dan simetris…

Cerita yang lalu sampailah kita pada punggung sebuah bukit dan diberi pemandangan yang sangat AM. Turunan terjal jauh ke bawah dari semacam hutan pohon rasamala/daun merah ke arah perkebunan teh. Setelah sotoy dan terjengkang, akhirnya memilih untuk TTB di turunan. Fyuih…

Kesegaran perkebunan teh segera menyergap, namun di tengah nikmatnya udara segar kebun teh kita dihadapkan pada tanjakan panjang makadam dan miring bener. Susah payah hanya untuk menghindar dari kegiatan menuntun. Setelah dihibur jalan mendatar di perkebunan teh kita tiba tiba disuguhi tanjakan teknikal dan miring makadam. Paha menjerit, betis menangis, dada serasa meledak. Namun semua terlupakan oleh sebuah pemandangan luarbiasa di balik ujung tanjakan…

Di kejauhan tampaklah keindahan Situ Patengan. Danau di ketinggian 1500an mdpl. Sementara tampak segera dibawah jalan inspeksi kebun teh meliuk liuk menuju ke situ itu. Aduh. Pengen rasanya berlama lama disini, tapi dilema juga melihat landscape nya yang tak bosan bosan dilihat. Tampak anggota trip paling sepuh, yang bernama Eyang, segera gak sabar menyambar turunan panjang. Tak sampai lima menit tampaklah beliau dengan jersey CMTB hanyalah seujung titik dibawah sana merambat perlahan di tengah indahnya landscape.

Karakter kebun teh nya juga unik, tampak di beberapa area ada semacam ‘rock garden’. Rupanya daerah ini sudah dekat dengan letusan gunung sejak jaman baheula. Batu batu vulkanik sebesar mobil dan sebesar rumah tampak menyembul di tengah kebun teh, kadang tepat di sebelah trek. Terasa sekali bau magma-nya area ini, walau mungkin letusan sudah ribuan tahun yang lalu.

Melihat pemandangan ini saya kok jadi lupa ya tentang ‘Alamat Palsu’… hehe… sudah pasti kita menuju ke tempat yang sesuatu banget…

Menanggapi tentang cerita ini yang fiksi, memang cerita ini hanyalah fiksi semata, namun semua cerita fiksi pada dasarnya diilhami oleh pengalaman nyata dari penulisnya kok. Jadi pengalaman nyata penulis, lalu dibumbui dan diedit, agar menyampaikan pesan bahwa penulisnya keren, gagah, tak pernah kalah, tak pernah lelah. Kan keren, buat pencitraan diri penulis. Nah kan? Nah, itu yang saya maksud fiksi.

Selain pemandangan kebun teh yang dilengkapi dengan ‘ornamen’ batu batu besar, kawasan kebun teh ini juga tampak sangat amat rapi jali. Potongan-potongan teh nya tampak lebih halus, sehingga tampak dari atas kotak kotak area kebun teh ini seperti potongan-potongan tahu. Pernah lihat gak tahu besar di nampan sebelum dipotong-potong? Potonganya tampak rapi dan simetris. Unik sekali.

Lanjut cerita menjadi melahap turunan poanjaaang makadam. Di beberapa tempat turunan sangat amatlah curam. Hal ini membuat skill kita meng handle rem dan juga mengendalikan sepeda jadi sangat diuji. Kemiringan turunan dan makadamnya mengingatkan pada turunan trek rindualam menjelang paralayang atau turunan-turunan teknikal di trek Pondok Pemburu.

Gowes berlanjut ke area datar dan bertemulah kita dengan jalan aspal mulus menuju situ patengan. Acara selanjutnya adalah makan di warung Situ Patengan. Herannya saat makan di warung ini hampir semua peserta merasa ‘lupa’ bahwa tadi pagi sudah sarapan (nasi goreng, telor ceplok, mie goreng, indomie rebus, bandrek, bala bala, pisang goreng… etc). List sepanjang itu kok ya bisa lupa.

Makan apa saja rasanya enak, keindahan Situ Patengan siang itu membuat makan kita pun makin nikmat. Angin juga semilir cenderung kencang. Sementara saya menikmati kaki selonjoran, dipijet-pijet, punggung diistirahatkan, dan yang terpenting dada ditenangkan pada <100bpm, kita makan enak dulu; sate kambing plus nasi tak sampai lima menit lenyap dari pandangan mata. Glk glk glk… sruputan teh walini juga membuat dada enak sekali.

Ada satu sih yang bikin gak enak, tampak di kejauhan mata, di belakang nun jauh disana, Gunung Patuha dengan Kawah Putih-nya. Tampak agung sekali di ketinggian. Indah dan tidak angkuh sih, tapi sangat berwibawa. Apa iya ya kita akan sampai ke tujuan yang diharapkan? Kok tampaknya tinggi banget dan waktu pun tinggal setengah hari? Mata mengantuk tidak hanya karena perut kenyang tapi juga karena semalam cuma tidur dua jam.

Tak berapa lama kami pun segera beranjak. Trek mengitari Situ Patengan jalan kembali makadam inspeksi kebun teh. Disini kita juga temui ternyata teknik memotong daun teh yang diterapkan sedikit berbeda dengan kebun yang lain. Daun teh bukan dipetik tapi digunting dengan gunting tangan khusus. Kebayang kecepatan petik nya bakal bertambah, namun juga mengakibatkan penampakan potongan kebun teh menjadi berbeda, menjadi tampak lebih rata dan halus, seperti tahu.

situ patengan
[foto karya om rudy untuk cikarangmtb]

Setelah mengitar sempat ada foto dengan latarbelakang danau Situ Patengan, kita segera beranjak naik, nanjak, naik, nanjak, hosh hosh hosh. Yang menarik adalah hanya di beberapa area saja tanjakan tampak sangat kejam, tempat yang lain cukup memanjakan jantung dan tidaklah perlu bekerja sampai maksimal. Lalu sampailah kita di suatu pertigaan. Untuk selanjutnya pertigaan legendaris ini kita namain pertigaan 'chicken way dan bebek way'. Papa TB yang paham penjelasannya yang jelas kita ambil jalan ke kanan, yang tampak lebih landai daripada jalan ke kiri yang tampak sangat miring.

Rasanya saya tidak perlu lagi menjelaskan pemandangan kebun teh nya. Dimanapun kebun teh tidak ada yang tidak indah dan tidak dingin.Yang jelas ini gowes tanpa keringat.

bersambung ke bagian kedua…

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear

One response

  1. Ping-balik: Ranca Upas to Kawah Putih; Survey Cikarangmtb Kolozal#8 ~ part2 of 3 « @antoix

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s