enjoy every cadence, every breath…

Galunggung Trip Day#1 Uphill to Talaga Bodas part1

Bagian pertama dari dua tulisan cerita hari pertama …

Galunggung Trip. Gowes bersama rekan-rekan yang sering ngobrol di mailing list cikarangmtb@yahoogroups.com ini terdiri dari dua hari trip:
Day#1 Uphill Kadipaten (780m dpl) -Karaha-Gn. Talaga Bodas (1730m dpl)- Wanaraja, Garut (717m dpl)
Day#2 Uphill Cipanas, Tasik – Kawah Galunggung – Tasikmalaya

1@ Kadipaten-Start

Akhirnya jadi juga gowes ini..

Sudah diimpi-impi kan sejak hampir enam bulan yang lalu. Bersyukur, itulah perasaan paling kuat saat kami loading dan merakit sepeda di Kadipaten, pintu gerbang kawasan Karaha Bodas, Sumur Geothermal Pertamina.
Kadipaten terletak diantara Malangbong dan Tasikmalaya. Saat melewati jalur Selatan Bandung-Tasik, kita berbelok kanan ke arah Tasikmalaya Kota setelah lepas dari Ciawi (jadi tidak lewat jalan potong Cihaurbeuti).

Anggota tim CikarangMTB ini terdiri dari 12 pesepeda: Om Hanif (track builder), Om Ardian, Om Deni, Om Qodrat, Om Stephanus, Om Widarta, Om Dewa, Om Haris, Om Didik, Om Acu, Om Sigit dan saya.

2@ Kadipaten-Jiper

Perjalanan berlum 300m. Begitu melewati sebuah belokan dan dikejauhan, diantara kebun jagung di perbukitan muncul tanjakan ini, waduh, segera saya memutuskan untuk berhenti genjot dan ngambil foto rekan-rekan. Satu persatu rekan-rekan ‘merayap’ mengatasi tanjakan pertama ini. Sesekali motor lewat menaiki tanjakan ini dengan tekanan gas putaran tinggi yang konstan. Terdengar motor pun susah payah melahap tanjakan ini.

Ini masih pagi, jam 7 lebih sedikit, matahari masih malu-malu dibalik awan. Perasaan seperti bertemu tanjakan ‘jiper’ di tegalbadak langsung menerpa dada saya, bulu kuduk tak tersadar berdiri sendirinya. Lebih ‘jiper’ lagi melihat arah tanjakan yang tampaknya akan naik terus melewati punggung bukit ini. Bener-bener kita harus dengar kata Track Builder, “Depannya langsung ditohok dengan kenaikan xxxmeter pada jarak xxkm”. Di ujung tanjakan ini kita sempat menunggu Om Dewa yg tampak meluruskan kaki ditemani Om Hanif. Terjadilah foto session tahap pertama.

3@ Kadipaten-photo session

Bagian berikutnya adalah bagian photo sessions. Tanjakan miring sekali, untungnya kita dihampari aspal cukup mulus. Efek tanjakan ini yang paling terasa adalah efek kejutan kemiringan plus dekatnya dari awal start. Benar-benar mengingatkan pada tanjakan Caringin Tilu di daerah Bandung Utara: Kejam dan Miring serta mulus.

Setiap pegowes dengan semangat masih membara, dengan muka berseri-seri, berusaha menemukan irama genjot masing-masing. Saya sendiri sangat menikmati berhenti dan memotret rekan-rekan, kadangkala sambil genjot, asal arahkan saja lensa ke teman di depan. Pemandangan latar belakang-nya benar-benar yahud. Tampak lapis demi lapis pegungungan dan perbukitan diselimuti awan/kabut dibawah jauh. Pas banget penggambaran Om Ardian di subject email ini: Pak Presiden genjot diatas awan. Sambil terengah-engah di telinga saya terngiang-ngiang lagu “Negeri Di Awan” dan suara Katon.

