enjoy every cadence, every breath…

Papandayan-Arjuna-Cikajang Epic Ride, part 3

Post ini adalah bagian 3 (bagian terakhir) dari dua bagian sebelumnya
bagian pertama
bagian kedua

===

Di Cileleuy kita berubah arah. Kalau lurus kita ke arah Pangalengan turun terus, kita berbelok ke kiri, ke arah Arjuna/Panawa. Perjalanan mengitari sisi selatan Gn Papandayan mulai dari sini.

paday_090531_PICT5494

Medan kemudian masih cenderung menurun ke arah selatan, meskipun sudah mulai ada tipe jalan yang mendatar memutari bukit dan punggungan. Jalan menuju Panawa masih berkarakter makadam juga, dengan campuran antara kebun sayur, kebun teh, dan hutan di kanan kiri jalan. Jalan tampak habis kena hujan. Basah dan dibeberapa area menjadi kubangan air dan lumpur.

paday_090531_PICT5495
paday_090531_PICT5501
paday_090531_PICT5502
paday_090531_PICT5504

Setelah dua jam-an genjot makadam dari Cileleuy, akhirnya kita menemui sebuah warung untuk sarapan di Panawa. Sudah jam 11 siang. Jadi kita yang kelaperan mulai makan nasi timbel lauk ayam, telur asin, dll (luengkap banget untuk ukuran warung2 disini). Nyam nyam… Perut keroncongan diisi sarapan yang nyampur sama makan siang.

paday_090531_PICT5509
100-4970

Sebuah papan petunjuk arah memperlihatkan kalau Pangalengan 41km dan Cikajang (rencana finish kita) 30 km di arah yang berlawanan. Ketinggian area Panawa ini adalah sekitar 1200m dpl.

Perut kenyang, tak perlu heran kalau pemandangan jadi lebih terang, mata memandang tidak burem dan berkabut lagi hehehe…

Kata Om Hanif, the track designer, “Ini dia ujian yang sebenarnya, dari Panawa ke Curug Orok”. Ujian yang sebenarnya karena inilah jalan memutar yang sebenarnya dari bagian selatan Gn. Papandayan. Kita akan melewati beberapa punggungan, yang artinya akan menuruni bukit menuju lembah dan menaiki bukit terus menerus secara berulang. Sementara di kepala saya ter-ngiang petunjuk arah di jalan “Cikajang 30km”. Simple thinking, mental saya siapkan untuk 30km menjalani medan ini.

Tim berangkat dengan energi baru karena habis makan. Kita disuguhi turunan makadam yang meliuk-liuk diantara perkebunan teh. Turunannya benar-benar panjang, karena punggung dan paha saya sudah mulai *senut2* akibat tadi saya forsir dari Lawang Angin mengimbangi segerombolan full-sus-er, akhirnya saya putuskan untuk mengurangi kecepatan, terutama di turunan. Segera saja tiga full sus meninggalkan saya di balik pengkolan.

Cuaca cerah, namun mulai tampak awan menggelayut. Beberapa kali terdengar bunyi petir di kejauhan. Wah, kalau tambah hujan bakal tambah berat ini perjalanan. Hati saya berdoa agar hujan jangan turun di medan seperti ini.

Benar saja, setelah melewati turunan makadam yang panjang kita segera disambut sebuah jembatan di lembah, lalu tanjakan manis segera menghadang di depan. Agak susah juga menyesuaikan diri dengan pedal baru, karena pedal baru ini cenderung kecil dan sempit, sehingga beban ke ujung telapak kaki jadi lebih terpusat di area yang kecil. Otot-otot telapak kaki saya masih beradaptasi dengan jenis pedal ini.

paday_090531_PICT5511
paday_090531_PICT5512

Tanjakannya benar-benar panjang dan sambut bersambut. Memang tidak ada yang curam benar, tapi batu-batu makadam yang kadang dialiri air dari hutan di sebelah kiri jalan membuatnya menjadi licin. Turunan licin, tanjakan licin. Saya berusaha sabar mencari irama gowesan saya sendiri. Irama paling enak yang tidak perlu melewati ‘lactate threshold’.

Akibat menjaga irama saya sendiri, yang cenderung pelan tapi pasti, saya segera tidak lagi bisa melihat tiga rekan yang didepan. Untungnya saya dihibur oleh medan di sebelah kiri jalan yang merupakan hutan dan medan di sebelah kanan jalan yang kadang hutan kadang kebun teh. Setelah berjalan sektiar 3km dan menjalani 2-3 siklus bukit-lembah-bukit akhirnya saya ketemu irama yang enak. Badan saya juga sudah mulai bisa menyesuaikan diri dengan goncangan medan makadam. Untuk meredam goncangan saya hanya berprinsip sederhana, di setiap turunan, berusaha selalu menekuk tangan dan kaki, agar selalu ada ruangan bagi tangan dan kaki untuk meredam efek getaran dan kejutan medan.

