enjoy every cadence, every breath…

CikarangTrek! – XC Curug Cigeuntis

Trip ini dilakukan seminggu sebelum acara XC Cigentis 9 Mei 2009.

Start Point: Kecamatan Pangkalan, Karawang Selatan
Start point ini menyediakan tempat parkir yang sangat luas. Selain di depan kantor kecamatan sendiri, kita juga bisa parkir di lapangan sepakbola di depannya.

geuntis090503-024

Bagian Pertama: Perbukitan Hutan Bambu

Dari titik start kita gowes onroad ke arah Loji, segera disambut dengan tanjakan yang cukup panjang. Seperti jaman kuliah dulu dapat ujian awal saja sebelum masuk praktikum di lab. Kita segera diuji kesabaran dan mental. Jika terlalu semangat memulai trip dan gowes powerfull bisa-bisa paha dan betis segera menjerit-jerit. Itung-itung pemanasan, tanjakan pertama ini pasti susah dilupakan, seolah memberi isyarat trek ini selanjutnya memang lebih banyak tanjakan.

Setelah melewati SMP Pangkalan (saya dan Om Sigit gowes dari Cikarang Baru ke SMP pangkalan ini lewat jalur pepaya perlu 1jam 15mnt), kita disuguhi sedikit turunan dan segera kita akan masuk ke trek sebenarnya. Masuk ke hutan bambu sebelah kanan. Jika sempat melihat dari atas ketinggian ke medan di sebelah kanan jalan raya ke Loji memang kita akan segera melihat hampir semua area kebun tertutupi oleh pohon bambu. Pohon bambu adalah rajanya disini. Di mana-mana pohon bambu dan mungkin memang dari dahulunya daerah ini adalah full hutan bambu.

geuntis090503-036

Disambut turunan terjal aspal rusak kita segera memasuki jalan sirtu yang meliuk liuk melewati tengah hutan bambu. Rasanya semua panasnya paha saat nanjak onroad beberapa saat lalu segera terlupakan. Pepohonan bambu ini membuat segalanya teduh dan adem. Selanjutnya medan perbukitan yang teduh ini segera menanti kita. Naik bukit di jalan sirtu, kiri kanan hutan bambu, masuk kampung lalu persawahan, disambut hutan bambu lagi dst dst. Sensasi hutan bambu seolah tak bosan-bosan mendera kita. Suara khas daun bambu bergesek ditiup angin dipadu suara ban kita melibas trek sirtu dan tanah (kadang berlumpur) dilengkapi hosh hosh suara napas kita pas nanjak dan teriakan puas kita saat turunan benar-benar memanjakan kita sepanjang 4-5km.

geuntis090503-050

Untuk teman-teman sekitaran Cikarang yang seperti saya, merasakan hutan bambu di dekat kolong tol itu indah dan adem, pasti menyukai trek ini sepenuhnya. Medan sendiri perpaduan antara jalanan pasir batu, jalanan tanah, beberapa tempat makadam, dan di banyak tempat tanah biasa yang jika habis hujan tentusaja berlumpur.

geuntis090503-051

geuntis090503-054

Sensasi kedinginan perkampungan perbukitan bambu segera berakhir setelah kita menemukan jalan aspal mulus. Terasa saat kita melewati aspal mulus ini pantulan panas dari aspal segera menerpa muka dan tubuh kita. POANAS! Ambivalen, karena setengah dari hati kita juga agak lega, lewat jalan mulus lagi, ban berputar sambil lumpur bekas masuk kubangan tadi segera terlempar ke segala arah termasuk ke muka kita.

geuntis090503-055

Aneh juga ya. Lumpur tuh kan berkesan kotor dan gelap. Tapi kok saya merasakan sensasi unik yang justru saya cari dan saya kangen buat ketemu lagi, saat sedikit cipratan lumpur menempel di muka dan bau tanah menusuk ke hidung. Ini nih yang saya cari…

Bagian Kedua: Nyeberang Sungai

Sebenernya bagian ini lebih tepat disebut Desa Philips ke Kampung Waru. Entah kenapa lebih enak disebut ‘Desa Philips’ meskipun itu bukan nama sebenarnya. Tampaknya desa ini adalah area CSR dari perusahaan elektronik Philips, tampak dari gerbang gapura masuk desa ini ke arah kanan dari jalan mulus Cariu-Loji.

