enjoy every cadence, every breath…

Galunggung Trip Day#1 Uphill to Talaga Bodas part2

ini bagian kedua dari tulisan sebelumnya…

7@ Selepas Makan Siang

Rasanya malas sekali untuk gowes lagi, setelah perut kenyang, rebahan di atas batu split pun rasanya huenak. Saya lihat beberapa rekan benar-benar tertidur sejenak saat rebahan diatas batu split ini. Luarbiasa. Kalo hari biasa mungkin sudah malas kita, tapi perut kenyang, badan lelah, plus udara dingin yang bersahabat, menyebabkan kita serasa dibuai nina bobok.

Waduh! Gawat kalo badan keburu dingin, nanti bisa berat lagi pas mulai genjot. Akhirnya dengan sedikit terpaksa, kitapun saling menyemangati untuk berangakt lagi.

Medan berikutnya makin jelas tampak kalau hutan di sekeliling trek adalah hutan alami. Jenis pepohonannya bermacam-macam. Meskipun secara umum trek terus menanjak, tapi ada beberapa bagian kita diberi napas dengan sedikit rolling, sedikit banyak ada bonus laah..

Tak sampai 15 menit dari start setelah makan, setelah didera tanjakan panjang gravel-makadam kita didera hujan. Ini untuk pertama kalinya hujan turun sejak start gowes. Tampak terlihat ada satu lagi sumur pengeboran di sebelah kanan track. Entah ini sumur ke berapa yang kita temui di jalan. Kata Trackbuilder sih itu sumur geothermal. Rekan-rekan segera berhenti dan mengeluarkan jas hujan/jaket. Sempat saya ambil shot terakhir sebelum saya masukkan kamera ke tas. Setelah sejak start kamera selalu gelantungan di leher, akhirnya dia menempati tempat yg lebih layak. Takut kedinginan, segera mulai genjot lagi. Om Hanif sudah memberi ‘clue’ bahwa akan terjadi sebuah tanjakan yang cukup miring di depan.

Saya tepat di depan Om Acu, trek semakin menyempit. Kanan kiri banyak rerumputan dan pepohonan yang lebih mendekat dibandingkan sebelum bertemu sumur eksplorasi. Badan trek campuran makadam dan gravel juga semakin kasar, menurut saya, semakin asyik digowes, karena masih sangat gowesable. Kita agak speedy, Om Acu sambil teriak, “… enak Om… irama gowesnya dapat nih…”. Dalam hati saya, “Sialan, jadi musti speedy terus deh ngimbangi anggota termuda kita ini, mana tujuan masih jauh…” Hehehe…

Kabut tipis bergantian dengan hujan ringan terus menerus. Akhirnya kita melihat di perbukitan depan tampak terhampar perkebunan sayur. Wah, masuk ke kehidupan manusia lagi setelah hampir seharian ketemu hutan terus, regrup di sebuah awal turunan. Turunan yang saya yakini adalah awal tanjakan maut yg Om Hanif sudah ceritakan.

8@ Tanjakan Batu plus Dua Pertigaan

Intip novel lanjutan dari teman-teman, saya memang sengaja memisahkan bagian paling favorit ini di khusus satu bab tertentu hehehe… Padahal genjotnya *gak jauh*.

Regrup foto dan tentusaja hahahihi sepuasnya untuk saling menyemangati. Kita masih berdiri di tengah kabut. Hanya kamera Om Stef yang jeprat jepret tetap beraksi. Ini pitstop agak lama buat terkumpul kembali, ternyata Om Haris perlu balik ke tempat makan siang karena HP tertinggal.

Sampai sekarang saya masih heran, ini tim kok kagak ada matinya. Udah didera segala macam tanjakan dan medan berat serta panjang kok seluruh tim masih saja cengar cengir, ejek mengejek, setiap diajak foto ceria terus. Semua lho! Pokoknya kekuatan fisik, dan terutama, kekuatan mental tim ini memang luarbiasa!! Itu rupanya dipahami oleh trek (halah!). Segera dua-tiga bagian kedepan adalah bagian paling berat dari trip ini. walaupun kata Om Qodrat “tinggal 400m naik lagi dari 1300m ke 1700m dpl”.

