enjoy every cadence, every breath…

origami-seli, selamat datang

Long2 time ago, saya argue istri saya buat beli sepeda city bike, model sepeda ibu2 itu… Seorang teman tidak tertarik sepeda ini karena katanya hadiah dari beli motor. Hmmm… Istriku terbujuk. Terutama karena imajinasinya sendiri yang sangat cocok dengan sepeda dengan keranjang di bagian depan hehehe… Memang aneh, tapi dia memang begitu.

Dasar bukan rejekinya. Sepeda lebih sering dipakai ibu, buat mondar-mandir ke pasar, bolak balik rumah ibu ke rumah saya (sekitar 200an meter). Pokoknya itu sepeda lebih sering nongkrong di rumah ibu. Kasian ya istri saya?

Lalu datang kesempatan lain. Tour kantor, lalu saya dapat HP. Jaman itu HP masih ‘in’ banget, belum banyak hp murah seperti jaman sekarang. Seorang rekan yang mendapat hadiah sepeda menawarkan untuk tukar sepeda dengan hape hadiah saya. Waktu itu, setahun-an lalu, saya lagi semangat2nya bersepeda lagi, mulai bike to work yang rutin dan langsung tiap hari. Kembali saya bilang ke istri. Ini sepeda (wimcycle roadchamp) buat dia. Biar kita berdua bisa sepedahan kali minggu pagi2 (alasan saya hehehe….). Istriku kembali tertipu. Setujulah dia.

Sempat kami berdua sepedahan di sudirman thamrin, saat komunitas bike to work mengadakan funbike. Ceritanya disini…

Sepeda biru yg baru ini lebih sering saya pakai bike to work. Lalu saya kenal dengan 1PDN, mulai deh naik ke sukamantri. Ban langsung peyang wakakaka… Mulai deh itu sepeda di upgrade sedikit-sedikit. Terpengaruh juga pergaulan bebas dan beracun nanjak di 1PDN, jadilah suatu saat istriku terkaget-kaget waktu kembali naik Wimcycle roadchamp yg sudah dimodifikasi itu. “Lho, kok sepedanya jadi tinggi sekali…” Ya iya lah… Fork depan diganti, sadel diganti, handlebar dan stem diganti, ban diganti offroad. Wakakaka…. kembali dia terpaksa kehilangan sepedanya. Kena tipu suaminya kali ini. Sementara itu sepeda wim sudah bermetamorfosa jadi sepeda uphill dengan frame Cozmic CX 1.0

Minggu lalu istri ngabari baru dapat rejeki cukup lumayan. Spontan saya usul, “Beli sepeda lipet aja”. Eeee… dia OK. Karena memang saya pernah minjem sepeda lipet Igo buat dibawa kerumah, dan tampaknya memang istri sangat jatuhcinta sama sepeda jenis ini. Yang lebih cute, lebih rapi, dan lebih manis dan lucu dikendarai…

Jadilah minggu lalu, tanpa pikir panjang ke Rodalink kelapa gading. Yang cocok sama budget adalah Polygon Urbano. Beli deh yang warna hitam. Tidak pakai survey dulu, tidak pilih2 yang panjang, nanti malah gak jadi atau dia berubah pikiran kalau kelamaan.

Sepeda Polygon Urbano warna hitam, ban 20″, RD pakai Shimano Tourney, dengan revoshift sudah nongkrong dirumah…

Lama banget yah… padahal sudah pernah post kalau kepincut si seli disini…. hampir setahun lalu

(fotonya nyusul yah…)

5 responses

  1. Yoki

    dasar kamu tukang tipu istri….

    Huuh jadi aja dia ga mau beli sax….

    Oktober 22, 2008 pukul 4:51 pm

  2. Marah deh yang jual saxophone, kalah rayu sama beli seli…

    Oktober 23, 2008 pukul 10:19 am

  3. Ping-balik: Seminggu naik Polygon Urbano, ngerasain sepeda lipat « Harto Basuki

  4. Wah kebetulan saya juga pake Urbano, kapan-kapan kita gowes bareng… Tapi saya tinggal di Subang Jawa Barat, lho… Hehehehe

    Salam Gowes,

    -rosgani-
    “Let’s Act Beyond Green by Riding Our Foldingbike to Work‬”

    Oktober 31, 2008 pukul 7:46 pm

  5. perasaan si seli urbano ini juga sering banget diculik buat dipake b2w sama om anto??? hmmmm apakah ini indikasi kalo istri om anto akan kehilangan sepeda lagi…ck…ck…ck… lagi-lagi penipuan. wakakakakakakakak…

    anto: ssstttt…. jangan keras-keras…

    Januari 24, 2009 pukul 11:38 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s