enjoy every cadence, every breath…

Cigeuntis 2 Nov, gowes mati lampu 96km (4)

post ini lanjutan dari bagian ketiga…

#9

Setelah diterpa angin dari kipas di musholla dan dinginnya teh botol dari kulkas, wah, kok cuaca di luar jadi panas banget rasanya yah… Tapi membayangkan tanjakan-tanjakan gravel+makadam di atas kampung waru, turunan panjang ke lembah dan nanjak lagi menuju villa H Agus akhirnya memupuskan keinginan untuk istirahat lebih lama.

Kamera saya masukkan ke dalam tas. Untuk etape ini sudah saya putuskan untuk tidak mengambil gambar. Tanjakan-tanjakannya terlalu indah untuk tidak dinikmati dengan serius. Lagipula di trip menjelang gowes akbar yang lalu rasanya saya sudah ambil banyak foto trek.

Tanjakan dari kampung waru menuju ke puncak bukit sebelum akhirnya melewati turunan panjang sangat mengigatkan saya pada trek Cioray. Panasnya mirip, lebar jalannya mirip, batu-batu makadam yang bikin susah genjot, slip kiri kanan mirip, hanya jenis batunya saja yang tidak mirip. Cioray cenderung batu kapur tajam-tajam. Trek tanjakan waru ini membuktikan lagi ke saya kalau dia benar-benar layak untuk dikangenin… Tanjakan sambut menyambut, tidaklah terlalu kejam,karena ada di beberapa titik kita diberi bonus sedikit landai dan turunan ringan. Justru itulah, seolah paha dan betis diuji dengan kejutan-kejutan yang menghentak.

Setelah akhirnya turunan panjang ke lembah sungai lalu ke kampung tempat Kang Deni kraam, bertemu jembatan merah kita gowes eksotis di pinggir bibir jurang ke sungai. Sungai kali ini airnya benar-benar sedikit. Di gowes akbar lalu rasanya sambil genjot kita bisa dengar gemuruh suara air, tapi kali ini sunyi senyap.

Setelah jembatan merah kita disambut tanjakan sambut menyambut tak henti-henti dan dahsyat membuat paha dan betis menjerit sampai akhirnya tembus ke Villa haji Agoes.

Oiya, lupa, bagaimana cerita dua rekan saya? Rekrutan baru Mertaput Om Didi plus punggawa dewan pembina CiPOC Om Eyang AN? Entahlah… Mereka balapan melahap tanjakan, menyiksa paha dan betis sampai ke batasnya. Saya lihat debu ban belakangnya saja kagak…

Villa H. Agoes tampak sudah lebih banyak berbenah. Tampak hamparan lahan parkir baru yang luas siap menerima siapa saja yang ingin kesini. Disinilah titik tertinggi perjalanan Cigeuntis saya yang lalu. Waktu itu saya tidak ikut acara hari-H nya tapi ikutan survey terakhir seminggu sebelumnya, hanya sampai Villa ini dan genjot pulang berdua Om Sigit…

Kemana ya dua orang yang tadi kebut-kebutan didepan? Buset… ditinggalin beneran nih, tak tampak mereka batang hidungnya menunggu…

#10

Tahapan berikutnya adalah tanjakan-tanjakan yang relatif mulus, aspal yang sedang ditambal sulam dengan proyek, sehingga di beberapa tempat trek jadi gravel. Trek berada di sebuah lembah dengan sisi kiri jalan yang turun ke arah sungai dan sisi kanan jalan naik ke arah sebuah deretan punggung pegunungan.

Di beberapa tempat tampak jalan menunjukkan kegarangan-nya dengan menyuguhkan kemiringan yang lumayan bisa membuat paha senut senut. Di part ini saya mengambil cara paling aman dan nyaman untuk menikmati tanjakan: berhenti rutin. Jalan 5 menit berhenti 5 menit. Akibat aturan sendiri ini akhirnya saya bisa kembali bertemu dengan Eyang AN dan Om Didi lagi leha-leha di warung pinggir jalan yang tidak jualan di hari kerja begini. Tampak wajah lega di raut muka mereka berdua, “Istirahat dulu Om…” kata mereka, “Saya terus dulu…” kata saya. karena baru 50 meter yang lalu saya berhenti ambil napas.

Setelah melewati sebuah jembatan, sebuah warung es shanghai (aduh… coba itu warung buka), tanjakan berubah dari jalan aspal ke jalan beton mulus. Apakah lebih enak buat dilalui? Tentu tidak.. karena kemiringan jalan sudah mulai memasuki tahap tak sopan. Seperti layaknya jalan di area perbukitan rolling, kita mendapati kemiringan tanjakan yang mengejutkan dan sesaat. Jalan bisa tiba-tiba berubah miring sekali, lalu kembali ke sedikit landai. Landai? Ya tetap saja miring keatas. Sejak dari villa haji agoes cuma sekali kita dapat bonus sedikit turunan rolling.

Dua rekan saya melewati saya lagi saat saya rutin istirahat. Akhirnya saya melewati mereka di belokan depan sebuah warung lalu saya dengar perbincangan dengan menyertakan kata-kata ampuh, “… pocari dingin…” yang segera saja membuat saya berbalik arah dan ikutan berhenti di warung menegak pocari dingin.

Sampai di daerah batu tumpang akhirnya tanjakan mulus berakhir. Kita memasuki jalanan batu makadam, tetap miring keatas, menjadi semakin sulit buat dilewati. Setelah memotret kedua rekan saya, saya memilih berhenti dulu di ujung jalan mulus. Ambil napas dan mengendorkan otot sebelum memasuki daerah full makadam ini.

Berikutnya adalah area ujian dengan delapan soal, termasuk satu diantaranya soal cerita… di bagian kelima…

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear

One response

  1. Ping-balik: Cigeuntis 2 Nov, gowes mati lampu 96km (5) « Harto Basuki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s