Mendekati akhir tanjakan saya genjot sekuatnya dengan menaikkan gear belakang, berhasil melewati Om Qodrat. Tetapi betapa kecewanya saya, di depan sudah ongkang-ongkang kaki di balai-balai warung, junior kita rekan Om Dewa: Om Acu dengan diamondback hardtail-nya.

Satu persatu penggowes berkumpul. Bukan muka kusut dan kusam setelah ‘dihajar’ tanjakan miring dan panjang. Hanya keceriaan yang tampak, saling menyemangati. Seru banget. Disinilah muncul ungkapan, “Gak low profile banget….”. Sementara di lembah berikutnya sudah menunggu sebuah dusun dengan tanjakan yang tak kalah aduhai sebagai menu berikutnya.

4@ Kadipaten-warung terakhir-hutan pinus

Disambut sebuah lembah, turunan aspal mulus yang curam lalu dihidangkan tanjakan, tanjakan, dan tanjakan di tengah kampung. Kita jadi tontonan orang kampung sekitar. Sambil, “Punten Pak…”, “Punten Bu…” di tengah-tengah napas bergelora, sampailah kami di ‘warung terakhir’. Tampak di balik bukit adalah area hutan pinus.

Nanjak memasuki hutan pinus saya melewati Om Deni dan Om Steph yang sedang saling ber-narsis. Hehehe… Memang pemandangan pagi hari di ketinggian gunung seperti ini indah sekali. Ditambah wangi bau daun pinus dan semilir angin dingin. Wuiii…

Jalan mulus meliuk-liuk melewati hamparan hutan pinus. Eksotis sekali. Setelah melewati portal Pertamina Karaha, kami masuk ke ‘Karaha-Kadipaten’. Sebuah kawah kecil penuh bau belerang yang nyempil di tengah hutan pinus. Kami lihat sebuah kijang merapat berwisata ke kawah itu. Segera berbayang di kepala saya andai tau jalannya mulus seperti ini pasti Om Adjie bersedia ikut sampai ke Karaha ini.

Selanjutnya jalanan nanjak dan nanjak mulai berubah dari aspal mulus ke batu gravel plus pasir. Beberapa kali truk pasir engkel dan truk tronton lalu lalang membawa material dan pipa untuk keperluan pengeboran geothermal Karaha Bodas, area yang sempat menjadi kasus hukum internasional dan membebani keuangan negara kita untuk membayar ke pihak investor asing.

Om Acu, penggenjot terdepan, berhenti di tempat yang dia sebut ‘Pohon Avatar’….

5@ Rolling manja di hutan pinus

Mungkin karena berhenti di pohon avatar, kami jadi banyak imajinasi. Termasuk diantaranya adalah mengandai-andai diri naik nanjak kesini dengan polygon BMX singlespeed. Pasti berat banget deh. Tidak perlu terlalu lama berandai-andai, karena segera ada anak kecil usia SMP-an, full gear (sepeda BMX polygon, single speed, pakai parang di pinggang). Ada satu orang yang sok tau dan sok jagoan nyobain sepeda ini, berakhir dengan kepanikan saat downhill turun karena ternyata sepeda tidak dilengkapi dengan rem samasekali.

Imajinasi yang lain adalah beberapa diatara kami jadi agak aneh dan merasa dirinya jadi paspampres Pak Presiden. Kebetulan juga Pak Pres, namanya pejabat negara, datang selalu belakangan. Saat beliau tampak dari jauh hadir nanjak ke arah kami sedang pitstop, segera berlari dua orang mengawal dari kiri kanan. Mirip banget SBY dikawal paspampres pas naik sepeda. Untuk selanjutnya kejadian ini jadi berulang terus (dan herannya) tetap tampak lucu di setiap pitstop.

