enjoy every cadence, every breath…

Uphill Trip: Jemawi (Sragen) – Candi Cetha (Karanganyar)

==1==

Trip nanjak nya sebenarnya singkat, jam 11 start jam 2 finish… tapi menuju titik start perlu mencari-cari sejauh 60km dari Solo… Lokasi titik start namanya Jemawi. Ini adalah kota kecamatan, lereng Gn Lawu sisi Barat Laut. Jemawi dari arah sragen sekitar 25km.

Si macan menjelang mencapai Jemawi. Semalamnya baru jam 2 malam sampai di Jebres Solo, masih ngantuk brkt jam 9an dari Jebres.

Persawahan di sekitar titik start. Sudah nanjak dong… tapi masih sopan buat manasin paha. Vegetasi masih padi. Poanass…

Ini adalah gerbang pertama ke arah kawasan wisata Ceto Sukuh

==2==

Tas berisi perbekalan. Dokumentasi aja, kali ini bawa teh kotak, peta, p3k, tools, windbreaker, ban cadangan, kamera, cemilan (roti dan ampyang/gula-kacang), duit (kali ini gak kelupaan)

Saat mulai masuk ke kawasan perkebunan teh, mulai sering tak sopan tanjakannya, semakin sering pitstop. Asli, kali ini saya manjakan tubuh dengan banyak pitstop, maklum kurang tidur dan masih akan menyetir panjang…

Pemandangan lembah2 di sebelah trek mulai mengejutkan dan membuat lebih sering lagi berhenti, motret. Obyek foto ya sepeda dan alam saja. Rasanya hanya 20-30% keindahan alam bisa terekam di kamera kali ini… Terlalu indah untuk bisa diambil ke dalam lembar dua dimensi…

Sebuah tanjakan miring yang membuat saya berhenti dulu untuk ambil napas sebelum mulai. Masih kaget liat tanjakan model gini, padahal berikutnya bakal bejibun model begini. Mobil dan motor pasti masuk gigi satu dulu sebelum menuruni tanjakan ini, memanfaatkan engine brake. Naik-nya? sudah pasti mereka mengerahkan semua kekuatan gigi terkecil…

Pemandangan di titik lebih tinggi makin membuat geleng-geleng kepala. Makin sering berhenti motret. Tapi ampun poanas banget matahari serasa ada 11. Melihat keindahannya, dan kecewa liat yg bisa tertankap di view finder kamera, saya jadi ingat lensa wide 9mm yg kemarin liat di pameran yah? wkwkwk

==3==

Kali ini make jersey cikarangmtb, biar yakin bakal keliatan dari jarak 5km wkwkwkw…

Foto jalan (nandjak berliku) masih panjang nak…. Gunung tersaput sedikit kabut di kejauhan adalah letak candi ceto dilihat dari bawah ini. Melihat ke arah posisi titik tujuan seperti mendongak… miring betuuuulll…. Feeling nya sama dengan di Dieng, menara pandang setelah kejajar terlihat tapi miring dan rasanya gak sampe sampe (3-6km/jam sih)

Foto -foto berikut diberi keindahan menengok sebuah Pura di samping kiri jalan…

Pemandangan ke arah jalan yang barusaja ditempuh dan tempat sepeda diparkir (sepeda tampak kecil di pojok kiri bawah) dari arah Pura… disinilah saya baru ngeh benar bahwa trip ini akan ketemu view yg sangat sangat istimewa…

==4==

Berikut adalah sebuah gerbang, tak terlalu jelas gerbang apa. Dari gerbang ini tampak jelas terlihat kompleks Candi Ceto nun jauh diatas sana ditopang oleh sebuah tebing batu. Di tebing ini ada dua air terjun yang hanya mengalir kalau hujan saja kata ibu penunggu warung.

Akhirnya berhenti di warung dan minum teh. Untung banget pakai jersey lengan panjang, cuaca cerah yang tanpa awan membuat matahari menyengat keras. Tampak teh dipetik dan dikeringkan secara manual oleh ibu penunggu warung. Segeeeerrr sekali teh yang sangat alami diminum di tengah kebun nya ini. Alhamdulillah.

Seekor anjing yang mendekat ke ban depan. Mungkin dia bisa mencium bau kalo ban ini pernah dikejar sama teman2nya yg di Cikarang… wkwkw..

