enjoy every cadence, every breath…

Uphill Taman Dayu, Pandaan

Pasuruan, 13 June 2010

Pagi ini sudah saya niatkan untuk genjot. Dukalara Eyang Dieng yang dua minggu gak digowes harus saya akhiri.. Kebetulan memang weekend ini agak lowong. Si Macan Panther berisi Eyang Dieng sudah meluncur jam 0645, feeling saya membawa ke arah Pandaan, akhirnya 20 menit kemudian sudah parkir di area foodcourt Taman Dayu.

Dengan sistem SKSD (sok kenal sok deket) saya mendekat ke sebuah rombongan, dengan dua mobil, satu mobil pickup berisi 6 sepeda dan satu mobil isi orangnya. Ternyata dari Surabya mereka datang, mau ‘naik ke atas’ katanya… Wah! Cocok!
Gerombolan ini, kalau melihat ban sepedanya, wah biasa kota-kota. Slick 80% dari member. Baru kemudian saya tahu dari salah satu dedengkotnya: Pak Anton, kalau mereka memang biasa kota-kota dan baru mulai genjot keluar kota untuk refreshing…

Uphill dimulai. Melewati jalan utama The Taman Dayu http://www.thetamandayu.com/ yang feeling nya mirip uphill di sentul city. Tapi ini jalannya lebih sempit dan pohon-pohonnya lebih teduh dan rindang. Huenak tenan. Jalanan sendiri penuh dengan warga kota Pandaan yang sedang bersantai, jalan pagi, mejeng, olahraga pagi dibawah keteduhan pepohonan dan jalan nanjak ini.

Saya start mulai dari gerombolan tengah. 6 pesepeda surabaya ini plus saya jadi 7 orang. Satu per satu para pesepeda menyalip saya. Memang terasa sekali kalau semakin jarang bersepeda, napas serasa pendek, otot2 kaki rasanya seperti berat sekali dikayuh. Saya benar-benar kehilangan irama. Jalan nanjak, apalagi teduh plus pemandangan beraneka ragam manusia dan indah alam dikejauhan gini biasanya menyemangati saya, tapi tidak kali ini… Akhirnya saya tercecer di belakang. Waktu pitstop di gerbang utama masuk ke arah Club House Taman Dayu, saya kira saya ada di paling belakang. Rupanya masih ada satu rekan di belakang saya.

Disini saya mulai keluarkan kamera…

Pergaulan dan obrolan dengan teman-teman baru saya sudah mulai cair. Saya go with the flow saja di tengah bapak2 45-50 tahun-an ini. Jadi rasa muda kembali. Trek selanjutnya adalah masih dibawah rimbun pohon, jalan mulus yang lurus dan menanjak serta pemandangan padang golf hanya 20 meter sebelah kiri jalan. Mantap. This is better than Sentul City!!

Kita pistop kedua di puncak sebuah bukit di perempatan besar.. foto2 lagi..
Tampak di depan, lereng gunung Arjuno tampak gagah. Di ujung kejauhan tampak ada kepulan asap dari kawah mirip seperti Papandayan. Dan ternyata ada jalan ke kawah itu dari arah Pacet! Weh seru nih. Di kiri jalan hijau dan rata-nya padang golf Jack Nicklaus The Taman Dayu Club. Pikiran langsung refresh dan kepala langsung enteng…

Om TJ khusus… Saya menulis tentang Leonis nih!
Pak Anton, pesepeda paling berpengalaman di grup ini (bersepeda gunung di sekitar pandaan sejak 1994). Beliau mengendarai Leonis Hitam. Di perempatan saat pitstop ini saya juga bertemu leonis yang lain. Leonis roadbike warna merah…

Wah, hari ini banyak ketemu Leonis!

Saat pitstop di perempatan besar, saya sudah tidak lagi di paling belakang. Pelan-pelan saya mulai temukan ritme genjot saya. Saya berusaha menjalankan pesan utama yang saya dapat dari kuliah, bahwa kalau nanjak jalan mulus begini crank depan jangan pernah samapai menyentuh yang terkecil, seberat-beratnya diusahakan dipertahankan di crank nomor dua. Syukurlah, saya mulai bisa tune in dengan irama genjot, tanjakan makin aduhai, meliuk di tengah rimbunnya pepohonan besar. Rupanya pengelola sukses menjaga agar pohon-pohon besar yang ada sebelum kompleks perumahan ini dibuat tetap menjadi bagian dari lingkungan baru perumahan. Jalan meliuk menanjak, bagai gadis tidur di tengah rerumputan. Wah, sexy banget jalannya. Juga adem…

Akhirnya kita melewati ‘The Jack Nicklaus Club House’, ini 6km dari gerbang taman dayu tempat kita start. Disini kita stop lagi. Keringat bercucuran tapi udara sejuk tenan. Di depan kita tampak gerbang ‘The Pines’. Jalan masuk kesana tampak telah menyempit, hanya selebar satu setengah mobil, dan aspal rusak. Tim Surabaya ini, yang 80% pake ban slick khas kota-kota memilih mbelok kekiri masuk kampung, lalu tembus ke jalan mulus dan nanjak lagi. Aseeekkk…

Jalan mulus menanjak ini mengingatkan saya pada perjalan dengan kendaraan berpolusi ke Taman Safari Indonesia 2 Prigen. Meniti punggung gunung Arjuno, naik terus. Disini saya sudah ‘in’. Saya temukan irama genjot saya dan mulai bisa menikmati setiap kayuhan tanpa dada panas dan paha berontak lagi. Mungkin badan dan otot juga telah lemas dan pemanasan sudah cukup.