Segera setelah turun, saya pilih paling belakang, terlihat dengan jelas jalan menuruni sebuah lembah lalu meliuk menukik menaiki sebuah bukit. Dahsyat !! Terusterang rasa ‘jiper’ yang muncul dan membuat bulu kuduk saya berdiri membuat saya menekan rem dan mengambil kamera meskipun gerimis. “Ini foto harus diambil !!” kata saya. Saya amati rekan-rekan satu persatu naik dari dasar lembah melewati sebuah trek campuran antara halus dan batu tampak di kejauhan. Baru kemudian saya tahu bahwa trek bercambur batu dan aspal serta beton.

Tampak satu persatu teman-teman segera berhenti di titik-titik tertentu. Jalanan macet karena satu persatu gerombolan berhenti. Segera saya tetapkan hati, masukkan lagi kamera ke backpack, dan mulai genjot slowly turun sebelum berusaha sekuat saya bisa untuk terus genjot naik. Akhirnya trip juga setelah kemiringan dan trek batu-batu lepas membawa sepeda keluar trek kearah kiri. Ampuuuuuunnnnn… ini tanjakan indah banget!! Susah saya bayangkan truk-truk engkel supply ke sumur pertamina itu melewati jalan ini. Gimana caranya ya mereka? Foto-foto dari kamera Om Steph menjelaskan dengan lebih baik bagian ini.

Dengan ikhlas sepeda sedikit saya dorong untuk mendapatkan permukaan yang memungkinkan tambah momentum lagi untuk mulai genjot. Disini saya segera memutuskan dalam hati, “Ini trek BENGIS !!”.

Tak Berapa lama gowes, kita lalu berhenti lagi di sebuah pertigaan. Aliran air kencang sekali terdengar. Air di bidon saya sudah tinggal dua teguk. Saya perhatikan juga rekan-rekan sudah mulai kehabisan air minum sejak makan siang. Kita berhenti di pertigaan ini. Berhasil isi dua bidon penuh dengan air, Pak Presiden melakukan kegiatan rutin beliau menjelang 25km tercapai, tapi heran, tidak tercium bau-bau aneh??

Disini saya bilang ke rekan-rekan, “Ibarat wanita, trek ini cantik tapi Bengis dan Kejam !!” Om AN tertawa terbahak-bahak dengan bilang kalau “Tumben pakai perumpamaannya Wanita…” Hehehe.. iya juga.

Tampak di kejauhan kota Garut. Ini lagi pertigaan yang kalau tersesat kita akan terbawa menuruni Galunggung ke Garut, bukan Tasikmalaya. Om Hanif cek peta dan GPS meyakinkan arah selanjutnya. Dalam 10 menit pemandangan ke kota Garut segera hilang tertutup kabut yang mulai naik. Kita semua tak ada yang menyangka bahwa kita akan turun ke arah Garut malamnya nanti. Segera beberapa butir gula jawa, soyjoy, silver queen dan segala camilan keluar dari kantong punggung.

Tak lama kita gowes lagi dan bertemu pertigaan yang lain. Di pertigaan ini tampak jelas ada sign mau pilih mana, Talaga Bodas? Karaha (arah start)? atau Garut? Hampir semua orang request untuk difoto disini. Kebetulan juga kabut tebal menerpa kita semua, membuat tempat yang sudah dingin ini menjadi semakin dingin dan redup. Lebih heran lagi, meskipun dingin, kehujanan, paha dan betis penuh geliga, baju basah, badan lelah… teteeeeppp… aja tim cerah ceria!! Lihat ada di foto2 terlampir.

Bagaimana kelanjutan gowes jalan makadam menembus kabut dan hujan? Menuju 1700m dpl? (Sebagai perbadingan, Puncak Pass 1400m dpl).

9@ Talaga Bodas !!!

Ini berat. Kondisi jalan semakin parah. Batu-batu makadam semakin banyak menonjol nonjol diantara trek. Rerimbunan tanaman di sekitar trek hanya menyisakan ruang yang cukup untuk handlebar kita lebih sedikit. Kadang tanaman tampak menutup jalanan dan terpaksa menggores muka kita.

