enjoy every cadence, every breath…

Stuck in the middle

Saya sering menganggap kalau berada di tengah, netral, mengayomi semua fraksi, adalah membuat kita menjadi bagian dari sebuah solusi, bukan bagian dari problem itu sendiri. Terusterang hal ini tertanam cukup mendalam dan lama di kepalaku. Bisa dibilang pengalamanku berinteraksi dengan orang selama 30+ tahun memberikan hal ini (selalu netral dan ada di tengah) sebagai ‘rule of thumb’ dari pergaulan.

Semakin bertambah umur, semakin kebelakang, kok kayaknya ‘rule of thumb’ ini semakin tidak relevan, semakin tidak belaku, dan semakin goyah menghadapi pengalaman problematika hidup. Hayoh!! Masak setelah puluhan tahun harus berubah?
Dibalik deh, masak sudah puluhan tahun gak berubah juga?
Hehehe…

Sampai aku mulai dengar apa yang namanya “Porter Generic Strategy”
menurut Wiki…

1

From Wikipedia, the free encyclopedia

Michael Porter has described a category scheme consisting of three general types of strategies that are commonly used by businesses to achieve and maintain competitive advantage. These three generic strategies are defined along two dimensions: strategic scope and strategic strength. Strategic scope is a demand-side dimension (Porter was originally an engineer, then an economist before he specialized in strategy) and looks at the size and composition of the market you intend to target. Strategic strength is a supply-side dimension and looks at the strength or core competency of the firm. In particular he identified two competencies that he felt were most important: product differentiation and product cost (efficiency).

Strategi dari suhu manajemen dari Harvard Bussines School ini adalah berinti pada upaya marketing yang jelas positioning-nya. Saya mungkin sekarang sangat terpengaruh oleh beliau sehingga menganggap marketing adalah induk dari segala profesi hehehe… Ya iya lah, dari marketing kita bisa men-direct seluruh organisasi menuju ke satu arah yang jelas, clear, fokus, sehingga bisa membuat customer/consumer kita mengingat dengan spesifik siapa kita. Tidak hanya customer, tapi kita juga bisa memberikan direction kepada seluruh organisasi bagaimana bersikap secara konseptual. Secara tak langsung ‘diferensiasi’ yang di-gaung-kan Porter lewat “Generic Strategy” ini adalah petunjuk untuk kita berbuat sehari-hari. Dalam operation di (misalnya) pabrik sekalipun.

Nyambung ke arah ‘selalu di tengah’. Porter malah menganjurkan kita bersikap, mengambil segment, mengambil peran. Jika kita mengambil peran serba nanggung, kita disebutnya ‘stuck in the middle’, kita seperti berhenti di tengah2 pilihan2 dan tidak mengambil kebijakan yang jelas. Langkah kita jadi tak fokus, tak bernyawa, susah menentukan visi.

Hmmm…
Menarik kan?
Jadi, ayo… be clear, jangan ‘stuck in the middle’

One response

  1. Sip, mesti pandai menempatkan posisi..đŸ˜‰

    Juli 23, 2008 pukul 6:04 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s