==5==

Jalan yang semakin miring, pemandangan yang semakin indah, semakin ingat saya sama lensa 9mm yang ditawarkan di pameran, saya harganya sama dengan frame Giant… Setelah melihat fotonya kembali baru sadar kalo saya semakin sering berhenti.

Setelah melewati pertigaan, pertemuan antara jalan dari Karanganyar dan dari Sragen, lalu bertemu naik lagi ke arah candi Ceto. Ini adalah berfoto di tempat retribusi. Setiap motor ditarik 1000rupiah, sepeda grattisss.. wkwkwk..

Tak jauh dari pos retribusi, tanjakan tak lagi sopan tak lagi kasihan sama dengkul dan paha. Siapa coba yang suruh genjot uphill kesini? Lihat, itu mobil saja kepanasan dan mogok di tanjakan.
Latarbelakang foto adalah wilayah Solo dan sekitarnya. Ada awan2 yang sekilas tampak sejajar dengan tempat kita mengambil gambar, inikah yang dinamakan “Negeri di Awan..???”

NO MERCY !!!
Tidak ada belaskasihan dari trek kepada saya. Meskipun semua mobil dan motor mengerang-erang dengan gigi satu menyalip, sambil menebarkan aroma kopling terbakar, trek tetap saja tidak kasihan pada saya yang genjot terengah-engah dan mulai halusinasi karena panas matahari yang
amat menyengat. Trek tetap tidak peduli, tetap memberikan kekejaman kemiringan dan sambil menampakkan keindahan cakrawala dari Sragen raya sampai Solo raya di bawah sana…

==6==

Foto berikut saya ambil di tempat paling berkesan dari trip ini. Saat kelelahan fisik yang memuncak, kepenasaran dengan seperti apa Candi nya, dan ditambah pemandangan yang tak terlukis dengan kata dan tak dapat semuanya terekam dengan kamera… saya menemukan diri saya kebingungan dimanakah *flat* itu sebenarnya? Setelah gowes miring sepanjang hari merasakan bahwa nandjak adalah *flat* lalu menjumpai cakrawala yang memperlihatkan apa arti sebenarnya flat. Ini perasaan yg sangat susah dituliskan. Yang jelas saya jadi paham apa yang dimaksud MBah Rektor 1PDN dengan ‘the world is flat’. Disini. Nun jauh di lereng Lawu…

Kemudian ini adalah foto tanjakan terakhir, sepanjang sekitar 1km lurus sampai ke gerbang undak undakan Candi Ceto. Saya sampai lupa berapa kali saya berhenti di jalan yang hanya 1km-an ini.

Dan akhirnya sampaiii juga…

Hanya boleh sampai disinilah sepeda… Bagian kanan bawah tampak patung yang tepat di tengah jalan gerbang candi, sangat mistis, sangat unik dan aneh posisinya maupun ekspresi patungnya…

Inilah puncak tertinggi sepeda saya bisa raih dalam perjalanan ini… fyuh!!

Tracklog lengkap ada di http://www.bikemap.net/route/819051

Profil ketinggian

6 responses

  1. Ping-balik: Jatim Jateng Cycling Trips « @antoix

  2. mantaps oom, saya masih berkutat di sekitar komplek yang pemandangannya masih desa dan sawah tapi didataran rendah. parung – bogor.
    salam kenal

    April 29, 2011 pukul 2:19 pm

  3. wooahhh.. candi cetho, kebun teh kemuning.. love this place.. suer deh om tinggi bener itu nanjaknya, apa nggak gempor.. saya pake motor sport aja nggak bisa ngacir.. xixiixixiixi

    Juni 8, 2011 pukul 2:19 am

  4. onez

    wah..Maztap Om…

    jadi kangen pgn pulkam Solo…
    sukur2 sekalian naik ke tawangmangu…klo minggu rame juga lho yg gowes…

    onez

    MODERAT MOdal DEngkul + uRAT

    Juni 8, 2011 pukul 1:14 pm

  5. rahmi

    Dulu pernah wisata dimari. Mobil aja memang sampe ngeden naiknya. Berharap bisa sepeda kesini satu saat……

    Juli 13, 2011 pukul 1:37 pm

  6. Ping-balik: A Simple Heritage City Ride… ride around Ayutthaya (En) | @antoix

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s