enjoy every cadence, every breath…

A Night at The Pasircongcot Trails, part2

post ini adalah bagian kedua lanjutan dari bagian pertama….

pasircongcot

#5 Kampung Lembah- Puncak Bukit

Di ujung lembah, di tengah kampung, para perokok segera mengeluarkan senjatanya. Klempas klempus di tengah keheningan dan gelap gulita nya malam. Saya mulai merasakan apa komentar Om Ir tentang baju kutung tanpa lengan yg saya pake. Wah, angin tengah malam di perbukitan gini kerasa dingin juga sampe ke dalam dada. Mungkin saja bukan kostum yg salah tapi memang secara psikis saya sedang down karena kondisi fisik.

Melihat gejala trek ini, berhenti agak lama di lembah, saya sudah membayangkan kalau cerita berikutnya adalah tanjakan, mungkin sedikit panjang. Nah, ini yg agak meningkatkan semangat!

Perbukitan pasircongcot memang agak berbeda dengan Cikarang. Yang bawa gps bisa lihat kalau di Cikarang naik turun bukit ketinggian kita naik turun sekitar 50-75m dpl, kalau di Pasircongcot ini naik turun sekitar 100-150m dpl. Menurut saya Pasircongcot adalah titik tengah kombinasi antara trek perbikitan Cikarang dengan trek perbukitan Purwakarta/Jatiluhur. Di Purwakarta bukitnya lebih panjang lagi tanjakan dan turunannya.

Segera setelah rokok Om Boni selesai disedot, team beringsut kembali, menjalani singletrack di tengah kampung lalu ketemu sedikit turunan yang dilanjutkan dengan melewati sepasang jembatan bambu. Seru banget lho, apalagi kita yg baru sekali ini lewat trek, kejutan2 di tengah malam termasuk jembatan bambu berurutan, wah bikin kita terkaget-kaget senang.

Berjalan di sebelah sedikit sawah yang tersisa (jarang banget lihat sawah di sekitar trek) kita harus cukup waspada melahap singletrack karena bisa tiba2 ketemu selokan kecil yang hanya ditutup beberapa bilah bambu/kayu. Salah-salah ambil jalur (note: istilah NII) bisa2 kita kejeblos berguling-guling. Wong semua tim masih saja ngebut dan gak mau ada yang tertinggal.

Segera kita disuguhi tanjakan yang seperti air mengalir, sahut menyahut, sambut menyambut gak habis-habis sampai puncak bukit. Di beberapa titik tanjakan memberikan kemiringan dan kejutan belokan yang lumayan aduhai mohai. Yummy yummy… “trek trek” seru saya, biar rekan-rekan yang memilih nuntun memberi jalan buat yang mau coba digenjot. Fuiiii… This is the best part sampai kita di puncak tertinggi sebuah bukit.

Di kejauhan kita bisa melihat sinar lampu kehidupan dibalik bukit2 yang jauh. Kelap kelip yang pasti menarik buat siapa saja untuk meninggalkan tempat gelap ini menuju kesana.

Om Hanif, Om Sholeh PSI dan Om Harun PSI segera secara bergantian bercerita pemandangan dari puncak bukit ini. Katanya sih Cigeuntis kelihatan, Cikarang kelihatan, Purwakarta dan perbukitan sekitar Jatiluhur kelihatan, apalagi SanDiego Hills dan KIIC yang sebenarnya sudah deket banget.

Inilah jeleknya NR. Kita tak melihat apapun kecuali kegelapan dan keremangan bayangan bukit dan lampu saja di kejauhan. Tapi melihat gersangnya dan hampir tak berpohonnya lingkungan sekitar, wah, saya mikir dua kali juga buat sampai di area ini diatas jam 10.

Herannya, meskipun angin malam yang dingin semestinya bikin kondisi tubuh saya makin drop, tapi puncak bukit ini terbukti jadi titik balik saya. Habis titik ini, mungkin lebih tepat habis ketemu tanjakan Mooy tadi, saya mendapatkan ‘second wind’.

#6 Puncak Bukit- Mimpi NasiUduk

Setelah puas berenti istirahat, menata nafas dan minum tegukan2 terkahir (air di bidon saya habis disini), akhirnya kita berangkat lagi. Medan turunan. Posisi sepeda saya menjadikan saya genjot di depan. Segera menyambut rangkaian turunan sambut menyambut sambit menyambit di kegelapan malam. Headlamp saya posisikan ke lampu terang sementara di handlebar juga ada satu lampu lagi. Sambil deg-deg-plas saya biarkan sepeda meluncur cepat turun. Mantap banget meliuk liuk mengikuti singletrack tanah halus yang keras. Huenak tenan. Beberapa kali kejutan kegelapan ala night ride; tiba-tiba belok, tiba-tiba terhalang rumput, tiba-tiba berpindah jalur.. wuiii… mantap banget saya genjot sepeda cepat sambil tereak kegirangan sesekali.

