enjoy every cadence, every breath…

Cikarangmtb goes to Kaldera Manglayang part#2

lanjutan dari part1

Disinilah saya merasakan apa yang disebut Om Indra, “Kalo naiknya gowes, nanti lemes di hutan-nya…”. Beneran. Badan tiba-tiba drop dan lemas sekali. Sepeda saya pinggirkan. Susah sekali meminggirkan sepeda di singletrack sempit penuh semak belukar seperti goa ini. Saya lalu mengistirahatkan badan dengan duduk di tanah. Belasan sampai puluhan sepeda tampak menyalip satu persatu.

Jika kita lihat lingkungan sekitar, waduh, apalagi sambil duduk dibawah begini, tampak sekali memang ini adalah jalan dan kota bagi para babi hutan. Tampak dengan jelas mana jalan, mana tempat mereka bermain, mana juga tempat mereka istirahat. Meskipun tampak teduh dan adem, tapi saya ngeri juga membayangkan misalnya seekor babi hutan atau serombongan menyeruduk kami yang lagi duduk duduk kelelahan. Saya mersa diamati oleh belasan pasang babi hutan dari kejauhan.

Membayang dikepala saya pengalaman di trek Pondok Pemburu. Waktu itu saya agak terpisah dari grup dan genjot di paling depan. Kira-kira 3 meter di depan saya tiba-tiba semak belukar bergetar keras plus suara khas babi. Rerimbunan semak bergoyang keras, untungnya tampak arahnya menjauh.

Daripada khuatir saya buka bekal nasi milyaran dari Pak Presiden. Laper beneran. Dan makan nasi bungkus siang itu (ber sama Om Ucup, Om Didi) menjadi salah satu makan siang paling maknyusss… Badan segar kembali setelah *nasi milyaran* ini masuk ke perut.

Sedikit penyesuaian genjot dalam hujan. Pertama terasa berat juga, mengingat kami juga sedang menghadapi ranting2 tajam, tidak hanya kondisi trek namun juga kali ini ditambah cuaca hujan. Inilah enaknya pakai baju sepeda yang full bahan yang mudah kering seperti polyester dan sejenisnya. Meskipun basah, namun saya tidak terlalu kuatir karena biasanya asal kita terus bergerak tidak akan terasa dingin, juga asal kena angin setelah hujan baju akan segera kering kembali. Hehehe… alasan saja sih karena ternyata jas hujan memang ketinggalan di mobil.

Trek yang semula cenderung nanjak manja dalam semak, akhirnya berubah menjadi landai dan sedikit menurun. Suara Om Didi di belakang sudah mulai tereak kegirangan mendapati trek kembali gowesable dan mengasyikkan meliuk-liuk ditengah belukar yang mulai terbuka. Lagi asyik-asyik menikmati, rasanya belum 100m nikmatnya, ternyata kita harus memotong jalur kekiri. Hand in hand sepeda ditransfer mendaki curam.

Setelah dikejutkan dengan jalur bagong yang indah dan istimewa sekaligus bikin merinding, akhirnya kita melewati jalur lain yang tak kalah istimewa. Memang trip ini ditakdirkan untuk menjadi trip tak terlupakan dan benar-benar LIAR!! Setengah mati kita mendorong, mengangkat, menjaga keseimbangan, dan sesekali bisa menaiki sepeda kita melewati singletrack, yang lebih cocok disebut jalan pintas para penjarah kayu di hutan.

Salah satu sisi gelap dari bersepeda gunung adalah kita menemui kenyataan perusakan lingkungan seperti ini. Sedih! Saya lihat pohon pinus disisekitar trek sudah semakin jarang dan jarang, Pohon pinus yang ditebang dengan tangan/kapak (kami mendengar bunyinya menebang saat makan) ternyata dipecah-pecah menjadi potongan-potongan kecil. Semogaaa… semoga ini penebangan memang hanya untuk memenuhi kebutuhan kayu bakar karena makin mahalnya energi dan gas dalam tabung.

Saya jadi ingat pengalaman melihat bisa tertata rapi nya kawasan bukit dan hutan. Bukit dan hutan bukan dijadikan sasaran lemah yang tak terjaga namun justru dianggap seperti pusaka, setiap tahun ada hari menanam pohon, seluruh warga dusun berbondong-bondong membawa bibit pohon ke bukit dan gunung. Penduduk tinggal tenteram di lembah dekat sungai, tanpa khawatir bukit pusaka disekitarnya akan longsor menimpa desanya. Ini seperti cerita khayalan negeri lain yah? Tapi saya pernah melihatnya sendiri bisa dijalankan.

Di bagian trek ini tenaga saya sudah mulai pulih kembali. Bersama Alex dan rekan GBT (Om Ian dan Om Penta?) saya dan Om Alex mulai menikmati genjot sedikit dan membahas dengan ikhlas beberapa tanjakan dengan dorong sepeda. Baru keingat masih ada Om Ucup dan Om Didi lalu kami berhenti, dalam hujan. Di bagian trek ini saya tidak memotret.

Tak berapa lama kami akhirnya menemuai sejumput tanda kehidupan. Sekitar trek berubah menjadi kawasan kebun kol. Di lembah dikejauhan tampak sebuah dusun dan kehidupannya. Rupanya kita sudah mendekat kembali lagi ke Desa Palintang. Akhirnya bertemu Om – Om yang sedang beristirahat di sebuah gubug sambil memakan nasi milyaran bekal dari Pak Presiden. Disini kembali saya bertemu Pak Presiden. Saya memilih tidak berhenti dan melanjutkan perjalanan bersama Pak Presiden.

Singletrack kebun ini terasa lebih gowesable. Meskipun harus menjaga agar kaki kita tidak menjejak di kebun petani di sebelah kiri atau kemungkinan terguling ke jurang di sebelah kanan, tapi rasanya kita senang juga kembali bisa gowes sepedah di singletrack. Tampaknya disini kemudian saya baru dengan kabar kalau Om Sholeh dan Om Asup jatuh terguling ke jurang. Alhamdulillah semua sehat.

Memang trip ini lengkap sekali segala macam ada. Berikutnya adalah sebuah tanjakan dorong (karena gak mungkin digowes) yang sangat miring di sekitar kebun pisang. Pada keadaan seperti ini paling enak genjot bareng Pak Presidente. Kita bisa selalu mendapatkan hiburan petuah-petuah singkat beliau sambil terengah-engah mendorong the black patrol-nya. El Presidente petuahnya memang singkat, tapi lucu dan menghibur serta menghidupkan suasana. Meskipun tanjakan ini berat, tapi terasa meriah dengan partisipasi El Presidente CiPOC. Disini saya ambil foto lagi karena cuaca sudah bersahabat.

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s