Di sebelah kanan tampak jelas pemandangan gunung arjuno di atas, dan tampak juga jalan lanjutan dari taman dayu kalau kita masuk ke ‘The Pines’. Waduh asli saya penasaran banget sebenernya. Jalan aspal rusak nanjak tadi seperti melambai2 mengundang. Apalagi sambil genjot Pak Anton menceritakan deskripsi trek offroad di dalam The Pines. Kata beliau ada trek cross country 4km yang pernah dipakai untuk lomba, dengan singletrack dengan tebing dan jurang, waduh, kok saya jadi ingat majalah MBR di rumah. Kata beliau di The Pines juga ada rumah pohon tempat kita bisa bersantai di semilir pohon pinus lereng Gn Arjuno. ADUH!! NGILER!!

Uphill jalan mulus kali ini mirip jalan di gadog-rindualam tapi sebelum meliuk2 di kebun teh. Jadi lurussss.. dan nanjak. Kemiringan tanjakan berubah-ubah, ditutup dengan kemiringan audzubillah dan panjang, sebuah masjid di perempatan, dan kita pun beristirahat lagi disitu.

Di peristirahatan perempatan masjid inilah saya yakin kalau jalan yang kita lalui bukan jalan ke Taman Safari Indonesia 2, tampaknya sejajar tapi mendaki punggung gunung yang lain. Disini obrolan antara anggota tim semakin panjang dan ramai. Saya sudah mulai bisa menimpali pembicaraan…hehehe… Salah satu topik yang hangat adalah hilangnya penyakit pinggang, panggul dari para pesepeda karena rutin bersepeda. Wah seru juga. Obrolan yang cukup ramai juga adalah jalan mana yang akan kita tempuh selanjutnya dari perempatan ini?

Balik kanan? Cukup banyak peminatnya, karena mulai kehabisan energi
Lurus? Tampak nanjak miring dan jalan memburuk
Kanan? Katanya ke Villa Haurtensia
Kiri? Bisa nyambung ke Taman Safari Indonesia2

Saya iktu dengar saja, akhirnya dipilih ke kanan, tapi dengan kondisi, kalau merasa habis balik kanan dan berkumpul kembali di perempatan ini.

Setelah melambung sedikit kekanan, jalan segera tak sopan belok kekiri dan NANJAAAAAAKKKKK…
Sambut menyambut tanjakan lebih kejam dari sebelumnya… lebih miring, lebih jarang ada bonus agak landai. Jangan berharap landai, agak landai saat kemiringan berkurang pun sudah bonus. Terusterang mengingatkan saya pada tanjakan hari kedua ke Galunggung, miring dan tanpa bonus, sambut menyambut tak ada hentinya.

Kali ini saya benar-benar dapatkan irama saya. Huenak banget, meskipun di beberapa tanjakan berat dan miring terpaksa berpindah ke gigi kecil depan. Saya berhenti juga akhirnya karena saya tengok ke belakang sudah tidak tampak lagi pesepeda lain. Saya minum pocari botol kecil, langsung tenggak habis. Baru sekitar 10 menit kemudian muncul rekan-rekan yang lain.

Saya lanjutkan genjot setelah rekan-rekan mendekat. Dan akhirnya kemiringan tanjakan ini menjadi semakin kejam dan kejam. Untung trek masih dilindungi pohon rindang di kiri kanan jalan. Benar-benar menguras tenaga dan semangat. Akhirnya saya sampai juga di gerbang sebuah kompleks perumahan-villa. Haurtensia (moga2 bener spelling-nya).

Fyuh!

Setelah 15 menit di titik finish akhirnya turun kembali ke Taman Dayu. Kali ini ambil jalan lain bukan jalan dalam kompleks taman dayu seperti saat uphill tadi. Kita lewat jalan desa yang mulus. Sebelah kiri jalan adalah sungai yang dalaaammm sekali jurang-nya. Sempat ambil foto di jembatan bambu yang dibangun diatas sungai yang sangat salam jurangnya ini..

Finish di Taman dayu 1015. Tal trip hanya sekitar 20-22km. Sangat cukup untuk trip pertama beneran uphill setelah berpindah ke Bangil…

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear

7 responses

  1. wuiiiih seru om!
    pasti ada jalur setapak jalan kampungnya om.
    mantab!

    Juni 16, 2010 pukul 9:30 am

  2. betul sekali Om Dhani….. Ngiler lihat punggung2an nya pasti banyak singletrack menarik. Sementara baru sebatas ngiler saja. Rencana saya bulan depan pindah ke rumah kontrakan yang ada di Pandaan, awal dari semua tanjakan ini (kalo dari Surabaya mau ke Malang, mulai nanjak di Pandaan ini). Gunung Arjuno dan sekitarnya tampak sangat mengundang…

    Juli 4, 2010 pukul 6:48 am

  3. Ping-balik: Uphill Taman Dayu – continued to The Pines… « @antoix

  4. untuk sama-sama memperkuat link ,,tukeran link ya,,silahkan copy dan pastekan alamat blog ku ke dalam blog anda

    Agustus 4, 2010 pukul 9:08 am

  5. Ping-balik: Uphill Trip ke Prigen « @antoix

  6. Anonim

    om kapan lagi ke-trek ini? Saya pingin ngikut nech. email ya ke – roedymillenium@yahoo.com, thanks

    Desember 9, 2010 pukul 5:32 pm

  7. Pak untuk yg sngletrack lokasinya dekat sama lokasi outbond , untuk kesitu perlu bayar apa tidak

    Mei 23, 2011 pukul 9:49 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s