enjoy every cadence, every breath…

A Night at The Pasircongcot Trails, part1

Cerita pada blog post ini tidak ada foto. Night Ride memang paling susah motret. Kami yang sering ngobrol bareng di mailing list cikarangmtb@yahoogroups.com rame-rame mencoba trek baru di sekitar Cikarang. Cerita ini saya tuliskan persis seperti laporan genjot ke mailing list…

Malam minggu alias sabtu 270609 kemarin gak ada yg bawa kamera yah? Seinget saya kita cuma 7 kali berhenti, jadi gowes semalam bisa dibagi jadi delapan etape…

#0 Sebelum Start

Jumat siang badan sudah mulai terasa demam. Wah, saking penginnya nyobain Pasircongcot sampai demam panggung ala Suhu:IWO begini. Jumatan sangat kerasa tuh kalo badan ‘not delicious’, sdh mulai sms bbrp rekan. Hari itu saya minum parasetamol. Jumat malam sdikit begadang karena banyak banget bahan bacaan buat hari sabtu biar gak bengong di kelas.

Sabtu pagi demam tambah parah, wah, saya sudah mulai putuskan buat gak ikutan NR. Meskipun begitu satu tas saya isi perlengkapan NR, dengan asumsi pulang hari sabtu langsung ke AA Bike sapa tau agak mendingan. Ternyata hari Sabtu ini saya tidak cuma bengong, tapi terkantuk-kantuk dan hampir ketiduran di kelas karena minum Neozep yang mmg selalu bikin saya ngantuk.

kamisPICT5687

Sabtu malam ke AA Bike, makan malam sop seberang AA Bike. Entah karena makan sop, berkuah panas enak, badan kerasa mendingan. Kepala masih ‘ngliyeng’ dikit. Tapi OM Hanif saja bisa nanjak panas2 Sukamantri dalam demam kok, saya juga mau coba, diputuskan ikut dan mulai ganti kostum.

Om Irawan, yang megang heboh rencana di email buat berangkat jam 7 udah gelisah banget karena tim gak ngumpul2, apalagi berangkat… Cerita obrolannya sudah mulai ‘serem’, misalnya tentang karyawan yang bandel, karyawan yang direkrut karena main Volly, lawangangin Semeru, huaduh… Jangan2 kalo gak jadi NR kita2 yg di AA Bike dihukum suruh main volley, disikut saat basket, dihukum karena jadi karyawan bandel, dan jadi porter bawa carrier ke Semeru. Ampuuunnn…

Jam 20an akhirnya 14 pesepeda (kemudian jadi 13) ngumpul dan langsung start saat Om Awi dan Om Hera hadir. Sorry Om2, gak sempat hahahihi mengingat paha Om Ir sudah minta disiksa diatas sadel.

#1 AA-Sumur Gas

Karena kondisi badan saya masih keluar keringat dingin, saya sudah putuskan buat jadi sweeper yang baik. Beneran saya jalani dengan menghidupkan headlamp merah dan mulai kita melewati jalan aspal ke deltamas lalu masuk jalan beton lalu masuk ke jalan favorit gravel di perbukitan menuju ke “Sumur Gas”.

Herannya, sama persis dengan NR dua minggu lalu, kali ini semua peserta cenderung ngebut. Kayaknya gak ada yang mau ketinggalan dan kebagian dikejar anjing paling belakang. Atau gak mau digondelin sesuatu di belakang sementara gak ada lagi orang di belakang. Hiii… ngeri dan semua ngebut!! Body saya masih menyesuaikan diri, sisa pegal2 badan karena demam masih terasa. Kaki saya kayuhkan asal bisa mengikuti irama tim saja dulu. Jadi inget nasihat OM ardian di sms, “jangan dipaksakan om…”. Meski jauh dari sawah tapi memang tampak di sekitar kepala saya ada kunang-kunang hehehe… Di sekitar jalan terdengar bunyi alami dari berbagai macam serangga dan binatang malam. Eksotis banget. Semakin lengkap dengan trek batu kerikil licin yang cuma ada di daerah Sumur gas ini kalo di Cikarang.

