enjoy every cadence, every breath…

Gowes pertama seputaran Bangil, Kab. Pasuruan – ketemu flatland BMX group

Pagi ini turunkan “Embah Dieng” CX 3.0 dari peraduannya selama dua minggu, di dalam si Macan. Sejak dicuci sekilas setelah menjalani Opening CBP/C-Park dua minggu lalu, sepeda langsung masuk ke mobil, dimasukkan pertama pas dibelakang tempat duduk baris kedua. Meski menjalani perjalanan Cikarang-Bandung-Cirebon-Semarang-Solo-Madiun-Nganjuk-Kediri-Blitar-Malang-Pasuruan-Surabaya, tapi sepeda tidak pernah turun dari mobil. Selain tempatnya di paling belakang, juga ternyata setelah semua barang turun, sepeda tidak mendapat tempat menyimpan di tempat tinggal baru. Ya sudah, diparkir di si Macan saja.

Pagi ini dia turun tanah, eh, salah, aspal.. untuk yang pertama kali. Pagi ini memang niat hanya mengenal lingkungan seputar Bangil, sebuah kota kecamatan antara Gempol (ujung jalan tol Surabaya – Sidoarjo – Gempol) dengan Pasuruan. Bisa dilihat saat dipotret di KM Nol Bangil pagi ini, menunjukkan 46km ke Surabaya dan 14km ke Pasuruan.

Gowes santai dari tempat kost, KM NOL bangil ini cuma 500an meter jaraknya. Paduan gigi depan terkecil belakang terkecil, enak buat spinning sekedar mengingatkan kaki dan tubuh… Takut lupa genjot.

Selamat datang di Bang Kodir… Bangil kota Bordir…

==

Genjot spinning menuju alun-alun. Meskipun selama di Bangil seminggu ini tidak pernah samasekali melihat sekilas penampakan pesepeda mountain bike, saya mengambil kesempatan terbesar, kalaupun ada ngumpul, tentunya di pusat kota seperti alun-alun-lah tempatnya. Om Hanif lewat YM menyemangati, “minimal motret si SX di depan rumah-rumah tua atau dekat kumpulan becak”

Hmmm… betul juga…

Cyclo belum menunjuk 1500m, saya sudah sampai di alun-alun. Dari jauh tampaklah 3-4 pesepeda BMX sedang melakukan latihan/atraksi flatland!!!

Agak mengherankan. Atraksi BMX flatland kan di image kepala saya identik dengan kawasan perkotaan, kawasan urban yang sibuk. Ajaib rasanya melihat mereka melakukannya di semacam pendopo di dalam alun-alun Bangil, sebuah kota kecamatan di pinggang Jawatimur.

Om Chemuth menulis di email sebelumnya kalau saya sudah mulai ‘menebarkan hembusan virus sepedah’ ke kota ini. Sebenernya tidaklah tepat. Kota ini sudah sangat bersepeda. Melihat tiap pagi anak2 SMP banyak banget bersepeda beriringan ke sekolah. Dan kali ini saya disuguhi atraksi flatland yang tidak bisa dibilang pemula.

THEY ARE GOOD….
THEY ARE REALLY GOOD….

Seperti Pak Pres ketemu Host PJTV, saya langsung melipir mendekat, pertama melihat dari jauh. Sambil menengok respon mereka. Akhirnya saya melihat dari dekat. Ikut berteriak menyemangati, ikut kecewa kalau trick mereka gagal, ikut ketawa kalau mereka jatuh dengan cara yang ‘lucu’.

Minta ijin memotret, boleh. Asyiiiikk…
Motret nya gak bisa asyik, karena saya merasa belum mengenal mereka, saya juga takut mengganggu latihan serius-nya… Saya ambil 15an frame dalam kurang dari 30 detik. Terusterang saya juga masih mengamati lingkungannya. Hehehe..

==

Yang dilakukan adalah semacam ‘duel’. Jadi satu area tengah yang jadi pusat perhatian, lalu satu persatu secara bergiliran para pesepeda BMX ini melakukan atraksinya, satu trick atau paduan dari beberapa trick. Seru… Setelah sekitar 45 menit saya tonton. Mereka rupanya break sehingga saya bisa punya kesempatan mengobrol lagnsung.

Dari situ saya ketahui bahwa dulu pernah ada komunitas sepeda MTB (mereka ada yg menyebutnya ‘sepeda funbike’ wkwkwkwkw…), namun sekarang mati suri karena motor/penggiat-nya sakit parah (stroke). Dulu sempat kadang pergi sampai satu truk. Lalu juga baru saya ketahui, komunitas MTB yang ramai ada di Sidoarjo dan Pasuruan. Lumayan, dapat kontak number-nya… Umumnya komunitas MTB di Pasuruan dan Sidoarjo itu ada acara mingguan dan acara jauh bulanan. Wah, seru juga…

Lalu saya juga banyak tanya tentang BMX dan flatland. Sebelumnya sih saya memang sudah tertarik BMX, especially flatland tricks ini. Menurut saya seru banget. Bela-bela-in juga beli majalah khusus BMX-nya buat liat foto2nya dan tau perkembangannya.

Sepeda-sepeda yang dipakai di grup Bangil ini kabarnya frame-nya dibuat sendiri. Lalu handlebar juga dibuat sendiri, bar end dibuat sendiri, crank modifikasi sendiri dari yang tesedia dipotong dan di-lobang-snei sendiri. Hanya ban-nya dan hubs saja yang tampak ber-merek Maxxis. Sepedanya benar-benar bersahaja sekali… Pesepeda dan sepedanya tampak sangat ‘klop’ sehingga sepeda sudah seperti menjadi bagian dari tubuh mereka sendiri saat melakukan trik-trik…

Saya minta ijin lagi memotret sepeda mereka saat istirahat.

Selagi mereka mulai melakukan battle kedua, saya pamit dan ambil jalan mutar kota, lumayan dapat keringat dan kontak pagi ini..

Sekian dulu ceritanya.. disambung di genjot mendatang…

3 responses

  1. Ping-balik: Mancal di Pasuruan bersama GEMAS « @antoix

  2. cakill the flatlander boys

    ya, terus tingkat kan pokoke bmx always, flatlanders forever. ilove my bike
    masio aku ado tp tetep flatlander kerrrrrrrrrr

    September 24, 2010 pukul 2:00 am

  3. haris

    makasih mas uda terbikan foto anak2 flatland bangil…..!!!!! kapan main ke bagil lagi mas…….

    Oktober 12, 2010 pukul 8:51 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s