enjoy every cadence, every breath…

Rasanya nanjak lereng Gn Merapi

Sebagai orang yang lahir dan besar di Jogja, saya dan merapi seperti sahabat lama. Meskipun sudah belasan tahun tidak pernah bergaul dekat lagi, namun jalan kaliurang menuju kawasan wisata Tlogo Putri itu seperti sahabat lama. Dan saya seperti ketemu sahabat lama kemarin pas ke Jogja.

Dua kali nanjak Gn Merapi, two days in a row!!

Nanjak pertama, sendirian saja ke Kawasan Wisata Kaliurang. Tlogo Putri, yang isinya hutan wisata, plus kolam renang dingin, plus kompleks villa-villa, plus taman. Itu yang dituju. Dulu rasanya melihat kaliurang dan jalan nanjaknya, mendengar cerita orang2 yang naik ke kaliurang dengan sepeda genjot (bukan sepeda motor), rasanya seperti melihat orang super, orang gila, sekaligus orang kurang kerjaan. Cerita lama untuk seorang praja 1PDN.

Berangkat dari kawasan Kraton tempat rumah Eyang. Ini cuma 2km dari Alun2 Utara. Teruuuussss naik ke jalan kaliurang. Semua jalan di Jogja tidak ada yang flat seperti kita lihat jakarta misalnya, seolah seperti hukum alam bahwa utara (arah Gn Merapi) selalu lebih tinggi dan nanjak daripada selatan (arah Laut selatan). Jadi hampir pasti air sungai dari utara ke selatan, tidak berkelok-kelok tak tentu arah dan membanjiri banyak tempat seperti di jakarta. Jadi? Ke utara ya pasti nanjak!

Matakuliah nanjak ke Kaliurang ini onroad seperti Rindu Alam. Cuma karena berangkat dari pusat kota, nanjaknya berubah kemiringan dengan pelaaaannnn sekali. Sebelum mendekali mBesi, sekitar menjelang Pakem, tanjakan belum ‘nendang’. Rasanya seperti touring panjang. Bayangkan Pakem itu adalah KM20-an di cyclo saya. Baru deh menjelang kota pakem kita disuguhi tanjakan yang cukup curam.

Seru-nya juga, perubahan kemiringan jalan ini berlaku secara drastis. Wah, baru mulai terasa nanjak sudah ketemu tanjakan tanjam, tambah tajam terus, terutama 5-7km terakhir menuju Telogo Putri, kawasan wisata di ujung kaliurang.

Teman nanjak?
Lho kan sudah cerita dari awal kalo sendirian. Solo. Di sekitar mBesi saya lihat ada bapak2, sepeda othel, pakai ‘bronjong’ (pembawa beban dari anyaman bambu di kiri kanan bag belakang sepeda, seperti pannier tapi jauuuhh lebih besar) dengan muatan berupa gerabah (pecahbelah keramik dari tanah, mirip yang dijual di Kasongan). FULL LOADED. Sang pesepeda perkasa ini sedang istirahat di sebuah tanjakan lurus yang panjang, sepeda berat itu dibiarkan bersandar dibadannya, bliau berhenti terengah-engah beristirahat. Wah, kalo sepeda2 gunung kita beratnya 12-16kg, itu mungkin cuma 20% dari berat sepeda bapak ini dan segala isi dagangannya. Dia nanjak lho, kayaknya mau ke pasar Pakem. Sorry gak ada foto gak bawa kamera.

Di atas pakem, skitar 3km setelah pakem, ada rekan di depan pakai sepeda hardtail dan helm. Wah, ketemu teman juga akhirnya. Semakin dekat saya lihat dari belakang, sepedanya mulai terlihat. Merk Hussarr. Wah sepeda hardtail gaya DJ nih. Sampai akhirnya saya salip dan saya sapa. Logat omongannya jawa cukup kental. Setelah melihat wajahnya. Ya Ampuuunnn.. ternyata kami pernah bersepeda nanjak kuliah 1PDN bersama di Sukamantri. November 2007 saya ingat banget. Ini rekan Priyo dan Timut rekan nTe Waty. Jadi bliau ini juga praja 1PDN. Jauh2 ke Kaliurang kok ketemunya gak jauh2 dari praja 1PDN… wakaka…

Udah deh kami genjot bareng, tambah curam medannya, sampai ujung Kawasan Kaliurang. Makan pecel, minum teh panas, dan (ini yang istimewa): makan jadah-tahu-tempe sebagai sarapan kami setelah nanjak…

post ini berhubungan dg Tiga Hari Bersepeda di Jogja

One response

  1. indra

    mantabbbbbb

    Oktober 23, 2008 pukul 2:55 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s