enjoy every cadence, every breath…

Genjot sambil memotret, Trip NONA Papandayan

Pada 10 Juli 2011 yang lalu menjalani trip yang tak biasa dan baru kali ini dicoba. Trip bersepeda kali ini memadukan hobby bersepeda dengan hobby memotret. Sebenarnya seperti trip bersepeda biasa saja, cuma memberikan ruang cukup banyak untuk melakukan kegiatan memotret. Trek yang sama pernah dijalani sekitar dua tahun lalu ceritanya bisa dibaca disini… Kali ini trip dibagi jadi dua hari karena dialokasikan waktu untuk kegiatan memotret di sela gowes.

Acara trip bersepeda kali ini diberi nama Gowes NONA. NONA= no narsis, karena memang isinya memotret apa saja yang ada di seputar trek, bukan memotret narsis.

Setelah trip ini saya membuat tiga tulisan bertema ‘kesan’ ke milis cikarangmtb, ketiga tulisan itu dipilih untuk mewakili cerita perjalan Papandayan kali ini.
Kesan Pertama tentang trek Gunung Papandayan
Kesan Kedua tentang sepeda yang dipakai
Kesan Ketiga tentang memotret

1# Kesan Pertama tentang trek Gunung Papandayan

Kesan pertama yg saya mau cerita ttg trek nya: Papandayan. Sejak pertama lihat post Om Dhani bogor di milis ipdn, digambarkan foto gowes diatas kawah, asap belerang tampak ngebul2 di sekitar sepeda, aduh, segera saya jatuh cinta dan memastikan tinggal nunggu waktu saja saya akan ke Papandayan.

Gowes Nona ini adalah perjalan ketiiga saya dengan sepeda melintasi Papandayan
Perjalan kali ini tentu tidak lepas dari betapa Papandayan selalu membuat saya rindu. Dua trip sebelumnya berlangsung 2009,, dua tahun ya cukup lah buat kangen dan ngebet mendatanginya kembali. Herannya, dua trip 2009 dan pun trip hari ini kok selalu seru ya? Selalu Papandayan tak pernah gagal membuat hati berdegub keras setiap menjalankan ban sepeda diatasnya. Papandayan seperti gadis molek yang selalu ngangenin buat ditengok, dan ditengok lagi…

Trip kali ini pun menunjukkan siksi lain keindahan Papandayan, saat setiap jengkal, setiap langkah, setiap spot menarik kami habiskan ber jam jam merekam, mengambil gambar, menyesali saat hasil jepretan di LCD view-er tak permah berhasil dengan sempurna merekam apa yang kita lihat…

Terimakasih Papandayan, aku pasti akan kembali padamu…

2# Kesan Kedua tentang sepeda yang dipakai

Kesan kedua adalah tentang sepeda yang saya pakai, tentang Kanjeng Kyai Cozmic CX1 2007 dan Eyang Dieng SX3 2009

Menjalani turunan 11km dari Lawang Angin sampai ke Cileleuy, saya jumpai trek makadam sudah lebih bengis dari dua taun lalu. Jalan doubletrack yang tampaknya juga merupakan jalan air di musim penghujan telah berhasil sukses melepas batu-batu makadam besar nya dari trek. Trek jadi tak terasa sebagai trek XC lagi, saya amat yakin saat rem dilepas rearshock 4in dan fork 100mm tidaklah mencukupi untuk meredam kegarangan trek. Kondisi saya kali ini jauh lebih mendingan dari dua taun lalu.