Cuaca berganti terus menerus antara hujan dan tidak, kabut berganti antara tebal dan tipis. Dingin? Jelas! Terutama kalau berhenti. Beberapa teman tampak memulai dengan teknik dorong, mungkin untuk menghemat tenaga. Kondisi jalan memang berubah cukup drastis dibandingkan tahap sebelumnya. Hampir gak ada gravel disini. Asli hanya batu makadam saja.

Dengan ikhlas berusaha saya genjot meter demi meter sekedar membuat sepeda maju kedepan. Saya rasakan sendiri trip ini menjadi semakin berat dan berat. Nafas juga semakin berat, mungkin pengaruh udara yang semakin tipis kadar oksigen-nya. Maklum sudah diatas 1500m dpl. Setelah dari awal trip tidak pernah di belakang, kali ini saya putuskan untuk merasakan bagian belakang grup, berusaha menikmati saling dukung dan saling memberi semangat.

Sempat berpapasan dengan truk engkel. Vegetasi sudah semakin ganas. Batu makadam semakin besar, lalu tampaklah sebuah sumur geothermal (lagi lagi) di sebelah kiri. Wadoh. Setelah lewat sumur ini rupanya tidak pernah lagi ada kendaraan roda empat yang lewat. Jalanan sangat parah. Makadam runcing plus kadang malah tanah keras yang basah dan licin. Vegetasi semakin merapat, hujan semakin deras.

Untuk pertama kalinya rekan kita berganti ban dalam, sepeda Om Steph yang jadi korban. Di jalanan yang full makadam begini memang relatif paling sering terjadi ‘snake bite’ di ban dalam yang mengakibatkan kempes atau bocor tipis. Disinilah saya harus mengakui ke-solid-an Pak Presiden dengan Menseskab yang baru diangkat Om Dewa. Buset! Mereka berdua saling bantu dan saling menyemangati, saling bagi soyjoy. Saya gak enak sendiri ada di sekitar mereka berdua, hihihihi… Saya tinggalkan mereka berdua deh.

Genjot demi genjot, meter demi meter. Sementara lingkungan sekitar trek sangat mengingatkan saya pada trek Papandayan nanjak dari Pangalengan. Makadam, vegetasinya, kabutnya dan dinginnya. Dalam hati saya berpikir dan menghibur diri, “… ini pasti sudah dekat puncak…”. Yang saya lakukan seperti orang gila adalah genjot, berhenti, trus tereak-tereak menyemangati diri sendiri dan teman yang lain.

Jalanan makadam tiba-tiba berganti dengan serpihan langka aspal ! Wah akhirnya ada yang saya bisa teriakkan lagi ke rekan-rekan, “Wooooiii.. jalan tol disini…. ayooo… dikit lagi jalan mulus…”. Diantara lautan jalan makadam, sejumput jalan aspal rusak saja rasanya sudah seperti jalan tol. Alhamdulillah tak berapa lama melewati *jalan tol* ini segera tampak gubug jagawana…!!!

Cihuuuuyyyy… sambil tereak-tereak segera meluncur bablas dikit gak sampai 100m kita turun menemui TALAGA BODAS !!!

Hati bergejolak tak terkendali…
Indah banget !!
Ini hampir jam 3 sore, jadi sudah 8 (delapan) jam sejak kita mulai start gowes !!

Saya mengikut rekan-rekan yang lain, buka sepatu. Dalam hujan rintik-rintik, saya cuek keluarkan kamera dan mulai memotret lagi.

10@ Jam 3-5 di talaga bodas

Menurut catatan kamera saya, kita sampai di Talaga Bodas sekitar jam 1530. Seingat saya sayup2 terdengar adzan Ashar. Foto narsis sepuasnya, cuek kamera kena hujan dan basah. Ada berbagai macam gaya dari rekan-rekan, ada yang bertapa, ada yang rendam kaki, ada yg gak jelas puter-puter naik sepeda tapi gak pake sepatu, ada yang lompat, ada yg gotong sepeda. Lengkap !! Semua gaya ada…

Saya dorong sepeda melewati sebuah sungai kecil, mau memberi ruang pemotretan untuk Eyang Dieng SX3. Di kepala saya sudah terbayang Eyang Dieng SX3 dipotret gagah mejeng menikmati kesendirian dengan latar belakang danau berwarna putih kebiruan yang sangat eksotis ini. Dari jauh saya dengar ada teman yang teriak ttg ‘ati-ati kejeblos…’. Saya berusaha hati2 dengan menyuruh Eyang Dieng maju duluan, baru saya dibelakangnya. Foto2 tuntas, saya kembali ke grup. Jarak tempat saya foto2 sekitar 20 meter dari grup berkumpul.

