enjoy every cadence, every breath…

Kiara Payung – Batukuda bersama Goweser Bandung Timur #2

bagian kedua dari tulisan sebelumnya…

sasaran empuk dikerubutin nyamuk

Memasuki area hutan pinus ditandai dengan pohon pinus yang jarang-jarang. Sementara di seputaran singletrek jalan tanah ini lah tampak ladang singkong, jagung, dll. Serba susah ya, tanpa hutan orang kota kebanjiran, tanpa kebun orang gunung kelaparan… hiks… ironi.

Tak sadar kanan kiri trek rerimbunan vegetasi semakin tebal. Sangat kesulitan kita melihat arah trek yang memang benar-benar singletrack selebar telapak tangan ini. Medan menunjukkan kalau kita kadang mengitari dan menaiki punggung bukit. Kadangkala terjadi antrian panjang nanjak dorong sepeda di jalur sempit. Daripada antri dorong nanjak akhirnya saya berhenti saja dan mengobati dengkul kiri saya yang lecet waktu tadi jatuh.

Saya amati tengkuk dan kaki mulai terasa gatal-gatal. Waduh ternyata banyak nyamuk. Nyamuk nya model bintik-bintik mirip sekali nyamuk aedes aigipti. Saya lihat pesepeda depan saya itu 8-15 ekor nyamuk mutar saja di punggung kita, gigit di lengan, tengkuk, muka, kaki waduh, semua deh… Setiap orang dikawal belasan ekor nyamuk. Saya sempat berhasil menepok sampai mati, nyamuk-nya tidak ada darahnya. Wah, nyamuk kelaparan. Pantes. Buat para nyamuk ini kita manusia mungkin dipandang sebagai sasaran empuk, karena biasanya mereka nggigit babi hutan atau kucing hutan.

Surga hutan pinus

Sejak berangkat saya sudah dengar bisikan dari Pak Ketu/Pak Guru Om Indra bahwa trek kali ini akan banyak dorong-nya. Terbukti. Trek kebanyakan menanjak yang tidak mungkin digowes saat kondisi basah seperti ini, licin dan berlumpur. Sementara saya ditegor rekan lain karena tengkuk dan kaki saya bentol-bentol digigitin nyamuk. Huh! Jadi ingat obat anti nyamuk semprot yang ada di rumah…

Tapi pemandangan selanjutnya benar-benar tak terlukis. Mungkin ini alasan Pak Ketu membawa kita kesini, pemandangannya benar-benar superb. Singletrack diliputi padatnya hutan pinus. Indah banget. Saya segera mengeluarkan kamera dan jeprat jepret sebanyak mungkin mengabadikan view ini. Untuk sementara lupa deh kalau tadi jatuh dada masih pedih dan dengkut berdarah. Kaki dan tengkuk bentol-bentol oleh gigitan nyamuk. Makin asyik menikmati berbagai sudut surga hutan pinus ini.

Sebenarnya mirip dengan view di Galunggung selepas Karaha, tapi ini kita genjot di singletrack man… Trek hanya trek pejalan kaki saja selebar dua ban sepeda, rasanya kita benar-benar blend dan menyatu dengan alam sekitar. Memang tidak salah ikutan trip hari ini…

Tertahan di surga pinus

Tampak benar kita berhenti lama dan celingukan menikmati dan mengagumi Ciptaan Sang Kuasa disini. Tidak seperti genjot dari bawah tadi yang sangat minim pitstop, kali ini tim diberi waktu sangat panjang untuk berhenti, mengambil napas, nepokin nyamuk dan menghirup sedalam mungkin wangi pohon pinus. Bau-nya khas.

Cuaca juga berpihak pada kita karena tampak angin bertiup sepoi, tidak sampai membuat kulit dan badan kedinginan, matahari meskipun tak tampak namun terangnya sangat cukup menembus dedaunan pinus untuk membuat suasana teduh dan enak, namun masih sangat asyik difoto.

Rekan-rekan GBT agak tenang, ada yg menyalakan rokok, namun intinya setiap orang tampak tertegun menikmati pemandangan yang dihadiahkan alam kepada kami. Dalam hati saya bersyukur juga, ternyata tidak terlalu terasa gejala perubahan My beloved Olympus E-500 setelah kejadian terjatuh tertimpa tubuhku tadi. Dia, meskipun kadang jadi agak-agak seret, tapi masih bisa mengikuti kemana saja mata lensa saya tujukan.

Perempatan legendaris

Akhirnya tim beringsut pergi juga, diantaranya karena sudah tak tahan gigitan nyamuk. Kesempatan buat saya untuk motret kondisi genjot di singletrack tengah hutan pinus ini. Habisnya dari tadi masuk hutan pinus lebih banyak adegan dorong mendorong sepeda daripada genjot menggenjot sepeda. Jalanan agak ladai, ini kita jadi ‘traversing’ di lereng bukit.

Tak lama kembali kita diberi ruangan yang agak ‘terbuka’, vegetasi pohon pinus berkurang dengan drastis. Kanan kiri trek berubah menjadi kebun jagung. Kita dihadapkan pada kenyataan bahwa perambahan hutan sudah sangat parah di sekitar Bandung Utara ini. Sedih. Mendapati di depan kita bahwa pemandangan gundul lereng berisi kebun dan tegalan warga masih jauh lebih banyak daripada pemandangan pohon dan hutan.

Jalan sedikit menanjak lalu rata. Kita genjot ditengah kebun singkong, lalu segeralah mencapai sebuah tanah lapang agak terbuka, terlihat ada ‘pertigaan jalan’ singletrack. Kanan nanjak, kiri turun. Tim berhenti lagi disini dan dimulai photo session. Memang pas banget buat sesi fotografi karena pemandangan dataran tinggi Bandung tampak di bawah dan pemandangan bukit, hutan diselimuti kabut tampak diatas.

Baru disinilah dihitung jumlah peserta genjot, semuanya diaku sebagai GBT (Goweser Bandung Timur). Ternyata trip ini sampai titik pertigaan ini diikuti oleh 40 orang pesepeda.

Oya, kenapa ini disebut perempatan legendaris? Ceritanya sekitar 1-2 tahun yang lalu empat orang perintis GBT menjalani rute yang mirip dengan trip kita kali ini, sampai akhirnya tercetuslah mendirikan Goweser Bandung Timur (GBT). Jadi gathering akbar pertama ini sekaligus adalah nanjak napaktilas perjalanan legendaris sejarah GBT.

bersambung ke bagian ketiga…

One response

  1. Ping-balik: Kiara Payung – Batukuda bersama Goweser Bandung Timur #3 « Harto Basuki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s