enjoy every cadence, every breath…

Finding an Achilles’ Heel..

Susah banget menceritakan ini, tapi selama dua minggu ini saya bertemu dengan dua orang terpisah, saya berhubungan dengan mereka dari channel yang berbeda, sudah jelas mereka saling tak berhubungan samasekali. Namun anehnya kedua orang senior ini memberikan arah yang jelas tentang suatu hal: “Finding an Achilles’ Heels..”

Tau Achilles?
Orang kuat tak terkalahkan di mitologi Yunani. Seolah tanpa kelemahan. Tanpa mungkin dikalahkan. Dan ternyata dia punya satu kelemahan, di tumit (heel) nya. Karena saat masa kecil dimasukkan ke dalam ramuan yang membuatnya jadi tak mempan dibunuh ibunya memegang bayi Achilles di tumit saat memasukkan ke dalam ramuan. Akhirnya tumit itu tidak tercelup dalam ramuan dan menyebabkan itu menjadi kelemahan tersembunyi.


foto diambil dari wikipedia.com

The death of Achilles was not mentioned in Homer’s Iliad, but appeared in later Greek and Roman poetry and drama concerning events after the Iliad, later in the Trojan War. In the myths surrounding the war, Achilles was said to have died from a heel wound which was the result of an arrow — possibly poisoned — shot by Paris.

Saya ingat mitologi wayang juga punya kisah serupa, tapi kok saya lupa detailnya.

Menemukan tumit ini bisa kita lihat dari dua sisi:

1) Menemukan kelemahan

Ini biasanya berhubungan dengan bagaimana kita menganalisa lawan/kompetitor kita. Saat kita mengetahui kelemahan absolut lawan, kita akan sangat terfokus dalam berperang. Kita akan bisa membuat strategi yang tepat untuk memukul lawan. Tepat di pusat titik kelemahannya. ‘Finding Achilles heels..” disini berarti kita berusaha menganalisa lawan, yang mungkin sangat kuat dan seperti tak terkalahkan, namun kita bisa menemukan dan menyimpulkan titik utama kelemahan itu. Dalam strategi perang Sun Tzu itu ada di ‘mengenali lawan’.

Sangat menarik saya temukan, karena ternyata mengenali lawan, yang sangat besar, sangat kuat, tampak dimana-mana, tidaklah selalu mudah. Kita seperti melihat semua otot dan kekuatannya saja, kita kesulitan menemukan kelemahannya.

2) Menemukan kekuatan

Hal ini biasa dihubungkan dengan bagaimana kita memandang diri kita sendiri. Achilles’ heels mungkin saja adalah sebuah kelemahan, namun, kesadaran kita akan hal itu, kekuatan kita untuk memperbaiki dan menutupinya, keterbukaan kita untuk menerima input dalam hal itu, adalah kunci dari mengubah kelemahan menjadi kekuatan. Kelemahan akan berubah menjadi kekuatan saat kita menyadari dan melakukan treatment yang tepat.

Apakah mencari kelemahan diri sendiri mudah? Ternyata tidak!!

Bisa saja kita melihat terlalu banyak kelemahan dalam diri kita, sehingga kita kebingungan darimana kita harus memulai untuk mengantisipasinya. Dalam hal ini kita ternyata tidak bisa menemukan ‘heels’/tumit yang tentunya adalah sesuatu yang kecil dan sempit. Kadang kita memandang diri kita sendiri juga terlalu detail dan luas sehingga rasanya dimana-mana ada kelemahan.

Kadangkala sebaliknya. Kita memandang diri kita sudah baik, lalu kesulitan menemukan titik lemah. Biasanya ini dialami oleh orang-orang arogan yang super kuat kepribadiannya. Samasaja. Orang jenis ini tidak juga bisa menemukan “his own achilles’ heels”..

Terimakasih untuk dua orang yang membimbing saya sedikit memahami hal ini.
Tanpa bisa menemukan ‘Achilles’ Heels’, kita tidak akan bisa membuat strategi yang tepat untuk menghadapi masalah.

links…

wikipedia ttg Achilles Heel..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s