Air danau tidak panas samasekali. Di pinggir danau pasir-nya putih campur coklat, mirip di pantai. Di beberapa tempat di pinggir danau ada semacam gelembung-gelembung uap/air keluar. Eksotis, aneh, ngeri, sekaligus indah.

Sempat terlihat sekitar 10-15 orang anak pencinta alam toss merayakan hiking mereka yang tampaknya baru juga sukses mencapai talaga bodas. Mereka tampak gembira sekali seperti kami. Tampak rombongan pecinta alam ini melanjutkan jalan dengan mengitari danau ke arah seberang danau. Dari Om Hanif saya dengar clue kemana itu anak pecinta alam pergi, “Ada jalan offroad di seberang danau buat turun ke Tasik”. Dalam hati saya bilang, “Yeah.. yeah… yeah… Dasar Track Builder, tauuuuu… aja meski blom pernah kesini”.

Tak terasa acara foto-foto sudah berlangsung setengah jam, dengan semua kamera tidak absen beraksi. Badan sudah mulai terasa dingin, hujan mulai turun, di kejauhan saya lihat tiga orang mengitari danau (danau agak bulat, diameter sekitar selebar lapangan bola) ke arah asap keluar di seberang tempat kita berkumpul. Baru kemudian saya tahu kalau mereka adalah Om Hanif, Om Wid dan Om Stefanus.

Tiba-tiba hujan turun agak deras. Sempat kebingungan apa perlu nunggu rekan bertiga kembali lagi baru kita ke pos jagawana untuk makan dan mengisi perbekalan sebelum pulang atau gimana? Karena badan mulai dingin dan perut keroncongan sementara bidon hanya berisi air selokan akhirnya kita bawa tas-tas Om bertiga dan mulai genjot balik ke jagawana.

Kami tidak sempat melihat kejadian musibah yang menimpa Om Hanif, tampaknya terjadi saat kami genjot balik ke jagawana (sekitar 100-200m dari kawah).

Masih ribut melepas baju basah, berganti baju kering, sibuk pesan kopi panas dan indomie rebus panas, heboh banget pokoknya kita berteduh di pos jagawana. Lalu muncul lah Om Hanif-Om Wied-Om Stef dan terdengar kabar kalau Om Hanif mengalami kecelakaan…

Selanjutnya?
Cukup panik lihat luka rekan kita, badan lelah, lapar, kedinginan, basah, hujan…

Om Dewa dengan sabar melakukan P3K, setelah semua mengisi perut dan bersiap, setelah berhasil mendapatkan dua motor yang bersedia membawa Om Hanif dan sebuah sepeda turun, akhirnya kita mulai perjalan turun. Re-route. Rute berubah total dari rencana. Kita turun ke arah Wanaraja, Garut. Bukan ke Cipanas, Tasik seperti rencana semula…

Trip ini belum berakhir kekejamannya…

11@ Down the Rock Garden like Hell

Re-route. Kenapa Re-route?
Saat kami tau Om Hanif cedera, kami tidak lagi membebani pikiran beliau. Cedera sudah sangat memberatkan untuk sekedar dialami di tengah hutan belantara 1700m dpl gini. Diskusi dengan Jagawana (Orang Garut) menunjukkan arah sebuah klinik terdekat ke arah Cidaun, Wanaraja, Garut. Otomatis Pak Jagawana sudah kami beri titel pembuat rute turun yang baru. Gak mungkin kan kami tetap minta Om Hanif yang kakinya serasa sedang ditusuk2 beribu jarum? Kami juga meminta pak Jagawana untuk bisa merayu temannya mau mengemudi motor turun ke Garut.

