enjoy every cadence, every breath…

Papandayan-Arjuna-Cikajang Epic Ride, part 2

Ini adalah bagian kedua dari tiga post trip ini
bagian pertama disini…


Hah?
Jalan makadam?
Betul Om… Ada jalan makadam di ketinggian 2200+ m dpl.
Indah banget, trek mengingatkan saya pada Logardi Garda, ada jalan diatas awan. Karena berkabut, kita tidak bisa lagi melihat seberapa dalam itu jurang akan berakhir. Pokoknya genjot jauh-jauh dari pinggir tebing saja.

paday_090531_PICT5371
paday_090531_PICT5381
paday_090531_PICT5385

Tak lama kemudian kita harus turun ke sebuah lembah. Disini sudah ada vegetasi lagi meskipun banyak pohon bekas terbakar hebat (akibat letusan tahun 2000-an?). Sudah lihat yang hijau-hijau, disini suasana hati agak adem. Sampai bertemu sebuah sungai kita foto narsis lagi disitu.

100-4887
paday_090531_PICT5386
paday_090531_PICT5388
paday_090531_PICT5406
paday_090531_PICT5411

Narsis harus segera diakhiri. Acara selanjutnya adalah: panggul sepeda.
Kita segera memasuki bagian paling berat dari trip ini.

Singletrack berubah menanjak bebas dengan kemiringan 30-45 derajat. Sementara yang disebut trek lebih mirip sebuah selokan air, sempit. Sepeda mau kita tuntun susah karena kita tidak ada tempat berpijak, sepeda kita dorong di depan stang jadi jauh, pilihan sepeda dipanggul kok berat dan juga keseimbangan susah. Benar-benar bikin frustasi jalan ini.

paday_090531_PICT5412
paday_090531_PICT5429

Om Hanif mencoba juga teknik mendorong sepeda dengan ban belakang saja yang ada di tanah. Tapi susah juga, selain titik berat ke badan kita lebih, juga ketemu batu-batu di trek. Wah. Ini trek 2×50 meter rasanya seperti puluhan kilometer saja.

paday_090531_PICT5431

Dan jangan lupa, udara tipis oksigen bikin kita mudah lelah.

Setelah berjuang selama setengah jam, kita sampai juga di jalan makadam (lagi). Setengah jam yang rasanya seperti ber jam-jam. Serius.

paday_090531_PICT5438
paday_090531_PICT5442

Ketemu jalan makadam yang gowesable hati kita riang benar. Meskipun nanjak, kita coba genjot juga. Akhirnya ada yang bisa digenjot beneran.

Tapi segera situasi memberikan rasa yang aneh. Rasanya tanjakan tidak curam-curam amat, rasanya ini tanjakan makadam yang sudah sering kita nikmati, kok hosh-hosh cepat sekali otot-otot terasa lemas ya?

paday_090531_PICT5452

Perjalanan genjot ke ‘Lawang Angin’, titik tertinggi trip ini 2300an m dpl, kita jalani dengan susah payah genjot campur dorong sepeda. Baru kemudian waktu saya sadar saat ngobrol istirahat makan siang, disini oksigen tipis, maka kekuatan kita berkurang cepat sekali. Ooo… Iya ya. Tapi terusterang tak menyangka akan sedemikian drastis akibatnya.

paday_090531_PICT5455

‘Lawang Angin’ adalah sebuah celah, dimana kita berpindah dari sisi Gunung Papandayan yang menghadap Garut ke sisi yang menghadap Bandung. Inilah celah dimana trip selanjutnya adalah jalan menurun menuju Pangalengan lalu Bandung.

Keputusan yang cukup susah dibuat untuk tidak berbelok dulu ke Pondok Saladah. Pondok saladah adalah sebuah padang tempat kemping yang ada banyak pohon edelweis, sehingga sepeda kita bisa berfoto di dekat edelweiss. Kita putuskan untuk langsung turun karena perjalan hari ini dirancang untuk turun dan mengitari sisi selatan Gn. Papandayan yang kita belum tau medannya dan tidak bisa memperkirakan waktu tempuh sebenarnya.