Kalo gak salah cerita terakhir dari NR kolosal yang lalu ada yang pingsan misterius di sekitar sumur gas. Entah memang nantangin atau pengen membuktikan (saya berusaha menghibur diri kalau kita ber 14 bukan ber 13 yang bisa makin sial), eee… pak Clayton Boy team leader memilih tempat berhenti pas di area Sumur gas yang dekat kompleks kuburan.

Pak Irawan mencoba menghibur diri dengan nyetel mp3 dari hp-nya, “Enaknya denger the Cinnamon nih…” sementara sebagian besar anggota tim banyak terdiam. Mungkin masih mengatur nafas yang tersengal-sengal, sambil mengingat peristiwa pingsan, sambil melihat sebaran bintang dan galaksi yang memberikan pemandangan menakjubkan diatas kepala kita.

Di mata saya bintang2 terasa jauh lebih banyak dari biasanya, mungkin bintang2 tambahan ini hanya ada di dekat kepala saya dan hanya terlihat dari mata saya. Wuikikikiki….

“Pak Anto… aman-aman saja?” kata team leader. Beliau salah satu yang saya sms kalau saya lagi demam.
“Aman bathukmu” kata saya dalam hati sambil liat banyak bintang bertebaran. Wuikikikikiki….

#2 Sumur Gas-Per3an Cibeet (via Jembatan Gantung)

Entah karena terlalu excited akan meninggalkan area Sumur Gas dan kuburan didekatnya ini, yang masih saja sepi meskipun sudah didatangi 13 orang pesepeda, rasanya adrenalin segera naik setelah kita putuskan berangkat lagi. Dari bahasa tubuh rekan-rekan saya juga lihat ada kelegaan tersendiri kita lanjutkna ke etape#2.

Dibuka dengan nanjak gravel, lalu saatnya mencoba menikmati turunaaannnn… Saya penggemar tanjakan, tapi selalu sangat excited menikmati turunan menuju jembatan gantung. Tiba-tiba adrenalin mengajak saya buat menambah kecepatan, tapi ya gimana lagi, beginilah kalau singletrack dan beramai-ramai gowes, jadinya pasti susah menyalip. Padahal pas kondisi trek kering begini pasti enak banget buat ‘speedy decent’ wong jalannya juga mulus karena sering dilewati motor, hampir gak ada lobang2. Huenak tenan. Tiba-tiba semua kunang2 kok lenyap bersama angin kencang yang menerpa muka. Tanpa terasa tiba2 di depan sepeda sudah ada awalnya jembatan gantung. Huaduh. Saya langsung rem.

Emang inilah istimewanya night ride, pandangan kita hanya sampai 3-5 meter didepan, setelah itu gelap samasekali. Saya jadi ingat lewat trek ini pas pulang Cigeuntis survey yang lalu, jembatan banyak kayu2nya yang patah. Saya ambil langkah hati-hati dengan melihat bilah kayu lebih teliti.

Beberapa bilah kayu sudah diganti dengan bambu. Beberapa bilah kayu masih berlobang, tapi tidak seperti genjot cigeuntis lalu, kali ini tidak ada yang lobangnya dua bilah kayu. Setelah sekitar 5 meter hati-hati saya akhirnya genjot juga, toh ban tidak akan kecemplung meskipun bilah kayu hilang. Saya malah makin pelan genjotnya, dan sambil menikmati suasana dan pemandangan gelap ke arah sungai dibawah. Benar-benar layak jadi icon pesepeda cikarang ini tempat.