Merayu??? Ya!!
Bayangkan suasananya. Sore sekali (jam 5, jadi pasti gelap di jalan), dingin, hujan deras. Pasti malas sekali untuk turun ke Garut yang bayangan saya paling dekat 10km dibawah. Kita bisa mengerti jika mereka memilih meringkuk berselimut sleeping bag minum kopi panas menunggu besok pagi untuk berkegiatan lagi.

Jadi kita re-route trip ke sisi gunung yang lain, samasekali jauh dari Cipanas yang sudah kita setting sebagai tempat menginap malam ini. Yang ada di pikiran kita hanya segera melakukan treatment medical ke Om Hanif, dan kita semua harus menyertainya kemanapun itu.

Setelah semua settle saya set shock melepas lock-nya. Jadi masuk ke setelan mentul mentul. Dengan hati gundah badan dingin karena jarang gowes (maklum turunan) kita mulailah perjalan turun yang bisa saya gambarkan seperti subject email ini:

Down the Rock Garden like Hell…
Turun melewati taman penuh batu rasanya seperti di neraka….

Jalan turun kita adalah jalan asli pegunungan. Basisnya ya makadam batu-batu besar. Gak susah juga nyari batu besar di sekitar Galunggung kan? Kita turun melewati jalan lain yang bukan jalan proyek pengeboran geothermal Karaha seperti waktu kita naik. Jalan proyek geothermal cenderung sudah lebih ‘prepared’ dengan gravel dan pasir, maklum dilewati truk engkel dan truk tronton untuk mengangkut logistik pengeboran. Jalan turun ini???

Ini adalah pengalaman perjalanan turun melewati jalan batu PALING GILA yang pernah saya jalani. Trek penuh batu lancip dan besar. Cuaca hujan bergantian deras dan sedang, jika beruntung dapat sedikit gerimis. Air hujan tidak lari kemana, lari ke jalan itu juga, menggerus apapun yang ada di jalan, menyisakan batu-batu makadam telanjang untuk kita lalui dengan sabar.

Hujan tidak hanya menyediakan aliran air yang menyamarkan segala yang ada dibalik bongkahan batu-batu di trek. Tapi air juga membuat trek dan batu yang kita lewati jadi licin, semakin menambah banyak tantangan untuk bisa mengendalikan sepeda dengan baik dan selamat.

Belum lagi ditambah kondisi badan. Karena all the way down. Kita hampir tidak pernah gowes. Badan jadi kerasa dingin dalam balutan jersey yang tentusaja basah. Sayang juga saya tidak ambil satu foto pun di bagian trip paling gila ini. Kamera saya bungkus tas plastik dan saya masukkan ke backpack.

Saya termasuk sangat berhati-hati saat turun. Dengan segera tidak tampak lagi para pesepeda gila turunan yang dipimpin oleh Pak Presiden CiPOC himself di depan. Saya temui diri saya di rombongan paling belakang bersama Om Acu (Hardtail diamondback-on v brake), Om Wied (Hardtail giant-on v-brake), Om Sigit (Hardtail Dominate), Om Stef (Full Sus Banshee).

Belum 2km turun saya dengar suara rem Acu sudah mulai parah. Segera saya teringat pengalaman bersepeda gunung 1,5 tahun bersama v-brake. Gawat!! Apalagi Om Acu ini kan dari transbike, kebayang saya bakal digantung sama Om Anto Boti kalo something happen to him when I am around. Dengan cerewet saya tanya terus tuh apa rem masih jalan. Saya temani beberapa kali setting v-brake-nya.

Tak berapa lama saya jumpai juga Om Wied mengalami masalah yang sama dengan v-brake. Untung masih ada Om Steph dan Om Sigit juga buat menemani. Alhasil kita ada 3-4 kali berhenti setting ulang v-brake untuk kembali mendapatkan grip. Setiap berhenti, minuman bukan dimasukkan mulut, tapi untuk menyiram v-brake yang panas dan tergerus parah. Ampuuunnn…

Tanpa berusaha mendramatisir, itu semua kita alami dalam hujan. Bergatian tuh deras dan sedang, dengan trek batu dan kebun sayur di sekitar trek. Desa/kampung pun tampak masih belum terlihat kelap kelip lampu-nya di bawah. Benar-benar seperti turun yang tak akan berakhir…. Dramatis, mengkhawatirkan, dan sangat berbahaya.

