enjoy every cadence, every breath…

Ultah AA Bike: Greenland Mud Party part#2

lanjutan dari bagian pertama…

Ini adalah cerita gowes saya di acara AA Bike Ulang tahun ke-1 pada 10 Januari 2010

Saya ikut suami saya Om…

Saat tiba di seberang Greenland Mud Area, saya terpekur melihat seorang peserta tante/ibu yang kepayahan dengan lumpur yang menyelimuti seluruh ban dan membuat ban sepeda gak bisa berputar lagi. Sebenarnya medan seperti ini secara fisik tidaklah ringan, untuk pria sekalipun. Salut!

Sepatu kita, apapun bentuk dan merk sepatunya, semuanya jadi berbentuk seperti sepatu Donal bebek. Lumpur menempel dan menambah lebar tapak sepatu. Ban juga tak kalah terkam. Apapun merk dan jenis ban ada segera ukuran ban bertambah dari ukuran sebenarnya. Jika semula ketebalan ban 1.9 otomatis jadi 2.35 dan jika sebelumnya 2.1 jadilah dia ban 2.5. Gak tau deh teman-teman yang pake band 2.3, apa masih bisa didorong tidak sepedanya.

Kembali ke tante berjersey putih yang kepayahan, tentu secara naluriah saya tawarkan untuk membantunya mendorong sepeda kembali ke atas dan hopefully bisa digenjot lagi diatas memutar ke arah tower air. “Perlu bantuan tante?. “Naaa… itu yang saya tunggu.” kata Tante Jersey putih menyambut gembira. Segera saya bantu membersihkan lumpur yang menempel di ban lalu mulai saya dorong sepeda kembali ke atas.

Tanpa saya duga, si Tante menyambut didorongnya sepeda beliau dengan kata-kata yang selalu membuat saya geli sampai sekarang, “Lho… sepedanya mau dibawa kemana? Saya ikut suami saya Om…”

Dalam hati saya bilang, “Buset!! Ada suaminya pula… “. Tapi tentusaja saya tidak kalah akal. Sempat tertegun sebentar saya lanjutkan saja dorong sepedanya si Tante/Ibu/Istri orang ini ke atas. Saya gak peduli lagi suaminya setuju apa nggak. Saya berusaha meluruskan niat ikhlas menolong.

Wakakakaka….

Jika suami-istri Om dan Tante tulisan membaca ini. Dengan segala hormat saya Mohon Maaf jika diceritakan disini Om-Tante… Saya ceritakan agar supaya cerita dan kisah menarik ini tidak jadi konsumsi saya saja.

Satu rombongan kecil itu pun ber ingsut mulai naik ke atas bukit kembali dan mulai genjot sepeda lagi. Syukurlah. Mungkin mereka juga ragu melihat tampak kegagahan rekan-rekan yang masuk ke dalam kubangan Greenland Mud Party lebih banyak yang memanggul sepeda daripada menggowes sepedanya.

Apakah itu saja ujian ke-ikhlas-an yg ada di bukit Greenland?
Masih ada lagi…

Ini sepeda anak saya Om…

Urusan dengan sepeda Tante yang melanjutkan genjot bareng suaminya sudah selesai, di bagian bawah bukit, ujung pinggir kubangan lumpur. Tampak seorang bapak yang sangat amat kepayahan. Sebelum berangkat si Tante sempat nyeletuk, “Gak bergerak samasekali tuh Om…”

Saya turun lagi bukit, mendekat ke Om dengan sepeda merah ini. Si Om jelas mendapat masalah berat dengan sepeda v-brake-nya. Lumpur benar-benar me-ngunci kedua ban sepedanya. Konstruksi v-brake tentusaja membuat semakin ribet untuk membersihkan lumpur-nya. Saya mulai bantu si Om mengangkat berdua sepedanya ke atas bukit. Berat sekali. Ini tampaknya bukan sepeda aluminium. Langkah demi langkah akhirnya sampai juga keatas bukit dan kita mulai membersihkan sepedanya.

Sambil membersihkan sepeda, muncul-lah perbincangan, pernyataan, pertanyaan, yang, kayaknya pernah ditulis oleh rekan yang lain di milis ini…

