enjoy every cadence, every breath…

Oki dan John Laga

Kemarin saya sebel banget sama sebuah bengkel sepeda di Cibinong, memang sih saya beli sedikit, cuma beli 300rb saja, dan ada orang lain yang ngerakit dengan 10x lipat belanja saya, oke lah saya dikalahin ‘demi mengejar omzet’. Tapi saya gak ngebayang kalau ‘dikalahkan dulu’ itu artinya menunggu 1,5jam, semua kru merakit dua sepeda, dan belum dikerjain juga itu mindah crank. HUH!!! Kayaknya puasa dulu deh gak ke Cibinong buat ganti sparepart. Cari bengkel lain aaahhhhh….

Hikmahnya ada juga, di Plaza Telkom Fatmawati, minat beli paket 222rb nya Flexi, menunggu 1,5jam, seolah Allah membalas kesabaran saya terhadap aniaya si boss bengkel sepeda. Saya dapat seminar dan kuliah gratis yang sangat mencerahkan otak. Sebelum lupa, coba saya tulis intisarinya disini:

1. Apakah anda sadar kalau anda TABU membicarakan uang?

Uang jadi tabu, tapi bagi bangsa ini uang jadi barang selempitan, barang tersembunyi, yang malah semakin lancar menjadi bahan korupsi. Uang jadi tabu sehingga kita secara mental tidak ‘KLIK’ dan tidak ‘MATCH’ dengan uang. Buktinya? Banyak diantara kita dapat uang 50 juta, sehari habis, sisanya tak jelas. Uang menjadi tabu, dan uang menjauhi kita. Menjauhi hati dan pikiran kita.
Apakah benar uang tidak tabu?

2. Bangsaku bangsa kuli, bangsa budak, bangsa yang berorientasi bekerja untuk orang lain

Berapa lamakah satu generasi umur? 50 tahun?
Jika bangsa ini telah dijajah 350 tahun oleh bangsa eropa, lalu kita merdeka 50+ tahun, jadi sudah berlalu delapan generasi. Delapan generasi bangsa bermental budak yang hanya berpikir bagaimana caranya dapat kerja, gengsi menjadi saudagar dan memilih menjadi kuli.
Saat mental kuli dan budak yang tau nya disuruh dan ngikut petunjuk ini sudah mendarah daging sebagai hasil 8 generasi ditempa ke dalam tubuh? Kira-kira kita membutuhkan berapa lama lagi untuk bangkit?? Melepaskan segala belenggu ke-KOELI-an dan ke-BOEDAK-an kita?

3. Ilmu Saudagar, Ilmu Pasar Jaya, Ilmu yang sangat mahal

Pernah merasakan jualan di kaki lima?
Pernah merasakan jualan sesuatu dari mulut ke mulut?
Saya ingat benar dapat 10 eksemplar koran gratis Media Indonesia lalu berusaha menjualnya ke orang yang lewat. Aduh… campur aduk antara gengsi, hargadiri, malu, ragu, kagok, bingung, gemetar.
Saya juga ingat bagaimana rasanya menjadi pengamen musik, gelar case alat tiup dan niup di tengah keramaian sebuah karnaval/festival (pernah di festival kemang dan Pasar Seni ITB). Malu, geregetan, grogi, kagok, bingung muka ditaruh dimana.
Jika kita sudah memiliki mental menjual, mental saudagar, seperti ini. Saat kita sudah bisa menurunkan ego kita, saat kita sudah mendapatkan kunci dari ilmu mendekati dan meyakinkan orang. Itulah saatnya kita punya kesempatan jadi marketer yang andal.

Pak John Laga, dimanapun anda berada. Saya merasa 1,5jam ngobrol kemarin sangat bermanfaat dan mencerah-kan.

1,5jam dikecewakan dibalas dengan 1,5jam yang mencerah-kan.
Allah memang adil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s