Pada akhirnya kita ketemu bbrp rumah, lalu dilanjutkan sebuah kampung!!

Ada ide cemerlang untuk mencari ojek dan membawa dua orang plus sepeda v-brake yg sudah gawat ini turun ke bawah…. Tapi apa coba jawaban orang yang sempat kita tanya, “Oooo… ojek masih jauh dik… masih 20km kebawah…”

Ampuuuuunnnn….

12@ Still, down the rock track like hell…

Setelah mendengar “…. masih 20km turun…” sempat membuat kami kecut terusterang. Karena adzan maghrib sudah berkumandang setengah jam yang lalu dan tidak saja hujan, batu, licin, air, dingin, lelah dan basah yang kita hadapi. Kali ini bertambah gelap-nya malam menjelang…

Om Wied mulai menggunakan teknik downhill paling aneh yang pernah saya lihat. Memadukan kenekatan, keseimbangan, ide cemerlang: beliau menambahkan sepatu kanan-nya menginjak di bagian ban bawah sadel, untuk menambah grip rem. Buset!! Kaki kiri kanan napak ke pedal saja handling sepeda super susah ini make gaya akrobat lagi.

Om Acu lebih ekstrem. Sepeda dibawa berlari turun kebawah. Nuntun-lari-downhill !!! Tsk tsk tsk… Padahal hujan, basah, batu, gelap… Sampai suatu saat Om Acu teriak “.. aduh aduh..” sambil tanpa sebab jelas terjatuh menimpa sepeda. Wadoh !! Rupanya beliau kraam kaki nya dipakai berlari…

Kalo orang jawa bilang. Otot kawat tulang besi!!! Orang nekat main sepeda hujan-hujan gelap gini…
Akhirnya saya usulkan kita berteduh di sebuah rumah. Om Acu kebetulan perlu melakukan tembakan tertentu hehehe…

Duduk di tangga teras rumah orang, akhirnya kita dapat minuman air putih panas… wuiii… itu air putih benar-benar booster fisik dan moral !!! Air mengalir melewati mulut, dada, ke perut. Semuanya terasa panasnya air menambah panasnya tubuh kami. Tanpa basa-basi kami berlima curhat dan memuji nikmatnya air putih panas ini.

Disini juga saya buka tas dan telepon Om Ardian, yg baru sampai sebuah warung di bawah, untuk mengirimkan ojek ke atas menjemput dua sepeda v-brake.

Alhamdulillah sambil nyruput air panas, sang ojek penyelamat (yang ternyata tidak perlu datang dari 20km dibawah, informasi menyesatkan nih…) datang. Fyuih… Setelah menghaturkan berkali-kali terimakasih kepada Bapak baik hati yang memberi kami air putih panas segera kami meluncur kebawah. Tak sampai 15 menit ketemu jalan aspal dan sampai di sebuah warung. Semua anggota tim kecuali Om Hanif, berkumpul lagi akhirnya.

Terdengar adzan isya’….

Alhamdulillah…
gorengan di warung itu segera saya embat…

Kabar dari Om Hanif sudah sampai di sebuah klinik dan mendapat penanganan yang lebih layak. Adrenalin memuncak dan kali ini kembali adrenalin turun kembali disambut kepuasan gowes yang tak tergambar. Saya bilang ke Om Ardian yang sudah banyak senyum, “… akhirnya pake nyasar juga kita…” wuikikikiki….

Re-route turun ke Garut adalah nyasar yang maut, kejam, jahanam namun indah…

ini adalah lanjutan dari ke bagian pertama…
Summary trip dan detail googlemap di blog cikarangmtb ada disini…
foto-foto hari pertama bisa dilihat di multiply… atau di facebook…
thread sepedaku.com disini…

Trip hari kedua ke Kawah Gn Galunggun bisa dibaca ceritanya disini…

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear

2 responses

  1. Ping-balik: Galunggung Trip: Uphill ke Talaga Bodas « cikarangmtb

  2. Ping-balik: Galunggung Trip Day#1 Uphill to Talaga Bodas part1 « Harto Basuki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s