Setelah jembatan gantung kita melewati jalan di tengah persawahan, saya sudah ancang2 dikejar anjing, apalagi gara-gara genjot pelan dan nge-rem di jembatan tadi ketinggalan agak jauh di depan. Terakhir saya NR lewat sini bersama Om Asup kami dikejar anjing sampai dekaaaaatttt sekali. Sambil genjot saya sampai bisa dengar tarikan napas anjing yang mengejar. Tapi entah kenapa saat kami berbanyak ber13 begini itu anjing tidak muncul!

Seperti biasa keluar dari jembatan gantung menuju Cibeet kita ditutup dengan beberapa tanjakan dan turunan seru menjelang kampung sebelum akhirnya ketemu jembatan kecil lalu jalan aspal, bendungan cibeet, lalu berhenti di warung dekat pertigaan kaligandu.

#3 Cibeet- Pasircongcot- Per3an

Meskipun sudah lewat Sumur Gas dan jembatan gantung yang sudah jarang peradaban, namun kita masih terasa ada di peradaban karena masih sering bertemu warung. Track leader sudah mengabarkan kalau ini adalah warung terakhir karena ke depan kita akan masuk area ‘warungless’. Sayangnya kemaleman, jadi warung terakhir ini pun sudah tutup, meskipun akhirnya bbrp dari kita masih sempat isi air di warung tak jauh dari warung tutup ini.

Tiba-tiba terdengar bunyi gaduh. Rupanya inilah salah satu bukti betapa kerasnya gemblengan di PSI, perguruan suhu:Iwo. Rekan-rekan PSI ini sedang menelepon rekan seperguruan yang banyak alasan gak ikutan NR…
” Gak percaya kalau yang ikutan banyak? ini ada 13 orang…”
” Udah… kalo buat keliling kompleks doang mending sepeda dijual aja…”

Buset!!
Pantas saja ilmu mereka segera cepat terdongkrak wong gemblengan tipe spartan begitu. Ampuuuunnnn…

Sementara di area lain tiba-tiba ada yang teriak gembira karena dapat sms yang melegakan. SMS yang memungkinkan buat genjot sampe larut malam. Hehehe… Agak miris juga karena tadinya saya terusterang akan ikutan balik kanan kalau si Om ini juga balik kanan dari Cibeet.

Keringat dingin mengucur, tapi genjot NR tetap dilanjutkan.

Setelah melewati pertigaan kaligandu belok kanan sampai di puncak sebuah punggungan tanjakan lalu kita segera berbelok ke kiri. Inilah yang namanya desa Pasircongcot. Segera kita disambut dengan tanjakan yang cukup curam, jalan aspal rusak, lalu dilanjutkan dengan tanjakan dan tanjakan berikutnya meliuk liuk di jalan campuran doubletrack tanah dan singletrack bekas motor.

Lama kelamaan kita masuk ke kegelapan malam. Gelap asli gelap. Baru kemudian saya sadar setelah bertemu rumah-rumah (yang sangat jarang terjadi ketemu rumah apalagi kampung) kalau daerah ini belum teraliri listrik. Pantesan gelap banget. Semakin gelap, para peserta NR semakin tidak diberi pilihan lain kecuali menggenjot dengan kecepatan mengikuti kecepantan leader. Waduh… Om Ir dengan bercanda guyon mengomentari kaos kutung tanpa lengan saya, “Wah tok, kalo pake kaos kayak gitu besok aku langsung kerokan…” Hmmm.. benar juga!!

Sementara angin makin kencang, gowesan Om leader makin cepat melahap medan rolling meskipun banyak nanjaknya, semua orang terdiam hampir tanpa suara. Hanya terdengar suara ban melindas trek dan sesekali bunyi RD berpindah jalur. Beberapa kali juga terdengar tarikan dan sebulan napas terengah-engah menyelip diantara keheningan NR.