Dua tahun lalu saya turun dengan hardtail dan fork 100mm coil. Turunan sebagian besar makadam 18km dari Lawangangin ke arah Cileleuy lalu Panawa benar-benar setengah hari yang berat bagi (terutama) tangan saya. Waktu itu belum ada istilah ‘tege-tege’ (note: tergaga gaga, tangan tersiksa turunan makadam panjang) tapi tanpa istilah itu pun saya sudah mengalami nya sendiri *toss Om TJ Om Qoqo*. Saat perjalanan dengan Om Hanif Mei 2009 itulah, saat makan siang di Panawa, saya putuskan untuk segera beralih ke full sus bike. Buat saya sangat memorable trek ini telah membuat saya memutuskan pindah ke fullsus. Dalam hati saya waktu itu berkata, “Ini trek yang saya sukai, saya masih akan melewati trek semacam ini lagi dan lagi, tampaknya saat berpindah ke fulsus”

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para pemakai hardtail di trek ini, saya bercerita tentang kesan kedua ini. Sayapun akan tetap berpikir bahwa “hardtail is enough” sebeleum menjalani 18km dalam setengah hari itu… Tempat ini adalah tempat terbaik menguji seberapa hardtail kah anda…??

Sekarang bersama Eyang Dieng saya telah menjalani banyak juga trip, terutama di paruh kedua 2009. Namun kesan pertama bersama Eyang Cozmic tak pernah terlupakan. Di part trek ini Om Hanif mencapai 72km/jam dengan patrol putihnya, gak kebayang kalo udah pake tunggangan baru nya deh. Kembali menjalani trek ini, kembali saya mendapat pelajaran, memakai sepeda. Gowes NONA ini lah yang memberi saya dan Eyang Dieng SX3 kesempatan merasakan trek yang sama dengan sensasi yang jauh berbeda…

3# Kesan Ketiga tentang memotret

Baru kali inilah mengalami gowes yang jika coba ditimbang porsi nya 50% memotret dan 50% gowes. Porsi memotret nya jadi besaaar sekali. Biasanya pun kalo saya gowes, porsi memotret saya sudah cukup besar, mungkin 10-20% perhatian dan waktu dipakai untuk memotret, tapi kali ini porsinya benar-benar besar. Jika teman-teman pernah ikut merasakan kegiatan hunting fotografi, maka acara Genjot NONA ini pun mirip. Kita seperti genjot dari satu spot foto ke spot foto yang lain. Di setiap spot foto bisa sampai sejam lebih berkegiatan memotret. Inilah salah satu alasan kenapa tidak mengajak banyak rekan, selain pertimbangan jenis dan berat medan-nya, juga karena pertimbangan perasaan rekan yang lain juga. Rekan lain pasti lah tidak akan tahan menunggu, akan bosan dan akan tidak mengerti. Maka akan menjadi beban baik buat rekan yang tidak menikmati foto mem-foto (bukan di foto lho ya, yg ini tak diragukan lagi) maupun bagi kami yang menikmati foto mem-foto, maunya di suatu spot berjam-jam, kalau mungkin ber hari hari.

Trip ini dimulai dari diskusi obrol obrol belajar motret dari suhu MasBro. Saya, Om Sigit dan Om Junee sering me-“nanggap” masBro untuk sekedar sharing tentang fotografi. Dari obrol obrol sekali dua kali tiga kali empat kali, maka tercetuslah ide Genjot NONA Papandayan Geulis ini. Trip ini sudah direncanakan sejak sekitar dua bulan sebelum pelaksanaan. Selama dua bulan tidak hanya kita mempersiapkan:

1) gears foto (ada yang transaksi body kamera, ada yang hunting lensa)
2) kita juga harus mempersiapkan kekuatan fisik gowes (baca deh versi trip ini sehari-nya keyword google: antoix papandayan cikajang)
3) kita ditambah lagi juga harus mempersiapkan gear sepeda (ada yang sepedanya baru berdiri, baru upgrade frame, masih hunting fork)
4) mempersiapkan teknik dan pengetahuan fotografi (belajar dasar nya setting landscape, natural density dan filters nya, komposisi dan konsep memotret)
5) siap siap kemping nginep (backpack, cara loading kamera, sleepingbag, etc)

Kalau teman-teman perhatikan maka trip-trip seperti Cherry telah digunakan oleh Om Sigit dan Om Rudy untuk menguji dan melatih endurance, sambil juga menguji kemampuan otak buat memotret saat
ternyata body sedang ‘habis’ (misal di tempat sekolah tanpa dinding).

