enjoy every cadence, every breath…

Galunggung Trip: Uphill ke Kaldera Galunggung #1


0700 Start Nanjak

Pagi itu perasaan sangat masygul. Meskipun kita dapatkan hari yang menyenangkan kemarin, termasuk ketemu nasi jam 12 malam (very late dinner) dan mandi bersama air panas jam 1 malam (para Joni baru ngeh enaknya mandi air panas tengah malam), tapi kita ‘kehilangan’ Om Wid dan Om Steph yang turun berdua saja ke Tasik (24km), juga Om Hanif yang meskipun sudah mendapatkan medical treatment dan diperban namun terpaksa naik ke Galunggung naik ojek.

Saat memulai genjot lewat titik start gerbang Galunggung kami, seperti sudah diceritakan Om Eyang AN, dihidangi tanjakan yang miring-nya bukan kepalang. Ampuuuunnnn… Kebayang kan tanjakan jiper kita di Cikarang? Kira-kira seperti itu, namun, tidak berhenti berhenti. Trek adalah aspal mulus selebar dua mobil pas namun kiri kanan trek adalah hutan yang tampaknya baru direboisasi. Pohon-pohonnya masih pendek-pendek.

Kembali ke tanjakan miring (Om AN menggambarkan sekitar 45 derajat) ini tanpa putus, seolah setiap melihat kedepan kita berharap dibalik sedikit jalan belok di depan akan ada ‘bonus’ trek melandai… Namun harapan tinggal harapan. Akhirnya saya pasang senjata pamungkas langsung, depan paling kecil belakang gear paling besar dan kita genjot santai saja, jaga irama genjot sambil jaga pernapasan dan keseimbangan. Pokoknya asal tidak berhenti dan terus maju. Tentusaja, sambil dzikir. Mirip dengan apa yang saya alami saat pertama genjot Gadog-RA mendekati At-Taawun, di setiap genjotan ada dzikir. Minimal hati kita tenang, dan seperti berzikir, untuk menuju 100x menyebut kita pasti mulai dengan satu persatu. Gowes ini juga saya pandang begitu. Just do it, ikhlas, yang penting gak berhenti.

Om Sigit terlewati, Om Acu dan Om AN terlewati. Jantung di dada dan paru-paru terasa sekali bekerja keras menyesuaikan dengan irama kaki yang berusaha konstan. Alhamdulillah… setelah 8 menit genjot terus menerus, kita ketemu lintasan yang sedikit landai didepan. AHA! Saatnya berhenti dan lalu memotret.


0708 pitstop pertama

Mengapa ambil di sebelum masuk lintasan agak landai berhenti? Salah satu kesulitan kita saat gowes nanjak adalah bagaimana mendapatkan momentum awal saat mulai genjot. Jika trek sangat miring, momentum awal mulai genjot pun bisa jadi halangan besar. Kalau depan kita agak landai, otomatis satu masalah ini terlewati.

Satu persatu Om AN, Om Acu lalu Om Sigit tampak muncul dan berhenti di tempat saya pitstop pertama ini. Terasa sekali enaknya di dada saat kita berhenti 5 menit sambil motret ini. Namun genjot harus segera dimulai lagi, kalau gak nanti kita akan didera kesulitan mencapai irama lagi. Segera saya mulai genjot dengan kamera gelantungan di dada.

Trek lanjutan sepuluh menit kedua tidak kalah ganas kemiringannya. Tapi kali ini hati dan tubuh sudah lebih cepat menyesuaikan diri. Trek miring juga panjangnya sedikit berkurang karena segera kembali kita genjot 5 menit dan dihadapkan pada trek agak landai lagi. Sambil genjot saya coba memotret indahnya tubir kawah Gn Galunggung yang tampak lengkap dengan tangga-nya di latar depan tujuan kita. Wadoh, masih tinggi juga. Saya sengaja tidak membebani paha dengan tetap spinning dengan cadence tinggi, di jalan agak landai ini saya bergerak pelan dan disalip dengan gagah oleh Om Eyang AN dengan gaya ‘pusher’-nya: rantai di crank tengah dan perut mendekat ke handlebar… hehehe… Wah, Eyang AN udah dapat iramanya neh…

Tanjakan ini diakhiri dengan sebuah gerbang didepan sebuah pertigaan yang dijaga oleh seorang karyawan. Saya dan Om AN berhenti disitu dan diskusi dengan Bapak penjaga. Pak Penjaga menjelaskan deskripsi trek di depan dan juga menceritakan pilihan trek offroad singletrack ke arah Cipanas (tempat kami menginap). Hmmm… sangat menggoda untuk mencoba trek offroad ini…


0715 keder lihat tujuan

Eyang AN dengan naluri ‘let’s get lost’-nya masih terus menggali info tentang trek offroad ke Cipanas di depan. Sekilas saya dengar sih ada 2-3 pilihan trek dengan salah satunya adalah bekas akses truk waktu dulu masanya penebangan liar masih merajalela setelah reformasi. Hmm… makin menarik. Tapi lagi saya gak mau terlalu lama berhenti, nanti takut kehilangan irama dan panasnya paha lagi. Om Acu tampak di belakang saat saya mulai genjot lagi meninggalkan Om Eyang AN terus menginterogasi trek offroad.