geuntis090503-067

Begitu masuk desa segera kita disuguhi medan yang berbeda samasekali dari bagian sebelumnya. Daerah ini lebih gersang dan terasa lebih panas. Sangat mirip Cikarang. Jalan desa-nya kembali lagi meliuk liuk dan naik turun rolling perbukitan, mirip banget Cikarang. Saat ban kita menggilas jalan, bunyi yang dihasilkan khas sekali, karena jalanan ditutup oleh batu-batu kecil dan lepas. Cukup menyulitkan saat medan menanjak karena bisa ‘spin’ ban belakang kita, cuma saat turunan batu ini suaranya khas dilindas ban. Dan feel-nya juga berbeda karena jalanan jadi agak licin.

geuntis090503-078

Menikmati beberapa gundukan bukit tanjakan kita segera dikejutkan oleh pemandangan sungai luas, Sungai Cigeuntis, dengan pemandangan alam di seberang sungai, berupa bukit-bukit indah kaki Gunung Sanggabuana. Fuiihh… kayaknya lupa deh udah genjot panas-panas mendekati 10km offroad. Pemandangan perbukitan itu benar-benar membius kita untuk berhenti berlama-lama dan menikmati dari sebuah warung kecil di pinggir sungai. Keindahannya tak tertuliskan dengan kata deh. Harus lihat sendiri.

Pemandangan alam memberikan hadiah dan kebahagiaannya tersendiri untuk kita yang biasanya lihat plaza JB lagi plaza JB lagi. Namun hati kecil juga jadi gemetar lihat medan di seberang sungai yang segera kita lewati ini. Bukit-bukit (pinnacles) bermunculan dan tampak kemiringan yang siap menelan siapapun yang ingin menikmati sensasi CikarangTrek! Curug Cigeuntis.

geuntis090503-093

Setelah istirahat, hahahihi dan foto-foto sebentar, segera kita turun ke arah sungai. Kaget juga kita segera disambut arus air sambil melewati medan berbatu lepas. Unik sekali dan bikin kangen. Beberapa kali ban kita meleyot ke kiri dan kanan, slip dan licin. Kombinasi yang kompak batu2 kecil bulat segeda telor puyuh, telur ayam, sapai segede bola volley. “Drap.. drap.. drap…” batu bulet lepas itu bergerak seperti bola2 di tempat mandi bola anak-anak kita. Menjaga keseimbangan di tengah licin air mengalir benar-benar memberi sensasi tersendiri.

geuntis090503-094

geuntis090503-101

Lebar sungai ini sekitar 50-70meter. Tampak di beberapa area ada penambang tradisional batu dan pasir. Batu-batu bulat yang bisa menggelinding dialiri air ini kalau di Cikarang dijual per plastik untuk menghias taman. Hehehe… Disini ada jutaan meter kubik di sepanjang sungai. Sepatu basah oleh air sungai. Sepatu basah bukan karena kita menapakkan kaki ke air saat menyeberang (horee… saya sukses spin terus tanpa menjejakkan kaki di air!!), tapi di beberapa titik kedalaman air memang mencapai hub sehingga pedal kita berputar secara rutin masuk ke dalam air. Duingin2 huenak.

geuntis090503-118

geuntis090503-127

Segera setelah kita lewat sungai kita disambut tanjakan-tanjakan sambut menyambut seperti kompakan memperkenalkan kita dengan Gn Sanggabuana. Panas mulai menyengat. Tanjakan-tanjakan jalan batu dan makadam segera membuat jantung dan paru-paru kita seakan segera pecah meletus di dada. Paha dan betis kita seperti diiris diuji oleh semangat dan rasa penasaran kita melewati setiap tanjakan.

Alhamdulillah akhirnya kita ketemu jalan rata, persawahan dan masuk kampung. Fuih!! Ada yang jual teh botol dingin lagi…

Ini adalah area sekitar Kampung Waru. Dari kampung ini kita ada dua pilihan jalan. Jika ke kanan, disambut serentetan tanjakan manis, cantik, manja dan genit. Siap mengajak kita hosh-hosh menguji kesabaran dan kekuatan otot. Sementara kalau kekiri jalan relatif lebih landai menuju pasar Loji dan langsung onroad nandjak ke tempat kawasan Villa Haji Agus.