Pilihan yang sulit tapi harus diambil.

paday_090531_PICT5456

Melewati warung kosong kita tinggalkan segerombolan anak muda yang semalam kemping disitu. Sorotan mata mereka berkata, “Gila yaa… naik sepeda ke sini??”

Trek selanjutnya adalah turunan makadam yang tak ada habisnya.
Tak ada habisnya? Benar! Dari ketinggian 2300m sampai akhirnya mencapai 1200m kita turuuuunnnnnn…. terus dan 98% medan adalah batu makadam! Mampus deh tuh yang pegang hardtail!!

Trek menurun ini sangat nostalgik buat saya. Januari lalu saya, Om Indra dan Om Budiman, tiga dari empat peserta trip ini, menjalani jalan menanjak dari arah sebaliknya. Waktu itu kami memakan waktu seharian sampai jam 2-3 siang sampai di terminal Papandayan dari Cileleuy.

Kali ini?
Jam 9 pagi kita sudah sampai di rumah Pak RW di Cileleuy (desa terakhir menuju Papandayan dari arah Pangalengan).

Excited banget menuruni jalan sampai Cileleuy, saya jadi teringat susah dan beratnya medan sebaliknya lima bulan lalu, sekarang saatnya mengagumi diri sendiri dan sekaligus nostalgia.

Di awal trek menurun vegetasi jenisnya masih subtropis, kita melihat tipe2 pohon yang tidak pernah kita lihat di ketinggian normal. Disertai kabut masih menyelimuti. Om Hanif the Clayton Boy tampak sangat menikmati turunan makadam ini dengan rem hidrolik dan sepeda full suspension-nya…

paday_090531_PICT5463

Di bagian tengah turunan ke arah Cileleuy ini vegetasi segera berubah menjadi hutan dataran tinggi biasa. Kabut juga mulai hilang. Cuma karena basah sekali iklimnya bebatuan jadi sebagian licin dan berlumut. Mulai terjadi akrobat-akrobat terutama oleh saya yang ber-hardtail.

Om Indra dan Om Budiman udah jauh turun entah dimana, meskipun setiap belokan selalu berhenti menunggu. Saya segera berperan jadi sweeper yang baik.

paday_090531_PICT5469

Segera jalan berubah ke singletrack. Sementara kiri kanan trek adalah area hutan yang mulai dimanfaatkan menjadi kebun tumpangsari. Yang disebut trek adalah sebuah jalan mirip selokan yang lebarnya pas segede ban motor. Logistik (bibit, panen, pupuk) di area ini digunakan motor trail modifikasi yang ban-nya dililit rantai untuk untuk meningkatkan grip.

paday_090531_PICT5476

paday_090531_PICT5477

Tak berapa lama kita memasuki area kebun teh. Lanjut dengan turunan makadam sampai akhirnya kita mencapai desa Cileleuy. Gagal mencari sarapan di desa ini, karena pemilik warung nasi sedang belanja ke pasar (inget daerah ini remote banget, 30an km dari Pangalengan). Sementara sudah mulai tersibak kabut, dan sisi selatan Gn Papandayan, area yang akan kita tempuh sudah mulai terlihat.

paday_090531_PICT5487

Cerita trip ini akan berlanjut ke bagian 3

foto-foto lebih banyak ada di
http://antoix.multiply.com/photos/album/4/
http://hmarga.multiply.com/photos/album/21/
http://ianggara.multiply.com/photos/album/35/

Laporan trip ini didukung oleh Bikewear…

logo bikewear

3 responses

  1. Ping-balik: Papandayan-Arjuna-Cikajang Epic Ride, part 1 « Harto Basuki

  2. Ping-balik: Papandayan-Arjuna-Cikajang Epic Ride, part 3 « Harto Basuki

  3. mantap …………

    Februari 7, 2010 pukul 10:05 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s