enjoy every cadence, every breath…

Dua Minggu bersama Polygon Urbano

Post ini berkaitan dengan cerita sebelumnya tentang seminggu naik urbano dan juga pengalaman unik dengan sepeda lipat.

polygonurbano

Ada beberapa catatan setelah menjalani waktu lebih lama bersama Neng Uu’ (nama samaran untuk sepeda Urbano-nya istriku). Oya, ini sepeda yang saya coba full standar Polygon Urbano ya, tidak ada modifikasi apapun. Memang kebanyakan menemukan kelemahan daripada kelebihannya, diantaranya adalah:

(1) Speed

Ini ada kaitannya dengan cerita lain “Neng Uu’ membatasi speed saya” disini Dengan 6 speed variable di gear belakang saja, untuk keperluan bike to work dan commuting saya merasa sepeda ini pas sekali. Just right. Biasanya saya bawa mountain bike untuk bike to work dan bisa mencapai rekor sekitar 16 menit dari rumah ke kantor, full speed, keringat bercucuran. Pagi ini saya coba full speed dengan urbano, sekitar 20 menit-an. Tepatnya dan speed nya blom tau soalnya blom ada cyclo-nya ini Urbano.

Pernah saya coba sprint malam2, buat saya yang maksimal kuat speed 35-40km/jam selama 15 menit berturut dengan 26″ mountain bike rasanya Urbano masih bisa saya bawa lebih cepat lagi. Maksudnya dengan crank standar dan freewheel terkecil, VO2 max saya sudah terengah-engah hehehe…

(2) Goyah saat dibawa ke Jalan Rusak

Saya punya route lain saat bike to work, yaitu lewat belakang kawasan industri, masuk kampung, jalan aspal rusak dan campuran tanah dan batu kerikil. Urbano just doing fine. Memang terasa banget efek getaran di handlebar, pada beberapa bump dan polisi tidur di jalan rusak bagian belakang urbano cenderung mengangkat dan ada kecenderungan sepeda jauh lebih tidak stabil saat melompat/mengudara. Yah, namanya juga sepeda kota kok dibawa ke jalan rusak, siapa suruh…

(3) Tourney groupset

Tidak tau apakah kualitas tourney, ataukah saya terlalu abuse ini sepeda hehehe… Yang jelas, setelah sekitar tiga minggu hampir tiap hari ini sepeda dipakai bike to work, perpidahan gigi ke 4-5-6 jadi kacau dan sedikit melompat. Dari toko Urbano chain nya relatif kering maka saya semprot dengan chailube yg biasa saya pakai di mtb.

Saya tidak komplain dengan tipe putar perpindahan giginya (malah asik dan nostalgia WimCycle Roadchamp) tapi kok rasanya rentan ya ini drivetrain.

(4) Posisi Engsel Lipat

Di sebelah crank ada engsel lipat ala Dahon yang sangat menonjol posisinya. Engsel posisi ada di sebelah kiri dan kunci ada di sebelah kanan downtube. Masalah baru terjadi saat kita mengayuh sepeda ini dengan celana panjang yang agak longgar bagian bawahnya. Itu ujung celana beberapa kali mentok dan nyantol di engsel yang sebelah kiri.

Ribet yah ceritanya? Tapi saya mengalaminya di dua celana yang berbeda jadi terasa signifikan. Salah satunya adalah celana seragam kerja pabrik yg sering saya pakai bike to work. Wah, nyebelin juga. Udah keren2 pakai seli, pake sepatu Rbk ala Crocs eee celananya musti dilipat model tukang siomay hehehe…

(5) Handlebar T

Handlebar T Urbano unit ini menurut perasaan saya sedikit sekali miring ke kiri. Jadi spooring-nya tidak pas. Kita maju lurus seperti serasa mau belok kiri terus. Untuk sepeda jenis lipat begini kan susah melakukan penyetelan arah handlebar seperti lazimnya kita lakukan di sepeda mtb yang ada stem-nya. Jadi deh, agak miring. Serasa jalan dengan mata juling. Tidak terlalu mengganggu sih, cuma risih.

Kualitas handlebar ini yang paling rentan buat Urbano diajak lebih ekstrim medan-nya (jarak ataupun terrain). Tampak sangat ringkih/rentan bahkan jika kita panjangkan sedikit saja (tinggi saya 171cm) rasanya handlebar jadi tidak stabil.