Lalu MasBro tampak menjalani century ride onroad dengan memotret juga dari Cikarang-Depok pulangpergi.

Lalu trip simpel pendek ke Jembatan Gantung pun saya pakai untuk mengasah teknik dan pemanfaatan momentum kejadian-kejadian saat gowes. Genjot simpel NR bersama tim Omron pun saya pakai untuk belajar motret malam saat cahaya hampir tak ada.

Om Junee tampak genjot bertiga Om Eyang Om Edo ke tempat latihan militer yang ada danau nya. Motret-in landscape sambil coba coba trial setting kamera.

Pokoknya all out dan adrenalin juga memuncak sampai saat hari-nya tiba. Buat saya sendiri yang merupakan satu-satunya penunjuk jalan yang pernah lewat jalur ini sebelumnya, ada beban tersendiri, karena beneran saya sudah hampir lupa detail trek dua tahun lalu, Mei 2009. Sering kalo ditanya, “di depan nanti gimana Om?” maka saya akan bilang, “Pokoknya saya lihat trek nya moga2 masih ingat”. Ya, kalo salah belok bisa bisa gak sampai ke Cikajang malah sampai Pamengpeuk pantai!

Dan bagaimanakah pelaksanaanya?
Bagaimana terjadinya D Day dari Gowes NONA ini?

Anggota tim NONA sangatlah excited. Perjalanan dua hari dengan special RRI tentusaja, special preparation, special budget, special focus (ada yg baru sebulan pindah kerja). Saking excited nya sampai salah seorang demam meriang tapi hilang begitu lihat Gunung Papandayan.

Di kawah kami habiskan minimum dua jam, sampai kesorean dan akhirnya hanya serba cepat di Pondok saladah. Di Cileleuy kami habiskan semalaman, asli tempatnya dingin banget (1400an mdpl, se level Puncak Pass), gak sempat motret sunset karena kita baru sampai di Cileleuy pas banget sebelum maghrib. Makan malam sambil cari info dan akses ke petani yang besoknya kerja. Pagi subuh sudah bangun karena tidur di masjid kita segera cari tau kegiatan pagi.

Salah satu yang seru adalah spot di cileleuy pagi hari kuliah praktek motret sunrise dari suhu. Juga saat berhenti di kebon kopi/sayuran yang memanfaatkan lahan hutan pinus perhutani. Tak terlupakan juga satu jam lebih memotret air tejun curug Orok. Rasanya waktu berlalu cepat sekali tau tau tim kepresidenan sudah update kondisi nagreg yang macet 10km.

Buat saya, yang sekarang memang sangat menikmati biking photography, wah trip ini sungguh sungguh indah. Kesan saya pribadi terhadap fotografi (pribadi ya, jangan di generalisir) adalah cara kita memandang secara visual segala sesuatu jadi berubah. Misalnya kita melihat sungai dilintasi pesepeda, maka yang muncul di kepala bukan lagi bagaimana supaya melintasi tidak jatuh, tapi bagaimana kejadian melintas ini bisa terekam dalam frame dengan baik. Dengan cara begitu pula lah seluruh trip ini berjalan. Dari kawah, sungai belerang, ggb batu, downhill, cileleuy, rolling, curug semuanya dipandang dengan kacamata yang berbeda.

Udah kepanjangan, terimakasih kalau ada yg mbaca sampai baris ini…

4 responses

  1. Andrew

    Luar biasa, mantap bro

    Agustus 19, 2011 pukul 7:55 pm

  2. mantap om antoix….ayo siap2 remedial!

    Agustus 26, 2011 pukul 5:28 am

  3. wih hebat uy…lanjutkan boss,,;-)

    September 5, 2011 pukul 9:16 am

  4. SAP

    kepingin euy>>>>>

    November 25, 2011 pukul 11:31 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s