enjoy every cadence, every breath…

Cigeuntis 2 Nov, gowes mati lampu 96km (3)

post ini adalah bagian ketiga, lanjutan dari post sebelumnya…

#6

Menyeberang sungai Cigeuntis kali ini berbeda sensasinya dengan gowes akbar yang lalu. Gundukan dan lobang di sungai seperti memberi bopeng dan jerawat di wajah cantik pemandangan paling eksotis di trek Cigeuntis ini. Tapi dasar cantik pada dasarnya, seperti ibaratnya Luna Maya, mau jerawatan ya tetap saja cantik. Kira-kira begitulah saya mengamati jalur menyeberang sungai paling indah yang menjadi kebanggaan kita ini.

AN020950

Saya sandarkan sepeda di bibir turunan menuju sungai, tampaknya Om AN dan Om Didi sudah tak sabar lagi ingin segera menggowes melahap trek ini. “Gak sabar Om, pengen menikmati tanjakan-tanjakan di seberang sungai…” kata Eyang AN sambil meluncur. “Emang ada tanjakan?…” kata saya. Bukan sombong anggap enteng tanjakan, tapi beneran, saya lupa detail trek setelah menyeberang sungai. Yang saya ingat kita ditunggu jalan mulus beton menjelang Kampung Waru. Kalo tanjakan setelah Kampung Waru, itu saya ingat…

Asyik jeprat jepret mengabadikan duet penggowes PanBagoes ini melahap trek berbatu gravel didepan. Indah banget. Tolong ya, kalo gowes mbok pake jersey yang warnanya mencolok: merah, kuning, biru cerah, hijau cerah. Jadinya di foto pasti jauh lebih bagus dibanding rekan-rekan yang pake baju warna gelap model hitam, cokelat, atau biru dongker.

AN020959

Rasanya pengen lebih banyak ambil shot karena moment-nya keren banget, tapi, sudahlah segera saya sudahi acara njepret dan ambil sepedah. Sudah tampak Om AN sekitar 300m di depan saya. Gowes mengimbangi speed mereka saja sudah susah apalagi pakai sering berhenti begini…

drrrdddrrrttdddrrrt…

Suara ban membelah jalan berbatu, plus sensasi susunan batu di kali yang agak longgar, menyebabkan kadang trek bergeser dan membuat keseimbangan bersepeda jadi unik. Mirip banget gowes di pasir, tapi ini di atas hamparan batu-batu bulat sebesar telur ayam. Segera 40+km perjalanan dari pagi buta berangkat dari rumah lelahnya hilaaangg… semua…

drrrdddrrrtggtdddrrrt…
drrrdddrrrttdddrrrt…
ttdrrrdddrrrttdddrrrt…
drrrdddrrrttdddrrrt…
drrrdddddrrrttdddrrrt…
drrrdddrrrttdddrrrt…
drrrdddrrrtttttdddrrrt…

Suara ban melindas itu masih terngiang di telinga saya meskipun tulisan ini saya buat seminggu setelah gowes…

#7

Gowes di pasir pernah kan? Iya, berat, mirip seperti gowes di lumpur. Menyeberang sungai Cigeuntis gowesnya diatas hamparan batu, padang batu. Batu bertemu batu licin dan mudah bergeser. Rasanya aneh. Keseimbangan pastilah terganggu.

Sepanjang genjot, mendekati orang-orang yang sedang menggali-gali lubang menambang pasir, ada hal menarik secara human interest. Kebayang gak, berapa yang mereka dapatkan untuk mengumpulkan pasir sampai satu gundukan sebesar angkot gitu? Gak tahan saya pengen ambil foto, tapi malas juga ketinggalan makin jauh sama Om PanBagoes berdua yang sudah makin ngacir di depan. Kesimpulan: tangan kiri pegang handlebar dan tangan kanan mulai jepret-jepret candid sekenanya.

AN020969

Saya sudah cerita kan kalo keseimbangan genjot diatas padang batu gini jadi aneh? Hehe… makin aneh keseimbangannya saat harus pegang handlebar dengan satu tangan saja sementara tangan kanan berusaha membidikkan kamera.

Hasilnya? Ternyata tidak buruk-buruk amat. Ketika saya lihat lagi di rumah hasil jepretan para penambang pasir ini, wuih… menyentuh hati sekali.

AN020977

AN020978

Kontras.
Di tengah keindahan alam sungai Cigeuntis yang secantik Luna Maya, ternyata hidup berjalan sangat kejam dan berat bagi sebagian orang hanya untuk mendapatkan beras dan lauk sekadarnya buat keluarga…

AN020985

#8

Menyeberang sungai masih gowesable, agak panik karena cleat terlanjur nancep di pedal, sementara genjot diatas padang batu yang aneh itu masih ditambah lagi aliran air setinggi separuh ban melibas dari arah kiri. Sudah aneh keseimbangannya, tambah aneh lagi karena aliran air.

AN020982

Ternyata benar Eyang AN, setelah menyeberang segera kita disuguhi trek gravel dan tanah tanjakan-tanjakan kampung yang cihuy… Sementara puncak-puncak bukit berbentuk aneh yang menjadi vocal point pemandangan perbukitan Cigeuntis ini terasa semakin dekat di depan mata. Indah banget! Nanjak-nanjak rolling dan disuguhi pemandangan eksotis…

AN020993

Kemudian kita ketemu sebuah kampung dengan kantor kepala desa, melewati jalan mulus beton dipadu dengan jalan tanah sirtu. Flat, rata, panas, panjang, serasa tak ada habisnya…. Ini bagian paling menyebalkan. Jalan flat yang seperti penggorengan dengan matahari serasa ada 12 diatas kepala kita, seperti adzan dzuhur yang mulai berkumandang di kejauhan, tanda waktu sudah sekitar tengah hari.

Sempat berhenti membetulkan letak tas punggung yang meleyot, saya tertinggal dan cuma dapat debu saja dari rekan PanBagoes berdua. Sampai ketemu kampung waru, awal dari tanjakan makadam ke Villa H Agoes, lalu terdengar ada yg berteriak memanggil.

Owww… rupanya kita pitstop dulu di kampung Waru sebelah jembatan.
Ishoma. Om Didi sampai ketiduran diterpa dinginnya ruangan dalam mushola berkipas angin. Lebih eksotis lagi karena kita ambil air wudhu di sungai Cigeuntis, musti turun ke bawah. Disini saya makan nasi plus telor dadar yang kedua piring.

AN021012

AN021013

bersambung ke bagian keempat…

foto-foto lengkap ada di antoix.mulitply.com

2 responses

  1. Ping-balik: Cigeuntis 2 Nov, gowes mati lampu 96km (2) « Harto Basuki

  2. Ping-balik: Cigeuntis 2 Nov, gowes mati lampu 96km (4) « Harto Basuki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s