Bagian Ketiga: Tanjakan Kampung Waru

Kampung waru sebenernya bukan kampung yang istimewa, semua jalan-nya adalah batu makadam dan aspal rusak. Yang bikin istimewa adalah, kemanapun kita bertanya kepada penduduk setempat, jawabannya kurang lebih sama, jarak kampung Waru “dua kilometer lagi”. Jawaban yang jujur sekaligus menyesatkan. Mungkin kalau naik motor tidak pernah melihat odometer, tapi yang jelas “dua kilometer” yang disebutkan tadi bisa menjadi genjot ber-jam-jam tidak sampai sampai. Jadi jangan tanya jarak di sini, jawabannya “dua kilometer’, tidak dikenal jawaban yang lain.

geuntis090503-135

geuntis090503-142

Tanjakan Kampung Waru langsung menuju Villa H. Agus tidaklah tajam sebenarnya, hanya memang medan-nya batu makadam campur tanah dan sirtu. Juga salah satu yang menguji isi dada dan kekuatan betis serta mental kita adalah tanjakan yang sahut menyahut, sambut menyambut, susul menyusul. Habis yang satu segera disambut yang lain, persis seperti lagu dari sabang sampai merauke berjajar pulau pulau deh. Seingat saya ada tiga tanjakan panjang sebelum akhirnya kita disuguhi oleh turunan panjang banget menuju sebuah lembah dan pinggiran sungai.

geuntis090503-151

Sepanjang pinggir punggung bukit dialiri oleh sungai yang cukup deras ini pun kita masih disambut tanjakan-tanjakan lagi. Sempat bertemu jembatan gantung yang indah, jauh banget kondisinya dibanding jembatan gantung kita di deket bendung Cibeet. Tajakan di sepanjang pinggir sungai ini diakhiri dengan mendaki sebuah punggungan bukit, diiringi oleh deru air sungai yang jelas sekali mengalir dengan ganas nun jauh dibawah sana. Kalau tidak di pegunungan gak bakalan deh kita dengar bunyi deru aliran sungai seperti ini.

Semakin deru sungai tertinggal di belakang sana sayup sayup, semakin miring tanjakan di depan kita, semakin keras bunyi deru nafas kita. Saya tidak lagi sempat menghitung ada berapa tanjakan disini, namun nanjak disini agak adem karena lingkungan sekitar jalan adalah kebon yang rindang dan berpohon besar. Yang terdengar di telinga saya selain suara hosh hosh dari nafas yang memburu juga suara detak jantung yang berdegub-degub serasa mau menembus dada. Benar-benar ujian akhir yang menyenangkan karena kita segera masuk ke jalan aspal lagi dan segera terlihat Villa dan saung makan H. Agus yang lengkap dengan sop dan soto yang suedap dan huenak.

Alhamdulillah sampai.
Sampai di titik start.
Lho! Iya….
Villa ini adalah titik start sekitar 4km tanjakan maut menuju lokasi Curug Cigeuntis.

Benar-benar dahsyat track ini. Menuju titik start pun butuh perjuangan luarbiasa…

Finish Point:
Villa H. Agus
Distance: 48.26km

This ride supported by Bikewearr…
geuntis090503-156

8 responses

  1. Erbang

    Selamat,
    saya ketemu dengan rombongan di ini restoran kolam saung nya pak Haji sebelum memasuki tanjakan maut….banyak juga yang sampai ke atas pos terakhir…..walapun TTB di tanjakan ha ha ha ha…sama dengan saya juga.
    Kami rombongan dari Bekasi yang melakukan berkemah tepatnya di bawah pos terakhir curug cigeuntis….
    Salam Gowes…

    Mei 11, 2009 pukul 7:43 pm

  2. rute yang sangat bagus ohm , salam kenal dari saya bambang anak purwakarta
    kapan kapan ikutan ya ohm.

    Mei 19, 2009 pukul 3:19 pm

  3. surakhman

    Muantaaabbb banget Om….
    Asyik juga kalau bisa ikutan…

    Juni 11, 2009 pukul 1:15 pm

  4. opusdei

    mantab om
    sabtu kemaren dah ke sana karena tergoda postingan ini
    makasih ya om

    Juli 24, 2009 pukul 9:50 am

  5. budi

    om mohon ijin artikelnya saya copy untuk refensi ke temen2 yg mau nyoba trek Cigentis ini minggu depan.

    Salam,

    September 29, 2009 pukul 8:45 am

  6. opik

    Mo nanya,

    trek ini bis adilalui seli ga ya ??? jadi ngiler liat viewnya.

    thx

    Desember 11, 2009 pukul 1:42 pm

  7. Ada jalur onroad Om. Tapi view nya tidak seindah jalur offroadnya…

    Desember 11, 2009 pukul 7:24 pm

  8. Ping-balik: Bikewearr Century Ride Cigeuntis – WJxc Ride#28 | @antoix

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s