enjoy every cadence, every breath…

XC Cikarang Jalur Tengah

Gowes Minggu pagi kemarin sangat amat berkesan. Setelah menghadapi minggu lalu yang sampai 3kali ngelembur hingga tengah malam setir ke jakarta ngerjain tugas sekolah, sabtu dibantai di presentasi kelas marketing, minggu pagi dengkul sudah senut2 minta diajak genjot.

Hari sabtu sepeda sudah saya masuk-kan ke Uda, akhirnya rasanya inilah sudah ujung dari upgrade bertahap sepeda cozmic, terakhir upgrade ke disc brake mekanik (dapat gratisan/lemparan caliper) dan juga tuker crank dengan shimano non series. Minimal tidak ragu masuk ke musim hujan penuh lumpur dan abuse crank dengan medan turunan. Gila juga ya selama ini saya pakai itu crank eks roachamp wimcycle, yang terbuat dari PLASTIC. Ampun! untung digeber terutama di turunan dari sukamantri, rindu alam, kiara, jogja, cikarang… Ungung gak patah wakaka… Maklum penunggangnya kan langsing hehe

Setelah lontang lantung mondar mandir di sekitar tarum barat setengah jam lebih, akhirnya jam 0615 terkumpul 5 pesepeda (Asup, Novie, Heri, Sugeng, Anto) di gerbang belakang cikarang baru ke arah kalimalang. Mantaaappp… Kali ini udah semangat bawa GPS, mau pemetaan jalur UKA-UKA dan juga Jalur tengah dan J4-reverse.

Genjot dimulai dari 10km/jam naik bertahap sampai 25km/jam di jalan beton kalimalang, tau2 udah harus belok ke jalur UKA2. Ini jalur jadi favorit baru saya. Belok2, jalan aspal rusak (jadi serasa offroad) lalu masuk ke singletrack kebun dan pematang sawah yang pakai naik turun. Mantaaappp…. Gowes lanjut terus sampai titik start jalur Tengah di kampung Cimahi. Ada warung, bbrp rekan makan mie telor dan kopi jahe (belum sarapan kayaknya).

Disini saya sempat mencoba testride dua sepeda KHS XC-204 dan XC-604. Wah… mantap, enteng banget sepedanya, padahal serasa ‘bulky’ alias bongsor. Nostalgia handling di turunan pakai rise-handlebar, hmmm.. enak juga, jauh lebih mudah kontrol-nya daripada pengalaman saya selama ini pakai flat-handlebar (handle bar/stang yang rata). Lagi seru keluar jalan utama di perbukitan sekitar kampung Cimahi menikmati turunan pakai all-sus bike, eee… saya dibuat salting gara2 ketemu ibu2 lagi (maaf) buang h**at. Ampuuunnn… Ini masih kampung sekali cara hidup dan sanitasinya!

Balik lagi ke warung udah pada kenyang, muka rekan2 yang tadinya biru2, karena genjot gak berenti dari gerbang belakang sampai kampung cimahi, mulai cerah lagi (maklum keisi indomie), kita mulai genjot cepat nanjak ke puncak bukit jalur tengah, tempat satu2nya pohon akasia tersisa. Lalu langsung turun lagi, asik banget, serba nanggung waktu saya dengar pas dibelakang saya ada yang teriak. Saya pikir tadinya teriak exiced, karena memang turunan ini favorit saya juga, banyak drop off kecil-nya (jadi masih berani di-rolling pake cozmic) plus juga di tengah kemarau begini jadi rekahan2 tanah selebar 5-10cm membuat memilih jalur, menggenjot turun menjadi semakin menantang dan mengasyikan. Baru kemudian saya ketahui yg teriak di belakang adalah Om Heri yang sepedanya melindas ular cobra sepanjang 1,5m yang baru keluar dari celah rekahan tanah. Wakaka…

Selanjutnya setelah sedikit cerita2 begitu ketemu jalan tanah (seberang rawa nambo), kita ambil jalur ke hutan jeng-jeng. Wah teman2 yang berkumpul di palladio udah mulai start, dan kita janjian di jeng-jeng. Udah deh, kembali melewati pematang dan sawah kering. Ini juga medan yang menyenangkan di musim kering begini. Pematang sawah yg sudah sempit itu ditambah rekahan2 retakan tanah kering. Tambah menantang dan sulit ditaklukkan. Disambut tanjakan ke jalan aspal calon kampus ITB.

Medan berikutnya ke hutan jeng-jeng adalah tanjakan ngehe’ sampai ujung bukit seberang KFC. Wah, ini tanjakan udah kemiringan tak sopan, ditambah tanahnya baru diratakan, tanah miring diliputi oleh lapisan serpihan tanah kering keras seperti kerikil yang licin, jadi masih sangat mudah bikin slip ban belakang. Bener2 medan offroad uphill yg sangat berat dan susah. Akhirnya di beberapa titik saya dorong juga itu sepeda, menyalahi aturan menikmati kenikmatan tanjakan.

Setelah sedikit melewati J4-reverse yang berupa turunan ke arah terowongan jeng-jeng… hmmm.. ademnyaaahhh… rasanya hati ketika masuk hutan jeng-jeng. Disitu sudah menunggu tiga j-co-ers (Gazel, Xion, Joko). Lengkap deh berdelapan kami ngobrol2 di sebelah jalan tol, foto2 pakai hp baru Om Xion, seru juga sambil lihat jalan tol yg masih padat dengan mobil2 dengan bungkusan diatas atap, khas pemudik.

Sudah selesai, rekan2 melanjutkan ke billboard KOTA DELTAMAS sementara saya ambil jalur kondangan. Sudah jam 9 sementara kondangan di mega kuningan dimulai jam 11. Jam 9 mulai panas menyengat cikarang, tidak sesejuk waktu pagi tadi kami lahap jalur tengah. Memang, program Jacyco GOLEPAG (gowes lebih pagi) menyenangkan (tidak panas) dan menunjang penampilan (tidak tambah hitam)….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s