“Om, masih jauh nggak Om…?”
“Berapa km lagi Om…?”
hehehe… saya senyum. “Om lihat, itu aspalnya sudah dekat Om, kelihatan dari sini”
“Soalnya Om, kemarin teman saya ada yang meninggal Om, pas lagi sepedahan begini, terlalu memaksakan diri dia…”
Saya agak terkejut tapi juga senyum saja, karena teringat cerita bbrp bulan lalu di milis, “Ceritanya gimana Om?”
mulailah cerita terungkap…. Panjang lebar dan saya timpal-i juga, agar lumayan kita bisa lupa susahnya bersihin lumpur lengket asli Cikarang di sepeda si Om… Cerita ttg teman yg meninggal saat sepedahan ini nanti saya tulis jadi novel tersendiri (kalo sempet..)
“Om, ini sebenarnya bukan sepeda saya Om…”
Waduh, ini agak beda nih, walaupun mirip seperti kejadian sepeda baru datang malam sebelum ke Cigeuntis
“Om, ini sebenarnya sepeda anak saya Om…”
Saya lalu tanya, “Lho, sepeda Om sebenarnya kemana?”
Jawabannya panjang…
“Om, Saya belum sarapan Om, tadi gak sempat karena langsung diajak…”
“Om, Sebenarnya saya gak siap buat ikut acara hari ini Om, tadi ….”
“Om, Tadi pagi katanya sih acaranya Fun Bike Om…”

Jika Om yang saya ceritakan disini membaca tulisan ini, Mohon Maaf sebesarnya Om. Bukan dengan maksud buruk, saya coba mengkonfirmasi dan teringat nasihat Om Eyang AN. Pada keadaan seperti ini tidak bisa seorang pesepeda seperti Om yg sedang saya bantu ini dibiarkan sendirian. Bisa kapok main sepeda ke Cikarang… Setiap kita sudah selayaknya saling mengingatkan, saling bantu dan saling memperkuat semangat.

Ini benar-benar ujian ke-ikhlas-an sampai akhirnya Mang Rahmat datang dari seberang ‘kawah candradimuka’ lalu menggotong sepeda Om berbaju marun-kuning dan berbadan besar ini.

Alhamdulillah. Salah satu beban terlepas. Tapi di perbukitan kiri saya lihat masih ada Sato-san dan bbrp pesepeda lain masih tergopoh-gopoh mendorong sepedanya…

Tante Garang yang Malang

Saya sempatkan membersihkan lumpur di sepatu yang sudah mirip donal bebek. Berat sekali untuk ‘sekedar’ berjalan, tanpa bawa sepeda sekalipun. Lalu saya mendekat ke tempat Sato-san sedang membersihkan sepedanya.

Basa basi dikit, rupanya beliau masih ingat pas kita genjot bareng sambil ngobrol di Mandalawangi. Lagi, kali ini pembicaraan bukan ttg sepeda Tante Garang yang malang sekali karena penuh lumpur ban-nya, namun saya coba cari tau apa yang akan di-release berikutnya oleh Suzuki. Eeee… ternyata jawabannya, “That is confidential…” wakakakaka….

Tante Garang Om Sato ini kasihan banget kondisinya. Tante Garang yang Malang. Mungkin karena, persis seperti Om Wied pas di galunggung, memilih menggunakan v-brake. Lumpur cikarang yang audzubilah lengket itu dengan tanpa ampun menjebak siapapun tak perduli anggota Tante Garang (singkatannya apa sih? kalo gak salah = Komplotan Pesepeda Giant dari Cikarang??)

Seinget saya saya dan Sato-san adalah dua orang terakhir keluar dari Mud Party ini. Pas akhirnya turun lewat warung kami menjumpai banyak rekan sedang mengumpulkan nyawa dan semangat kembali. Sambil saling menghibur dengan saling menertawakan diri. Memang unik… Tampak ada beberapa pesepeda yang mencuci sepedanya di aliran air mengalir. Ada bbrp sepeda juga dievakuasi dengan Ford Ranger DoubleCab Brimob yang stand by disitu. Aduh, enak bener punya teman pesepeda Brimob. Ini pasti karena hub baik AA Bike dan Brimob kompi D yang kebetulan tetanggaan.

Sepeda saya dibawakan oleh Om Asup. Tentusaja masih wangi dan bersih. Sangat kontras dengan sepeda rekan-rekan yang lain. Kita lalu kumpul di gerbang Greenland. Lanjut ke arah Jalur gravel Sumur Gas…

Sumur gas, Kebun Jarak, Lalu Lumpuuurrr lageee…

Setelah keluar dari Greenland Mud Party, badan sudah terkuras energinya. Wajah kelelahan juga tampak di banyak muka gowes-er. Beberapa goweser, apalagi yang sebelum berangkat gowes harus nyuci, nyetrika dan sedikit mengepel lantai (maklum pembantu pulang) tampaknya memilih jalur lain, katanya sih langsung ke AA Bike, gak lewat sumur gas dulu. Baru diketahui kemudian bahwa grup ‘nakal’ ini memilih pesta duren dulu setelah dapat info intelijen dari AA Bike bahwa makanan belon siap.