Cerita lain tentang pengalaman pake Urbano ada di forum sepedaku thread khusus disini…

Link di situs polygon ada disini…

=========(added 7 Nov 2008)
rekan sepedahan di Cikarang ada yg protes, kenapa keunggulannya gak juga ditonjolkan. Hehehe… bener juga. Berikut keunggulan ala Om Yadi:

1. Harga relatif lebih terjangkau dari pada MTB
2. Bisa disimpan di dalem lemari baju, jd waktu ada sidak dari KPK, bisa gak ketahuan kalau kita punya Sely
3. Cocok banget buat B2W, jd lebih menikmati suasana & perjalanan
4. Bisa ngacir layaknya sepeda MTB
5. Karena lipet & gak makan banyak tempat, tiap kali keluar kota bisa leluasa bawa Sely. Jadi bisa lebih menikmati liburan.
6. Bisa dipake oleh anak usia 6 tahun ke atas. Karena framenya kecil, tempat duduk & kemudi (handle bar) bisa dinaik turunkan sesuai pemakai tanpa ribet.
7. Ngak kayak offroader banget. Pertanyaan yg umum kalau ketemu orang ber MTB : “Explore ke mana aja Om? Bandung?, Sebex?, Warban? etc….., (kalau belum, kayaknya baru sepedaan kesannya). Tp kalau pake Sely, kita bisa jawab: ngak kok Om, sepeda cuma buat B2W & belanja ke pasar beli sayuran doank…, gak ada beban wakakakakakaaa………..

12 responses

  1. ian

    salam kenal om,

    masalah (kalo mau dibilang masalah) 2,3,4 itu sama persis yg saya alami di dahon VD6 saya om. ternyata sama aja ya kasusnya. saya cuman ganti ban ama niat upgrade drivetrain aja om. ganti ban ke ukuran 2×1,95 walaupun jadi bikin berat tp jadi lebih nyaman dibawa jalannya om.

    November 6, 2008 pukul 3:08 pm

  2. Yadi

    Om Anto,

    Setiap tipe sepeda emang ada kelebihan & ada kekurangannya seperti yg Om Anto rasakan di sepeda MTB vs Sely. Kalau si Sely dibawa Offroad, wahhhhh…sayah mah gak bisa ngebayangin rasanya si Sely dioffroad, yg pasti bakalan terasa gak enak banget & kasihan komponen & frame-nya.

    Btw, kalau si sely maen offroad & ada masalah ama frame, garansi masih berlaku ngak ya?

    Yadi

    November 6, 2008 pukul 3:31 pm

  3. @ian

    wah… ternyata dahon juga punya masalah serupa yah?
    memang sesuai peruntukkannya bener ini sepeda musti dibawa ke jalan mulus saja

    @yadi

    betul Om Yadi.
    Memang gak fair kalo membandingkan sepeda lipat dengan medan offroad… Gak bener juga ya pikiran udah tercetak dengan sepeda mtb.

    Tapi kondisi jalan kampung memang kadang memaksa kita buat sedikit offroad juga dalam commuting

    November 14, 2008 pukul 7:49 pm

  4. Ping-balik: Tujuh Minggu bersama Sepeda Lipat 20″ Polygon Urbano « Harto Basuki

  5. MangAra

    Kalo di bandung nyari urbano di mana/jalan apa, hargganya brapa?

    April 27, 2009 pukul 8:51 am

  6. Ping-balik: Sepeda Lipat Polygon Urbano 2008 « Harto Basuki

  7. ini lagi mimpiin seli….

    http://ummul-m.blogspot.com/2009/07/seli-bukan-selingkuh-jika-bersama-seli.html

    Juli 17, 2009 pukul 9:35 pm

  8. ida royani

    harga speda polygon 461 x322-30k brp ?

    Juli 30, 2009 pukul 11:22 am

  9. TAUFIK IRMANSYAH

    terima kasih ulasan urbano-nya jadi lebih memahami cara pemakaiannya – saya setuju biar istri lebih senang ber – o.r.

    September 18, 2009 pukul 8:41 pm

  10. Adam

    Jadi Kepingin nih.. naik seli…

    November 29, 2009 pukul 5:19 pm

  11. nukeu

    berapa harganya ya?
    bisa tolong kirim ke email?
    thx

    September 19, 2010 pukul 3:23 pm

  12. antoixx@gmail.com

    Coba tengok chain store toko seped a Rodalink Om… pilihan sepeda lipat ur bano makin banyak..

    Cheers Antoix

    September 19, 2010 pukul 6:21 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s