Ada yang aneh! Ini orang belasan genjot bareng kok gak ada suara samasekali. Sampe saya gak tahan, diatara keluarnya keringat dingin akibat demam dan angin, saya tereak-tereak…
“Oiiii… ini genjot sepeda apa rapat sih? serius banget sepedahannya? Gak ada suaranya samasekali”
Mulai deh itu terpancing fraksi ngos-ngos-an untuk segera berhenti dan menyedot beberapa isapan rokok dan air minum di sebuah pertigaan. Sementara setengah tim tetap ngebut meneruskan genjot, “Nanggung, berenti di bawah saja didepan” kata yang gak berhenti.
“Ampuuuunnn… genjotnya kesetanan semua, gak ada yang pelan!”

Peta Delta dsk

#4 Per3an- Kampung Lembah “Taman Mekar”

Ini trek cukup pendek banget, saya jalani bersama separuh belakang tim NR malam itu. Masih setia sebagai sweeper. Meskipun pendek, tapi bagian ini salah satu favorit karena kita melewati 90% singletrack. Vegetasi juga tampak rimbun karena kita masuk ke dalam kampung dan kadang masih berjalan di bawah rerimbunan pohon bambu.

Salah satu sensasi Pasircongcot Trails NR adalah kegelapan. Bagaimana jika sebuah area yang sangaaattt luas masih ada di jaman kegelapan. Belum ada listrik samasekali. Setiap rumah bagian luar hanya diterangi sebuah lentera di pojokan rumah atau di dekat pintu masuk. Kampung lembah “Taman Mekar” ini adalah kampung paling rame dari semua area yang kita lewati. Jumlah rumah di sepanjang jalan kampung ini yang kita lewati ada sekitar 10-15an rumah. Kebayang kan areanya seperti apa kok kampung dengan 10-15an rumah saja terasa ramai?

Di sudut-sudut kampung kadang headlamp yang saya taruh di helm menatap sosok hitam berbentuk manusia. Hanya sosok di kegelapan dan pantulan sinarmata anjing yang menyertai saja yang menandakan keberadaan bapak-bapak yang, seperti kata Om Hanif, mungkin baru kali ini dalam seumur hidup beliau-beliau tinggal di kampung ini, belasan orang pesepeda dengan lampu2 tertempel di kepala dan sepeda lewat tengah kampung mereka di menjelang tengah malam.

“Punten pak….”
Cuma itu yang bisa saya katakan. Kadang dijawab kadang juga tidak. Kalau tak dijawab mungkin mereka masih ragu dan sedang ucek2 mata keheranan lihat kita-kita.

Saya pun sebagai sweeper yang tidak baik (gimana mau jadi sweeper wong jalan aja gak tau) akhirnya malah jadi ketinggalan jalan dan jadi sendirian di sebuah persimpangan jalan. Setelah sempat panik, lalu melihat beberapa pasang mata bersinar memantulkan cahaya lampu headlamp saya, kirain anjing, kalo beberapa anjing menghadang saya sendirian in the middle of nowhere gini, wah mampus juga saya, tapi ternyata kambing dan anak-anaknya… amaannn… Saya coba telepon Om Hanif (ada sinyal!!) tapi gak sampe 10 detik putus hubungan. Lalu akhirnya mengambil ilmu yogieism, diam seribu bahasa dan pasang telinga, akhirnya dari jauh kedengaran tuh berisiknya orang2 kota gak tau adat di tengah kampung yang gelap gulita dan sepi seperti ini. Berbekal suara, saya ketemu juga dengan rombongan kembali. Lega juga bertemu manusia kembali. Saya kehilangan jejak sekitar 200m, jauh juga menebak-nebak di antara singletrack yang menerobos rumah dan halaman orang. Liat jenis trek-nya, saya jadi inget Om Adji… Kalo genjot pasti ada acara nerobos jemuran.

“Om Anto sudah kelihatan..?” Hmmm… The Clayton Boy Track leader ternyata masih ingat sama sweeper nya yang lagi demam berkeringat dingin, tertinggal, dan gak tau jalan.

akan berlanjut ke bagian kedua…

One response

  1. Ping-balik: A Night at The Pasircongcot Trails, part2 « Harto Basuki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s