Saya lirik di belakang tak jauh masih ada kok lampu yang mengikuti, jadi mestinya ini tidak terlalu kencang. Tapi beneran.. huenak banget. Dan kita bener-bener bisa uji keberanian plus handling sepeda kita. Ujiannya adalah seberapa lama kita berani tidak tarik rem. Ditambah gelapnya malam, lengkap sudah. Sampai akhirnya kita berhenti di sebuah pertigaan.

Cukup lama menunggu, tak lama kemudian muncul grup kedua yang mengabarkan Om Boni jatuh.

“Gak papa kok..” kata Om Boni yang segera saja meyakinkan kita dengan mulai genjot sepedanya.

Pertigaan kita lurus. Setelah melewati sebuah sungai plus jembatan bambu, kita disambut tanjakan kali ini. Meskipun lurus tapi panjaaanggg… wah mantap banget. Kebayang hari kemarin yang survey pertama di siang bolong gimana rasanya ya disini? Terlihat lingkungan di sekitar benar-benar tanpa pohon, hanya padang ilalang saja plus double track.

“Stop… ada yang kraam”

Segera kita semua berhenti tepat di punggung sebuah bukit. Cukup lama menunggu berhenti. Rupanya rekan-rekan yang dibelakang sedang memberikan treatment pusaka PSI, “balsem geliga” kepada rekan yang kraam.

Untuk kesekiankalinya kita mendengar curhat-an salah satu Om yang perut belum keisi nasi, perutnya keroncongan. Isi curhat sih berkembang. Semula, “warung nasi goreng masih jauh gak?” lalu makin desperate, “Indomie atau apa juga boleh deh, apalagi nasi uduk”, lalu dilanjutkan di lain kesempatan, sangat putus asa, “pokoknya warung.. apa saja deh…”. Sampai beliau berhalusinasi kalau di puncak bukit ini ada sebuah warung nasi uduk jengkol sedang menunggu pembeli.

wuikikikiki…. Makanya tempat ini diberi nama “Mimpi nasi Uduk”.

#7 Mimpi NasiUduk- Per3an- Kaligandu

Setelah Om Ucup pulih, bisa genjot sepeda lagi, tim segera beringsut, kali ini jauh lebih pelan. Saya sendiri di kepala sudah mulai berpikir, hmmmm… enak juga kalo makan mie goreng /nasi uduk seperti yang tadi dibicarakan di atas bukit tak bertuan itu… Makan setelah sepedahan selalu cocok kan? Rasa nikmatnya juga bertambah.

Gowesan tim kali ini lebih konstan namun tampak lebih sabar melahap sedikit tanjakan lalu dibalas turunan demi turunan setelah pertigaan (pertigaan pertama kali berhenti merokok saat semua orang genjot kencang). Secara perlahan di balik bukit mulai tampak tanda-tanda sinar lampu dari kampung berpenerangan listrik. Tak disangka, disambut dengan turunan doubletrack tanah keras yang mulus (kebayang kalau habis hujan pasti full lumpur), kita segera masuk wilayah berperadaban di desa Pasircongcot.

“Om Ir, segera ketemu nasi goreng nih kita…”
“Walah, udah lewat to’ laparnya…”

Keluar ke arah jalan aspal lalu kita segera regrup dan menuju pasar Kaligandu. Beruntung sebuah warung Mie goreng /nasi goreng/ mie godog, sebuah warung indomie rebus, dan sebuah warung nasi (dengan sisa nasi tiga piring saja) segera diserbu oleh 12 pesepeda kelaparan.

Lho, kok 12… satu orang lagi kemana?
Om Ucup segera tergeletak dan tertidur di bale-bale… Kelihatan nuikmat banget, sampe gak tega buat mbangunin.

#8 Kaligandu-AA

Cukup lama kita berhenti. Mengambil napas. Menikmati betapa sinar lampu listrik bisa begitu berharga. Merasakan bahwa sepiring mie goreng kok sangat layak untuk ditunggu dan dimakan (ternyata tidak sampai habis, porsinya guede banget).

Ada kali 45 menit istirahat disini.
Bidon saya kosong tapi saya gak ngisi air lagi.