Perjalan ke Sumur gas lumayan seru. Sudah mulai panas. Leher jadi cepat kering. Saya jadi mendalami ilmu cikarangmtb yang lain: aliran CNB. Di belakang, sambil gowes sweeper memandu beberapa tamu yang kelelahan gowes di tengah gravel rolling, sambil fofotoan. Enaknya kali ini ada Om Acu yg bawa kamera juga. Jadi saya potret dia dia potret saya gantian. Aseeekkk…

Sempat re-grup di pertigaan puncak sumur gas (pertigaan ke jembatan gantung) saya baru sadar kalau ditungguin oleh grup. Dan ternyata masih ada grup. Kirain kami sudah tertinggal jauh sekali karena rombongan yang saya-Om Acu-Om Mary kawal ini sempat nge-teh panas, makan gorengan, minum aqua, kongkow2 dulu di sebuah warung sebelum sumur gas. Lamaaa… Yah harus sabar. Namanya juga menjamu, kan?

Setelah lewat jalan gravel yang indah, yang selalu saya nikmati bunyi ban menggilas trek-nya: “dddrrrrrttttt….” merdu banget. Saya kadang heran, kok termasuk jarang ya saya mengunjungi trek ini? Mungkin sejak pertama kali sepedahan tidak sampai 10 kali. Terlalu… Trek indah dan menantang banyak tanjakan cuaca panas gini kok dilewatkan terlalu sering. Saya berjanji dalam hati mau lebih sering sampai sini kalau gowes pendek pagi hari.

Kebun jarak adalah hidangan berikutnya. Baru kali ini saya lewat dalam kebun jarak. Biasanya lewat jalan tanah yang ada di sebelah tiang-tiang listrik itu. Mungkin becek ya makanya para leader memberi sedikit kering trek berbatu kapur dilengkapi sebuah tanjakan yang moooyy…

Lepas dari kebun jarak, ternyata kita kembali ketemu lumpur lumpu lumpur dan lumpur… Disinilah ilmu sok tau ala para punggawa NI1 saya pakai untuk memilih jalan di tiap pertigaan dan perempatan. Waduh. Saya sudah belasan kali lewat jalur favorit kalau kering ini. Tapi baru kali ini dari arah sebaliknya. Orientasinya agak buyar kalau ketemu pertigaan. Saat grup bingung musti kemana ada yg nyeletuk, “Mana nih orang AA Bike…?” Hehehehe… kalo kata Gepeng, “Untung ada saya…”. Alhamdulillah sampe dengan belepotan di kolong tol “KM41”.

Finish !!

Biarkanlah makan siang tertunda dikit, kita selesaikan novel ini satu email lagi.

Berhenti di bawah jembatan tol kolong KM41 sangatlah lama kita lakukan. Sebagian besar (semua?) peserta sangat kelelahan dan masih butuh waktu recovery panjang dari tanjakan-tanjakan gravel dan batu kapur plus genjot di lumpur (lagi!). Genjot di lumpur setuju Om BI paling enak dilakukan spinning, dengan cadence/rpm tinggi. Untuk tipe-tipe ‘pusher’ tentu saja ini agak sulit dilakukan sehingga terjadilah beberapa adegan memperkenalkan sepatu shimano ke dalam lumpur sawah.

Ada yang mencuci sepedanya di pinggir sungai cibeet, ada yang sepedanya dicuciin sama orang, ada yang tidur-tiduran di bale-bale sampai malas berangkat lagi. Gerimis mengundang, membuat kita semakin enggan ber-ingsut. Om AN dengan sabarnya mengajak dan menagih para peserta sampai semua peserta berangkat baru deh kami berdua genjot mulai lagi.

Belum lama dari kolong tol, baru mau mulai tanjakan ahoy… eee… ada yg kraam. Terjadi adegan Om AN dengan dua belah tangan mendorong sepeda jalan kaki nanjak… Yang kanan senjatanya patrol yang kiri sepeda orang, “Yah… kejadian lagi deh, dan kenapa harus polygon sih…?” Gerutu si Eyang sambil tetap tersenyum lebar melirik sepeda orang di tangan kirinya.

Selanjutnya adalah genjot ajrut2an di jalur pepaya sampai ke AA Bike lagi. Ajrut-ajrutan bukan hanya karena trek nya yang rusak berat jalan sirtu penuh kubangan, namun juga ‘soundtrack’ irama musik dangdut-house yang sangat kental terdengar di seantero area. Untung saja ini tengah hari jadinya gak ada adegan cuci pepaya.

Sampe di AA Bike…. makaaaannnnn…..

Novel ini selesai sampai disini. Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan dan aib yang terkembang. Jika ada nama, identitas, dan kisah yang mirip itu hanya kebetulan belaka…

-T A M A T-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s