enjoy every cadence, every breath…

Mudik bersama sepeda yuk… (cerita lebaran yang lalu)

Bukaaannn… bukaaannn…
Bukan pulang kampung ke Rawa Jimbung naik sepeda sebagai persyaratan langsung dari MBah di Rowo Jimbung yang terkenal…

Sepeda nangkring di hidung sepanjang perjalanan dari Cikarang ke Bandung dan lanjut ke Jogja. Tidak hanya membuat tongkrongan kendaraan jadi lebih menarik perhatian alias ‘eye catching’, namun juga membuat kita sepanjang jalan dipaksa ngelihat sepeda terus. Jadi sambil nyetir terus mikir bagaimana bisa menjadwalkan dengan baik dan benar sebanyak mungkin kegiatan bersepeda di tempat2 unik yang kita datangi selama mudik.

Tapi beneran deh, sepeda nangkring di hidung memang benar-benar keren dan gagah. Sepedanya gagah, kendaraan kita juga tampak lebih berjiwa ‘adventure’ hehehehe…

Narsis?
Tidak senarsis sebuah avanza, yang menyalip saya di bilangan Buntu. Avanza ini nempel terus setelah kemudian menyalip dengan sebuah sepeda lipat nangkring di rak atas mobil. Rak atas avanza ini gak ada barang lain kecuali sebuah sepeda lipat yang manis banget sendirian kena angin. Wuikikikikiki… Tampak juga di dalam mobil avanza sebenarnya tidak banyak penumpangnya, alias masih lega. Tentusaja itu sepeda di-per-tangkring-kan diatas untuk satu tujuan: NARSIS!! Jadi gak bener tuh kalo saya narsis nangkringin sepeda di hidung, ada yang lebih narsis terbukti.

Sepeda di hidung tidak eye catching?
Kriiiinnngggg…
Tumben banget ini di perjalanan pagi-pagi ada yang menelepon. Karena sambil setir ya tak sempat melihat layar, siapakah yang menelepon. Ternyataaaa…. wakakaka… udah jauh-jauh ke Gombong ketemu-nya teman sepedahan Cikarang lagi !!! Om Iwo (waktu itu gelarnya belum SUHU) dalam perjalanan dari arah Jogja sementara saya akan ke Jogja, saya macet merayap, Om Iwo melihat sepeda saya dengan gagah ‘say hello’ pada semua orang di depan wuikikikiki… Karena lihat sepeda Cozmic biru yang keren itu Om Iwo gak ragu lagi kalau yang sekilas dilihat lagi macet dari arah berlawanan tadi adalah teman sepedahan dari Cikarang juga. Oalaaaahhh… Dunia kok sempit banget ya.

Selama di Jogja sempat dua kali uphill, sekali ke Warung Ijo, sekali ke Kaliurang.
Sempat juga gowes santai keliling kota Jogja. Huenak tenan meskipun sekarang jumlah sepeda di Jogja udah kalah jauh dibanding jumlah sepeda motor.

Di Bandung juga sempat uphill ke Batukuda (backyard-nya Om Sigit-Bikewearr). Meski belum kenal NII kami ber-NII mencari-cari sendiri jalan ke Kiara Payung, hasilnya buntu dan hampir putus asa. Sebuah keajaiban mendatangkan pesepeda lokal yang datang sendirian lalu akhirnya puaaasss banget pas dapat singletrack heaven yang meliuk-liuk ke arah kampus IPDN.

Semoga rencana perjalan ke bagian tengah jawa lebaran ini juga tak kalah seru-nya…

Jadi, jangan ragu-ragu bawa sepeda mudik…
Daripada nyesel jalan2 di kampung halaman lihat turunan dan tanjakan hanya bisa bayangin “seandainyaaa… bawa sepeda….”

2 responses

  1. posting yang bagus, sebelum kasih komen yg lain-lain, saya perkenalkan dulu nih, saya Agus Suhanto

    September 16, 2009 pukul 8:26 pm

  2. Postingan’y bagus salam kenal yah??

    September 22, 2009 pukul 10:57 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s