Saat akhirnya berangkat lagi, kembali saya ambil posisi sweeper. Rupanya meskipun sempat dapat second wind tapi paha saya udah terlanjur dingin dan kesulitan buat mendapatkan irama gowes yang tadi.

Terusterang saya terengah-engah mengikuti bahkan rekan yang paling belakang pun. Rupanya pengaruh kondisi kesehatan dan udara dingin (lewat tengah malam) dipadu dengan kaos kutung, kali ini benar-benar membuat saya setengah mati menguntit gelombang paling belakang. Kelap kelip lampu rekan rekan di depan tampak semakin lama semakin jauh, tampaknya ada yang habis re-charge dengan makan di Kaligandu tadi.

Sampai akhirnya lewat jalan tol, lalu lewat singletrack pingggir kalimalang setelah melewati tol. Nah disini paha dan paru-paru saya mulai kerasa enak. Singletrak datar nan mooy di sebelah kalimalang sebelum ketemu sungai cibeet mulai bisa saya nikmati. Disini saya dapat godaan. “Kayaknya seru kalao sprint”. Yang tentunya tidak mungkin dilakukan di singletrack saat anda jadi sweeper.

Begitu melewati jembatan sungai Cibeet yang legendaris itu, plus lobang-lobang besar dengan dua sungai dibawah trek (hebat ya? dimana lagi ada trek sepeda dibawahnya terdapat dua sungai sekaligus??). Disini saya melewati dua rekan paling belakang yang sedari Kaligandu menjadi rekan setia genjot. Saya mulai sprint.

Yang kali ini diambil oleh teman-teman adalah sisi kiri kalimalang (bukan sisi ajeb ajeb). C’mon man! Ini menjelang jam 1 malam… Kalo lewat sisi kanan jangan2 kita tidak sampai dengan ‘selamat’ di AA Bike. Trek di sisi kiri ini ternyata bersahabat sekali. Meskipun sangat gelap dan hampir tak bertemu kendaraan motor, namun trek ini menurut saya jauh lebih bisa dinikmati dengan sepeda dibanding sisi kanan yang penuh sirtu dan kobangan besar plus asesoris ajeb ajeb. Saya lewati teman satu persatu, saya cukup kaget ternyata tidak terlalu jauh sudah tiba di tempat kita biasa keluar ke kalimalang dari warung kolong tol. Semakin saya melewati satu persatu teman, saya semakin tambah semangat, karena ternyata ada satu rombongan yang kelap kelip lampu di depan pun sudah hampir tak terlihat. Rombongan depan ini pasti jauh banget.

Saya lihat salah satu rekan menyeberang sungai di jembatan yang salah, jadi deh dia pasti dapat jalur kobangan di kanan plus bonusnya sebelum ketemu jalur mulus beton. Jalur mulus beton rasanya tidak habis-habis. Di depan mulai tampak kelap kelip lampu punya rekan rombongan depan. Akhirnya saya berhasil melewati dua rekan menjelang pasara tegaldanas. Saya cukup kaget karena di depan ternyata masih ada lagi kelap kelip lampu. Ya ampuuunnn…. Sekuat tenaga saya kejar. I do my best and my last. Si Macan nongkrong di AA Bike, jadi dari AA Bike saya akan naik kendaraan berpolusi, heheh… Di tanjakan jalan tol menuju AA Bike tampak lampu kelap kelip terkahir ada 20 m di depan. Biasanya tanjakan jalan tol menuju AA Bike dari tegaldanas ini selalu saya lahap dengan semangat. Tapi kali ini berbeda. I have to let him go.

Sampai di AA Bike ternyata kelap kelip di depan hanya satu sepeda. Om Qodrat yang terdepan sampai di AA Bike disambut Om Asol yang belum tutup karena nungguin si Macan yg parkir disitu (makasih Om Asol). Sudah lewat jam 1 malam.

Begitu berhenti segera seluruh keringat menetes deras dari badan. Om Hanif bilang kalau waktu yang kita tempuh dari Kaligandu hanya 30 menit. Ya ampuuunnn… Biasanya trek lewat jalur papaya adalah trek yang tidak ‘nyaman hati’ buat dilewati. Tapi kali ini jadi penutup yang seru, intens, dan menyenangkan.

2 responses

  1. Ping-balik: A Night at The Pasircongcot Trails, part1 « Harto Basuki

  2. seruuuu bacanya, serasa ikut gowes !!!!! ngos,,,ngosan keringet dingin juga, wikikikkkkk

    Agustus 7, 2010 pukul 8:11 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s