Setelah chit chat dengan Bapak sang anak kecil, melahap sekantong wafer coklat TOP, segera kita melangkah untuk genjot rolling naik turun trek lebar gravel campur sirtu. Jadi ingat trek tercinta kita, track sumur gas. Tipe rolling sama, bunyi ban menggilas trek-nya sama… dddrrrrrdddddrrrrdd…. Mantap mantap.

Bedanya sama sumur gas? Disini dingin, udara asli bersiiiiiihhh banget, jadi senang ambil napas panjang-panjang…. seger!! Ditambah lagi? Tentusaja disini pohon pinus lebat banget di kanan kiri trek. Wuiii… Mantap surantap top markotop… Bayangkan seperti suasana kelok-12 menjelang finish Sukamantri, tapi ini rolling dan trek gravel. Nyamaaaaannnn…

Cuma banyak jebakan batman. Pertigaan banyak. Setiap pertigaan kita jadi menunggu Om Track builder membuka print-an nya plus lirik GPS. Mantap. Katanya kalo salah belok bukan sampai ke Talaga Bodas, tapi malah bakalan turun ke Garut! Nah lho… Om Track Builder bak Luna Maya dikejar infotainment. Setiap ketemu pertigaan satu tim berhenti dan menunggu titah beliau hehehe…

6@ Hutan dan Sumur Terakhir (Makan Siang)

Setelah menikmati nanjak nurun rolling, kadang kita disuguhi turunan… asik sekaligus ngeri membayangkan kejadian serupa yang saya alami di trip sebelumnya (ceritanya trauma mandalawangi gravel downhill), tekan rem juga hati-hati.

Sementara rolling semakin panjang panjang jaraknya, kalo tadinya pendek turun disambut pendek nanjak, lalu rolling berikutnya, kali ini interval semakin besar, sampai akhirnya ada sebuah turunan cukup panjang. Wuzz wuzz wuzz… saya disalip berkali-kali oleh rekan-rekan. Buset!! Kenceng2 banget sih, termasuk Pak Presiden diatas Patrol BLINK BLINK nya. Namun seperti kehidupan, pergantian berlangsung begitu cepat, segera disambut dengan tanjakan panjang gravel. Fuh fuh… kali ini panjang beneran. Kiri kanan pohon pinus sudah mulai diselingi pohon-pohon yang lain. Vegetasi hutan secara bertahap mulai berubah. Tampak semakin banyak pohon basah seperti pohon pakis.

Sempat sekali tim re-grup, kami temui tim berada di jalanan gravel di tengah hutan yang berkabut. Suasananya berbeda sekali. Bayangkan ada pohon-pohon besar di sekitar track dan kabut tebal-tipis silih berganti. Suasana benar-banar ‘spooky’; gabungan antara senyap-mistis-dingin-ngeri-basah. Susah digambarkan.

Setelah regrup dan foto bentar lanjut deh. Agak mengherankan kali ini setelah nanjak panjang kita ketemu turunan panjaaaanggg… banget. Seperti gak habis-habis. Wadoh, jangan-jangan turun ke Garut neh jalan.. Lalu kita disambut oleh sebuah ‘lapangan’ pengeboran geothermal. Tampaknya lapangan sudah lama dibuat dan sudah lama pula ditinggalkan namun terlihat ada 15an pekerja sedang melakukan kegiatan konstruksi. Kita menepi berhenti disitu. Perut saya sudah lapar.

Makan siang deh kita…

berlanjut ke bagian kedua…
Summary trip dan detail googlemap di blog cikarangmtb ada disini…
foto-foto hari pertama bisa dilihat di multiply… atau di facebook…
thread sepedaku.com disini…

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear

3 responses

  1. Ping-balik: Galunggung Trip Day#1 Uphill to Talaga Bodas part2 « Harto Basuki

  2. Ping-balik: Galunggung Trip: Uphill ke Talaga Bodas « cikarangmtb

  3. Ping-balik: Nongol jadi model di Bikewearr… !!! « @antoix

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s