enjoy every cadence, every breath…

Cinta Musik atau Cinta Ngumpul

berikut posting saya ke mailing list VanAlloy Bigband bbrp hari lalu:

Selamat untuk Kuki dan Elma yang udah punya alat baru. Mengkilap euyyy…. Cihuyyy….

Sebenarnya pernah dulu banget, ngobrol panjang sama Atoon, kayaknya pas kami menginap di Hotel Atlet Century Senayan, pas setelah tampil buruk di acara Ceria Worley dan akan berangkat ke Banjarmasih (trip pertama). Atoon mengungkapkan sisi lain dari band kita ini. Dia cerita betapa sebagai orang yg bergelut di bidang musik, kagum sama rekan-rekan, yang mengorbankan banyak hal untuk bisa memainkan musik bersama-sama. (Hhhmmmm… sebenernya bukan memainkan musik bersama sih, bersama-sama tapi main musik..- halah -). Misal Atoon mengungkapkan pertanyaan sederhana tapi susah dijawab, “Mas Anto beli clarinet buat main di weekend bareng vanalloy saja kan? Tidak buat cari duit?” Apalagi kalau kita bahas lagi rekan-rekan lain yang punya lebih dari satu alat musik.

Bayangkan, membeli alat, mengeluarkan uang, membongkar tabungan, untuk sesuatu yang … mmmm …. bukan duit.
Mungkin kita memandangnya ‘biasa saja, seperti beli sepeda gunung atau raket tennis’, tapi di mata orang yang cari duit dan berkecimpung di area musik seperti Atoon, hal ini berarti berbeda samasekali.

Lalu seminggu lalu saya obrol di dalam si Macan (panther merah) sambil anter Chaka, bassist, pulang (maklum bawaannya guede). Chaka menyampaikan kekaguman yang mirip, mengingatkan aku sama cerita Atoon bbrp tahun lalu, namun ada satu kalimat yang membuat aku tertegun…

… kami sekolah mati-matian (Chaka sekolah musik di IMDI), menurut saya untuk mendapatkan ‘kecintaan kepada musik’. Menurut saya apapun teknik yang kami pelajari di sekolah adalah untuk bisa mencintai musik secara tulus, seperti yang rekan-rekan VanAlloy tunjukkan…

Chaka lalu bercerita tentang mengapa dia memandang kita cinta musik dan kekagumannya dengan pengorbanan yang kita ambil untuk ‘sekedar’ mengikuti rasa rindu main musik itu. Bahasa Chaka, rekan-rekan VanAlloy sudah mendapatkan ekspresi dan kecintaan bermusik itu sendiri meskipun tidak memiliki skill yang mumpuni. Gantian saya yang kagum, karena saya jadi ngeri membayangkan orang berlatih teknik memainkan alat musik sampai bisa akrobat jungkir balik, namun tidak juga mendapatkan ‘jatuh cinta pada musik’….

Untuk Kuki dan Elma, welcome to the club…
Untuk Atoon dan Chaka, thank you. Pencerahannya terpisah 2 tahun lebih tapi baru ‘klik’ di kepala saya.

Jadi ayo kita hargai pengorbanan dan kecintaan rekan2 kita buat berlatih.
Sabtu depan latihan ya… kita habiskan itu Every Little Thing !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s