Tanjakan di depan ini kita ambil ke arah kekanan ke ‘tempat parkir’. Sementara ada jalan kekiri yang ke arah ‘air terjun’. Memang dari bawah, bahkan dari Cipanas tempat kita menginap, tampak Galunggung dihiasi dengan banyak air terjun yang mengalir panjang dikejauhan. Mungkin kalau bisa didekati air terjun itu saya yakin ada yang tingginya diatas 50 meter mendekati 100 meter. Pasti tinggi sekali. Tampak panjang menjalin seperti akar yang turun menuju lembah. Pasti banyak pilihan wisata air terjun disini.

Kembali ke trek. Badan, paru-paru, paha dan betis sudah mulai terbiasa dengan deraan tanjakan miring tanpa henti. Saya berusaha untuk tidak berhenti lagi sampai ke parkiran, yang menurut informasi Pak Penjaga tadi ‘tidak jauh kok dik…’. Beberapa kali saya sangat tergoda untuk berhenti dan mengambil napas serta meregangkan otot, namun saya seperti ingin menguji diri keteguhan mental saya sendiri, karena saya cukup yakin setelah melewati awal yang berat di bawah tadi, sebenarnya badan saya mampu mengatasinya…

Sepinya jalan di pagi hari, karena belum ada wisatawan samasekali (jam 7 lewat), tentu membuat suasana tersendiri yang sangat spesial. Kiri kanan trek hutan perdu, pagi yang dihembus angin dingin, langit yang tanpa awan, bersih, tanpa kabut, kadang tampak sebagian pegunungan tubir kaldera Galunggung menanti. Jalan ini warungless samasekali. Ada beberapa mantan warung yang tampaknya tidak lagi beroperasi. Menurut saya memang harus warungless untuk tetap terus menjaga keindahan dan kesucian alam kawasan Galunggung ini.

Akhirnya, setelah sebuah belokan kekanan yang cukup tajam, sampai juga di tempat parkir (plus warung-warung) kawasan wisata Galunggung. Tampak sebuah tangga, tercatat dengan 620 anak tangga di papan petunjuknya, menuju ke arah bibir kaldera Kawah Galunggung. Segera saya tempatkan Eyang Dieng di awal tangga dan saya potret. Sayup terdengar teriakan orang. Saya celingukan cari Om Hanif yg ikut naik ojek tadi, ternyata tampak dikejauhan di ujung tangga yang tinggal 10% lagi, baju hitam dan sebelah kaki warna putih (full perban) melambai-lambai…

Buset!! Merinding saya. Bulu kuduk langsung berdiri. Begitu insist-nya Om Hanif ini. Beliau dengan kondisi berjalan pun susah, kaki yang luka sudah kaku-kaku karena mulai mengering, masih menunjukkan semangat luarbiasa untuk tetap menjalani nanjak dengan caranya sendiri. Salut.. salut… Sejak masih di Talaga Bodas saya sudah dengar dari Om AN kalau Om Hanif insist kita tetap ke Cipanas dan tim melanjutkan trip hari kedua seperti yang sudah direncanakan. Determinasi dan kepercayaan diri beliau juga yang menyemangati kami tetap menjalankan nanjak hari kedua ini. Kami jadi tidak terlalu kuatir dengan kondisi beliau.

Sayang lensa yg terpasang bukan yang 300mm jadi tidak bisa dapat gambar jelas Om Hanif di kejauhan. Setelah lambai2 sebentar segera saya pesan teh manis panas lima gelas ke warung teteh…

Setelah satu demi satu rekan berdatangan, paling cepat saya tempuh 43 menit dari awal nanjak, sementara rekan terakhir masuk ke kawasan parkiran ini 1jam 23 menit. Lengkap semua: Om AN, Om Acu, Om Qodrat, Om Haris, Om Sigit, Om Didik, Om Dewa, Om Deni, total 9 orang dengan saya. Om Hanif tampaknya sedang duduk-duduk menikmati pemandangan kaldera di atas.

bersambung ke bagian kedua…

3 responses

  1. Ping-balik: Galunggung Trip Day#1 Uphill to Talaga Bodas part2 « Harto Basuki

  2. Ping-balik: Galunggung Trip: Uphill ke Kaldera Galunggung #2 « Harto Basuki

  3. rogadsb2w

    mantap om,,, lebaran kemarin sekalian pulang kampung saya kebetulan mencoba uphill juga,, start dari kota tasik,,, sampe puncak,,,tanjakannya mantep,,,

    Januari 15, 2010 pukul 11:13 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s