100-4982

Akhirnya di ujung sebuah tanjakan saya bertemu Om Hanif. Beliau tampak sedang dekat ke semak-semak, saya lanjutkan perjalan karena udah dapat rythm yang enak. Di beberapa area segera tampak kabut semakin tebal dan membuat pemandangan jadi indah dan eksotis. Campuran hutan, kebun teh, pohon pohon besar, kicau burung, bunyi-bunyi hewan hutan, kabut, pohon besar di samping jalan. Wuiiihhh… Tak terkatakan deh.

Hati agak lega ada Om Hanif di belakang saya, Om Budiman dan Om Indra gak tau deh udah seberapa jauh meninggalkan kami. Sambil menikmati pemandangan saya terus jaga ritme enak yang saya sudah dapat.

paday_090531_PICT5521

Disini serba salah. Kalau tidak berhenti dan ambil foto, kok ya kebangetan, pemandangan alam-nya indah banget dan banyak spot menarik. Tapi kalo berhenti dan ambil foto, segera kita akan kehilangan ritme gowes yang sudah huenak dan cukup lama ketemunya ini. Tak terhitung berapa pasangan turunan ke lembah dan tanjakan ke bukit dari belokan ke belokan yang sudah kita lalui. Mulai terasa kelelahan di badan saya. Tidak seperti biasanya hanya paha saja yang menjerit, tapi kali ini punggung juga ikut menjerit.

Tergoda untuk berhenti dan mengistirahatkan otot2 sejenak, tapi saya lihat cyclo masih menunjuk dibawah 6km dari Panawa. Lagi deh, ingat bahwa medan ini akan berlangsung selama 30km. Wah, saya tahan2in deh. Saya ambil keputusan minimal 10 km lah baru berhenti sambil terus menjaga napas dan ritme.

Sebuah tanjakan panjang menjelang 8km dari Panawa saya akhirnya berketetapan. “Nanti setelah belokan di depan, perduli amat, pokoknya saya mau berhenti”. Dalam hati saya bilang, lumayan lah sudah 8km genjot makadam naik turun terus.

Dasar memang rejeki. Di balik pengkolan tempat saya bertekad berhenti tampak Om Indra sedang duduk di jalan batu, sepedanya tergeletak. Asiiikkkk… ada teman.

paday_090531_PICT5522
paday_090531_PICT5525

Saat mulai istirahat matahari masih terasa sengatannya. Tempat ini ketinggiannya sekitar 1200m dpl, jadi sebenarnya rata dengan Panawa, hanya memang naik turun terus, rolling bbrp puluh-seratusan meter.

Sambil obrol2 saling menceritakan perasaan masing-masing dikocok-kocok jalan makadam dengan medan naik turun begini, tambah seru dengan semilir angin dingin sejuk dan suara hewan-hewan hutan dikejauhan. Tak sadar rupanya kabut mulai datang makin tebal. Tiba-tiba saja suasana di sekitar kita beristirahat, pinggiran jalan makadam dengan pohon-pohon besar di pinggir jalan, lalu kebun teh sepanjang bukit dan lembah, memunculkan pemandangan yang menakjubkan. Segera kita semua sepakat bahwa trip ini memang luarbiasa.

paday_090531_PICT5528
paday_090531_PICT5529

Semangat Om Indra segera bergejolak, mungkin juga bliau udah lama istirahat nungguin kami berdua, segera Om Indra berangkat duluan. Saya sempat ambil foto saat Om Indra berangkat, wuiiihhh… fotonya biasa kita lihat di kalender-kalender doang kok sekarang mata kepala sendiri lihat.

Tak berapa lama pun kami berangkat. Jalanan setelah kita istirahat ternyata sudah tidak terlalu banyak rolling. Cenderung lebih flat, namun tetap jalan makadam yang meliuk-liuk mengikuti bukit dan lembah.

Sempat saya ambil foto Om Hanif the Clayton Boy saat gowes dalam kabut. Wuiihh… buat kita-kita yang setiap hari ada di cuaca Cikarang yang poanas plus matahari jarang tertutup awan, ini benar-benar berbeda!! Aduh saya kehabisan kata-kata. Pokoknya indahnya pemandangan membuat semua rasa lelah perjalan kita seharian terbayar lunas!

paday_090531_PICT5533
paday_090531_PICT5536

Hanya sekitar 5km dari tempat istirahat, karena agak flat saya enak bisa sedikit sprint, akhirnya bertemu dengan peradaban. Di balik sebuah belokan ada desa pekerja kebun teh, dan ada jalan aspal!! Akhirnyaaa….

paday_090531_PICT5542

Kita sempat minum teh panas tawar dan beli biskuit di sebuah warung kecil. Waktu mau bayar teh-nya diketawain sama Ibu penjaga warung. Hehe… baru sadar kalau warung itu berdiri di tengah kebun teh. Yang jelas setelah dari pagi buta genjot baru ini dapat minum panas lagi. Rasanya dada seperti disiram air hangat. Huenak banget. Di saat seperti ini, segelas teh panas tawar saja bisa memberikan kenikmatan luarbiasa, padahal kalau hari biasa kita sering mengeluh kalau terlalu manis atau sedikit kurang manis.

paday_090531_PICT5543

Perjalanan selanjutnya adalah onroad jalan aspal ke Curug Orok sekitar 5km juga. Musuhnya sekarang bukan lagi kabut dan perut lapar, tapi mata mulai mengantuk. Semalam kami kan hanya tidur sekitar 3 jam.

paday_090531_PICT5552

Pemandangan Curug Orok memberikan kesegaran. Lumayan bisa merebahkan punggung di balai-balai sambil menikmati keindahan Curug ini. Saya sempat terlelap sebentar sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan sekitar 12km ke arah Cikajang. Onroad dengan tanjakan-tanjakan panjang.

Alhamdulillah sampai di Cikajang sekitar jam 4 sore. Suasana cuaca sudah mulai sangat teduh cenderung gelap. Finish juga kita. Saya finish terakhir karena di ujung tanjakan Cibadak kena kesemutan, jadi harus berhenti.

peta

Trip yang sangat berkesan dan melelahkan
panjang trip 51.8 km
cycling time 4jam 46mnt
avg speed 10.8 km/j
max speed 42 km/j
Start: Terminal Kawah Papandayan, Cisurupan, Garut
Finish: Cikajang, Garut

Trip member:
Om Hanif, track designer http://hmarga.multiply.com
Om Indra, rekan Bandung http://ianggara.multiply.com
Om Budiman, rekan Bandung/Sepedaku.com
Antoix, https://antoix.wordpress.com/

This trip supported by:
AA Bike; fullbike, accessories, spareparts, service, bike event organizer
Bikewear; a hardcore biking apparel
Bikewear…
logo bikewear

9 responses

  1. Ping-balik: Papandayan-Arjuna-Cikajang Epic Ride, part 2 « Harto Basuki

  2. SAYA SENANG BISA MELIHAT DESA SAYA D INTERNET SAYA ASLI WARGA DESA PANAWA SEMOGA SAJA DENGAN ADANYA BERITA TENTANG DESA SAYA PEMERINTAH BISA MEMABNGUN AKSES TRANSPORTASI YANG LEBIH BAIK LAGI AMIEN

    Januari 5, 2010 pukul 10:25 am

  3. hendi

    kang iraha bade ka arjuna dai tolong posting picture yang baru dong

    Mei 19, 2010 pukul 9:45 pm

  4. Gila saya aja pake motor trail dari Cibatarua ke Cikajang 5 jam. apalagi pake sepeda.

    mantap kang Anto ini

    September 23, 2010 pukul 5:14 pm

  5. Rizki Herdyan

    kang kl rute itu dr awal sampe akhir ada yg bisa di lalui pake motor trail ga? kan ga ungkin gotong2 motor….

    Maret 7, 2011 pukul 3:21 pm

  6. jashujan

    Ini baru the real epic ride …
    Keren banget om Anto treknya …. tapi panjang trek yang lebih dari 25 km itu yg bikin getir hehehehehehe .. Saluuut

    Mei 31, 2011 pukul 10:06 pm

  7. Ping-balik: Genjot sambil memotret, Trip NONA Papandayan « @antoix

  8. Anonim

    nuhun ah

    Januari 18, 2014 pukul 9:52 pm

  9. ingsa alloh aku pengen mengembangkan wisata garut supaya berkembang. dan parawisata yang datang dari timur tengah. saudia arabia ke indonesia ini cuman ke puncak bogor saja akan tetapi wisata garut sangan luas dan pemandangannya lebih indah ,,,,,,,,,,,,,,,dari puncak bogor tapi aku ini harus bisa kerjasama dengan masarakat garut supaya kota garut bisa maju dan berkembang ,,,,,,,,,,,,

    September 20, 2014 pukul 7:50 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s